Início / Romansa / Hati Yang Terluka / Bab 2 *Tamu Tak Diundang*

Compartilhar

Bab 2 *Tamu Tak Diundang*

Autor: NhaRa02
last update Última atualização: 2026-01-12 22:27:56

Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk.

"Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya.

"Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.

Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek.

"Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila.

"Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi.

"Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersamaan." kata wanita itu sambil menyengir ke arah Laila.

"Apa...Sayang? Apa aku tidak salah dengar ya?" batin Laila yang semakin terguncang.

Laila tidak menyangka kalau suaminya akan berkata kasar di hadapan orang lain yang bahkan di hadapan seorang perempuan. Harga dirinya semakin terinjak-injak. Bukannya Laila senang melihat suami pulang, tapi malah malu yang ia dapatkan.

Laila pun mundur mempersilakan suaminya dan perempuan itu masuk ke dalam rumah. Tak ada sedikitpun kata-kata yang dilontarkan Laila pada mereka, karena sudah terlanjur sakit hati.

"Bu, ibu!" teriak Dito tanpa memperdulikan perasaan Laila. Dia berteriak seolah tak menganggapnya ada. Sakit rasanya sampai-sampai air mata Laila mengalir begitu saja.

Dan tidak lama kemudian, ibu mertuanya datang sambil menampakkan ekspresi wajah yang jarang pernah Laila lihat disetiap harinya. Wajahnya begitu sumringah seakan apa yang ia harapkan begitu nyata.

"Dito." kata mertuanya Bu Salsa.

Ya, namanya mertuanya Laila adalah Bu Salsa. Semenjak suaminya meninggal, Dito mengajaknya untuk tinggal bersama dengan alasan kasihan pada ibunya jika ditinggal sendirian.

Laila memakluminya karena sang suami anak bungsu dari tiga bersaudara. Jika sudah sewajarnya dia berbakti pada ibunya untuk mengurus dan menjaganya agar tidak kesepian.

Harusnya Laila bahagia, jika ibu mertuanya ada ditengah-tengah kehidupannya. Namun semua itu mustahil. Nyatanya, dia tidak pernah menganggap Laila sebagai menantunya.

"Halo Bu. Bagaimana kabarnya? kata wanita itu dengan sumringah. Ia juga sembari memberikan beberapa bingkisan yang membuat bu Salsa senang. Laila melihat momen yang tidak pernah sama sekali ia lihat. Tapi Laila sudah yakin, bahwa wanita itu bukan sekedar menanyakan kabar, tapi juga sedang mencoba menarik simpati ibu mertuanya.

"Kabar ibu baik, Nak. Ya ampun, jangan terlalu repot bawain ibu bingkisan. Ibu jadi tidak enak hati." kata bu Salsa sembari menerima bingkisan dari wanita itu.

"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula, hanya ini yang bisa aku berikan pada ibu." kata wanita itu.

"Lebih baik kita duduk dulu, Bu. Masa ada tamu disuruh berdiri saja, kan gak enak." kata Dito sembari mendelik ke arah Laila. Ia seperti sengaja berkata seperti itu agar Laila cemburu.

"Oh iya-iya. Ibu sampai lupa. Ayo duduk dulu, Nak." ajak bu Salsa dengan manisnya.

Mereka saling bercengkrama tanpa memperdulikan adanya Laila diruangan itu. Bahkan dengan bangganya, Dito memperkenalkan perempuan itu kepada Bu Salsa bahwa dia adalah teman satu kantornya. Ya, perempuan itu bernama Arimbi.

"Mas, kenapa perlakuanmu pada perempuan itu sangat manis? Sedangkan padaku tidak? Dan aku lihat, tatapan kalian berdua seakan ada sesuatu yang tidak bisa aku mengerti. Selingkuhkah kalian, atau hanya berpura-pura mesra?" kata Laila dalam hatinya. Entahlah, yang pasti saat ini hati Laila sedang hancur sekali.

Sungguh rasanya kesal, marah, jengkel bercampur menjadi satu. Dan sayangnya, kelemahan Laila hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bertanya saja rasanya tidak mampu. Sungguh lemah sekali.

Daripada Laila harus menyaksikan kebahagiaan mereka, lebih baik ia masuk ke kamar dan meninggalkan mereka yang sedang bercengkrama itu.

Laila merangkul anaknya dengan erat. Ia sadar, hatinya begitu rapuh dan tidak ada sedikitpun keberanian dalam dirinya untuk memberontak mereka.

"Dulu, aku selalu disanjungnya, dipujanya dan bahkan diamanjakannya. Tapi sekarang, suamiku seakan orang asing di hidupku. Sikapnya berubah setelah ibunya tinggal bersamaku. Bahkan, dia tega mencampakkan segalanya." batin Laila.

Dia terus menangis pilu sembari menatap buah hatinya yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Untungnya, anak itu tidak rewel, ia hanya menatap ibunya sambil minum ASI.

"Dan untuk menanyakan kabar kamu saja sepertinya enggan. Sabar ya, Sayang. Semoga ayahmu kembali lagi seperti dulu." bisik Laila sembari menatap buah hatinya. Ia pun tidak lupa untuk mencium keningnya Arsyila dengan lembut.

"Laila!" lagi-lagi bu Salsa berteriak dengan keras.

"Ya Allah, apa lagi ini." kata Laila sedikit kesal.

"Tak bisakah suaramu kecilkan sedikit wahai ibu mertua? Kesal sekali rasanya." gerutu Laila karena bu Salsa terus saja memangilnya.

Bahkan, teriakannya seakan berada di hutan belantara yang jauh dari kata keramaian. Dan mau tidak mau Laila pun harus menemuinya.

" Ya, Bu. Ada apa?" tanya Laila datar.

"Kamu itu lelet amat sih. Dipanggil-panggil dari tadi gak nongol-nongol." kata bu Salsa kesal.

"Maaf, Bu." jawab Laila pelan. Ia menunduk di hadapan mereka karena tidak mau terlihat sedih. Bahkan air matanya saja hampir terjatuh, tapi ia tahan sebisa mungkin agar mereka tidak mengetahuinya.

"Kamu ini kebanyakan minta maaf. Sudah, sana ambilkan air minum untuk Arimbi!" celetuk Dito yang tiba-tiba saja ikut nimbrung di tengah perdebatan mereka berdua.

"Tau nih, bikin kita kesal aja." gerutu bu Salsa dengan sinis.

"Mas, kenapa gak kamu saja yang ambilkan air minumnya? Aku kan lagi menyusui Arsyila." kata Laila kesal.

Jadi, Laila dipanggil mereka hanya untuk mengambilkan air minum, agar wanita yang baru datang itu tidak kehausan. Ini benar-benar sungguh keterlaluan.

"Jangan bikin aku marah, Laila. Ambilkan air minum saja apa susahnya sih?" sentak Dito dengan mata yang melotot.

"Tau nih, kasihan lho Arimbi. Pasti dia kecapekan." kata bu Salsa. "Asal kamu tahu ya Dito. Selama kamu tidak ada di sini, dia selalu bikin ibu kesal."

Mendengar hal itu, sungguh Laila semakin malu dan sakit hati. Apalagi ia melihat, wanita itu hanya diam dan memandangnya hina seolah puas akan makian suami dan mertuanya itu. Dan Laila, tentu saja ia ciut di hadapan mereka. Lagi-lagi terpaksa, ia harus mengalah demi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir itu.

Akhirnya, mau tidak mau Laila harus membawakan mereka air minum. Tapi ucapan demi ucapan mereka masih terdengar jelas di telinga Laila. Apalagi, suaminya sampai membahas soal kedekatannya dengan Arimbi pada ibunya.

Dan ini benar-benar sangat gila. Jadi apa yang Laila pikirkan ternyata benar, wanita itu sangat dekat dengan Dito. Dan ini tidak jauh-jauh dari problem perselingkuhan.

"Apa salahku, Mas. Bukannya selama ini aku selalu nurut sama kamu? Aku berusaha untuk menjadi istri yang baik dan menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Tapi apa balasanmu, Mas? Kamu membawa seorang perempuan masuk ke dalam rumah kita. Benar-benar tega sekali." batin Laila sambil menuangkan air ke dalam gelas.

Tapi, meskipun begitu, lagi-lagi Laila menangis. "Seharusnya, jika memang ada masalah atau merasa tidak nyaman dalam pernikahan ini beritahu aku, bukan malah mencari pelarian lain."

Setelah selesai membuatkan air minum, Laila langsung bergegas menuju ruang tamu. Di sana mereka masih bercengkrama dan bercanda ria seakan perkenalan dengan wanita itu sudah lama terjalin. Mungkin saja benar, karena selama ini mereka selalu menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh Laila.

Laila pun menyodorkan tiga cangkir teh hangat untuk mereka. Tidak ada satu kata pun terlontar dari mulutnya karena ia yakin, pasti tidak akan dianggap oleh mereka.

"Laila!" kata bu Salsa saat Laila akan melangkah pergi.

Ia menoleh ke arah mertuanya, tapi tidak untuk mereka berdua. Rasanya menjijikan, karena duduk berdekatan tanpa ada rasa malu sedikitpun bagi mereka. Padahal Laila istri sahnya, tapi mereka seakan tidak peduli dengan keberadaannya.

"Mulai malam ini, Arimbi akan tinggal di sini, jadi kamu harus menyiapkan kamar yang bersih. Jangan lupa spreinya ganti dengan yang baru." titah bu Salsa tanpa ada rasa bersalah terhadap Laila.

"Dia akan tinggal di sini? Apa aku tidak salah dengar? Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus berbuat sesuatu." kata Laila dalam hatinya. Jantungnya seakan hendak berhenti mendengar yang seharusnya tidak perlu ia dengar.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Hati Yang Terluka    Bab 5 *Pergantian Jabatan*

    "Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu

  • Hati Yang Terluka    Bab 4 *Entah Harus Kemana*

    Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya

  • Hati Yang Terluka    Bab 3 *Cerai*

    Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda

  • Hati Yang Terluka    Bab 2 *Tamu Tak Diundang*

    Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa

  • Hati Yang Terluka    Bab 1 *Tidak Pengertian*

    "Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya."Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi."Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar.Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian."Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini  banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status