FAZER LOGINAtas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin.
"Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar. Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah? "Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa yang akan membereskan rumah?" batin Arimbi dengan wajah cemas. ^^^ Rasa lelah telah memenuhi hati dan pikiran Laila, hingga menganggap dirinya sendiri sebagai sosok yang tidak berguna. Di matanya, tidak ada warna di dunia selain hitam. Semuanya tampak gelap, sedikit pun tidak ada terang. Laila menatap bayinya dengan erat, dan mulai membayangkan nasib dirinya bersama sang buah hati untuk kedepannya. Pelukan hangat penuh cinta dan kasih sayang dari Laila, membuat sang bayi tampak begitu nyaman. Tidak henti air mata Laila mengalir, membasahi pipi. "Kita pasti bisa melewati ujian ini ya, Sayang. Ibu akan selalu menjagamu sampai kapan pun." Jiwa yang teramat suci, harus ternoda karena salah orang tua. Semua hal yang terjadi dalam rumah tangga, akan berakibat pada pertumbuhan anaknya. Tapi Laila yakin, ia bisa membesarkan anaknya, tana harus mengemis perhatian mantan suaminya itu. Di saat Laila berjalan menyusuri trotoar, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah kursi panjang dekat taman. Wajahnya sayu, pucat pasif dan terlihat sedang menahan rasa sakit. "Nenek itu kenapa ya?" batin Laila. Ia pun segera melangkah mendekati wanita paruh baya itu sembari menenteng tas besar. Maklum, tas itu berisikan beberapa baju dan beberapa surat ijazah serta indentitas diri. Agar suatu saat ia bisa melamar pekerjaan. Hanya satu yang belum ia dapatkan, yaitu surat cerai. Ia akan mengurus secepatnya agar segera terbebas dari bayang-bayang mantan suaminya. "Nenek! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Laila saat ia sudah berada di hadapan wanita paruh baya itu. "Aku baik-baik saja, hanya saja kepalaku rasanya sakit." kata wanita paruh baya itu sembari memegangi kepalanya. "Bagaimana kalau dioleskan minyak gosok hangat? Kalau aku pusing, biasanya dioles minyak gosok ini." kata Laila sambil mengambil minyak itu dari dalam tas. "Boleh makasih ya." kata wanita paruh baya itu sembari tersenyum. Setelah memberikan minyak gosok itu, Laila pun duduk disebelahnya. Ia sembari memberikan ASI mumpung di taman itu terlihat sepi. Ia juga tidak lupa menutupinya dengan kain agar tidak terlihat bagian tubuhnya. "Nama kamu siapa, Nak?" tanya wanita paruh baya itu. "Aku Laila, kalau nenek?" Laila menanyakan balik nama nenek itu. "Namaku Fatimah. Kamu boleh manggil aku nenek Fatimah. Oh iya, kamu mau kemana? Kok bawa tas segala?" kata bu Fatimah keheranan. "Aku mau pulang kampung, Nek. Tapi ... setelah dipikir-pikir, rasanya tidak pantas kalau pulang dalam keadaan seperti ini. Aku takut ayah dan ibuku curiga." kata Laila lirih. "Memangnya ada apa? Jangan-jangan kamu sedang ada masalah dengan suamimu?" kata bu Fatimah mengernyitkan dahinya. Laila pun hanya diam. Ya, bagaimana tidak, apa yang dipertanyakan bu Fatimah memang benar adanya. "Nak, kamu pergi dari rumah, apa sudah dipikirkan dengan matang? Bagi ibu, pertengkaran antara suami dan istri itu adalah hal yang wajar. Jika suamimu tidak mau mengalah, makane kamulah yang mencoba mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, kan?" kata bu Fatimah sembari mengelus punggung Laila. "Iya, aku mengerti, Nek. Tapi masalahnya aku sudah di usir sama suami, bahkan hari ini juga dia sudah menalak aku." kata Laila lirih. "Astaghfirullah, separah itukah masalahnya sampai-sampai kamu ditalak?" kata bu Fatimah terkejut. "Iya, Nek. Talak tiga malah." kata Laila. "Ayah dan ibuku belum tahu, makanya aku bingung." "Ya Allah, yang sabar ya, Nak. Kamu masih muda, anakmu juga masih kecil, kamu berhak bahagia. Anggap saja masalah ini adalah cobaan yang harus kamu lalui. Semoga suatu saat nanti, kamu mendapatkan orang yang benar-benar sayang sama kamu dan juga anakmu." kata bu Fatimah. Ia ikutan sedih mendengar cerita yang dialami oleh Laila. Ia juga meminta izin untuk menggendong bayinya Laila. Dan tentu saja Laila mengizinkannya. Tidak lama kemudian, seorang lelaki datang menemui mereka. Dia adalah Rayyan Abid Karim, cucunya nenek Fatimah. "Nek, rupanya kamu di sini. Ayo kita pulang!" kata Rayyan sembari keluar dari dalam mobilnya. "Sebentar, kamu tidak lihat apa, nenek sedang gendong bayi." kata bu Fatimah. "Oh iya, Laila. Kenalkan, ini cucu saya satu-satunya. Laila pun tersenyum ke arah Rayyan. Begitu juga dengan Rayyan, ia membalas senyuman Laila meskipun tidak saling berjabat tangan. "Oh iya, gimana kalau untuk sementara, kamu tinggal bersama kita dulu? Di rumah juga hanya ada aku dan Rayyan. Kasihan kan bayimu kalau berada di sini terus. Bayi tidak boleh berlama-lama berada di luar, cuacanya sedang tidak bagus." kata bu Fatimah. Akan tetapi, Laila segera menolaknya dengan tulus. "Tidak Nek, aku tidak mau merepotkan kalian. Kalau kalian mau pulang, ya pulang saja. Aku juga rencananya mau cari kontrakan di daerah sini." kata Laila. "Nenek tidak merasa direpotkan. Iya kan Rayy?" kata bu Fatimah sembari melirik ke arah Rayyan. "Iya." kata Rayyan. Ia terlihat masih kebingungan karena baginya, Laila adalah orang asing yang baru saja bertemu hari ini. "Tapi ..." Seketika Laila berhenti bicara. Raut wajahnya terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. "Sudah, jangan terlalu lama berpikir, nenek tidak akan melukaimu. Nenek juga seorang wanita, masa iya tega membohongimu. Ayo, mendingan masukkan tasmu ke dalam mobil. Nanti keburu panas, bahaya untuk bayimu." kata bu Fatimah. "Rayyan, bantu Laila. Jangan diam saja." "Baik, Nek." jawab Rayyan dengan cepat. Bu Fatimah sudah masuk ke dalam mobil sembari menggendong bayinya Laila. Sementara, Rayyan tengah bersiap-siap membantu membawakan tas Laila. Namun, pada saat bersamaan, ada seseorang yang melihat Laila hendak masuk ke dalam mobil. Ia melihat begitu jelas bahwa, Laila hendak masuk ke dalam mobil bersama laki-laki yang tidak ia kenali. "Loh, itukan Laila? Kok sama laki-laki lain. Dimana suaminya?" kata orang itu penasaran."Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu
Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya
Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda
Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa
"Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya."Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi."Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar.Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian."Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu







