로그인Hujan di Lunaris turun tanpa ampun.Dan tepat saat Asterion mulai pasrah akan nasibnya—Portal keemasan tiba-tiba terbuka lagi di depan wajahnya.Kaelum muncul dengan ekspresi dingin. “Aku benar-benar lupa kau.”Asterion langsung menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. “AKU HAMPIR MATI KARENA ALPHA ITU!”“Namun kau belum mati.” ejek Kaelum dingin.“Itu bukan poinnya!”Beberapa detik kemudian, Asterion akhirnya masuk portal sambil basah kuyup karena hujan deras yang turun mendadak di Lunaris.Rambut peraknya menempel di wajah, mantelnya berat oleh air, dan ekspresinya terlihat sangat tersinggung.Begitu tiba di lorong Solthera, Lyra langsung tertawa.“Kau terlihat menyedihkan.” sindirnya.“Aku ditinggalkan.”“Karena kau berhenti melihat rusa.”“Itu rusa putih!”Kaelum menutup portal dengan wajah datar. “Aku menyesal kembali menjemputmu.” Namun meski suasana sempat kacau, misi mereka berjalan.Dan Solthera…Masih sama seperti yang Elara ingat. Langitnya tidak memiliki malam, pilar-pilar
Angin di tebing utara bergerak semakin liar.Cahaya portal di depan Kaelum berputar perlahan seperti matahari cair yang membelah ruang. Energinya membuat udara bergetar halus di sekitar mereka.Elara berdiri paling dekat dengan gerbang itu, tudung mantelnya bergerak tertiup angin dingin. Cahaya keemasan dari portal memantul samar di wajah pucatnya. Dan entah kenapa, dadanya terasa tidak tenang.“Cepat masuk sebelum jalurnya berubah,” ujar Kaelum.Lyra langsung melangkah lebih dulu sambil memegangi tas ramuannya erat. “Aku benci teleportasi.”“Semua orang benci teleportasi,” sahut Asterion santai.Lalu pria itu berhenti mendadak.“Eh.”Semua menoleh.Asterion sedang menatap ke bawah tebing. “Ada rusa.”Hening.Lyra berkedip pelan. “…apa?”“Rusa putih.”Asterion menunjuk santai. “Jarang terlihat.”Kaelum menatapnya datar. “Kau serius?”“Aku cuma lihat sebentar.”“Elara sudah setengah masuk portal.”Benar saja. Elara yang berdiri terlalu dekat refleks terseret sedikit oleh energi gerbang
Perdebatan berlangsung sampai tengah malam.Dan semakin lama, semakin kacau.“Aku ikut.”“Tidak.”“Aku bilang ikut.”“Aku bilang tidak.”Suara Aelmon dan Kaelum sudah terdengar seperti ancaman terselubung sejak satu jam lalu.Aura Alpha memenuhi aula utama sampai beberapa anggota pack memilih keluar karena sesak bernapas, sementara Kaelum tetap duduk santai dengan kaki menyilang seolah menikmati semuanya.Lira sudah hampir melempar buku.Rowan mulai memijat pelipis. Dan Lyra, nyaris meracuni semua orang dengan ramuan tidurnya.“Kita tidak mungkin membawa seluruh pack ke Solthera!” bentak Lira akhirnya.“Dan aku tidak akan membiarkan Elara pergi tanpa penjagaan,” balas Aelmon dingin.“Auramu terlalu mencolok,” sahut Kaelum santai. “Begitu kau masuk wilayah langit, seluruh Solthera akan tahu Alpha Lunaris datang.”Aelmon menatapnya seperti ingin membunuhnya saat itu juga.“Aku tetap pergi.”“Tidak.”Jawaban Aelmon langsung keluar bahkan sebelum Elara selesai bicara. Dan itu membuat Elar
Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur semalaman.Sylas berdiri di dekat jendela batu sambil membaca buku tua yang sudah hampir hancur.Sedangkan Aelmon, masih berdiri terlalu dekat dengan Elara.Seolah Kaelum akan menculik istrinya kapan saja jika ia lengah.Elara duduk di kursi besar dekat perapian dengan selimut gelap menyelimuti tubuhnya. Demamnya sedikit turun, namun kulitnya masih terasa panas dan cahaya samar kadang muncul di jemarinya tanpa kendali.Itu membuat Aelmon semakin gelisah.Dan Kaelum terlihat terlalu tenang melih
Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara masih demam.Tubuh manusianya terasa lemah sejak semalam, meski Lyra sudah memaksanya meminum tiga jenis ramuan berbeda yang rasanya mengerikan.Kini ia duduk bersandar di ranjang besar Aelmon, dibungkus selimut tebal berwarna gelap. Rambut panjangnya sedikit berantakan, pipinya pucat karena panas tubuh yang belum turun sepenuhnya.Sedangkan Aelmon—Masih duduk terlalu dekat.Tangannya memegang jemari Elara sejak tadi pagi seolah takut gadis itu menghilang hanya karena ia lengah sesaat.“Aku benar-benar bisa bernapas sendiri.”Suara Elara masih sedikit serak karena demam.Kael tidak melepaskan tangannya.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau terus menatapku seperti pasien sekarat?”Tatapan emas Aelmon t
Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi







![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)