LOGINBenang-benang merah itu bergetar pelan.Ting...Ting...Setiap bunyinya terdengar seperti petikan kecapi yang dimainkan sangat pelan, tetapi cukup untuk membuat dada terasa sesak.Pergelangan tangan Elara mulai memerah.Aelmon segera mengendurkan tenaganya.Ia bahkan membuka sedikit jemarinya agar tekanan pada kulit Elara berkurang.Elara memperhatikan perubahan kecil itu."Kau berhenti?" Aelmon mengembuskan napas panjang. "Aku lebih rela kehilangan kesempatan memelukmu...""...daripada membuatmu terluka."Kalimat itu lagi, namun justru membuat tenggorokan Elara terasa tercekat.Ia mengangkat tangan perlahan. Jari-jarinya menyentuh pipi Aelmon, sentuhan yang begitu ringan hingga nyaris seperti embusan angin."Kenapa selalu aku?" tanyanya mulai kesal."Apa?""Kenapa kau selalu memilih aku... dibanding dirimu sendiri?"Aelmon menutup matanya
Duum...Suara akar yang saling bertaut mengguncang tanah.Gerbang hidup itu perlahan membuka, memperlihatkan lorong gelap yang dipenuhi akar-akar berwarna hitam keperakan. Di sepanjang dindingnya, ribuan benang merah membentang dari satu sisi ke sisi lain, berdenyut pelan seperti urat nadi.Elara menghentikan langkahnya.Benang-benang itu... Bukan benda mati, mereka bernapas."Hati-hati." cemas Rowan, dia mengambil sikap waspada."Jangan menyentuh apa pun."Aelmon mengangguk pelan, tetapi matanya masih tertuju pada tangan Elara yang berada dalam genggamannya.Ia mengusap pelan punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya.Gerakan kecil. Nyaris tidak terasa, namun berhasil membuat Elara menoleh. "Ada apa?"Aelmon menggeleng. "Hanya memastikan.""Memastikan apa?""Kau masih di sampingku."Elara tersenyum kecil. "Aku tidak ke mana-mana! mengapa kau selalu mengatakan hal
Api biru di dalam lentera bergoyang perlahan.Tidak ada angin.Namun setiap nyalanya bergerak mengikuti langkah mereka, seolah hutan itu sedang mengawasi setiap napas yang mereka ambil.Perempuan tua berjubah hijau telah menghilang.Yang tersisa hanyalah lorong akar yang memanjang tanpa ujung.Rowan mengamati sekitar. "Aneh.""Tidak ada jebakan."Aelmon justru mendengus pelan."Itu berarti jebakannya belum dimulai."Elara mengangguk setuju. Jemarinya masih bertaut dengan tangan Alpha itu. Hangat yang mengalir dari telapak tangan Aelmon sedikit mengurangi dingin yang merayapi tubuhnya.Beberapa langkah kemudian...Tap... tap...Sepatu Elara menginjak akar pohon yang licin.Tubuhnya oleng.Belum sempat ia kehilangan keseimbangan, sebuah lengan sudah lebih dulu melingkari pinggangnya."Aku dapat."Suara Aelmon terdengar begitu dekat.E
Cahaya emas perlahan memudar.Ruangan kembali sunyi.Namun kesunyian itu terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.Di hadapan mereka... Tiga sosok berdiri tanpa bergerak, tidak ada aura membunuh, tidak ada permusuhan. Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih menyesakkan.Kemungkinan.Kemungkinan hidup yang tidak pernah mereka jalani.Elara menatap sosok dirinya sendiri.Rambut emas panjang tergerai hingga menyentuh lantai. Mahkota Matahari bertengger di atas kepalanya. Jubah putih keemasan menjuntai anggun, sementara di belakang punggungnya berputar dua belas lingkaran cahaya.Tidak ada luka, tidak ada air mata, tidak ada cincin pernikahan. Tatapannya tenang, namun kosong.Begitu kosong hingga membuat dada Elara sendiri terasa nyeri.Di sisi lain...Aelmon membeku. Di hadapannya berdiri Alpha lain, masih berambut hitam, masih bermata hijau, akan tetapi sorot matanya begitu dingin.
Klang...Rantai-rantai hitam bergesekan perlahan.Suaranya panjang, berat, seolah berasal dari dasar dunia.Gerbang Kelima terbuka sedikit demi sedikit.Udara hangat yang mereka rasakan di Gerbang Keempat menghilang. Digantikan aroma tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan embun yang terasa dingin saat menyentuh kulit.Di balik gerbang itu terbentang sebuah hutan.Sunyi.Pohon-pohonnya menjulang tinggi tanpa daun. Akar-akar raksasa mencengkeram tanah seperti jemari yang enggan melepaskan sesuatu.Tidak ada burung atau serangga. Hanya, suara napas mereka bertiga.Elara mengangkat ujung gaunnya sedikit agar tidak terseret lumpur. Gaun dewi yang semula bersih kini dipenuhi bercak tanah dan sobekan halus di bagian bawah. Rambut emasnya yang biasanya rapi mulai tergerai diterpa angin.Aelmon memperhatikannya beberapa saat.Tanpa berkata apa pun, ia berlutut.Elara berkedip.
Lorong batu itu lembap.Setiap tetes air yang jatuh dari langit-langit gua memantulkan cahaya keemasan yang samar.Tik...Tik...Tik...Suara itu menjadi irama perjalanan mereka.Tidak ada seorang pun yang terburu-buru.Setelah percakapan di depan gerbang, langkah Aelmon berubah.Ia masih menggenggam tangan Elara, tetapi tidak lagi sekuat sebelumnya.Bukan karena ingin melepaskan, melainkan karena ia mulai belajar. Belajar bahwa cinta bukan hanya tentang menggenggam erat, terkadang... ia juga harus memberi ruang agar orang yang dicintainya tetap dapat bernapas.Elara menyadari perubahan kecil itu.Perubahan yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.Ia melirik jemari mereka. Masih saling bertaut, namun kini terasa jauh lebih nyaman.Tanpa sadar, Elara justru menyelipkan jemarinya lebih dalam di sela jari Aelmon.Alpha itu menoleh. "Kenapa?"Ela
Selamat membaca.Pagi di Lunaris terasa berbeda. Bukan karena langit, bukan juga karena udara. Tapi karena jarak.Elara merasakannya sejak membuka mata, sesuatu telah berubah. Dan Elara tahu persis apa itu.Aelmon.Elara keluar dari kamarnya lebih awal dari biasanya. Lorong sudah mulai ramai, angg
Selamat membaca.Langit Lunaris, kembali tenang. Namun tidak dengan pack, begitu mereka kembali dari perbatasan, suasana berubah. Bukan karena luka, melainkan karena sesuatu yang lebih berbahaya.Ketakutan.Bisikan-bisikan terdengar di setiap sudut. “Dia hampir menghancurkan Penjaga!" “Kalau dewa b
Selamat membaca."Akar itu menekan dadaku." Dingin, berat dan hidup. Seolah bumi sendiri sedang mencoba menelannya perlahan.Napas tercekat. Jantung Elara berdebar kacau, namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang terus meletus, berjalan-jalan tanpa arah dalam dirinya.Cahaya. Seperti listrik
Selamat membaca."Akar itu menekan dadaku." Dingin, berat dan hidup. Seolah bumi sendiri sedang mencoba menelannya perlahan.Napas tercekat. Jantung Elara berdebar kacau, namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang terus meletus, berjalan-jalan tanpa arah dalam dirinya.Cahaya. Seperti listrik







