登入"Ya mungkin Elara tidak bisa menghadapi bahaya itu, tapi harusnya, sebagai Solaria. Ia akan dengan senang hati melompat ke dalamnya!"
***Elara tidak kembali ke pack. Satu hari berlalu,Lalu dua. Tidak ada pesan, tidak ada jejak yang bisa diikuti hanya keheningan.Penginapan tua dekat stasiun menjadi tempat persembunyiannya.Hosh... hosh... hosh...Kamar nomor dua belas berada di ujung lorong sempit. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian, dHari ketiga. Lalu hari keempat, kota manusia tetap berjalan seperti biasa. Lampu lalu lintas berganti warna, kereta datang dan pergi. Orang-orang berangkat bekerja, pulang ke rumah, tertawa, bertengkar, jatuh cinta, lalu mengulangi semuanya keesokan harinya.Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang menghilang.Namun bagi seseorang—Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.Elara mulai memiliki rutinitas. Pagi hari ia turun membeli sarapan dari kios kecil di seberang jalan, siang hari ia berjalan tanpa tujuan jelas.Malam hari ia kembali ke kamar penginapan, sesederhana itu, dan justru kesederhanaan itulah yang dirindukannya.Tidak ada dewa. Tidak ada ramalan, rapat pack, pertengkaran antara Lira dan Asterion, tidak juga ada Lyra yang memaksa ramuan pahit ke mulutnya.Namun setiap kali melihat pasangan berjalan bergandengan tangan di trotoar—Pikirannya mengembara.Saat melihat seorang pria tinggi membungkuk untuk memasa
"Ya mungkin Elara tidak bisa menghadapi bahaya itu, tapi harusnya, sebagai Solaria. Ia akan dengan senang hati melompat ke dalamnya!"***Elara tidak kembali ke pack. Satu hari berlalu,Lalu dua. Tidak ada pesan, tidak ada jejak yang bisa diikuti hanya keheningan.Penginapan tua dekat stasiun menjadi tempat persembunyiannya.Hosh... hosh... hosh... Kamar nomor dua belas berada di ujung lorong sempit. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian, dan setiap kali kereta melintas, kaca jendela bergetar pelan.Tempat itu jauh dari nyaman. Namun tidak ada yang mengetuk pintunya, tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan.Tidak ada yang menyuruhnya meminum ramuan, tidak ada tatapan giok yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi.Anehnya, justru itulah yang membuat ruangan itu terasa kosong.Semoga saja Aelmon tidak menemukannya kali ini, karena rasanya sulit menggunakan kemampuan cahaya untuk melarikan
Pagi di Lunaris selalu indah dan Elara membencinya.Cahaya bulan abadi menyinari taman-taman perak di luar istana. Bunga-bunga malam bermekaran, air mancur kristal memantulkan kilauan lembut.Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna, seperti kebohongan yang dibangun selama bertahun-tahun.Elara berdiri di dekat jendela. Gaun panjang berwarna putih gading membungkus tubuhnya, gaun yang dikirim pelayan pagi tadi, gaun yang pasti dipilih Aelmon.Ia tidak perlu bertanya. Ia sudah tahu, pria itu selalu memilih warna-warna terang untuknya. Seolah Elara adalah cahaya yang harus dijaga tetap bersinar.tap... tap... tap...Pintu kamar terbuka. Elara tidak menoleh, ia sudah mengenali langkah kaki itu.Aelmon."Aku tidak ingin sarapan.""Kau tetap harus makan.""Aku tidak lapar.""Kau berbohong."Elara memejamkan mata.Menyebalkan...Pria itu mengenalnya terlalu bai
Sangkar Bulan, cahaya emas memenuhi langit malam.Simbol di telapak tangan Elara semakin terang. Panas. Menyilaukan. Menyakitkan.Seolah sesuatu sedang memanggilnya dari tempat yang sangat jauh.Dari langit. Dari tahta yang telah kosong selama berabad-abad. Suara agung itu kembali terdengar.'Kembalilah.' Tubuh Elara bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena jiwanya mengenali panggilan itu. Seolah sebagian dirinya memang berasal dari sana.Dari matahari. Cahaya, dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan manusia yang selama ini ia jalani.Namun sebelum Elara sempat melangkah—sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya.Aelmon. Tatapan teduhnya tampak gelap, sangat gelap."Jangan." Hanya satu kata. Tetapi terdengar seperti perintah.Elara langsung menarik tangannya. "Lepaskan aku!""Tidak.""Aelmon.""Kau tidak pergi." titah Aelmon, kepalanya tertunduk tapi
Elara mulai membenci pagi. Karena setiap kali membuka mata, Aelmon masih ada. Masih mengawasi dan menunggunya.Mengejarnya dengan kesabaran yang perlahan terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.Pagi itu langit diselimuti awan tipis. Elara mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dan mantel abu-abu yang menutupi tubuhnya dari udara dingin.Ia sengaja keluar lebih awal. Berharap bisa berjalan sendirian, tanpa bayangan Alpha itu.Namun saat melewati etalase sebuah toko.Pantulan kaca memperlihatkan sosok tinggi berpakaian hitam yang berjalan beberapa meter di belakangnya.Aelmon.Lagi. Elara langsung berbalik, dan langsung protes "Kau tidak lelah?""Tidak.""Kau tidak punya harga diri?""Tidak jika itu menyangkutmu."Jawaban itu membuat Elara kehilangan kata-kata selama beberapa detik.Pria ini benar-benar tidak waras. Dulu ia menganggap Aelmon romantis, sekarang ia mulai m
Pagi datang bersama langit kelabu.Elara hampir tidak tidur.Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat darah di tangan Aelmon.Kemudian mengingat senyuman pria itu. Lalu mengingat pelukannya, kemudian kembali mengingat kebohongannya.Semuanya bercampur menjadi satu. Menyakitkan dan sangat menyakitkan.Saat membuka pintu kamar penginapan, Elara berniat mencari udara segar.Tap... tap...Namun langkahnya langsung terhenti. Aelmon duduk di lantai koridor, masih mengenakan pakaian yang sama.Masih berada di tempat yang sama, seolah tidak bergerak semalaman.Mata Zambrud itu terangkat.Menemukan dirinya dan sesuatu yang aneh bergetar di dalam dada Elara.Deg!Karena pria itu tampak lelah, Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya."Apa yang kau lakukan?"Aelmon berdiri. "Aku menjagamu.""Kau duduk di sini semalaman?""Ya."El







