Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Tanda yang Memudar.

Share

Tanda yang Memudar.

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-05-04 14:05:55

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun sebuah cerita masa lalu membuat ikatan mereka semakin kuat.

Bukan karena tidak ada suara, justru sebaliknya. Aktivitas pack tetap berjalan, langkah kaki, percakapan pelan, denting peralatan. Namun ada sesuatu yang berbeda… seperti semua orang sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang belum terjadi.

Elara berdiri di dekat aliran air kecil di sisi lembah.

Airnya jernih, mengalir pelan di atas batu-batu halus. Ia menunduk, membasuh wajahnya, membi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Jarak yang Sengaja Dipendekkan

    Keesokan harinya, Pagi datang dengan cahaya yang lebih hangat.Retakan di langit masih ada, membentang tipis seperti garis halus yang belum benar-benar sembuh.Namun kali ini, sinar matahari menembusnya dengan lebih lembut. Tidak lagi terasa asing, tidak lagi menusuk. Seolah dunia… sedang mencoba menenangkan diri.Elara berjalan pelan di antara pepohonan. Langkahnya masih hati-hati, namun tidak lagi rapuh. Udara pagi menyentuh kulitnya, membawa rasa segar yang perlahan menggantikan sisa lelah di tubuhnya.Ia tidak sendirian.Aelmon berjalan di sampingnya dengan jarak yang tak lagi ada.Sesekali, tangan mereka bersentuhan ringan, jelas tidak disengaja, namun juga tidak dihindari.Dan setiap kali itu terjadi, Elara merasakannya. Kehangatan yang tidak pernah ia sangka akan menjadi Aelmon. “Kau terlihat lebih baik,” ujar Aelmon, dengan nada suara pelan dan senang, Matanya tidak lepas dari Elara.“Mungkin,” jawab Elara pelan. “Atau aku hanya berpura-pura kuat.”Aelmon mengangkat alis se

  • Hati liar sang Alpha   Di Antara Nafas dan Jarak

    Langit pagi itu masih retak.Namun tidak menekan.Cahaya turun perlahan, menyelinap di sela-sela garis tipis yang membelah langit seperti luka lama yang mulai belajar sembuh. Udara dingin, tapi lembut. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan kayu.Elara terbangun dalam diam. Tubuhnya masih lemah, namun tidak lagi sesakit kemarin. Selimut tipis menutup sebagian tubuhnya, dan untuk beberapa detik… ia hanya berbaring, mendengarkan napasnya sendiri.Tenang, lebih teratur. Namun ada sesuatu yang ia sadari lebih dulu dari apa pun—Kehadiran.Ia menoleh. Aelmon ada di sana.Duduk di sampingnya, bersandar ringan, satu tangan bertumpu di lutut. Matanya tidak tertutup. Ia tidak tidur.Seperti biasa.Menjaga Elara, ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatapnya. Dan untuk sesaat, dunia terasa… pelan.“Kau menatapku terlalu lama.”Suara Aelmon rendah. Namun tidak dingin, Elara menghela napas kecil.“Karena kau tidak tidur.”“Sudah terbiasa.”Elara mengerutkan kening sedikit. “Bukan itu

  • Hati liar sang Alpha   Pagi yang Terlalu Berat

    Pagi itu tidak datang dengan tenang. Langit masih sama—retak, pucat, tidak sepenuhnya pulih. Namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan tekanan seperti sebelumnya… melainkan rasa tidak nyaman yang halus, seperti firasat yang tidak bisa dijelaskan.Di dalam tenda, Elara terbangun dengan napas yang berat.Tubuhnya panas, namun kulitnya dingin. Keringat menempel di pelipisnya, rambutnya sedikit basah, dan setiap tarikan napas terasa seperti sesuatu menekan dari dalam dadanya.Ia mencoba bangun. Namun tubuhnya langsung melemah.Tangannya gemetar saat menahan berat badannya sendiri.“Ael…”Suaranya hampir tidak terdengar.Aelmon yang sejak tadi tidak benar-benar tidur langsung bergerak.Ia sudah bangun sebelum Elara membuka mata, nalurinya tidak membiarkannya lengah sejak semalam.“Apa yang sakit hmmm.”Ia sudah di sampingnya dalam hitungan detik. Tangannya menyentuh dahi Elara.Panas.Rahangnya mengeras. “Lyra,” panggilnya tegas. Tidak keras.Cukup untuk membuat orang di luar langsung

  • Hati liar sang Alpha   Garis yang Tidak Terucap

    "Tidak cukup!" Pikir Lira.***Malam turun lebih cepat dari biasanya. Langit masih retak, namun bintang-bintang tetap muncul di sela-selanya—seolah dunia berusaha terlihat normal, meski tidak benar-benar utuh. Api unggun menyala lebih besar malam itu, mungkin tanpa disadari… sebagai cara mengusir dingin yang terasa berbeda.Elara duduk sedikit menjauh, bukan karena ingin sendiri. Namun karena pikirannya terlalu penuh.Keputusan pagi tadi masih terngiang—tentang tanda, tentang ikatan, tentang sesuatu yang seharusnya berarti… tapi terasa salah jika dipaksakan.Ia menarik napas pelan. Namun tetap tidak terasa cukup.Di sisi lain, Lyra berdiri bersama Rowan. Keduanya tidak berbicara keras. Hanya bisikan singkat, cukup untuk saling memahami tanpa menarik perhatian.“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Rowan.Lyra menatap ke arah Lunae, lalu ke Aelmon.“Aku tahu.”Nada suaranya rendah. “Kalau tanda itu benar-benar memudar, bukan hanya ikatannya yang melemah… tapi juga kestabilannya.”Rowan men

  • Hati liar sang Alpha   Tanda yang Memudar.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun sebuah cerita masa lalu membuat ikatan mereka semakin kuat.Bukan karena tidak ada suara, justru sebaliknya. Aktivitas pack tetap berjalan, langkah kaki, percakapan pelan, denting peralatan. Namun ada sesuatu yang berbeda… seperti semua orang sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang belum terjadi.Elara berdiri di dekat aliran air kecil di sisi lembah.Airnya jernih, mengalir pelan di atas batu-batu halus. Ia menunduk, membasuh wajahnya, membiarkan dingin air menyentuh kulitnya.Segar. Ia mengangkat kepala perlahan, dan untuk sesaat, Ia melihat pantulannya.Bukan sesuatu yang asing. Namun tidak sepenuhnya sama, tatapannya lebih dalam.Namun yang membuatnya terdiam, adalah lehernya.Tanda itu… Masih ada. Namun tidak sepekat sebelumnya.Garis halus yang dulu jelas, kini memudar di beberapa bagian. Seperti tinta yang mulai kehilangan warnanya, perlahan ditelan oleh sesuatu yang lebih besar.Elara menyentuhnya, ujung jarinya berhenti tep

  • Hati liar sang Alpha   Luka yang Memilih Sembuh

    Senja turun perlahan di Lunaris.Langit berwarna keemasan pucat, retakan tipis masih tampak seperti garis halus yang belum benar-benar hilang. Angin bergerak lebih lembut, membawa aroma tanah dan daun basah. Suara aktivitas pack mulai mereda, digantikan oleh percakapan pelan dan langkah kaki yang tidak lagi terburu-buru.Di tepi area utama, dekat sebuah tenda terbuka yang berfungsi sebagai tempat perawatan. Elara duduk. Tangannya berada di atas meja kayu sederhana, telapak menghadap ke atas. Cahaya tipis berdenyut di bawah kulitnya, halus namun stabil.Di depannya, Lyra berdiri.Fokus.Matanya tidak hanya melihat—ia merasakan. Jari-jarinya bergerak perlahan di atas pergelangan tangan Elara, tidak menyentuh langsung, hanya cukup dekat untuk membaca aliran energi yang kini menjadi bagian dari tubuh gadis itu.“Lebih tenang,” gumam Lyra.Elara menatapnya. “Dibandingkan kapan?”“Dibandingkan saat kau hampir meledak semalam.” ucapnya dengan nada suaranya datar.Lebih seperti seseorang yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status