تسجيل الدخولTeman-teman, bulan Oktober aku banyak kegiatan jadi kemungkinan besar bakal up cuma 2x sehari, kalau pun 3x artinya aku masih sempat fly to the moon. Hoho Once more big thanks for you all. Atas supportnya buat ramein Mas Wima dan Jeevi, lope you sekebon sawit 🌻🌼💖
“Mas!” Jeevi menggaet tangan Wima. “Jangan sampai dia yang nyamperin kita. Perutnya udah gede. Ayo, kita yang ke sana aja.”“Tapi—”Belum sempat protes, Jeevi sudah menarik tangan Wima, menyeretnya mendekati Kalla. Kontras dengan Wima yang bengong, wanita itu malah tersenyum lebar. “Halo,” sapa Jeevi, matanya berbinar terang, nyaris sama dengan binar di mata Kalla. “Halo,” sambut Kalla senang. “Kamu … istri Kak Wima yang kuliah di sini ya?” tanya wanita itu antusias. “Iya.” Jeevi mengulurkan tangan. “Kenalin, saya Jeevi. Saya Mahasiswa Ilmu Hukum semester 4.” Menyambut tangan Jeevi, Kalla tersenyum senang. “Aku Kalla. Aku mantan karyawan Kak Wima dulu. Tapi sekarang ngajar di sini.” “Wah, jadi Bu Kalla dosen ya?”“Eh, jangan panggil bu dong. Ya meskipun bentar lagi aku jadi ibu.” Kalla terkekeh, lantas menatap Wima. “Istri kamu cantik, Kak.”Wima mengerjap, tapi kemudian tersenyum. “Apa kabar, Kalla?” tanya Wima, pandangannya tertuju pada perut besar wanita itu. “Aku baik banget
Wima menghela napas sembari melipat lengan di dada. Dari tempatnya berdiri, dia mengawasi istrinya yang sedang bicara dengan dosennya yang sok kecakepan itu. Sesekali mereka tertawa bersama. “Dosen killer apanya? Itu mah dosen yang suka tebar pesona,” gumam Wima berdecih. Merasa muak melihat itu. Dia mengurai dua lengannya dan bergerak menghampiri mereka. Tanpa permisi, tanpa babibu dia merangkul bahu Jeevi. “Sayang, masih ada kelas lagi kan?” Jeevi terkesiap seketika. Tubuhnya menegang merasakan lengan besar yang sudah tersampir di bahunya. Bukan hanya Jeevi, di depan wanita itu Ibram pun tampak terkejut dengan mata melebar. “Mas!” seru Jeevi yang langsung menyingkirkan lengan suaminya itu dengan risih. Bukannya apa. Ini masih di area kampus, Gusti! Bukan hanya Pak Ibram, tapi masih banyak mahasiswa lain yang berkeliaran juga. Alis tebal Ibram menyatu. Raut wajahnya sudah seperti ingin menerkam orang. “Anda penyusup di kelas pagi saya kan?” tanya pria itu. “Tolong, jaga sikap
“Pak, Anda di mana?” Senyum Wima seketika luntur saat mendapat telepon dari Rafli. Karena jika asisten pribadi itu menelepon pasti berurusan dengan pekerjaan. “Di kampus Jeevi. Kenapa?”“Rani bagaimana? Apa kita langsung serahkan ke pihak berwajib?” Wima menarik napas panjang. Ujung matanya melirik Jeevi yang sedang berdiskusi dengan temannya di selasar kampus. “Tiga puluh menit lagi saya ke sana.” “Baik, Pak.”Pandangan Wima kembali terlempar ke arah Jeevi. Dan senyumnya sontak terbit. Istrinya itu terlihat serius. Entah apa yang mereka diskusikan. Namun beberapa saat berlalu senyum Wima yang terkembang tiba-tiba surut ketika melihat seorang pria menghampiri Jeevi dan teman-temannya. Matanya kontan menyipit tajam. Wima tahu pria itu lantaran beberapa jam lalu dia mengikuti kelasnya. Yak! Dia tidak pernah melakukan hal sekonyol ini sebelumnya, ikut kelas Jeevi demi tahu bagaimana si dosen yang bernama Ibram itu. Jika Willa atau Rafli dengar, mereka pasti terbahak. Tanpa member
“Sebentar, jadi Satya itu sepupu kamu sekaligus keponakan kamu?” Netra bulat Jeevi makin membulat setelah mendengar cerita suaminya dari A sampai Z. Dan kepalanya mendadak pusing hanya karena memikirkan itu. “Ya, begitu.” Ternyata memang tidak sederhana. Jeevi bisa memahami perasaan Ratih. Dirinya juga pernah mengalami hal sama. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Antara Satya dan ayah biologisnya sama saja. Pemaksa. “Apa Satya tahu soal ini?” “Sepertinya nggak.”“Nggak heran, Mbak Ratih ingin Satya menguasai perusahaan.”“Bukan Mbak Ratih aku rasa. Tapi Hendi. Pria serakah itu yang mempengaruhi Mbak Ratih. Pria tak tahu diri itu ingin memanfaatkan Satya dan juga Mbak Ratih karena merasa berjasa.” Wima menarik napas panjang, lantas mengecup kepala Jeevi. “Kepalaku pusing.”Mendengar itu Jeevi langsung beranjak bangun. “Kamu istirahat aja, Mas. Aku aja yang cuma dengar pusing apalagi kamu.”Wima ikut bangun. “Besok kamu berangkat pagi atau siang?” Sambil menggelung rambut, Jeevi
Jeevi terkejut ketika suaminya pulang membawa luka di dahi bagian atasnya, mendekati batas rambut. Dia yang sedang menyusun buku-buku mata kuliah segera beranjak menghampiri suaminya yang baru saja masuk bersama Rafli. “Mas, kamu kenapa?” tanya Jeevi dengan wajah cemas, dia mengikuti Wima yang beranjak duduk di sofa. “Aku nggak apa-apa.”“Nggak apa-apa gimana? Kalau nggak apa-apa mana mungkin kepala kamu dipasang perban.” “Kepala Pak Wima bocor, Mbak. Kena lempar gelas Bu Ratih,” info Rafli yang sontak membuat mata Jeevi melebar tak terima. “Kok bisa?!” Jeevi menatap kembali suaminya. “Kamu ngapain sih ketemu Mbak Ratih lagi? Terus lukanya ini gimana?” “Aman kok, Mbak. Cuma dijahit dua karena ada luka robek yang agak dalam.” Jeevi meluruhkan bahu dengan tampang sedih. Wima terlihat baik-baik saja bahkan pria itu malah tersenyum, tapi hati Jeevi terasa sakit. Dia berbalik, lantas beranjak ke dapur sambil ngomel. “Kamu tuh ya. Aku selalu bilang hati-hati, hati-hati, tapi nggak p
“Apa Jeevi ikut Om pulang?” “Kenapa? Mau ganggu istriku lagi?” Satya berdecak, menatap malas pamannya. “Dasar suami posesif,” gerutu Satya melengos. “Kalau aku nggak posesif, serigala macam kamu bisa mengganggunya lagi.” Wima tampak belum mau menyudahi pembahasan tentang istrinya. “Aku sudah minta maaf loh, Om. Bahkan aku udah jelasin semua ke Shara dan Willa. Juga…” Satya menatap pelan neneknya. “Juga nenek.” Wima ikut menatap Devana yang sibuk membereskan kotak P3K. “Bun… “ Sepertinya wanita yang paling dia cintai itu pura-pura tidak mendengar. “Bunda, bisa pahami posisi Jeevi kan?” tanya Wima hati-hati. Berharap sikap keras bundanya bisa lunak. Namun Devana terlihat tak ingin merespons. “Sebentar lagi dr. Syam datang. Bunda cuma kasih pertolongan pertama. Nanti suruh dokter cek luka kamu lagi,” ujar Devana mengalihkan topik pembicaraan. Wanita itu masih enggan berkomentar tentang masalah Jeevi. Dia bahkan langsung beranjak berdiri. “Bun…,” panggil Wima dengan nada memoh







