LOGINSetuju gak kalian Jenan dan Willa?
“Sejak dia menikahi perempuan itu rumah ini sering kena masalah. Bunda bisa rasain sendiri kan? Bahkan dia lebih pilih tinggal bersama istrinya yang pelayan bar daripada sama kita di sini lagi.”Ratih terus menyerocos, menumpahkan kekesalannya di saat Wima sedang menahan diri untuk tidak meledak. “Sebelum perempuan itu datang, keluarga kita aman, jauh dari masalah. Coba sekarang semuanya hancur. Satu per satu akan hancur. Perempuan itu memang pembawa sial!”“Diam!” seru Wima dengan rahang merapat. “Bunda tahu, bahkan Satya pun enggan cepat menikahi Ruby gara-gara perempuan itu. Past perempuan itu yang—” “Aku bilang, diaaam!!!” Devana dan Ratih kontan terlonjak mendengar teriakan Wima. Seumur-umur, mereka tidak pernah melihat Wima memainkan nada tinggi. Meskipun marah, pria itu biasanya lebih bisa mengendalikan diri. Jadi, saat ini keduanya sangat terkejut dan tidak menyangka. Bukan hanya mereka, di balik dinding pun Jeevi mengelus dada lantaran kaget. Belum pernah dia melihat sua
“Jenan?” “Jangan pura-pura nggak kenal.”“Ya ampun, Kak Wima. Mau nuduh apa lagi sih?” “Rafli, Brina, bahkan Jeevi lihat kalian masuk butik.”Willa kontan terdiam. Keningnya berkerut samar. “Kalian buntutin aku?”Spontan saja Wima berdecih. Sudah ketahuan, masih ngelak. “Mereka tanpa sengaja melihat. Jadi, ada hubungan apa kalian?” Bibir Willa mencebik. Punggungnya disandarkan kasar ke sofa. Mukanya lantas tertekuk. “Nggak ada hubungan apa-apa. Kami cuma nggak sengaja ketemu. Terus dia minta rekomendasi butik terbaik di sini.” Terang saja alis tebal Wima menanjak seketika. Kelaguan banget si Jenan. Bukannya dia— si yang paling tau fashion saat Jeevi kebingungan memilih gaun? “Nggak usah dekat-dekat dia lagi.”“Lah kenapa?”“Kamu tau dia siapa?” Dengan tampang polos, Willa menggeleng. Punya Abang satu tapi overprotektif banget. Sampai sebesar ini belum juga dibolehin pacaran. “Dia kakaknya Jeevi.” “Malah bagus dong. Kamu jadi nggak perlu overthinking lagi. Kakaknya Kak Jeevi pas
“Jenan ada di Indonesia?”“Iya. Kok lo tau?”“Kalau nggak salah gue kemarin liat dia di Pullman. Dia sama cewek seksi. Mungkin pacarnya.” Alis Jeevi menanjak mendengar ucapan Brina. Bola matanya bergerak kanan-kiri seolah tengah memikirkan. “Uhm, nggak mungkin pacar sih,” sahutnya ragu. “Kemarin kami sempat makan siang bareng, tapi dia nggak bahas masalah pacar.” “Cewek sewaan kali ya.” “Kayaknya Jenan bukan tipe kayak gitu deh.”“Eh, Nyonya. Jangan salah, penampilan itu sering nipu. Noh, asisten laki lo. Tampang boleh sok sok kalem, giliran digoyang kayak macan buka puasa.” Jeevi tergelak. Dia berani jamin di balik kemeja yang Brina pakai, pasti ada banyak bekas kokopan si Rafli.“Alah, lo juga nikmati kan?”Brina nyengir. “Ya iya sih. Cuma dia partner yang bisa ngimbangin fantasi gue.”“Gelo!”Brina terbahak, lalu merangkul bahu Jeevi. “Pokoknya kalau lo mau sesuatu yang beda. Lo tinggal tanya gue. Gue kasih tips dan trik biar lo bisa sampe big-O.”Menyingkirkan lengan Brina dar
Jeevi tersentak melihat wajah suaminya yang mengeras begitu Satya lenyap dari pandangan. Entah apa yang Satya bisikan pada Wima sebelum pergi. Yang jelas wajah Wima saat ini terlihat menyeramkan. Wanita yang mencepol rambutnya tinggi-tinggi itu menelan ludah. Wima nyaris tak pernah marah. Kalaupun pria itu marah, lebih pilih diam dan pergi. Namun sepertinya dia harus menghadapi realita. Mampus! Mata bulat wanita itu mengerjap saat Wima menatap tajam seraya mendekat. “Ngapain aja kamu tadi di atas sama dia?”Kaki Jeevi bergerak mundur seiring Wima yang bergerak makin maju. “Hah? Aku nggak ngapa-ngapain.” “Yakin?” Pertanyaan lelaki itu kok agak ngeselin ya. “Yakinlah! Emang kamu pikir aku ngapain?” Jeevi terkesiap saat punggungnya membentur dinding. Tidak ada lagi jalan keluar. Kedua tangan Wima lantas mengurungnya. “Kamu nggak pernah mau dengar ucapanku buat nggak dekat-dekat lagi sama Satya ya? Apa kamu nggak belajar dari semua kejadian?” “M-Mas aku uhm … kayaknya d-dia udah
Jika Jeevi meringis karena ketahuan suaminya pas ngelayab habis pulang kuliah, Wima malah tersenyum manis sambil menelengkan kepalanya. Pria itu menautkan dua tangan ke belakang punggung lantas berjalan pelan, mengamati setiap interior eks rumah Keluarga Priyadi itu. Jeevi kembali bergerak menuruni sisa anak tangga. “Mas kok ada di sini? Kupikir masih ada di Bandung.” “Kenapa? Seneng ya kalau aku masih di Bandung, biar bisa berkeliaran sama mantan?”“I-ih, nggak gitu.“ Di dua tangga terakhir, Jeevi melompat. Lalu segera menggaet lengan Wima. “Lalu sekarang apa?”“Aku ikut Satya karena dia mau nunjukin sesuatu. Aku berani ikut karena tahu kamu pasti ngawasin aku dari jauh.” Jeevi mengangkat tangan ke udara, menggoyangkan bracelet yang dia pakai. “Belum lagi, ada orang yang selalu ngikutin aku pake Rubicon. Itu orang kamu kan?” Wima berdecak, lanjut melangkah mengamati layout rumah. “Tetep saja. Kalau waktunya pulang ya kamu harus pulang.”“Iya, maaf.” “Om Wima?!” seru Satya dari
Pangkal alis Jeevi menyatu saat mobil milik Satya memasuki sebuah kawasan yang tak asing baginya. Kawasan yang dulu menjadi tempatnya bermain sejak kecil. Ah bukan, sejak lahir malahan. Hal ini tentu saja membuat Jeevi terkejut dan bertanya-tanya. Dia menoleh, menatap pria di sebelahnya yang terus mengembangkan senyum sembari menyetir. “Kenapa kita ke sini?” tanya Jeevi dengan bibir yang sedikit gemetar. Ada rindu yang tiba-tiba hadir. Menarik semua kenangan yang pernah dirinya lalui di tempat ini. “Ada yang mau aku tunjukin. Ah, tepatnya aku berikan ke kamu.” Jeevi makin tak mengerti ketika mobil memasuki blok rumahnya dulu. Blok yang rumah-rumahnya mengelilingi sebuah taman. Dada Jeevi berdebar ketika laju mobil mulai melambat, lalu berbelok di salah satu pagar rumah. “Satya!” seru Jeevi tak percaya. Dadanya mencelus seketika. Dia melebarkan mata ketika pagarnya terbuka secara otomatis, dan tanpa menjelaskan apapun, Satya kembali menarik tuas, melewati pagar. Rumah penuh kenang







