LOGINAkan aku hadapi dunia dan seisinya, tapi update dulu. Hihihi
Jeevi tersentak melihat wajah suaminya yang mengeras begitu Satya lenyap dari pandangan. Entah apa yang Satya bisikan pada Wima sebelum pergi. Yang jelas wajah Wima saat ini terlihat menyeramkan. Wanita yang mencepol rambutnya tinggi-tinggi itu menelan ludah. Wima nyaris tak pernah marah. Kalaupun pria itu marah, lebih pilih diam dan pergi. Namun sepertinya dia harus menghadapi realita. Mampus! Mata bulat wanita itu mengerjap saat Wima menatap tajam seraya mendekat. “Ngapain aja kamu tadi di atas sama dia?”Kaki Jeevi bergerak mundur seiring Wima yang bergerak makin maju. “Hah? Aku nggak ngapa-ngapain.” “Yakin?” Pertanyaan lelaki itu kok agak ngeselin ya. “Yakinlah! Emang kamu pikir aku ngapain?” Jeevi terkesiap saat punggungnya membentur dinding. Tidak ada lagi jalan keluar. Kedua tangan Wima lantas mengurungnya. “Kamu nggak pernah mau dengar ucapanku buat nggak dekat-dekat lagi sama Satya ya? Apa kamu nggak belajar dari semua kejadian?” “M-Mas aku uhm … kayaknya d-dia udah
Jika Jeevi meringis karena ketahuan suaminya pas ngelayab habis pulang kuliah, Wima malah tersenyum manis sambil menelengkan kepalanya. Pria itu menautkan dua tangan ke belakang punggung lantas berjalan pelan, mengamati setiap interior eks rumah Keluarga Priyadi itu. Jeevi kembali bergerak menuruni sisa anak tangga. “Mas kok ada di sini? Kupikir masih ada di Bandung.” “Kenapa? Seneng ya kalau aku masih di Bandung, biar bisa berkeliaran sama mantan?”“I-ih, nggak gitu.“ Di dua tangga terakhir, Jeevi melompat. Lalu segera menggaet lengan Wima. “Lalu sekarang apa?”“Aku ikut Satya karena dia mau nunjukin sesuatu. Aku berani ikut karena tahu kamu pasti ngawasin aku dari jauh.” Jeevi mengangkat tangan ke udara, menggoyangkan bracelet yang dia pakai. “Belum lagi, ada orang yang selalu ngikutin aku pake Rubicon. Itu orang kamu kan?” Wima berdecak, lanjut melangkah mengamati layout rumah. “Tetep saja. Kalau waktunya pulang ya kamu harus pulang.”“Iya, maaf.” “Om Wima?!” seru Satya dari
Pangkal alis Jeevi menyatu saat mobil milik Satya memasuki sebuah kawasan yang tak asing baginya. Kawasan yang dulu menjadi tempatnya bermain sejak kecil. Ah bukan, sejak lahir malahan. Hal ini tentu saja membuat Jeevi terkejut dan bertanya-tanya. Dia menoleh, menatap pria di sebelahnya yang terus mengembangkan senyum sembari menyetir. “Kenapa kita ke sini?” tanya Jeevi dengan bibir yang sedikit gemetar. Ada rindu yang tiba-tiba hadir. Menarik semua kenangan yang pernah dirinya lalui di tempat ini. “Ada yang mau aku tunjukin. Ah, tepatnya aku berikan ke kamu.” Jeevi makin tak mengerti ketika mobil memasuki blok rumahnya dulu. Blok yang rumah-rumahnya mengelilingi sebuah taman. Dada Jeevi berdebar ketika laju mobil mulai melambat, lalu berbelok di salah satu pagar rumah. “Satya!” seru Jeevi tak percaya. Dadanya mencelus seketika. Dia melebarkan mata ketika pagarnya terbuka secara otomatis, dan tanpa menjelaskan apapun, Satya kembali menarik tuas, melewati pagar. Rumah penuh kenang
Bel yang menandakan selesainya kelas akhirnya berbunyi. Membuat nyaris semua penghuni kelas menarik napas lega. Otak yang sejak dua jam bergelut dengan materi bejibun tentang Hukum Kekayaan Intelektual terasa mendapat angin segar.Belakangan banyak oknum yang melanggar soal HKI ini. Padahal tiap karya yang ditelurkan dalam bentuk nyata oleh seseorang sudah otomatis memiliki hak cipta sendiri tanpa perlu didaftarkan. “Mo langsung balik?” tanya Winny seraya membereskan modul dan beberapa bukunya. Gina yang sudah siap cabut, menatap cindo itu dengan mata berbinar. “Ngebakso dulu aja yuk. Yang pedes krimi gitu.” “Ide bagus!” Winny melirik Jeevi yang sedang memasukkan buku ke tas. “Lo ikut kan, Jeev?” Tentu saja Jeevi ingin ikut nongkrong bersama teman-temannya seperti dulu saat pulang kuliah. Tapi kondisi wanita itu sekarang beda. Dia bukan remaja lajang yang bebas. Dia wanita bersuami. “Kayaknya nggak deh. Gue langsung balik aja. Takutnya laki gue udah pulang duluan.”“Hm, yang udah
Bukan di gedung kantornya. Rafli meminta Wima datang di salah satu suite sebuah hotel di kawasan utama Jakarta. Di sana bukan cuma Rafli, ada Rani yang sekarang sudah menjadi tawanan keduanya. Yak, sejak wanita itu tertangkap, Rafli belum membebaskannya. Wanita itu duduk dengan kepala menunduk saat Wima datang memasuki suite. Sementara Rafli menaikkan sebelah alis melihat penampilan kasual bosnya yang tumben-tumbenan hari ini tidak mengenakan setelan jas. Wima mengambil tempat duduk di sofa paling panjang. Berseberangan dengan Rani. “Kamu tahu alasan Nyonya Ratih ingin menggugurkan kandungan Nona Jeevi?” tanya Rafli, sedikit mendorong bahu Rani dengan ujung stylus pen yang dia jepit di antara kedua jarinya. Wanita itu tersentak, tapi kembali menunduk. “Itu, Pak. Uhm, itu karena Nyonya Devana yang—”Mendengar bundanya disebut mata Wima kontan memelotot. “Karena Nyonya Devana menolak tanda tangan. Apa sih itu?” Rani menggaruk kepala seraya berpikir. “Uhm gabungan perusahaan—ah buka
“Mas!” Jeevi menggaet tangan Wima. “Jangan sampai dia yang nyamperin kita. Perutnya udah gede. Ayo, kita yang ke sana aja.”“Tapi—”Belum sempat protes, Jeevi sudah menarik tangan Wima, menyeretnya mendekati Kalla. Kontras dengan Wima yang bengong, wanita itu malah tersenyum lebar. “Halo,” sapa Jeevi, matanya berbinar terang, nyaris sama dengan binar di mata Kalla. “Halo,” sambut Kalla senang. “Kamu … istri Kak Wima yang kuliah di sini ya?” tanya wanita itu antusias. “Iya.” Jeevi mengulurkan tangan. “Kenalin, saya Jeevi. Saya Mahasiswa Ilmu Hukum semester 4.” Menyambut tangan Jeevi, Kalla tersenyum senang. “Aku Kalla. Aku mantan karyawan Kak Wima dulu. Tapi sekarang ngajar di sini.” “Wah, jadi Bu Kalla dosen ya?”“Eh, jangan panggil bu dong. Ya meskipun bentar lagi aku jadi ibu.” Kalla terkekeh, lantas menatap Wima. “Istri kamu cantik, Kak.”Wima mengerjap, tapi kemudian tersenyum. “Apa kabar, Kalla?” tanya Wima, pandangannya tertuju pada perut besar wanita itu. “Aku baik banget,







