MasukSetelah makan siang, Megantara kembali mengumpulkan beberapa anggota tim inti ke ruang meeting untuk membahas proyek dari Astu Group lebih lanjut.Ruangan itu dipenuhi suara ketikan laptop dan gesekan pelan kursi sebelum akhirnya semuanya mulai fokus pada layar presentasi di depan.Hagia berdiri di dekat monitor, memegang remote presentasi di tangannya. Sementara Megantara duduk di ujung meja dengan laptop terbuka di hadapannya. Arsenio dan Kaluna berada di sisi lain meja, sibuk memperhatikan slide demi slide yang ditampilkan Hagia.“Untuk konsep awal,” ujar Hagia tenang, “Astu Group ingin bangunan ini tetap membawa identitas modern tropical. Jadi mereka cukup concern di bagian pencahayaan alami dan area open space.”Slide berikutnya berganti.Hagia menjelaskan detail demi detail yang sebelumnya sempat ia diskusikan dengan Daren saat meeting pagi tadi—mulai dari kebutuhan lahan, pembagian area, sampai estimasi pengembangan untuk beberapa tahun ke depan.Arsenio beberapa kali menganggu
Hagia dan Daren akhirnya memutuskan brunch di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor.Mereka duduk saling berhadapan di dekat jendela. Di atas meja, Hagia memesan tuna sandwich, sementara Daren memilih chicken salad. Suasana restoran cukup ramai, tetapi tetap menyisakan ruang tenang di antara percakapan-percakapan pelan para pengunjung.Beberapa saat, yang terdengar hanya bunyi pelan peralatan makan beradu dengan piring.“Aku sempat dengar dari Kevin…” Daren membuka suara. “Kalau sekarang kamu jadi single mom.”Gerakan tangan Hagia terhenti. Ujung pisaunya diam di atas roti. Ia tidak langsung menjawab.Ada jeda singkat. Jeda yang terasa sedikit canggung.“Maaf, Gia,” lanjut Daren, nadanya melunak. “Aku nggak bermaksud mengungkit kehidupan pribadi kamu. Cuma—”“Iya,” potong Hagia pelan.Ia kembali menunduk, melanjutkan memotong sandwich di piringnya sebelum mengangkat wajah. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, meski matanya menyimpan lelah yang samar.“Aku single mom se
“Baik,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. “Sebelum kita lanjut, saya ingin tahu dulu alasan Pak Daren memilih Hagia untuk memegang proyek ini. Padahal di tim kami masih banyak arsitek lain yang pengalamannya jauh lebih matang.” Kalimat itu membuat Hagia spontan menoleh. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Ia sama sekali tidak menduga Megantara akan membawa pertanyaan itu ke tengah rapat, terlebih dengan nada setajam itu. Ruangan mendadak terasa lebih hening. Daren yang semula bersandar perlahan menegakkan tubuh. Tatapannya sempat singgah pada Hagia sebelum kembali kepada Megantara. “Karena saya memang yang meminta Hagia terlibat langsung,” katanya tenang. “Sejujurnya, saya sudah lama mencari keberadaan Hagia.” Megantara menatapnya tanpa berkedip. Daren menarik napas pelan, lalu melanjutkan, “Dulu kami cukup dekat. Hagia adalah cinta pertama saya… sekaligus mantan pacar saya waktu SMA.” Hagia tertegun. Jemarinya yang semula merapikan berkas mendadak
“Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sudah beberapa langkah lebih dulu berhenti. Ia menoleh, lalu mengikuti arah pandang Megantara. “Oh itu. Dari Astu Group.”Megantara tidak menoleh.“Namanya Daren Astunegara. Klien baru kita. Mereka mau bangun villa di Bali,” lanjut Kafka santai. “Dan dia minta kita—khususnya Hagia—buat handle proyek ini.”Baru kali ini Megantara mengalihkan pandangan. “Kenapa dia minta Hagia yang handle?”Kafka menatapnya sebentar. Lalu, tanpa bisa menahan diri, sudut bibirnya naik. “Cemburunya jangan dilihatin begitu dong, ah.”Megantara mendecak pelan. “Bukan cemburu.”“Terus?”“Kalau ini ada sangkut pautnya sama konflik kepentingan, jatuhnya nggak profesional, Ka,” ujar Megantara berkilah. Kafka tertawa pen
“Haia!”Langkah Hagia yang baru saja hendak menuju lift terhenti begitu namanya dipanggil.Ia menoleh. Dan seketika tatapannya bertumbukan dengan sosok lelaki yang terasa tidak asing.Lelaki itu berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja abu muda dengan jas hitam yang disampirkan di lengan. Rambutnya tertata rapi, wajahnya masih menyimpan garis-garis yang sama seperti yang pernah Hagia kenal dulu, hanya saja kini tampak lebih dewasa.Ia melangkah mendekat sambil tersenyum lebar. “Long time no see,” katanya ringan. “Kamu makin cantik aja, sih?”Hagia mengerjap dua kali. Ada jeda kecil sebelum ia benar-benar mengenali wajah itu.“Daren?”Lelaki itu tertawa kecil. “Iya.”“Kamu…” Hagia masih tampak sedikit kaget. “Kok di sini?”Daren mengangkat alis. “Lho, pagi ini aku memang ada janji meeting sama kamu.”“Meeting sama aku?” Kening Hagia mengernyit. Ia sempat memutar ulang isi obrolannya dengan Risa kemarin. Lalu semuanya tersambung begitu saja.“Ya ampun,” gumamnya pelan. “Astu
Aroma bawang putih tumis dan sayur hangat masih tertinggal tipis di udara ketika Hagia mematikan kompor. Pagi itu apartemennya terasa lebih berisik dari biasanya. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa, melainkan karena pagi ini akhirnya kembali menyerupai rutinitas normal, setelah beberapa hari yang terasa panjang dan nyaris tanpa jeda.Di meja makan, Ranu sudah duduk manis dengan mangkuk kecil di depannya. Anak itu sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri, sesekali matanya terpaku ke televisi yang menayangkan kartun pagi. Tangannya yang sempat digips kini sudah jauh lebih baik. Meski begitu, Hagia masih belum bisa benar-benar tenang. Setiap beberapa menit, matanya pasti melirik ke arah putranya.Di sebelah Ranu, Mbak Asri duduk sambil mengupas buah.“Ranu nggak boleh nakal, ya?” ujar Hagia sambil meletakkan piring terakhir ke rak pengering. “Nurut sama Mbak Asri selama Mama kerja.”Ranu menoleh. Pipi kanannya masih sedikit menggembung karena makanan. “Iya, Ma.”Hagia tersenyum k







