Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 41. Bali dan Kenangannya

Share

41. Bali dan Kenangannya

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-08 16:47:54

“Sini, biar aku yang gendong.”

Melihat Hagia mulai tampak kewalahan menopang Ranu yang setengah tertidur di bahunya, Megantara langsung mengambil alih.

Tangannya bergerak ringan, seolah sudah terbiasa. Ranu bahkan nyaris tidak benar-benar terbangun. Bocah itu hanya menggumam pelan, lalu otomatis menyandarkan kepala ke bahu Megantara sambil tetap memeluk dinosaurusnya.

Pesawat mereka baru saja mendarat di Bandara Ngurah Rai. Begitu keluar dari kabin, udara hangat khas Bali langsung menyambut. Se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Tiraya
waduuuh bisa² Pak Megan keluar tanduk nya nich ... ngadi² emang nich Daren Astru hahhaha
goodnovel comment avatar
Andrea Parker
ih daren ngapain ngajak hagia keliling bali, dia mau tidur sama megantara, upsss sama anaknya wkwkwkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   49. Paniknya Hagia

    Entah bagaimana akhirnya malam itu Hagia, Megantara, dan Ranu benar-benar tertidur di dalam satu ranjang yang sama.Ranu berada di tengah, seperti yang ia mau.Bocah itu meringkuk nyaman sambil memeluk Megantara erat-erat dalam tidurnya. Salah satu kaki kecilnya bahkan menimpa paha lelaki itu tanpa beban. Pemandangan yang seharusnya terasa hangat. Namun entah kenapa justru membuat dada Hagia terasa sesak.Ia memandangi mereka dalam diam dengan mata yang sulit sekali terpejam. Langit-langit kamar terasa kosong, sementara suara debur ombak samar-samar terdengar dari luar villa.Hagia tidak pernah benar-benar bisa melupakan kenyataan bahwa rumah tangga mereka pernah hancur berantakan. Bahwa mereka pernah saling melukai sampai tidak lagi tahu bagaimana caranya pulang satu sama lain. Tetapi sekarang… mereka tidur seperti keluarga utuh lagi.Seolah tidak pernah ada apa-apa di antara mereka.Hagia pelan-pelan membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit. Napasnya terasa berat. Ia tidak tahu

  • Hello, Mantan!   48. Permintaan Megantara

    “Kamu pernah kepikiran buat nikah lagi, nggak?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hagia. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti gumaman. Namun cukup untuk membuat suasana di sekitar mendadak hening.Megantara yang sejak tadi duduk santai langsung menoleh. Tatapannya tertahan selama beberapa detik pada wajah Hagia yang kini justru lebih dulu memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan ujung bajunya sendiri.Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia memutuskan pandangannya lalu mengembuskan napas pelan. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”“Nggak.” Hagia mengangkat bahu kecil. “Aku cuma iseng nanya aja, Mas.”Namun Megantara tahu pertanyaan itu tidak hanya sekadar iseng seperti yang dikatakan Hagia. “Kita udah pisah dua tahun, Mas,” lanjut Hagia pelan. “Kalau memang kamunya udah ada perempuan yang dekat sama kamu, dan pengen melangkah ke jenjang yang lebih serius… kami nggak apa-apa kok.”Megantara memperhatikannya diam-diam. Perempuan itu masih tidak menatapnya. Dan

  • Hello, Mantan!   47. Omelan Carmen

    Begitu sampai di villa, Megantara dan Hagia turun dari mobil. Udara malam terasa lebih dingin dibanding di restoran tadi. Suasana sekitar villa pun sudah sangat sepi, hanya suara jangkrik samar dan desir angin malam yang sesekali terdengar dari luar. Lampu teras masih menyala redup. Megantara membuka pintu lebih dulu, membiarkan Hagia masuk. Setelah meletakkan tote bag dan tasnya di ruang tengah, Hagia langsung melangkah menuju kamar tempat Ranu tidur. Dengan gerakan hati-hati Hagia mendorong pintu kamar itu dan suasana hangat langsung menyambutnya. Lampu tidur kecil menyala temaram di sudut ruangan. Ranu terlihat tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi memeluk boneka dinosaurusnya. Sementara di samping ranjang, Mbak Asri tertidur dalam posisi duduk sambil menyandarkan kepala ke sofa kecil. Melihat itu, wajah Hagia langsung melunak. Ia mendekat pelan lalu menyentuh bahu Mbak Asri hati-hati. “Mbak…” Mbak Asri tersentak bangun. “Hah? Mbak Hagia?” “Iya.” Hagia terseny

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menoleh ke belakang. Arsenio masih tertidur dengan kepala menyandar ke kaca jendela, dengan kedua tangan bersedekap di dada.Hagia menghela napas pelan sebelum akhirnya menjangkau kaki lelaki itu. “Sen,” panggilnya sambil menepuk pelan. “Bangun.”Tak ada respons.“Arsenio!”“Hah?!” Arsenio tergagap. Tubuhnya langsung tegak dengan mata membelalak setengah sadar. “Ngg, udah sampai, ya?”Hagia mengembuskan napas pelan. “Iya! Ayo turun.”“Oh.”Arsenio mengusap wajah kasar beberapa kali, masih mencoba mengumpulkan nyawa. Beberapa detik kemudian ia sadar Megantara masih duduk di depan. Spontan lelaki itu langsung membenarkan posisi duduknya.“Terima kasih ya, Pak,” ucapnya agak malu. “Dan maaf kalau sa

  • Hello, Mantan!   45. Debat Lagi

    “Mas!”Suara itu membuat Megantara menoleh.“Kenapa dari tadi cuma diem? Nggak lapar?” tanya Hagia yang kini berdiri tepat di belakang sana. Sejak tadi ia memang memilih menyingkir dari keramaian. Berdiri di sisi restoran yang menghadap ke tebing, cukup jauh dari meja-meja utama dan suara obrolan yang riuh.Tatapan mereka sempat bertemu selama beberapa detik. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut Hagia di sisi wajahnya.“Jangan salah paham dulu,” lanjut Hagia cepat, seolah ingin menepis kemungkinan lain. “Aku ngomong begini cuma nggak enak aja sama yang lain. Kamu kelihatannya nggak menikmati acaranya soalnya.”“Memang.” Megantara menjawabnya dengan cepat.Lelaki itu menyelipkan kedua tangan ke saku celana, lalu memandang ke arah gelap laut di kejauhan.“Barusan Mbak Asri video call,” katanya kemudian. “Dia bilang Ranu nanyain kamu terus.”Hagia langsung membelalak. “Kenapa nggak bilang, sih, Mas?” tanyanya cepat. “Kan aku bisa telepon Mbak Asri sekarang.”Ia refleks meraih p

  • Hello, Mantan!   44. Rasa Tak Nyaman Hagia

    “Daren sempat cerita kemarin kalau proyek ini dikerjakan sama kamu,” ujar Aisha sambil tersenyum hangat. “Dia juga sempat bilang kalau dia senang sekali akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi.”Hagia membalas dengan senyum kecil. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia masih belum benar-benar terbiasa dengan situasi ini. Berbincang dengan orang asing, berbicara tentang Daren setelah sepuluh tahun mereka benar-benar tak pernah saling bertemu.“Berlebihan banget kayaknya deh, Mbak,” ucap Hagia pelan.Aisha terkekeh kecil. “Bukannya kalian dulu pernah pacaran?”Kalimat itu membuat Hagia tertegun. Untuk sesaat ia hanya menatap Aisha.Ia tidak menyangka Daren akan bercerita sejauh itu. Bagaimanapun juga, hubungan itu sudah lama sekali berakhir. Sudah menjadi bagian dari masa lalu yang selama ini nyaris tak pernah ia buka lagi.“Pacarannya waktu SMA, Mbak Aisha,” jawabnya akhirnya. “Sekarang kami… cuma partner kerja.”Aisha mengangguk pelan, seolah memahami. Lalu perempuan itu menatap Hagia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status