Share

45. Debat Lagi

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-11 22:49:42

“Mas!”

Suara itu membuat Megantara menoleh.

“Kenapa dari tadi cuma diem? Nggak lapar?” tanya Hagia yang kini berdiri tepat di belakang sana.

Sejak tadi ia memang memilih menyingkir dari keramaian. Berdiri di sisi restoran yang menghadap ke tebing, cukup jauh dari meja-meja utama dan suara obrolan yang riuh.

Tatapan mereka sempat bertemu selama beberapa detik. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut Hagia di sisi wajahnya.

“Jangan salah paham dulu,” lanjut Hagia cepat, seolah ingin menepi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
DOAKU SEMOGA ARSENIO GAK TIDUR!!
goodnovel comment avatar
Tiraya
modus Kau Gan... kebaca banget .. wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   134. Kegilaan Moreno

    Hagia berdiri seorang diri di tepi jalan dengan napas yang masih memburu. Jari-jarinya mencengkram ujung gaun putih yang ia kenakan, sementara matanya terus bergerak mencari ke segala arah. Tidak ada.Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan angin sore yang sesekali menerpa wajahnya. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam bergerak lambat di hadapannya. Mobil itu berhenti tepat di tepi jalan.Kaca jendela pengemudi turun perlahan.Moreno.“Masuk, Mbak.”Hagia langsung menghampiri mobil itu. “Ranu mana, Ren?”Moreno tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol untuk membuka kunci pintu.“Masuk dulu.”Hagia berdiri mematung. “Ren, saya tanya Ranu di mana?”“Ranu aman.”Jawaban itu seharusnya membuatnya sedikit tenang. Namun entah mengapa, justru membuat dada Hagia semakin sesak.“Kalau Mbak mau ketemu Ranu, masuk.”Hagia menatap wajah Moreno beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mem

  • Hello, Mantan!   133. Permintaan Auriga

    “Papa beneran ikhlas melepas Nadi buat nikah sama saya lagi, kan?”Pertanyaan itu membuat Auriga yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh. Megantara sudah berdiri tepat di hadapannya. Terlihat rapi dengan setelan jasnya, terlihat begitu tenang, meskipun jelas ada ketegangan yang terselip di balik sorot matanya.Megantara tak langsung menjawab.“Pa, saya tulus mencintai Nadi. Dari dulu, sampai detik ini.” Megantara menarik napas pendek. “Dan saya berharap Papa bisa merestui hubungan kami.”Auriga mendengus pelan. “Setelah dia hamil, kamu pikir aku nggak bakalan membunuh kamu kalau sampai kamu nggak mau tanggung jawab, hm?”Megantara tersenyum kecil. “Sekalipun Nadi nggak hamil, saya akan tetap menikahinya, Pa.” Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Saya menikahi Nadi bukan karena dia hamil. Tapi karena saya benar-benar menginginkannya.”Auriga terdiam. Untuk beberapa saat, lelaki tua itu hanya menatap calon menantunya. Sebelum kemudian pandangannya perlahan beralih ke

  • Hello, Mantan!   132. Hari Pernikahan

    Hagia diam termenung di depan cermin. Beberapa make up artist tengah sibuk merias wajahnya. Hari ini akhirnya tiba.Hari pernikahannya. Hagia menghela napas panjang. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Wajahnya terlihat tegang meski ia sudah berusaha berkali-kali menenangkan diri. “Mbak, gugup, ya?” tegur salah satu make up artist. Hagia meringis kecil. “Kelihatan banget, ya?”“Banget, Mbak. Tapi wajar, kok. Ini kan hari bahagia buat Mbak Hagia.”Hagia kembali tersenyum kecil, walaupun senyum itu tidak mampu menutupi rasa gugup yang sejak tadi menguasai dirinya.“Sudah selesai, Mbak. Ditunggu sebentar, ya.” Salah satu makeup artist melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau sesuai sama rundown, sih, sekitar empat puluh menit lagi.”Hagia mengangguk pelan. “Iya.”Tatapannya kembali tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Gaun putih yang dikenakannya terlihat begitu sederhana. Tidak banyak detail berlebihan, persis seperti yang ia inginkan. Namun justru kesederhanaan i

  • Hello, Mantan!   131. Persiapan Pernikahan

    “Wow, you look so damn beautiful, Baby.”Suara Carmen seketika membuat Hagia mendengus pelan. Ditatapnya penampilan Hagia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian tersenyum lebar.Siang itu, Carmen dan Hagia datang ke salah satu butik untuk fitting gaun pengantin.“Men, lo yakin gue disuruh pakai gaun beginian? Ini berlebihan nggak, sih? Kan gue udah bilang dari awal kalau gue maunya konsep yang sederhana aja?”Carmen tidak mengacuhkan ucapan Hagia, memilih memperhatikan setiap detail gaun Hagia. “Lho, ini juga yang paling sederhana, Sayang.” Carmen mengangkat bahu santai. “Lagian ini nggak berlebihan, kok.” Tatapannya kembali menyapu gaun yang dikenakan Hagia. “Mas Megan pasti langsung kesengsem lihat lo.”Hagia mendengus pelan. “Tanpa pakai gaun ini pun dia udah kesengsem sama gue!”Carmen langsung tertawa. “Iya, iya. Yang lagi jatuh cinta.”Perempuan itu kemudian berdiri di samping Hagia, memperhatikan pantulan sahabatnya di cermin besar.“Just look at you, Gi.” Hagia ikut men

  • Hello, Mantan!   130. Tidak Akan Lari Lagi

    “Kamu yakin mau melakukan ini, hm?”Megantara menoleh ke samping. Mobil yang mereka kendarai baru saja tiba di depan sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta. Lelaki itu mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Tatapannya masih tertuju pada Hagia yang duduk di sampingnya, sebelum kemudian menoleh ke arah teras rumah yang menyala terang. Hagia ikut mengarahkan pandangannya ke arah teras, kemudian tersenyum tipis. “Meskipun Mama nggak pernah menyetujui hubungan kita...” Tatapan Hagia beralih pada Megantara. “Tapi Mama tetap berhak tahu.”Megantara terdiam. Hagia kemudian meraih tangan lelaki itu. “Aku nggak datang ke sini buat memaksa Mama merestui kita.” Ia menggenggam tangan Megantara sedikit lebih erat. “Aku cuma nggak mau Mama tahu semuanya dari orang lain.”Megantara menatapnya lekat. “Kamu nggak takut?”Hagia tersenyum kecil. “Takut.” Jawabannya jujur. “Tapi aku lebih takut kalau suatu hari Mama menyesal karena tahu semuanya terlambat.”Megantara menghela napas pelan. Tangan

  • Hello, Mantan!   129. Our Home

    Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.Akasia Residence.Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Hagia.Hagia menatapnya heran. “Mas?”Megantara mengulurkan tangan. “Yuk.”“Mas, jawab dulu, dong. Ini kita mau ke rumahnya siapa, sih?” Hagia menerima uluran tangan itu, lalu turun dari mobil. “Jangan sok misterius gitu, deh!”Megantara hanya terkekeh pelan. “Nanti kamu juga tahu, Sayang.”Hagia masih terlihat kebingungan ketika mengikuti langkah Megantara. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terpaku pada bangunan di hadapan mereka.Perempuan itu terdiam selama b

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

  • Hello, Mantan!   4. Hari Pertama Bekerja

    Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status