Mag-log in“Mas, kamu cuti hari ini?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Hagia. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan Megantara. Lelaki itu memang tetap tersenyum, tetap mengobrol dengan Ranu, bahkan sempat bercanda seperti biasanya. Namun entah kenapa, Hagia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipendamnya. Megantara terlihat begitu tenang. Dan justru itu yang membuat Hagia khawatir.“Kamu sakit?” Hagia meletakkan spatula-nya di atas meja dapur, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur menyentuh dahi Megantara. Kemudian berpindah ke lehernya. “Mm…, tapi nggak panas.” Ia mengernyit. “Mas, jangan bikin aku khawatir, dong.”Megantara tersenyum kecil. Tangannya menggenggam jemari Hagia yang masih menempel di pipinya.“Aku nggak apa-apa, Nadi.”“Beneran?”“Iya.”“Tapi semalam kamu pulang kayak orang lagi banyak pikiran.”Megantara terdiam beberapa detik. Lalu mengusap punggung tangan Hagia pelan.“Aku cuma pengen menghabiskan waktu sama Ranu hari ini. Makanya aku ambil cuti.”H
“Tinggalkan mantan istri kamu...” Maudy berhenti sejenak, membiarkan keheningan memenuhi ruangan. “Atau menyelamatkan perusahaan ini.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap lurus ke arah ibunya. Namun tidak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Karena bahkan tanpa perlu berpikir, jawabannya sudah ia putuskan sejak hari pertama kembali menginjakkan kaki di Jakarta.“Seharusnya Mama sudah tahu apa jawaban aku.” Suara Megantara terdengar tenang. “Sejak aku memutuskan kembali ke Jakarta, aku sudah memilih, Ma. Dan pilihanku adalah Nadi.”Megantara mengulas senyuman tipis. Menatap Maudy dengan sorot mata yang tidak lagi dipenuhi keraguan seperti dua tahun lalu.“Sekalipun aku harus kehilangan seisi dunia... pilihanku tetap Nadi,” ujar Megantara sekali lagi.Napas Maudy terdengar berat. Namun Megantara belum selesai. “Jadi silakan lakukan apapun yang Mama mau,” lanjut lelaki itu. “Kalau memang harga yang harus aku bayar karena mencintai perempuan yang aku pilih adalah semua yang aku
Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.“Gan.” Lelaki itu bangkit. Wajahnya terlihat begitu kacau dan frustasi.“Ada apa?” Megantara melangkah mendekat. Tatapan lelaki itu menyapu meja kerja Kafka yang kini dipenuhi map proyek dan beberapa dokumen yang masih terbuka.Raut waja Kafka terlihat lebih pucat dibandingkan saat mereka berbicara lewat telepon tadi.Kafka meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab. “Proyek yang lagi berjalan... semuanya ditarik ke pusat.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap Kafka tanpa berkedip. Bah
“Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”
“Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da
“Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat
Megantara baru saja tiba di Despresso Coffee setelah mengantar Ranu ke sekolah.Langkahnya terayun pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya. Pintu kaca kafe ia dorong, bunyi lonceng kecil menyambut kedatangannya. Aroma kopi langsung memenuhi indera, hangat dan familiar.Ia menyapu pandangan sekil
Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan
“Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N
Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t







