Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 44. Rasa Tak Nyaman Hagia

Share

44. Rasa Tak Nyaman Hagia

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-11 20:45:31

“Daren sempat cerita kemarin kalau proyek ini dikerjakan sama kamu,” ujar Aisha sambil tersenyum hangat. “Dia juga sempat bilang kalau dia senang sekali akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi.”

Hagia membalas dengan senyum kecil. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia masih belum benar-benar terbiasa dengan situasi ini. Berbincang dengan orang asing, berbicara tentang Daren setelah sepuluh tahun mereka benar-benar tak pernah saling bertemu.

“Berlebihan banget kayaknya deh, Mbak,” ucap Hagia pel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
masih harinya Hagia sih ini... dan Daren tntunya wkwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Andrea Parker
hmmmmm, kasihan megantara
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   134. Kegilaan Moreno

    Hagia berdiri seorang diri di tepi jalan dengan napas yang masih memburu. Jari-jarinya mencengkram ujung gaun putih yang ia kenakan, sementara matanya terus bergerak mencari ke segala arah. Tidak ada.Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan angin sore yang sesekali menerpa wajahnya. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam bergerak lambat di hadapannya. Mobil itu berhenti tepat di tepi jalan.Kaca jendela pengemudi turun perlahan.Moreno.“Masuk, Mbak.”Hagia langsung menghampiri mobil itu. “Ranu mana, Ren?”Moreno tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol untuk membuka kunci pintu.“Masuk dulu.”Hagia berdiri mematung. “Ren, saya tanya Ranu di mana?”“Ranu aman.”Jawaban itu seharusnya membuatnya sedikit tenang. Namun entah mengapa, justru membuat dada Hagia semakin sesak.“Kalau Mbak mau ketemu Ranu, masuk.”Hagia menatap wajah Moreno beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mem

  • Hello, Mantan!   133. Permintaan Auriga

    “Papa beneran ikhlas melepas Nadi buat nikah sama saya lagi, kan?”Pertanyaan itu membuat Auriga yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh. Megantara sudah berdiri tepat di hadapannya. Terlihat rapi dengan setelan jasnya, terlihat begitu tenang, meskipun jelas ada ketegangan yang terselip di balik sorot matanya.Megantara tak langsung menjawab.“Pa, saya tulus mencintai Nadi. Dari dulu, sampai detik ini.” Megantara menarik napas pendek. “Dan saya berharap Papa bisa merestui hubungan kami.”Auriga mendengus pelan. “Setelah dia hamil, kamu pikir aku nggak bakalan membunuh kamu kalau sampai kamu nggak mau tanggung jawab, hm?”Megantara tersenyum kecil. “Sekalipun Nadi nggak hamil, saya akan tetap menikahinya, Pa.” Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Saya menikahi Nadi bukan karena dia hamil. Tapi karena saya benar-benar menginginkannya.”Auriga terdiam. Untuk beberapa saat, lelaki tua itu hanya menatap calon menantunya. Sebelum kemudian pandangannya perlahan beralih ke

  • Hello, Mantan!   132. Hari Pernikahan

    Hagia diam termenung di depan cermin. Beberapa make up artist tengah sibuk merias wajahnya. Hari ini akhirnya tiba.Hari pernikahannya. Hagia menghela napas panjang. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Wajahnya terlihat tegang meski ia sudah berusaha berkali-kali menenangkan diri. “Mbak, gugup, ya?” tegur salah satu make up artist. Hagia meringis kecil. “Kelihatan banget, ya?”“Banget, Mbak. Tapi wajar, kok. Ini kan hari bahagia buat Mbak Hagia.”Hagia kembali tersenyum kecil, walaupun senyum itu tidak mampu menutupi rasa gugup yang sejak tadi menguasai dirinya.“Sudah selesai, Mbak. Ditunggu sebentar, ya.” Salah satu makeup artist melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau sesuai sama rundown, sih, sekitar empat puluh menit lagi.”Hagia mengangguk pelan. “Iya.”Tatapannya kembali tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Gaun putih yang dikenakannya terlihat begitu sederhana. Tidak banyak detail berlebihan, persis seperti yang ia inginkan. Namun justru kesederhanaan i

  • Hello, Mantan!   131. Persiapan Pernikahan

    “Wow, you look so damn beautiful, Baby.”Suara Carmen seketika membuat Hagia mendengus pelan. Ditatapnya penampilan Hagia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian tersenyum lebar.Siang itu, Carmen dan Hagia datang ke salah satu butik untuk fitting gaun pengantin.“Men, lo yakin gue disuruh pakai gaun beginian? Ini berlebihan nggak, sih? Kan gue udah bilang dari awal kalau gue maunya konsep yang sederhana aja?”Carmen tidak mengacuhkan ucapan Hagia, memilih memperhatikan setiap detail gaun Hagia. “Lho, ini juga yang paling sederhana, Sayang.” Carmen mengangkat bahu santai. “Lagian ini nggak berlebihan, kok.” Tatapannya kembali menyapu gaun yang dikenakan Hagia. “Mas Megan pasti langsung kesengsem lihat lo.”Hagia mendengus pelan. “Tanpa pakai gaun ini pun dia udah kesengsem sama gue!”Carmen langsung tertawa. “Iya, iya. Yang lagi jatuh cinta.”Perempuan itu kemudian berdiri di samping Hagia, memperhatikan pantulan sahabatnya di cermin besar.“Just look at you, Gi.” Hagia ikut men

  • Hello, Mantan!   130. Tidak Akan Lari Lagi

    “Kamu yakin mau melakukan ini, hm?”Megantara menoleh ke samping. Mobil yang mereka kendarai baru saja tiba di depan sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta. Lelaki itu mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Tatapannya masih tertuju pada Hagia yang duduk di sampingnya, sebelum kemudian menoleh ke arah teras rumah yang menyala terang. Hagia ikut mengarahkan pandangannya ke arah teras, kemudian tersenyum tipis. “Meskipun Mama nggak pernah menyetujui hubungan kita...” Tatapan Hagia beralih pada Megantara. “Tapi Mama tetap berhak tahu.”Megantara terdiam. Hagia kemudian meraih tangan lelaki itu. “Aku nggak datang ke sini buat memaksa Mama merestui kita.” Ia menggenggam tangan Megantara sedikit lebih erat. “Aku cuma nggak mau Mama tahu semuanya dari orang lain.”Megantara menatapnya lekat. “Kamu nggak takut?”Hagia tersenyum kecil. “Takut.” Jawabannya jujur. “Tapi aku lebih takut kalau suatu hari Mama menyesal karena tahu semuanya terlambat.”Megantara menghela napas pelan. Tangan

  • Hello, Mantan!   129. Our Home

    Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.Akasia Residence.Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Hagia.Hagia menatapnya heran. “Mas?”Megantara mengulurkan tangan. “Yuk.”“Mas, jawab dulu, dong. Ini kita mau ke rumahnya siapa, sih?” Hagia menerima uluran tangan itu, lalu turun dari mobil. “Jangan sok misterius gitu, deh!”Megantara hanya terkekeh pelan. “Nanti kamu juga tahu, Sayang.”Hagia masih terlihat kebingungan ketika mengikuti langkah Megantara. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terpaku pada bangunan di hadapan mereka.Perempuan itu terdiam selama b

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

  • Hello, Mantan!   34. Rasa Penasaran Megantara

    “Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status