Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 4. Hari Pertama Bekerja

Share

4. Hari Pertama Bekerja

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-10 15:00:33

Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.

Perhatiannya tertuju lurus ke depan.

Arsenio berdiri di dekat layar proyektor, menjelaskan dengan cukup percaya diri tentang konsep pembangunan restoran baru di Jakarta. Slide demi slide berganti, menampilkan desain fasad, layout ruang, hingga konsep pencahayaan yang diusung.

“Konsep utamanya industrial modern dengan sentuhan lokal, Pak,” jelas Arsenio, menunjuk salah satu gambar. “Kita main di material exposed, tapi tetap hangat lewat lighting dan elemen kayu.”

Megantara tidak menyela.

Ia duduk tegak, satu tangan memegang pulpen, sesekali mencatat sesuatu di atas kertas di depannya. Tatapannya fokus, berpindah dari layar ke Arsenio, lalu ke detail gambar yang ditampilkan.

Sesekali ia mengangguk kecil.

Sesekali mengernyit.

“Di bagian outdoor, kita rencanakan semi-open space biar tetap fleksibel buat event,” lanjut Arsenio.

Megantara akhirnya bersuara. “Drainase-nya sudah dihitung untuk hujan deras?” tanyanya tenang.

Arsenio sedikit terdiam, lalu mengangguk. “Sudah, Pak. Tapi masih bisa kita optimalkan lagi.”

Megantara mengangguk sekali. “Pastikan itu. Jangan sampai konsep bagus tapi gagal di fungsi.”

Diskusi mulai mengalir setelah itu.

Beberapa staf ikut menambahkan pendapat. Ada yang mengoreksi, ada yang mengusulkan alternatif. Megantara mendengarkan semuanya, tidak memotong, tapi juga tidak membiarkan sesuatu lewat begitu saja.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga akhirnya, presentasi ditutup dan suasana mulai melonggar.

“Untuk sementara cukup kalau tidak ada pertanyaan.” Megantara menatap mereka satu per satu. “Saya tahu ini terdengar terburu-buru,” ucapnya tenang. “Terlebih ini adalah hari pertama saya bekerja.”

Ruangan itu langsung hening. Tidak ada suara selain dengungan pelan AC.

“Saya belum tahu banyak tentang ritme kerja di Rupa Rancang Nusantara,” katanya lagi. “Jadi saya berharap, saya bisa dibantu kalian agar bisa segera menyesuaikan.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tidak mengintimidasi. Tapi ada ketegasan yang jelas.

Seolah ia tidak meminta tapi memastikan. Megantara berhenti sejenak, memberi ruang.

“Dan jika kalian butuh bantuan atau sesuatu… jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu saya.”

Sunyi.

Tidak ada yang berbicara. Bukan karena tidak punya pertanyaan, tapi lebih karena… belum tahu harus mulai dari mana. Atau mungkin masih membaca karakter lelaki di depan mereka.

Megantara mengangguk kecil, seolah sudah menduga.

“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kita lanjutkan pekerjaan kita masing-masing.”

Setelah menyelesaikan meetingnya dengan para staf, Megantara melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang tenang. Pintu meeting room tertutup di belakangnya, menyisakan gema percakapan yang perlahan menghilang.

Koridor kantor mulai lebih lengang dibandingkan pagi tadi. Beberapa staf masih terlihat sibuk di meja masing-masing, sebagian lain sudah mulai bersiap pulang.

Begitu sampai di ruangannya, ia membuka pintu tanpa banyak suara, lalu masuk dan menutupnya kembali dengan hati-hati. Ruangan itu kembali menjadi dunianya sendiri.

Ia menarik kursinya, lalu duduk.

Jas yang tadi ia kenakan sejak pagi sudah tergeletak di sandaran kursi. Kemeja yang ia pakai sedikit kusut di bagian lengan, tanda hari yang cukup panjang.

Di atas meja, beberapa berkas proyek menunggunya. Megantara meraih salah satunya, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.

Matanya bergerak cepat, menelusuri setiap detail mulai dari angka, sketsa, dan catatan teknis. Sesekali ia mengambil pulpen, memberi tanda di beberapa bagian, atau menuliskan koreksi kecil di pinggir kertas.

Di sela-sela baris yang ia baca, pikirannya sesekali terbelok. Megantara berhenti sejenak. Pulpen di tangannya menggantung di atas kertas. Bayangan itu muncul lagi. Cara Hagia berdiri di depannya siang tadi, sorot matanya yang tajam, suaranya yang berusaha terdengar tegas meski ada sesuatu yang ditahan di baliknya.

“Mas, kenapa harus di sini?”

Megantara mengembuskan napas pelan. Ia menutup berkas di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Langit di luar jendela mulai berubah warna. Jingga yang tadi hangat kini perlahan meredup, digantikan bayangan malam yang merayap masuk.

Tangannya terangkat, mengusap wajahnya kasar. Ia terbiasa mengatur segalanya. Semua selalu ia pikirkan matang-matang. Tapi untuk yang satu ini tidak ada rumus yang benar-benar pasti.

Megantara kembali membuka berkas di depannya, memaksa fokusnya kembali ke pekerjaan. Namun bahkan saat matanya kembali membaca pikirannya masih tertinggal. Di satu nama yang sejak tadi tidak benar-benar pergi.

“Gan? Nggak balik?”

Suara itu menariknya kembali. Megantara mengangkat wajah. Kafka berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu di kusen, ekspresinya santai seperti biasa.

“Bentar lagi, Ka,” jawab Megantara. “Masih ada yang mau gue cek.”

Kafka mendengus kecil. “Elah, ini hari pertama lo. Nggak usah serius-serius bisa, nggak.”

Megantara tidak menanggapi, kembali menatap berkas di depannya. Namun Kafka tidak pergi. Justru melangkah masuk sedikit, bersandar di kursi kosong di depan meja.

“Udah ngobrol sama mantan bini lo?”

Pertanyaan itu dilontarkan begitu saja. Megantara menghela napas pendek. “Udah,” jawabnya singkat.

Kafka mengangkat alis. “Gimana?”

Megantara bersandar ke kursinya, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat sesuatu. “Seperti yang bisa lo tebak.”

Kafka terkekeh pelan. “Ngamuk nggak, sih?”

“Begitulah,” jawab Megantara. “Lebih ke… nggak terima karena gue nggak ngomong apa-apa sebelumnya sama dia.”

Kafka mengangguk-angguk. “Wajar nggak sih kalau dia ngamuk.”

Megantara tidak membantah. Karena ia tahu, itu benar.

“Tapi akhirnya lo jelasin alasannya, kan? Dan dia terima?” tanya Kafka lagi.

Megantara terdiam sebentar. Lalu menjawab pelan, “Nggak sepenuhnya. Dia masih saja mikirin orang lain katimbang dirinya sendiri.

Jawaban itu keluar begitu saja. Seolah Megantara mengenal itu dengan sangat baik. Dan memang, ia mengenalnya.

Kafka menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Terus sekarang?”

Megantara mengalihkan pandangan ke arah jendela. Langit Jakarta mulai berubah ke warna jingga. “Sekarang… ya jalanin aja.”

Kafka mengangguk pelan. Namun sebelum benar-benar mengakhiri percakapan, ia menyenggol lagi, nada suaranya sedikit lebih ringan.

“Hati-hati aja, Gan.”

Megantara menoleh. “Hati-hati kenapa?”

Kafka menyeringai tipis. “Kadang yang belum selesai itu… justru itulah yang sebenarnya. Tentang perasaan lo ke Hagia. Juga tentang kalian yang sebenarnya belum benar-benar selesai.”

Megantara tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali lurus ke depan.

“Perasaan gue nggak penting, Ka. Gue ke sini demi Ranu. Gue nggak pernah kepikiran buat balikan sama Hagia.”

Nada suaranya terdengar tegas. Terlalu tegas, bahkan.

Kafka hanya menatapnya, satu alis terangkat, seolah baru saja mendengar sesuatu yang… setengah benar.

“Halah!” Kafka terkekeh, menggeleng pelan. “Gue tahu kalau Ranu cuma alasan. Ada alasan yang jauh lebih besar, dan lo nggak bisa bohong sama gue.”

Megantara terdiam. Tatapannya turun ke meja, ke berkas-berkas yang sejak tadi ia buka tapi tidak lagi ia baca.

Megantara menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Entahlah,” gumamnya pelan. “Gue nggak tahu, Ka.”

Jawaban itu jujur. Dan justru itu yang paling mengganggu.

Kafka tidak langsung menimpali. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk sembarangan di kursi depan meja Megantara, menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yang kali ini tidak lagi sepenuhnya bercanda.

“Dua tahun, Gan,” katanya pelan. “Gue rasa cukup untuk menduda.” Megantara tidak bergerak. Kafka melanjutkan, suaranya sedikit lebih dalam. “Cuma masalahnya…” ia menyipitkan mata, “lo bisa lepas dari Hagia, nggak?”

Megantara memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Cahaya senja mulai redup, berganti warna yang lebih gelap.

“Kalau gue jawab nggak, lo bakal ngomong apa?” tanya Megantara akhirnya, suaranya lebih rendah.

Kafka tersenyum tipis. “Setan! Kalau masih bucin kenapa dulu cerai, Tolol!”

Megantara mendengus pelan, tapi tidak menyangkal.

Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu Megantara kembali bicara. “Gue sama Hagia… bukan cuma soal perasaan, Ka.”

Kafka mengangguk pelan. “Gue tahu.”

“Ada banyak hal yang bikin kita sampai di titik itu,” lanjut Megantara. “Dan semuanya nggak bisa tiba-tiba jadi mudah dan bisa diterima cuma karena… gue pindah ke Jakarta.”

Nada suaranya datar. Tapi jelas berat.

Kafka bersandar, menyilangkan tangan. “Terus sekarang lo mau apa?”

Megantara menggeleng kecil. “Gue nggak tahu.”

Dan itu bukan karena ia tidak mau jujur. Tapi karena ia benar-benar tidak tahu.

“Yang jelas,” lanjutnya pelan, “gue nggak mau Ranu kehilangan peran orang tuanya di masa keemasannya ini.”

Kafka menatapnya lama. Lalu mengangguk kecil. “Bagus,” katanya. “Tapi jangan jadikan anak lo tameng, Gan.”

Megantara langsung menoleh. Kafka menatapnya lurus.

“Kalau lo masih punya sesuatu sama Hagia… ya hadapin. Mana tahu ini bisa jadi kesempatan buat lo.”

Megantara terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Kata-kata itu tidak nyaman. Tapi… tepat.

Kafka berdiri dari duduknya, menepuk pelan meja Megantara. “Gue cabut dulu. Jangan malem-malem baliknya. Ini baru hari pertama.”

Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, Kafka berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, ia berkata, “Dan satu lagi—”

Megantara mengangkat wajah.

“Kadang… yang menahan kita itu bukan keadaan.” Kafka melirik sedikit ke samping, senyum tipis muncul di wajahnya. “Tapi ego.”

Pintu terbuka. Lalu tertutup kembali. Meninggalkan Megantara sendirian di ruangan itu. Ia mengembuskan napas panjang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
Hal2 yg gak pernah selesai itu... berujung Luka dan gantung modelan begini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   143. Selamanya, Sampai Maut Memisahkan

    ”Saya terima nikah dan kawinnya Hagia Nadi Chandrakanta binti Auriga Chandrakanta dengan maskawin dan seperangkat alat sholat tunai!”“Bagaimana saksi?”“SAH!”Suara gema para saksi terdengar hampir bersamaan. Hagia yang duduk tepat di samping Megantara seketika menutup mulutnya. Isak lirih lolos begitu saja dari bibirnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya, kini akhirnya jatuh juga. Beberapa tamu undangan tampak terharu menyaksikan momen sakral tersebut. Djiwa bahkan tampak sibuk menyeka sudut matanya, sementaraAuriga hanya mengembuskan napas panjang dengan senyum yang tak mampu disembunyikan. Hari itu akhirnya tiba.Setelah semua yang mereka lalui, setelah perpisahan panjang, kesalahpahaman, luka, kehilangan, hingga sebuah kecelakaan yang nyaris merenggut Hagia dari hidup mereka. Hari ini, Hagia dan Megantara kembali menjadi pasangan suami istri. Pernikahan itu digelar sederhana di halaman belakang rumah mereka. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta besar-besaran. Hanya ada lampu

  • Hello, Mantan!   142. Deep Talk

    “Kenapa?”Hagia yang sejak tadi memperhatikan sekeliling rumah seketika menoleh ke arah Megantara. Rupanya sejak tadi lelaki itu memperhatikannya.Perempuan itu terkekeh pelan. “Mas, aku masih nggak nyangka aja kalau kamu bakalan mewujudkan rumah impian aku.”Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga ditemani secangkir teh hangat. Dari tempat mereka duduk, kolam renang terlihat jelas melalui pintu kaca yang sengaja dibuka lebar. Riak airnya bergerak tenang, memantulkan cahaya lampu-lampu taman yang menyala di sekelilingnya.Hagia mengedarkan pandangan sekali lagi. “Kayak... desain rumah ini udah lama aku simpan. Entah sekarang aku taruh di mana,” katanya. “Tapi ternyata kamu masih ingat.”Megantara menggenggam tangan Hagia. “Kan aku udah bilang kalau aku sama sekali nggak bakalan lupa sama apa pun yang ada hubungannya sama kamu.”Hagia sudah hampir memprotesnya, namun Megantara sudah lebih dulu bersuara. “Dan kamu tahu...” Megantara terd

  • Hello, Mantan!   141. Pelajaran Untuk Moreno

    “Saya sudah pernah mengatakan ini ke Nadi.” Megantara mengepalkan kedua tangannya erat. Tatapannya yang tajam masih memaku Moreno yang kini duduk di balik dinding kaca di hadapannya. “Siapa pun yang berani menyentuhnya, saya nggak akan membiarkan hidupnya tenang.”Ada beberapa luka lebam yang masih terlihat jelas di wajah Moreno. Setelah keluar dari rumah sakit, lelaki itu akhirnya ditempatkan di tahanan sembari menunggu proses hukum berjalan.Moreno tertegun selama beberapa saat. Sebelum menyadari apa yang baru saja dikatakan Megantara.“Jadi… ini perbuatan Bapak?”Megantara tak langsung menjawab. Namun keterdiaman lelaki itu sudah memberikan jawaban pada Moreno.Tatapan Moreno turun ke arah kaki kanannya yang kini sudah tidak ada. Wajahnya mulai merah padam, namun Megantara tetap tidak memedulikannya.“Bapak yang nyuruh orang di dalam sana untuk nyiksa saya, kan?” Napas Moreno mulai memburu. “Bapak nggak lihat kalau saya sudah kehilangan kaki kanan saya? Hah?”Megantara mendecih pel

  • Hello, Mantan!   140. Kangen Ranu

    “Lagi mikirin apa?”Pertanyaan itu meluncur dari bibir Megantara. Setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Hagia diperbolehkan untuk pulang.Hagia yang sejak tadi menatap keluar jendela menolehkan wajah. “Nggak ada, Mas.”Megantara meraih tangan Hagia. Jemarinya bertaut dengan jemari perempuan itu, sementara pandangannya sesekali melirik ke samping sebelum kembali fokus pada jalan di hadapannya.“Kasih tahu apa yang lagi kamu pikirin.”Hagia tersenyum kecil. Seolah tahu maksud dari kalimat Megantara. “Ingat, aku bukan dukun yang bisa tahu segala hal yang ada di pikiran kamu kalau kamu nggak bilang apa-apa sama aku.”Hagia terkekeh pelan. “Iya, Mas. Aku cuma… kangen sama Ranu.” Ia kembali menatap ke luar jendela. “Udah hampir satu bulan ini aku nggak ketemu sama dia, kan?”Megantara mengusap punggung tangan Hagia dengan ibu jarinya. “Bentar lagi kita bakalan ketemu sama Ranu.” Ia tersenyum kecil. “Sabar, ya.”Hagia menoleh.“Ranu juga kangen sama kamu, ka

  • Hello, Mantan!   139. Tempat Berpulang

    “Mas... maaf...”Suara Hagia nyaris tertelan di kerongkongannya. Matanya terlihat berkaca-kaca, menatap Megantara yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang sama kacau.“Maaf, Mas...”“Hei, Sayang.” Megantara segera melangkah menghampiri Hagia. Tangannya langsung merengkuh tubuh perempuan itu, lalu memeluknya ke dalam dekapan. “Jangan nangis...”Namun alih-alih mendengarkan perkataan Megantara, pertahanan Hagia justru runtuh. Isak tangisnya pecah. Kedua tangannya perlahan mencengkram bagian belakang kemeja lusuh Megantara, seolah hanya lelaki itu satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa aman saat ini.“Aku udah jahat sama kamu, Mas.” Hagia terisak di dada Megantara. “Maaf... aku udah bentak kamu tadi.”Megantara semakin mempererat dekapannya. Satu tangannya mengusap punggung Hagia perlahan, membiarkan perempuan itu menenggelamkan wajahnya di dadanya untuk menuntaskan tangis yang sejak tadi ia tahan.“Kamu nggak pernah jahat, Sayang.” Megantara mengecup pelan puncak kepala Hag

  • Hello, Mantan!   138. Bujukan Djiwa

    “Mas Megan...”Suara Djiwa yang baru saja tiba membuat Megantara yang tengah duduk di depan ruang rawat Hagia langsung menoleh cepat.Perempuan itu melangkah menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan.“Ma...”“Gimana keadaan Hagia, Mas? Dia udah sadar?”Megantara mengangguk-angguk pelan. “Dia udah bangun, Ma. Dia—” Kalimatnya terhenti. Megantara menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang rawat. “Dia nggak mau ditemenin.”Djiwa duduk tepat di sebelah Megantara. Membiarkan calon menantunya melanjutkan kalimatnya meskipun suaranya terdengar bergetar.“Dia kayaknya masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia kehilangan bayinya, Ma.” Megantara menarik napas panjang, tetapi napas itu justru terdengar berat. “Dia nggak mau aku temenin. Dia nggak mau aku di sana.”Djiwa langsung mengusap lengan Megantara dengan lembut. “Mas, kamu yang tenang, ya?”Megantara menundukkan wajah. “Tapi aku nggak tahu harus ngapain, Ma.” Suara lelaki itu terdengar benar

  • Hello, Mantan!   1. Hagia Nadi Chandrakanta

    Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

  • Hello, Mantan!   34. Rasa Penasaran Megantara

    “Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status