LOGINMegantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.
Perhatiannya tertuju lurus ke depan. Arsenio berdiri di dekat layar proyektor, menjelaskan dengan cukup percaya diri tentang konsep pembangunan restoran baru di Jakarta. Slide demi slide berganti, menampilkan desain fasad, layout ruang, hingga konsep pencahayaan yang diusung. “Konsep utamanya industrial modern dengan sentuhan lokal, Pak,” jelas Arsenio, menunjuk salah satu gambar. “Kita main di material exposed, tapi tetap hangat lewat lighting dan elemen kayu.” Megantara tidak menyela. Ia duduk tegak, satu tangan memegang pulpen, sesekali mencatat sesuatu di atas kertas di depannya. Tatapannya fokus, berpindah dari layar ke Arsenio, lalu ke detail gambar yang ditampilkan. Sesekali ia mengangguk kecil. Sesekali mengernyit. “Di bagian outdoor, kita rencanakan semi-open space biar tetap fleksibel buat event,” lanjut Arsenio. Megantara akhirnya bersuara. “Drainase-nya sudah dihitung untuk hujan deras?” tanyanya tenang. Arsenio sedikit terdiam, lalu mengangguk. “Sudah, Pak. Tapi masih bisa kita optimalkan lagi.” Megantara mengangguk sekali. “Pastikan itu. Jangan sampai konsep bagus tapi gagal di fungsi.” Diskusi mulai mengalir setelah itu. Beberapa staf ikut menambahkan pendapat. Ada yang mengoreksi, ada yang mengusulkan alternatif. Megantara mendengarkan semuanya, tidak memotong, tapi juga tidak membiarkan sesuatu lewat begitu saja. Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga akhirnya, presentasi ditutup dan suasana mulai melonggar. “Untuk sementara cukup kalau tidak ada pertanyaan.” Megantara menatap mereka satu per satu. “Saya tahu ini terdengar terburu-buru,” ucapnya tenang. “Terlebih ini adalah hari pertama saya bekerja.” Ruangan itu langsung hening. Tidak ada suara selain dengungan pelan AC. “Saya belum tahu banyak tentang ritme kerja di Rupa Rancang Nusantara,” katanya lagi. “Jadi saya berharap, saya bisa dibantu kalian agar bisa segera menyesuaikan.” Nada suaranya tidak tinggi. Tidak mengintimidasi. Tapi ada ketegasan yang jelas. Seolah ia tidak meminta tapi memastikan. Megantara berhenti sejenak, memberi ruang. “Dan jika kalian butuh bantuan atau sesuatu… jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu saya.” Sunyi. Tidak ada yang berbicara. Bukan karena tidak punya pertanyaan, tapi lebih karena… belum tahu harus mulai dari mana. Atau mungkin masih membaca karakter lelaki di depan mereka. Megantara mengangguk kecil, seolah sudah menduga. “Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kita lanjutkan pekerjaan kita masing-masing.” Setelah menyelesaikan meetingnya dengan para staf, Megantara melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang tenang. Pintu meeting room tertutup di belakangnya, menyisakan gema percakapan yang perlahan menghilang. Koridor kantor mulai lebih lengang dibandingkan pagi tadi. Beberapa staf masih terlihat sibuk di meja masing-masing, sebagian lain sudah mulai bersiap pulang. Begitu sampai di ruangannya, ia membuka pintu tanpa banyak suara, lalu masuk dan menutupnya kembali dengan hati-hati. Ruangan itu kembali menjadi dunianya sendiri. Ia menarik kursinya, lalu duduk. Jas yang tadi ia kenakan sejak pagi sudah tergeletak di sandaran kursi. Kemeja yang ia pakai sedikit kusut di bagian lengan, tanda hari yang cukup panjang. Di atas meja, beberapa berkas proyek menunggunya. Megantara meraih salah satunya, membuka halaman pertama, dan mulai membaca. Matanya bergerak cepat, menelusuri setiap detail mulai dari angka, sketsa, dan catatan teknis. Sesekali ia mengambil pulpen, memberi tanda di beberapa bagian, atau menuliskan koreksi kecil di pinggir kertas. Di sela-sela baris yang ia baca, pikirannya sesekali terbelok. Megantara berhenti sejenak. Pulpen di tangannya menggantung di atas kertas. Bayangan itu muncul lagi. Cara Hagia berdiri di depannya siang tadi, sorot matanya yang tajam, suaranya yang berusaha terdengar tegas meski ada sesuatu yang ditahan di baliknya. “Mas, kenapa harus di sini?” Megantara mengembuskan napas pelan. Ia menutup berkas di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Langit di luar jendela mulai berubah warna. Jingga yang tadi hangat kini perlahan meredup, digantikan bayangan malam yang merayap masuk. Tangannya terangkat, mengusap wajahnya kasar. Ia terbiasa mengatur segalanya. Semua selalu ia pikirkan matang-matang. Tapi untuk yang satu ini tidak ada rumus yang benar-benar pasti. Megantara kembali membuka berkas di depannya, memaksa fokusnya kembali ke pekerjaan. Namun bahkan saat matanya kembali membaca pikirannya masih tertinggal. Di satu nama yang sejak tadi tidak benar-benar pergi. “Gan? Nggak balik?” Suara itu menariknya kembali. Megantara mengangkat wajah. Kafka berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu di kusen, ekspresinya santai seperti biasa. “Bentar lagi, Ka,” jawab Megantara. “Masih ada yang mau gue cek.” Kafka mendengus kecil. “Elah, ini hari pertama lo. Nggak usah serius-serius bisa, nggak.” Megantara tidak menanggapi, kembali menatap berkas di depannya. Namun Kafka tidak pergi. Justru melangkah masuk sedikit, bersandar di kursi kosong di depan meja. “Udah ngobrol sama mantan bini lo?” Pertanyaan itu dilontarkan begitu saja. Megantara menghela napas pendek. “Udah,” jawabnya singkat. Kafka mengangkat alis. “Gimana?” Megantara bersandar ke kursinya, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat sesuatu. “Seperti yang bisa lo tebak.” Kafka terkekeh pelan. “Ngamuk nggak, sih?” “Begitulah,” jawab Megantara. “Lebih ke… nggak terima karena gue nggak ngomong apa-apa sebelumnya sama dia.” Kafka mengangguk-angguk. “Wajar nggak sih kalau dia ngamuk.” Megantara tidak membantah. Karena ia tahu, itu benar. “Tapi akhirnya lo jelasin alasannya, kan? Dan dia terima?” tanya Kafka lagi. Megantara terdiam sebentar. Lalu menjawab pelan, “Nggak sepenuhnya. Dia masih saja mikirin orang lain katimbang dirinya sendiri. Jawaban itu keluar begitu saja. Seolah Megantara mengenal itu dengan sangat baik. Dan memang, ia mengenalnya. Kafka menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Terus sekarang?” Megantara mengalihkan pandangan ke arah jendela. Langit Jakarta mulai berubah ke warna jingga. “Sekarang… ya jalanin aja.” Kafka mengangguk pelan. Namun sebelum benar-benar mengakhiri percakapan, ia menyenggol lagi, nada suaranya sedikit lebih ringan. “Hati-hati aja, Gan.” Megantara menoleh. “Hati-hati kenapa?” Kafka menyeringai tipis. “Kadang yang belum selesai itu… justru itulah yang sebenarnya. Tentang perasaan lo ke Hagia. Juga tentang kalian yang sebenarnya belum benar-benar selesai.” Megantara tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali lurus ke depan. “Perasaan gue nggak penting, Ka. Gue ke sini demi Ranu. Gue nggak pernah kepikiran buat balikan sama Hagia.” Nada suaranya terdengar tegas. Terlalu tegas, bahkan. Kafka hanya menatapnya, satu alis terangkat, seolah baru saja mendengar sesuatu yang… setengah benar. “Halah!” Kafka terkekeh, menggeleng pelan. “Gue tahu kalau Ranu cuma alasan. Ada alasan yang jauh lebih besar, dan lo nggak bisa bohong sama gue.” Megantara terdiam. Tatapannya turun ke meja, ke berkas-berkas yang sejak tadi ia buka tapi tidak lagi ia baca. Megantara menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Entahlah,” gumamnya pelan. “Gue nggak tahu, Ka.” Jawaban itu jujur. Dan justru itu yang paling mengganggu. Kafka tidak langsung menimpali. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk sembarangan di kursi depan meja Megantara, menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yang kali ini tidak lagi sepenuhnya bercanda. “Dua tahun, Gan,” katanya pelan. “Gue rasa cukup untuk menduda.” Megantara tidak bergerak. Kafka melanjutkan, suaranya sedikit lebih dalam. “Cuma masalahnya…” ia menyipitkan mata, “lo bisa lepas dari Hagia, nggak?” Megantara memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Cahaya senja mulai redup, berganti warna yang lebih gelap. “Kalau gue jawab nggak, lo bakal ngomong apa?” tanya Megantara akhirnya, suaranya lebih rendah. Kafka tersenyum tipis. “Setan! Kalau masih bucin kenapa dulu cerai, Tolol!” Megantara mendengus pelan, tapi tidak menyangkal. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu Megantara kembali bicara. “Gue sama Hagia… bukan cuma soal perasaan, Ka.” Kafka mengangguk pelan. “Gue tahu.” “Ada banyak hal yang bikin kita sampai di titik itu,” lanjut Megantara. “Dan semuanya nggak bisa tiba-tiba jadi mudah dan bisa diterima cuma karena… gue pindah ke Jakarta.” Nada suaranya datar. Tapi jelas berat. Kafka bersandar, menyilangkan tangan. “Terus sekarang lo mau apa?” Megantara menggeleng kecil. “Gue nggak tahu.” Dan itu bukan karena ia tidak mau jujur. Tapi karena ia benar-benar tidak tahu. “Yang jelas,” lanjutnya pelan, “gue nggak mau Ranu kehilangan peran orang tuanya di masa keemasannya ini.” Kafka menatapnya lama. Lalu mengangguk kecil. “Bagus,” katanya. “Tapi jangan jadikan anak lo tameng, Gan.” Megantara langsung menoleh. Kafka menatapnya lurus. “Kalau lo masih punya sesuatu sama Hagia… ya hadapin. Mana tahu ini bisa jadi kesempatan buat lo.” Megantara terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Kata-kata itu tidak nyaman. Tapi… tepat. Kafka berdiri dari duduknya, menepuk pelan meja Megantara. “Gue cabut dulu. Jangan malem-malem baliknya. Ini baru hari pertama.” Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, Kafka berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata, “Dan satu lagi—” Megantara mengangkat wajah. “Kadang… yang menahan kita itu bukan keadaan.” Kafka melirik sedikit ke samping, senyum tipis muncul di wajahnya. “Tapi ego.” Pintu terbuka. Lalu tertutup kembali. Meninggalkan Megantara sendirian di ruangan itu. Ia mengembuskan napas panjang.Entah sudah berapa lama Hagia berdiam diri di depan wastafel. Kedua telapak tangannya bertumpu pada permukaan marmer dingin, sementara kepalanya tertunduk lemah.Perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya. Bahkan bibirnya kehilangan warna. Ia memutar keran, membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali. Berharap rasa pening yang sejak tadi mengganggunya bisa sedikit mereda. Namun yang datang justru rasa mual.Hagia buru-buru memejamkan mata. Satu tangannya refleks menekan pelan ulu hati. Napasnya diatur perlahan hingga rasa bergolak di perutnya sedikit demi sedikit mereda.“Aku nggak mungkin hamil, kan?”Ia kembali menatap bayangannya di cermin. Kata-kata Raga kembali terngiang di kepalanya.“Kamu nggak hamil kan, Mbak?”Hagia menggeleng pelan. Berusaha mengusir pikiran itu.“Nggak mungkin…” Ia menggeleng pelan. Namun, alih-alih merasa tenang, dadanya justru semakin dipenuhi ke
“Nadi!”Mendengar suara itu, Hagia seketika menoleh cepat. Kemudian ia tertegun. “Mas? Kamu kok di sini?”Hagia bangkit dari duduknya. Menatap bingung lelaki yang baru saja tiba di hadapannya. “Raga bilang kamu lagi nggak enak badan. Kamu sakit?”Megantara menatap cemas Hagia. Namun alih-alih menjawab pertanyaan perempuan itu, ia langsung mengulurkan tangan. Telapak tangannya menyentuh lembut kening Hagia.Beberapa detik ia terdiam. “Kamu nggak demam. Tapi wajah kamu pucat.” Ia mengernyit. “Kenapa? Ada yang lagi kamu pikirin?”Hagia menggeleng pelan. “Mas, aku nggak apa-apa. Kenapa kamu ke sini, sih? Ranu mana?”Megantara mengembuskan napas pelan. “Pas Raga telepon tadi, aku langsung minta Mbak Vanessa jemput Ranu. Aku khawatir sama kamu.”Mendengar itu, sudut bibir Hagia perlahan terangkat. Ia menggenggam balik tangan Megantara yang masih berada di pipinya.“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Raga tuh berlebihan.”Megantara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu memang kelihatan capek banget.” Tat
“Operasinya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini Pak Auriga masih berada dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani masa pemulihan.”Penjelasan singkat dari Dokter Trenggana seketika mengangkat beban yang sejak tadi menghimpit dada mereka.Hagia menutup kedua matanya sesaat. Tanpa sadar, embusan napas lega keluar dari bibirnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh di wajahnya.“Alhamdulillah...”Djiwa yang berdiri di sampingnya ikut mengusap sudut matanya. “Terima kasih banyak, Dokter.”Hagia mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Dokter Trenggana.”Dokter itu membalas dengan senyum hangat. “Sekarang biarkan Pak Auriga beristirahat dulu. Nanti setelah efek obat bius mulai berkurang, keluarga sudah boleh menemui beliau.”“Baik, Dok.”Setelah berpamitan, Dokter Trenggana beserta tim medis berjalan meninggalkan lorong ruang operasi.Suasana lorong kembali hening. Hagia masih berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya teras
“You okay?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Megantara. Sejak tadi lelaki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Hagia.Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Sorot matanya pun tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.“Sayang...” Megantara meraih pelan tangan Hagia yang berada di atas meja. “Kepikiran Papa, ya?”Hagia tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah playground yang berada tak jauh dari restoran. Di sana, Ranu masih asyik bermain perosotan bersama anak-anak lain.Baru setelahnya, ia mengembuskan napas panjang.“Kayaknya aku lagi mood swing banget, deh, Mas.” Hagia menggigit bibirnya. “Udah mau jadwal mens.”Megantara mengangguk pelan. “Oke. Terus sekarang kenapa? Ada yang bikin kamu kepikiran?”Hagia menggigit pelan bibir bawahnya. “Mas...”“Hm?”“Hari ini aku kayaknya berlebihan banget sama Ranu.”Megantara mengernyit. “Kenapa sama Ranu? Hasil evaluasi di sekolah bagus kan, kata kamu?”“Iya.” Hagia mengangguk pelan
Suasana sekolah pagi itu cukup ramai. Beberapa orang tua tampak berjalan keluar masuk ruang kelas, sementara yang lain masih duduk bersama wali kelas untuk mendengarkan evaluasi perkembangan anak-anak mereka.Pun begitu dengan Hagia yang kini tengah duduk berhadapan dengan Bu Mia, wali kelas Ranu. “Selamat pagi, Bu Hagia. Terima kasih ya sudah menyempatkan hadir hari ini.”“Selamat pagi, Bu Mia.”Guru itu tersenyum hangat. “Baik, kita mulai bahas tentang perkembangan Ranu selama satu tahun terakhir, ya.” Bu Mia mulai membolak-balikkan buku catatannya. “Sejauh ini perkembangan Ranu sangat baik. Dia aktif, cepat beradaptasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Hanya saja memang masih perlu sedikit dibimbing untuk lebih sabar menunggu giliran dan mengontrol emosinya.”Hagia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Di rumah juga kami masih terus belajar soal itu.”“Tapi untuk yang lain-lain, semuanya baik kok, Bu. Dan juga,” lanjut wali kelas, “karena ini sudah pembagian rapor sekaligus evaluas
“Ranu udah tidur, Mas?”Suara Hagia memecah keheningan apartemen. Megantara yang baru saja keluar dari kamar Ranu setelah memastikan putra mereka benar-benar terlelap, lantas menoleh ke arah dapur. Lampu dapur masih menyala. Hagia berdiri di depan wastafel, kedua tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam tadi. “Iya.” Lelaki itu mengayunkan langkah menuju dapur. “Baru aja tidur setelah dia cerita banyak hal.”Hagia terkekeh kecil. “Energinya nggak habis-habis kayaknya, ya? Dia selalu antusias sama hal-hal baru.”Megantara hanya tertawa kecil. Lalu tanpa menanggapi ucapan Hagia, kedua lengannya langsung melingkar di pinggang perempuan itu.“Mas!” Hagia berjengit kaget hingga spons di tangannya nyaris terjatuh. “Ya ampun! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”Perempuan itu mendengus pelan. Namun alih-alih menyingkir, Megantara justru semakin mempererat dekapannya.“Mas, lepasin nggak! Aku lagi nyuci piring ini.”Sementara lelaki itu tidak menjawab. Dagunya ia sandarkan di bahu Hag
“Jangan telat ya, Gan. Gue udah jalan ini. Lo tahu sendiri kalau gue nggak suka ngaret.”Megantara menghela napas pendek. Lelaki itu baru saja selesai mengancingkan kemejanya. “Iya. Aku udah siap, Mbak.” Ia melirik ke samping. “Tapi, Mbak, aku ngajak Ranu nggak apa-apa, kan?”“Nggak apa-apa. Gue ju
Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan
Hagia menahan napasnya saat jemari Megantara mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.Gerakannya lambat. Namun justru itu yang membuat jantung Hagia semakin kacau.“Mas…”Suara perempuan itu terdengar melemah.Megantara mengangkat satu tangan, ibu jarinya menyentuh pelan bibir Hagia seolah me
Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol







