Início / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 110. Kedatangan Tamu

Compartilhar

110. Kedatangan Tamu

Autor: IKYURA
last update Data de publicação: 2026-07-11 00:35:01

“MBAAAAK!”

Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka.

Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Hagia yang masih memegang kain lap seketika tertegun.

Belum sempat ia bereaksi, Arsenio sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbuka lebar. Di belakangnya menyusul Risa, Kaluna, dan Sinta yang sama-sama membawa beberapa kantong belanja berisi camilan dan minuman.

“Kalian kok bisa naik, sih?”

“Bisa, dong. Kan gue sama satpam sini bestie-an,”
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (4)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
pastinya ini yg terakhir Gi..
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
seneng kan Gi.. ternyata temen²mu juga ikutan mendukungmu.. please y kamu harus yakin sama Megan..
goodnovel comment avatar
A mum to be
Makasih update-Nya, Kak
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Hello, Mantan!   113. Ketulusan dan Komitmen

    “Ranu udah tidur, Mas?”Suara Hagia memecah keheningan apartemen. Megantara yang baru saja keluar dari kamar Ranu setelah memastikan putra mereka benar-benar terlelap, lantas menoleh ke arah dapur. Lampu dapur masih menyala. Hagia berdiri di depan wastafel, kedua tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam tadi. “Iya.” Lelaki itu mengayunkan langkah menuju dapur. “Baru aja tidur setelah dia cerita banyak hal.”Hagia terkekeh kecil. “Energinya nggak habis-habis kayaknya, ya? Dia selalu antusias sama hal-hal baru.”Megantara hanya tertawa kecil. Lalu tanpa menanggapi ucapan Hagia, kedua lengannya langsung melingkar di pinggang perempuan itu.“Mas!” Hagia berjengit kaget hingga spons di tangannya nyaris terjatuh. “Ya ampun! Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”Perempuan itu mendengus pelan. Namun alih-alih menyingkir, Megantara justru semakin mempererat dekapannya.“Mas, lepasin nggak! Aku lagi nyuci piring ini.”Sementara lelaki itu tidak menjawab. Dagunya ia sandarkan di bahu Hag

  • Hello, Mantan!   112. Rasa Cemas Hagia

    “Aku pulang ya, Ma.”Hagia dan Djiwa sudah berdiri di depan ruang rawat Auriga. Tatapan perempuan itu sempat menoleh ke arah Auriga yang sedang tertidur karena pengaruh obat.“Maaf aku nggak bisa nemenin Mama di sini.” Ia mengembuskan napas pelan. “Soalnya besok Ranu ada kegiatan di sekolah. Aku harus siapin semua keperluannya malam ini.”Djiwa mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu.“Nggak apa-apa, Sayang. Kamu juga nggak bisa ninggalin Ranu lama-lama.” Djiwa mengulas senyuman kecil. “Kamu nggak usah khawatirin Papa, ya. Ada Mama di sini, kalau ada apa-apa nanti Mama bakalan ngabarin kamu.”Hagia mengangguk. “Bener ya, Ma. Besok aku usahakan ke sini sebelum Papa masuk ruang operasi.”“Iya.” Djiwa mengusap pelan pipi putrinya. “Hati-hati di jalan. Kabarin juga kalau udah sampai rumah.”“Iya, Ma.”Hagia melirik sekali lagi ke arah Auriga. Lelaki itu masih terlelap dengan selang infus yang terpasang di tangannya.Dadanya terasa sesak.Ay

  • Hello, Mantan!   111. Megantara dan Kafka

    “Kantor aman, kan?”Suasana Espresso Coffee siang itu tidak terlalu ramai. Megantara dan Kafka memilih duduk di sudut ruangan, jauh dari lalu lalang pengunjung dan keramaian. Di atas meja hanya ada dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Megantara menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu menatap Kafka. Sementara Kafka yang baru saja menyesap kopinya langsung mengembuskan napas panjang.Lelaki itu meletakkan cangkirnya cukup keras di atas meja. “Aman apanya?” Ia mendecak pelan. “Emosi ya emosi, ya, Gan,” gerutu Kafka. “Cuma masalahnya sekarang gue yang harus muter otak tahu, nggak. Proyek-proyek yang udah jalan harus tetap jalan. Klien tetap harus dilayani. Tim juga harus tetap kerja.” Kafka mengusap wajahnya kasar. “Mana hampir semuanya lo yang handle. Begitu lo cabut... gue langsung diwarisin setumpuk masalah.”Megantara tersenyum penuh rasa bersalah. “Sorry.”“Sorry doang?” Kafka mendecak tak terima. “Belum lagi… anak-anak kantor masih ribut soal hubungan kalian. I mean,

  • Hello, Mantan!   110. Kedatangan Tamu

    “MBAAAAK!”Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Hagia yang masih memegang kain lap seketika tertegun.Belum sempat ia bereaksi, Arsenio sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbuka lebar. Di belakangnya menyusul Risa, Kaluna, dan Sinta yang sama-sama membawa beberapa kantong belanja berisi camilan dan minuman. “Kalian kok bisa naik, sih?”“Bisa, dong. Kan gue sama satpam sini bestie-an,” kelakar Arsenio.Hagia terkekeh. Pandangannya tertuju pada Risa, Kaluna, dan Sinta. Kemudian memeluk mereka satu per satu. “Ya ampun, kalian baru balik ngantor?”“Iya. Sekalian pengen ngecek,” ujar Risa sambil menyeringai jahil, “mantan bos sama mantan rekan kerja kita masih hidup apa nggak.”Hagia tak kuasa menahan tawanya. “Ya ampun...”“Kangen sama Mbak Hagia...”Hagia hanya menggeleng geli. Sudut bibirnya terus terangkat. Sudah lama rasanya ia tidak tertawa selepas ini.“Ayo, masuk dulu.” Ha

  • Hello, Mantan!   109. Megantara dan Djiwa

    “Mama benar-benar berterima kasih, Mas.” Suara Djiwa terdengar begitu hangat.Perempuan itu menoleh ke arah Megantara yang kini duduk di kursi ruang tunggu, tepatnya di depan ruang rawat Auriga. “Karena kamu mau mengantar anak Mama ke sini. Dia pasti panik sekali waktu dengar kabar Papanya dirawat.”Megantara mengulas senyuman kecil. “Nggak perlu berterima kasih, Ma. Sudah seharusnya aku menemani dia.”Tatapan Megantara sempat beralih ke pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat. Di dalam sana, Hagia dan Auriga tengah berbincang dari hati ke hati. Ia tahu ada banyak hal yang selama dua tahun terakhir belum pernah mereka selesaikan. Dan Megantara memilih memberi mereka ruang. Sementara itu, ia dan Djiwa menunggu di ruang tunggu. Suasana koridor rumah sakit terasa tenang. Beberapa perawat terlihat berlalu-lalang membawa berkas, sesekali terdengar suara roda brankar yang melintas dari kejauhan.“Mas Megan gimana kabarnya? Ranu sama siapa sekarang?” tanya Djiwa. Megantara menol

  • Hello, Mantan!   108. Papa dan Anak Perempuannya

    Suasana mendadak berubah menjadi hening. Monitor jantung di samping ranjang berdetak dengan ritme yang teratur. Sinar matahari sore yang menembus sela-sela tirai membuat ruangan itu terasa hangat. Namun tidak mampu mengusir kecemasan yang masih menggumpal di dada Hagia.Perempuan itu masih duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Jemarinya tak pernah lepas menggenggam tangan Auriga. Sesekali ia mengusap pelan punggung tangan ayahnya, seolah ingin memastikan bahwa lelaki itu benar-benar baik-baik saja.“Papa harus jaga kesehatan,” kata Hagia lirih.Ia bahkan belum memiliki cukup keberanian untuk sekadar menatap mata ayahnya. Namun suaranya jelas terdengar menyimpan rasa khawatir.Sementara Auriga hanya terkekeh. “Iya.”“Pa…”“Iya, Sayang. Papa cuma ingin mencairkan suasana kita biar nggak canggung.”Hagia mencebikkan bibir. Sedikit menemukan kelegaan di hatinya. “Aku beneran nggak suka lihat Papa terbaring di rumah sakit begini. Papa lebih pantas marah-marah di depan staff Papa d

  • Hello, Mantan!   78. Meeting Outing

    “Tiba-tiba banget lo dijadiin panitia outing kantor, Mbak?” Suara Arsenio nyaris terdengar seperti bisikan. “Pak Megan lagi mode galak apa gimana, sih?”Hagia yang berjalan di sampingnya hanya mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Gue juga heran padahal kan panitia outing-nya udah lumayan banyak per divis

  • Hello, Mantan!   70. Perasaan Megantara

    “Papa…” Ranu menoleh pada Megantara yang kini duduk di sampingnya. Wajah kecil itu tampak murung sejak mereka meninggalkan ballroom. “Mama lagi marah, ya? Ranu kan nggak nakal.”Megantara mengulas senyum tipis. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut putranya. “Mama nggak marah sama Ranu, Sayang.

  • Hello, Mantan!   68. Ajakan Vanessa

    “Jangan telat ya, Gan. Gue udah jalan ini. Lo tahu sendiri kalau gue nggak suka ngaret.”Megantara menghela napas pendek. Lelaki itu baru saja selesai mengancingkan kemejanya. “Iya. Aku udah siap, Mbak.” Ia melirik ke samping. “Tapi, Mbak, aku ngajak Ranu nggak apa-apa, kan?”“Nggak apa-apa. Gue ju

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status