Se connecterRagu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing
Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal
Ada banyak. Tidak hanya satu foto. Tapi isinya adalah orang sama. Reyga dan wanita cantik yang sepertinya bukan dari Indonesia. Tangan Kalla gemetar memegang salah satunya. Sebuah foto dengan latar belakang pantai. Reyga mengenakan celana pendek dan kemeja pantai tengah bersedekap tangan, lalu di sisinya wanita itu mengenakan bikini, tangannya menyampir di bahu Reyga, dan tangan lain memegangi papan selancar. Keduanya tampak tertawa lebar, Foto lain di sebuah kelab. Keduanya tengah tertawa juga seakan begitu menikmati momen kebersamaan itu sambil menjepit gelas wine. Lalu foto mereka di pasar seni, bermain paralayang, snorkeling, dan lain-lain.Hanya saja semua gambar tersebut seperti diambil secara candid. Mereka seperti tidak sadar kamera. Namun tetap saja tidak mengubah apapun kalau kenyataannya Reyga berjalan dengan wanita lain di belakang Kalla. Tetap membuat hati Kalla berdenyut nyeri. Dadanya yang sudah sesak karena ucapan tajam Diyani, kian sesak melihat semua itu. Kalla mer
Saat keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, Kalla melihat Reyga masih duduk di ranjang. Belum mengenakan apapun. Lelaki itu sibuk mengutak-atik ponsel, sementara kaosnya dibiarkan tergeletak di atas paha. Kondisi itu membuat wajah Kalla blushing seketika. Dia mengalihkan pandang dengan segera. Lalu beranjak duduk work desk. “Sana mandi ih, bau!” celetuk Kalla seraya mengambil hair dryer. Bola mata Reyga bergerak, melirik Kalla, lalu senyumnya terbit. Dia menyingkirkan ponsel sebelum beranjak mendekati perempuan itu. “Kamu bilang aku bau? Emangnya kamu wangi?” Lelaki itu melingkarkan lengan ke leher Kalla, lalu mengecup pipi wanita itu dari belakang. “Oh iya, bener wangi.”“Reyga, lepasin!” Risih banget dipeluk pria yang masih telanjang bulat begitu. Dasar tidak tau malu. Alih-alih lepas, tangan Reyga yang melingkari leher turun ke bawah, meremas payudara Kalla yang hanya tertutup kaos oblong. Secara refleks Kalla menabok tangan iseng itu. “Mandi aku bilang.”“Ya, bentar du
“Sakit?” Kalla menggeleng. Dia menekan dada Reyga dengan kedua tangan. Sebenarnya masih agak nyeri sedikit saat dirinya kembali menyatu. Tapi rasa nikmat jauh melampaui rasa nyeri itu sendiri. Reyga tersenyum. “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?” Ragu Kalla mengangguk. Ini pertama kalinya dia memimpin. Mengendalikan permainan. “Kalau begitu coba bergerak. Jangan naik turun, itu cuma bikin kamu capek. Kamu bisa memaju-mundurkan pinggul, atau berputar.” Sialan! Lelaki ini sepertinya benar-benar ekspert. Bahkan Kalla diberi tutorial segala. Bodoh. Jelaslah Reyga ahli, jam terbang masalah seks pasti sudah tinggi. Tidak heran kalau pada akhirnya Kalla terjebak. Kalla mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan gerakan pelan. Mencari ritme yang pas agar menemukan titik kenikmatan itu. Dia mengkombinasikan dengan gerak memutar. Sesekali mulutnya terbuka dan mengerang saat mendapat titik temu yang pas. Sementara di bawahnya, Reyga dibuat merem-melek tak berdaya. Meskipun teknisnya tidak
Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?” tanya Kalla kesal sembari melotot“Pengin cium kamu.” Tidak ingin mendapat penolakan dia langsung menyasar bibir Kalla. Tapi dengan gerakan cepat pula Kalla menghindar. Wanita itu melempar wajah ke samping hingga ciuman Reyga cuma mengenai rahang. Napas pria 33 tahun itu berembus kasar, dia ditolak. Namun tidak kehabisan akal, lelaki itu menyasar leher Kalla. Tidak ada bibir leher pun jadi. Aksinya kontan membuat Kalla jejeritan lantaran merasa geli.Tidak puas hanya dengan mencium leher, Reyga menyentak tubuh Kalla, memanggulnya ke bahu, dan membawanya memasuki unit. “Reyga turunin aku!” teriak Kalla sembari mengguncang-guncangkan kakinya yang menggantung. Namun alih-alih diturunkan, dia
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut
Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!"
“Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk
Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb







