Accueil / Romansa / Hello, Nanny! / 124. Luar Binasa

Share

124. Luar Binasa

last update Date de publication: 2026-04-19 22:36:09
“Sakit?”

Kalla menggeleng. Dia menekan dada Reyga dengan kedua tangan. Sebenarnya masih agak nyeri sedikit saat dirinya kembali menyatu. Tapi rasa nikmat jauh melampaui rasa nyeri itu sendiri.

Reyga tersenyum. “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?”

Ragu Kalla mengangguk. Ini pertama kalinya dia memimpin. Mengendalikan permainan.

“Kalau begitu coba bergerak. Jangan naik turun, itu cuma bikin kamu capek. Kamu bisa memaju-mundurkan pinggul, atau berputar.”

Sialan! Lelaki ini sepertinya benar-
Yuli F. Riyadi

Yuk! Mari naik kasur! 😂🤣

| 8
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (14)
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
mksh kak...
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
pusing dah lihat kelakuan kalian terutama si kalla diajak nikah malah banyak alasan eeh diajak zina malah ngegas klau si lakinya mah tdk ada beban yg ada itu si perempuannya klau tek dung khan kaga bisa di sembunyiin jd buanglah keegoisan mending nikah aja deh nikah siri masih mending loh dr pd gini
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Kerja dulu kak kerjaaah
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing

  • Hello, Nanny!   127. Hiburan Ringan

    Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal

  • Hello, Nanny!   126. We're Done

    Ada banyak. Tidak hanya satu foto. Tapi isinya adalah orang sama. Reyga dan wanita cantik yang sepertinya bukan dari Indonesia. Tangan Kalla gemetar memegang salah satunya. Sebuah foto dengan latar belakang pantai. Reyga mengenakan celana pendek dan kemeja pantai tengah bersedekap tangan, lalu di sisinya wanita itu mengenakan bikini, tangannya menyampir di bahu Reyga, dan tangan lain memegangi papan selancar. Keduanya tampak tertawa lebar, Foto lain di sebuah kelab. Keduanya tengah tertawa juga seakan begitu menikmati momen kebersamaan itu sambil menjepit gelas wine. Lalu foto mereka di pasar seni, bermain paralayang, snorkeling, dan lain-lain.Hanya saja semua gambar tersebut seperti diambil secara candid. Mereka seperti tidak sadar kamera. Namun tetap saja tidak mengubah apapun kalau kenyataannya Reyga berjalan dengan wanita lain di belakang Kalla. Tetap membuat hati Kalla berdenyut nyeri. Dadanya yang sudah sesak karena ucapan tajam Diyani, kian sesak melihat semua itu. Kalla mer

  • Hello, Nanny!   125. Skandal

    Saat keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, Kalla melihat Reyga masih duduk di ranjang. Belum mengenakan apapun. Lelaki itu sibuk mengutak-atik ponsel, sementara kaosnya dibiarkan tergeletak di atas paha. Kondisi itu membuat wajah Kalla blushing seketika. Dia mengalihkan pandang dengan segera. Lalu beranjak duduk work desk. “Sana mandi ih, bau!” celetuk Kalla seraya mengambil hair dryer. Bola mata Reyga bergerak, melirik Kalla, lalu senyumnya terbit. Dia menyingkirkan ponsel sebelum beranjak mendekati perempuan itu. “Kamu bilang aku bau? Emangnya kamu wangi?” Lelaki itu melingkarkan lengan ke leher Kalla, lalu mengecup pipi wanita itu dari belakang. “Oh iya, bener wangi.”“Reyga, lepasin!” Risih banget dipeluk pria yang masih telanjang bulat begitu. Dasar tidak tau malu. Alih-alih lepas, tangan Reyga yang melingkari leher turun ke bawah, meremas payudara Kalla yang hanya tertutup kaos oblong. Secara refleks Kalla menabok tangan iseng itu. “Mandi aku bilang.”“Ya, bentar du

  • Hello, Nanny!   124. Luar Binasa

    “Sakit?” Kalla menggeleng. Dia menekan dada Reyga dengan kedua tangan. Sebenarnya masih agak nyeri sedikit saat dirinya kembali menyatu. Tapi rasa nikmat jauh melampaui rasa nyeri itu sendiri. Reyga tersenyum. “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?” Ragu Kalla mengangguk. Ini pertama kalinya dia memimpin. Mengendalikan permainan. “Kalau begitu coba bergerak. Jangan naik turun, itu cuma bikin kamu capek. Kamu bisa memaju-mundurkan pinggul, atau berputar.” Sialan! Lelaki ini sepertinya benar-benar ekspert. Bahkan Kalla diberi tutorial segala. Bodoh. Jelaslah Reyga ahli, jam terbang masalah seks pasti sudah tinggi. Tidak heran kalau pada akhirnya Kalla terjebak. Kalla mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan gerakan pelan. Mencari ritme yang pas agar menemukan titik kenikmatan itu. Dia mengkombinasikan dengan gerak memutar. Sesekali mulutnya terbuka dan mengerang saat mendapat titik temu yang pas. Sementara di bawahnya, Reyga dibuat merem-melek tak berdaya. Meskipun teknisnya tidak

  • Hello, Nanny!   123. Larangan Menikah

    Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?” tanya Kalla kesal sembari melotot“Pengin cium kamu.” Tidak ingin mendapat penolakan dia langsung menyasar bibir Kalla. Tapi dengan gerakan cepat pula Kalla menghindar. Wanita itu melempar wajah ke samping hingga ciuman Reyga cuma mengenai rahang. Napas pria 33 tahun itu berembus kasar, dia ditolak. Namun tidak kehabisan akal, lelaki itu menyasar leher Kalla. Tidak ada bibir leher pun jadi. Aksinya kontan membuat Kalla jejeritan lantaran merasa geli.Tidak puas hanya dengan mencium leher, Reyga menyentak tubuh Kalla, memanggulnya ke bahu, dan membawanya memasuki unit. “Reyga turunin aku!” teriak Kalla sembari mengguncang-guncangkan kakinya yang menggantung. Namun alih-alih diturunkan, dia

  • Hello, Nanny!   64. Kakak-Adik

    “Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te

  • Hello, Nanny!   62. Bricks

    Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat

  • Hello, Nanny!   61. Traktir Bakso

    Kalla kembali duduk sendiri setelah Wima pamit sebentar untuk menemani para koleganya. Namun sebelum masuk, lelaki itu berpesan pada Kalla agar tetap menunggunya. Dia berjanji akan mengantar Kalla pulang ke rumahnya. Gatra sendiri lebih memilih menemani tamu-tamu penting itu. Cari muka biar mendapa

  • Hello, Nanny!   60. Gatra dan Wima

    Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status