Home / Romansa / Hello, Nanny! / 123. Larangan Menikah

Share

123. Larangan Menikah

last update publish date: 2026-04-19 12:37:50

Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya.

Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses.

“Kamu apa-apaan sih?” tanya Kalla kesal sembari melotot

“Pengin cium kamu.”

Tidak ingin mendapat penolakan dia langsung menyasar bibir Kalla. Tapi dengan gerakan cepat pula Kalla menghindar. Wanita itu melempar wajah ke s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
mending nikah siri aja dulu dari pd zina setiap ketemu klau dah halal thoyyiban bisa dimana saja ayuuup wk wk wkkk
goodnovel comment avatar
Anies
huhuuuuu kok udahan sih thor... lanjuuuuuuuut
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Heeeh bhahahhaha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   130. IGD

    Saat Kalla keluar kamar pagi-pagi, ibu sudah ada di meja makan. Nasi uduk telur bahkan sudah tersedia. Wanita itu tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan sang ibu. Jadi sebisa mungkin dia sudah mempersiapkan diri.“Makan dulu sebelum berangkat,” ucap ibu sambil menuang teh hangat dari teko. Kalla menurut dan menarik kursi. Dia mengucapkan terima kasih ketika ibu meletakkan gelas ke depannya. “Nanti pulang jam berapa?” tanya ibu lembut. Mungkin untuk sekedar basa-basi. “Jam limaan.” Sampai Kalla berhasil menandaskan setengah isi piring, Ibu tidak bertanya apa-apa lagi. Padahal Kalla pikir wanita itu akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Bahkan sampai dia menyudahi kegiatan sarapan, ibu tetap bungkam. “Nanti langsung pulang ya. Bantu ibu pasang kancing.” Hanya itu yang ibu ucapkan ketika akhirnya Kalla pamit. Dia benar-benar tidak mengerti. Tapi Kalla bersyukur, setidaknya pagi ini tidak ada pembahasan yang membuat dadanya kembali sesak. *** “C’mon, Son. Papa harus

  • Hello, Nanny!   129. He Hurt You?

    “Saya nggak nyangka seorang Wima Sagara punya waktu selonggar ini buat melakukan hal-hal nggak berguna sama saya.”Sudah pukul sembilan malam saat angin laut meniup helaian rambut Kalla yang tergerai. “Sesekali nggak masalah. Sekarang kan juga weekend,” sahut Wima menatap wanita itu dari samping. Hidung runcing Kalla terlihat jelas saat dilihat dari samping begini. Cantik. Tapi wanita itu memang cantik dilihat dari sisi mana pun. “Tapi beberapa jam lagi Senin.”Pria yang ternyata tidak pernah makan lele itu mendesah. Ah, mengingat itu membuat seulas senyum di bibir Kalla terukir. Di warung tenda tawa Kalla tak henti-hentinya mengudara. “Ini bisa dimakan? Bentuknya agak lain ya, nggak seperti ikan pada umumnya. Serius ini bisa dimakan?” Wima menanyakan itu seraya menjungkir-balik lele goreng di piringnya. Gimana Kalla nggak terpingkal-pingkal? Muka pria itu penasaran tapi juga ngeri secara bersamaan. “Cobain makanya. Jangan cuma dibolak balik,” ujar Kalla lalu mencocol daun kemang

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia sudah mencuci mukanya. Ingin rasanya Kalla mengiyakan, tapi dari kemarin dirinya belum pulang. Ibu akan khawatir kalau dia telat pulang lagi. Dengan terpaksa wanita itu menggeleng pelan. “Ya udah, ayo, aku antar kamu pulang.” Wima berdiri dari kursinya. Namun Kalla masih juga terlihat ragu. Dia menoleh, mengamati kesibukan orang-orang di luar. “Tapi kamu kan lagi ngawasi orang-orang kerja.” “Semua sudah dihandle Rafly. Kebetulan ada arsitek dan kontraktornya. Saya cuma memastikan semua berjalan sesuai rencana. Selebihnya mereka yang akan mengawasi pembangunan.”“Oh.” Wima menghela napas panjang. Menatap wajah suram Kalla sejenak. Wanita itu kembali terlihat sedih. “Kamu yakin nggak ing

  • Hello, Nanny!   127. Hiburan Ringan

    Satu kotak tisu dengan isi 250 lembar nyaris habis. Tidak hanya cukup dengan makian, air mata pun ikut menyemarakan hari patah hati sedunia ini. Ya anggap saja begitu. Yang patah hati hari ini pasti bukan Kalla doang kan? Di belahan bumi sebelah pun pasti ada. “Brengsek, tolol, bedebah.” Kalla menyusut hidung dengan agak keras. Berharap ini tangisnya yang terakhir. Dia sudah capek satu jam lebih menangis tanpa henti. Beberapa pegawai kedai es krim yang dia singgahi pun bahkan terlihat prihatin dengan kondisinya. Ada yang terang-terangan bertanya, ada juga yang masa bodo. Tapi Kalla tidak peduli. Mereka tak kasat mata untuk saat ini. Dia cuma ingin menumpahkan emosinya dengan menangis dulu tanpa gangguan. Untung kondisi kedai es krim tidak terlalu ramai. Kalla menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Dia lantas memesan satu ember es krim berukuran besar. Berharap hatinya bisa kembali adem. Dia benar-benar tidak menyangka, setelah bercinta hebat hubungannya malah kandas. Lal

  • Hello, Nanny!   126. We're Done

    Ada banyak. Tidak hanya satu foto. Tapi isinya adalah orang sama. Reyga dan wanita cantik yang sepertinya bukan dari Indonesia. Tangan Kalla gemetar memegang salah satunya. Sebuah foto dengan latar belakang pantai. Reyga mengenakan celana pendek dan kemeja pantai tengah bersedekap tangan, lalu di sisinya wanita itu mengenakan bikini, tangannya menyampir di bahu Reyga, dan tangan lain memegangi papan selancar. Keduanya tampak tertawa lebar, Foto lain di sebuah kelab. Keduanya tengah tertawa juga seakan begitu menikmati momen kebersamaan itu sambil menjepit gelas wine. Lalu foto mereka di pasar seni, bermain paralayang, snorkeling, dan lain-lain.Hanya saja semua gambar tersebut seperti diambil secara candid. Mereka seperti tidak sadar kamera. Namun tetap saja tidak mengubah apapun kalau kenyataannya Reyga berjalan dengan wanita lain di belakang Kalla. Tetap membuat hati Kalla berdenyut nyeri. Dadanya yang sudah sesak karena ucapan tajam Diyani, kian sesak melihat semua itu. Kalla mer

  • Hello, Nanny!   125. Skandal

    Saat keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, Kalla melihat Reyga masih duduk di ranjang. Belum mengenakan apapun. Lelaki itu sibuk mengutak-atik ponsel, sementara kaosnya dibiarkan tergeletak di atas paha. Kondisi itu membuat wajah Kalla blushing seketika. Dia mengalihkan pandang dengan segera. Lalu beranjak duduk work desk. “Sana mandi ih, bau!” celetuk Kalla seraya mengambil hair dryer. Bola mata Reyga bergerak, melirik Kalla, lalu senyumnya terbit. Dia menyingkirkan ponsel sebelum beranjak mendekati perempuan itu. “Kamu bilang aku bau? Emangnya kamu wangi?” Lelaki itu melingkarkan lengan ke leher Kalla, lalu mengecup pipi wanita itu dari belakang. “Oh iya, bener wangi.”“Reyga, lepasin!” Risih banget dipeluk pria yang masih telanjang bulat begitu. Dasar tidak tau malu. Alih-alih lepas, tangan Reyga yang melingkari leher turun ke bawah, meremas payudara Kalla yang hanya tertutup kaos oblong. Secara refleks Kalla menabok tangan iseng itu. “Mandi aku bilang.”“Ya, bentar du

  • Hello, Nanny!   28. Perkara Ranjang

    “Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status