LOGIN“Wow! Punya siapa tuh?” Kalla langsung menyimpan benda yang tengah dia perhatikan. Dia mendongak dan mendapati Danesh sudah ada di depannya. “Bukan siapa-siapa,” sahut Kalla agak salah tingkah. Danesh langsung mendekat penasaran. “Itu jam cowok kan?”“Hah?”“Punya Pak Wima ya?”“Bukan kok.” “Jam langka yang harganya nggak manusiawi itu hanya orang-orang kayak Pak Wima yang masuk akal punya.” Kalla tercenung. Danesh benar. Reyga gila sudah meninggalkan barang berharga ini ke tasnya secara sembarangan.“Ini bukan punya Pak Wima kok.” “Punya siapa dong.”“Kepo!” Kalla mendorong muka kepo Danesh menjauh. Membuat pria itu tertawa. Agak aneh juga. Kemarin Reyga bilang sedang berhemat, tapi dia punya jam tangan mewah. Lantaran kepo Kalla mengecek harga model jam tangan yang dia pegang. “Innalilahi…,” serunya setelah beberapa saat. Membuat Danesh di mejanya menoleh. “Ada apa?” “Jam tangan itu… harganya beneran nggak masuk akal.”“Gue bilang juga apa.”“Orang waras mana yang mau memb
“Di mana alamat vila kamu?” tanya Kalla begitu Reyga naik ke jok belakang motornya. Dia tidak mengizinkan Reyga yang menyetir, tidak mau mereka nyungsep. Kalla tidak pernah melihat lelaki itu mengendarai motor. “Di Tirta Nadi Villa Asoka,” sahut Reyga agak kencang, lantaran angin suka membawa kabur suaranya tanpa permisi. Kalla cukup kencang mengendarai motor. Oh Kalla tahu. Jadi selama ini Reyga tinggal di sana. Tidak jauh dari Tukad Bilok tempatnya tinggal. “Tapi aku lapar. Aku boleh menagih utangmu sekarang?” tanya lelaki itu setengah berteriak. Embusan napas Kalla terdengar lelah. Sambil terus mengawasi jalanan malam dia mengemudikan motornya menuju kafe terdekat. Berharap setelah ini urusannya dengan Reyga selesai. “Sebenarnya dari kemarin aku pengin ketemu kamu, tapi banyak yang harus aku urus,” ujar Reyga setelah mereka berdua berhasil duduk di salah satu meja. “Keluargaku sudah kembali ke Jakarta tadi pagi. Kael juga ikut pulang bersama Kiana.” Memanggil pelayan, Ka
Ini mungkin kekonyolan lain yang Kalla lakukan. Bisa-bisanya mempercayai ucapan duda nyebelin itu. Kalla mengangkut napas dalam-dalam sebelum memutuskan kembali ke kafe yang sama seperti kemarin malam. “Nggak. Gue ke sini mau isi perut, bukan karena hal lain,” gumamnya pada diri sendiri sambil membuka buku menu. Jika kemarin dia memesan udang saus tiram, kali ini dia memesan cumi bakar. “Ada yang lain, Kak?” tanya waiter yang melayaninya. Waiter yang sama seperti kemarin malam juga. “Itu aja dulu.” “Baik.” Kalla mulai merebahkan punggungnya ke sandaran kursi rotan. Sesekali matanya mengedar ke setiap penjuru kafe, seperti tengah mencari seseorang. Tapi detik berikutnya dia menggeleng kencang. “Bego, apa yang gue cari coba? Kebetulan nggak mungkin terjadi dua kali kan,” gumamnya lagi lalu bergerak meraih ponsel di tas. Lebih baik melakukan pekerjaan yang lebih berguna. Mantau komoditas misalnya. Namun sampai makanan datang, juga setelah dirinya berhasil menandaskan isi pir
Kalla mengumpat lirih ketika ujung matanya melirik waiter yang menuju ke mejanya. Pesanannya sudah keburu datang sebelum dia berhasil kabur dari Reyga. Perutnya yang memang sudah lapar dari kantor mendadak makin keruyukan ketika hidungnya menghirup aroma yang menguar dari udang saus tiram pesanannya. “Silakan, Kak,” ujar waiter tersebut setelah sukses membuat lidah Kalla memproduksi air liur lebih banyak. “Mau dilihatin aja?” Mata Kalla mengerjap saat mendapat teguran yang berasal dari Reyga.“Lapar kan?” Secara otomatis Kalla menatap perutnya yang berbunyi tak tahu malu. Dia berdeham dengan wajah memerah, lalu beringsut duduk kembali. Kampret lah! Kenapa pula nih perut pake berisik segala. “Kamu sendirian?” tanya Reyga lagi. “Menurut ngana?” Tawa kecil pria itu meluncur. Dia melipat lengan di dada sambil menatap wajah jutek wanita itu. Kiana benar, Kalla makin cantik dan lebih terlihat dewasa, pun dengan cara berpakaiannya. “Boleh aku duduk di sini?” Otak Kalla menyuruhnya a
SEBELUM REYGA BERTEMU KALLA=====================Cade dan Kael tengah konsentrasi di depan bangunan Jenga saat Kiana dan Raven datang bersama putrinya. Sementara Reyga tampak duduk di sofa seraya serius menatap laptop di pangkuannya. “Coba tebak siapa yang aku temui di Blossom tadi?” seru Kiana, tapi sayang tidak ada yang tampak tertarik. Semua sibuk dengan fokusnya masing-masing. “Serius kalian nggak penasaran?” “Yes!” seru Kael saat berhasil menarik balok Jenga, tanpa merobohkan bangunan. Kiana memandang sang suami dengan wajah kesal ketika tidak ada yang memperhatikannya. Raven tersenyum, mengusap pipi istrinya. “Nggak apa-apa. Nanti mereka juga nyesel nggak dengerin kamu. Khususnya si kunyuk.”“Ih, ngomongnya dijaga. Nanti Kyoka denger.” Kyoka adalah anak perempuan Kiana yang berusia empat tahun, menuju lima tahun beberapa bulan lagi. Lagi aktif-aktifnya. Sekarang saja gadis kecil itu sedang—Praaakkk! Kiana dan Raven kontan menoleh mendapati suara gaduh itu, pun dengan Rey
“Ntar malam mau makan di mana?” tanya Wima ketika pria itu mengantar Kalla kembali ke apartemen. “Aku makan di unit aja, Kak. Pengin tidur cepat.” “Yakin nggak butuh teman?” “Apaan sih, Kak. Jangan mulai deh. Aku nggak apa-apa.” Wima tidak berkomentar lagi. Mungkin Kalla memang sedang lelah saja. Dia mengulurkan tangan, menepuk kepala wanita itu dan tersenyum. “Oke, istirahat. Kalau butuh teman kamu bisa telpon, mumpung aku masih di sini. Besok aku sudah harus business trip lagi ke Thailand.” “Gimana mau dapat jodoh kalau kerjaannya keluyuran ke negara orang terus,” cibir Kalla, membuat Wima kontan terkekeh. “Ya kali aja jodohku dari negeri orang.” “Iya juga ya.” Kadang Kalla kesal sama diri sendiri. Wima sudah sebaik itu tapi kenapa hatinya belum juga bisa luluh? Setidaknya tersentuh deh. Namun sekuat apapun usahanya, Kalla tetap tidak bisa. Sesulit itu. Sama sulitnya seperti melupakan tentang Reyga. Reyga mungkin bukan cinta pertamanya, tapi pria itu yang pertama menyentu
“Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk
Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat







