Home / Romansa / Hello, Nanny! / 148. Sepanjang Dini Hari

Share

148. Sepanjang Dini Hari

last update publish date: 2026-05-01 22:54:24

“Kita nggak bisa lewat jalan utama!” seru Danesh. Dia terpaksa menepikan mobil.

“Lewat jalan lain. Tukad Balian!”

“Oke!”

Sudah pukul 12 malam tapi kepadatan belum terurai. Danesh menjalankan mobil dengan perlahan. Rasanya malam ini cukup mencekam. Ditambah ketegangan wanita di sebelahnya yang terlihat begitu gelisah.

Wanita itu terus mengutak-atik ponsel dengan panik. Mencoba menghubungi seseorang. Sesekali dia mengumpat kesal. Lantaran nomor yang dia hubungi tidak terhubung.

“Jadi pria gon
Yuli F. Riyadi

Lumayan panjang 2 bab hari ini. Moga kalian puas. Aku lelah dan mengantuk 🥱

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (22)
goodnovel comment avatar
Ly🕊
yaah padahal udah bolak balik dari tadi pagi tor
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
9 tahunan die
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Masih otw nulis
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   148. Sepanjang Dini Hari

    “Kita nggak bisa lewat jalan utama!” seru Danesh. Dia terpaksa menepikan mobil. “Lewat jalan lain. Tukad Balian!” “Oke!”Sudah pukul 12 malam tapi kepadatan belum terurai. Danesh menjalankan mobil dengan perlahan. Rasanya malam ini cukup mencekam. Ditambah ketegangan wanita di sebelahnya yang terlihat begitu gelisah. Wanita itu terus mengutak-atik ponsel dengan panik. Mencoba menghubungi seseorang. Sesekali dia mengumpat kesal. Lantaran nomor yang dia hubungi tidak terhubung. “Jadi pria gondrong itu tinggal di sana?” tanya Danesh sambil fokus menyetir. “Hu-um.” Kalla hanya menggumam, tatapnya tidak lepas dari layar ponsel, sementara jarinya tidak berhenti mengetik. Danesh menarik napas panjang. Dia belum pernah melihat wajah rekannya secemas ini. Jelas sekali kalau pria itu berharga untuk wanita itu. Tapi—“Sebenarnya hubungan Lo sama dia apa?” “Mantan.” “Serius?” Kalla mengumpat saat lagi-lagi nomor Reyga tidak bisa dihubungi. Perasaannya makin kalut. Dadanya berdetak tak ny

  • Hello, Nanny!   147. Kebakaran

    “Gue harus lihat kondisi villa? Mungkin laptop masih bisa diselametin.” Reyga bergegas keluar. Berusaha mengingat-ingat apakah semua pekerjaannya sudah di-backup.“Eh, gue ikut!” seru Cade menyusul, setelah meminta izin istrinya.Jalan By Pass menuju Tirta Nadi II macet total. Cade mengambil arah jalan memutar melewati Tukad Balian ke sisi kiri. Suara sirine ambulance berlomba dengan sirine pemadam kebakaran, menciptakan perasaan panik pada setiap yang mendengarnya. “Kayaknya kebakarannya cukup serius,” ucap Cade berusaha tetap mencari jalan alternatif, meskipun harus memutar lebih dulu. Di samping pria itu Reyga sibuk menghubungi para stafnya di Jakarta. Memastikan segala pekerjaan yang berasal darinya sudah ada di file pusat. “Jangan panik,’’ ujar Cade tenang. “Kali aja kebakaran ini berkah buat lo, Kak.” “Berkah what the hell, semua kerja keras gue di sini bakal sia-sia kalau gue beneran kehilangan data survei milik kementerian.”“Lo minta waktu lagi dong ah. Gitu aja repot.”

  • Hello, Nanny!   146. Menyerah

    “Sebenarnya dia itu siapa? Saingan Pak Wima?”Kalla menghela napas, sambil menatap cheesekuit yang ada di depannya. Kue terbuat dari keju yang baru saja Danesh antar. “Kenapa lo terima sih?” tanya Kalla melirik sebal. “Eh itu rejeki loh, Kal. Lo nggak minta tapi ada yang nganter. Akhir-akhir ini gue sering liat dia. Siapa? Gebetan Lo?”“Kepo!” Lagi-lagi jawaban Kalla membuat Danesh berdecak. Wanita itu tidak pernah mengakui Wima sebagai pacar, dan sekarang ada pria baru yang ada terus di sekitarnya pun, Kalla enggan menanggapi. “Hmm, sebenarnya lo cari yang model kayak apa sih? Beruntung gue dapat Celine yang mau terima gue apa adanya. Heran, Pak Wima kurang apa coba?”Memilih tidak menanggapi Danesh, Kalla kembali melanjutkan pekerjaannya. Hari ini banyak yang harus diurus. Terutama persiapan pameran yang akan segera digelar. “Tolong bagi-bagiin aja kue itu sama yang lain. Nggak bakal habis gue sendirian.” “Lo serius?”Kepala Kalla mengangguk tak peduli. Tapi dia melihat Danes

  • Hello, Nanny!   145. Sedikit Kesempatan

    “Wow! Punya siapa tuh?” Kalla langsung menyimpan benda yang tengah dia perhatikan. Dia mendongak dan mendapati Danesh sudah ada di depannya. “Bukan siapa-siapa,” sahut Kalla agak salah tingkah. Danesh langsung mendekat penasaran. “Itu jam cowok kan?”“Hah?”“Punya Pak Wima ya?”“Bukan kok.” “Jam langka yang harganya nggak manusiawi itu hanya orang-orang kayak Pak Wima yang masuk akal punya.” Kalla tercenung. Danesh benar. Reyga gila sudah meninggalkan barang berharga ini ke tasnya secara sembarangan.“Ini bukan punya Pak Wima kok.” “Punya siapa dong.”“Kepo!” Kalla mendorong muka kepo Danesh menjauh. Membuat pria itu tertawa. Agak aneh juga. Kemarin Reyga bilang sedang berhemat, tapi dia punya jam tangan mewah. Lantaran kepo Kalla mengecek harga model jam tangan yang dia pegang. “Innalilahi…,” serunya setelah beberapa saat. Membuat Danesh di mejanya menoleh. “Ada apa?” “Jam tangan itu… harganya beneran nggak masuk akal.”“Gue bilang juga apa.”“Orang waras mana yang mau memb

  • Hello, Nanny!   144. Arloji

    “Di mana alamat vila kamu?” tanya Kalla begitu Reyga naik ke jok belakang motornya. Dia tidak mengizinkan Reyga yang menyetir, tidak mau mereka nyungsep. Kalla tidak pernah melihat lelaki itu mengendarai motor. “Di Tirta Nadi Villa Asoka,” sahut Reyga agak kencang, lantaran angin suka membawa kabur suaranya tanpa permisi. Kalla cukup kencang mengendarai motor. Oh Kalla tahu. Jadi selama ini Reyga tinggal di sana. Tidak jauh dari Tukad Bilok tempatnya tinggal. “Tapi aku lapar. Aku boleh menagih utangmu sekarang?” tanya lelaki itu setengah berteriak. Embusan napas Kalla terdengar lelah. Sambil terus mengawasi jalanan malam dia mengemudikan motornya menuju kafe terdekat. Berharap setelah ini urusannya dengan Reyga selesai. “Sebenarnya dari kemarin aku pengin ketemu kamu, tapi banyak yang harus aku urus,” ujar Reyga setelah mereka berdua berhasil duduk di salah satu meja. “Keluargaku sudah kembali ke Jakarta tadi pagi. Kael juga ikut pulang bersama Kiana.” Memanggil pelayan, Ka

  • Hello, Nanny!   143. Nebeng

    Ini mungkin kekonyolan lain yang Kalla lakukan. Bisa-bisanya mempercayai ucapan duda nyebelin itu. Kalla mengangkut napas dalam-dalam sebelum memutuskan kembali ke kafe yang sama seperti kemarin malam. “Nggak. Gue ke sini mau isi perut, bukan karena hal lain,” gumamnya pada diri sendiri sambil membuka buku menu. Jika kemarin dia memesan udang saus tiram, kali ini dia memesan cumi bakar. “Ada yang lain, Kak?” tanya waiter yang melayaninya. Waiter yang sama seperti kemarin malam juga. “Itu aja dulu.” “Baik.” Kalla mulai merebahkan punggungnya ke sandaran kursi rotan. Sesekali matanya mengedar ke setiap penjuru kafe, seperti tengah mencari seseorang. Tapi detik berikutnya dia menggeleng kencang. “Bego, apa yang gue cari coba? Kebetulan nggak mungkin terjadi dua kali kan,” gumamnya lagi lalu bergerak meraih ponsel di tas. Lebih baik melakukan pekerjaan yang lebih berguna. Mantau komoditas misalnya. Namun sampai makanan datang, juga setelah dirinya berhasil menandaskan isi pir

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb

  • Hello, Nanny!   64. Kakak-Adik

    “Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te

  • Hello, Nanny!   62. Bricks

    Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat

  • Hello, Nanny!   61. Traktir Bakso

    Kalla kembali duduk sendiri setelah Wima pamit sebentar untuk menemani para koleganya. Namun sebelum masuk, lelaki itu berpesan pada Kalla agar tetap menunggunya. Dia berjanji akan mengantar Kalla pulang ke rumahnya. Gatra sendiri lebih memilih menemani tamu-tamu penting itu. Cari muka biar mendapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status