Home / Romansa / Hello, Nanny! / 158. Ngantuk

Share

158. Ngantuk

last update publish date: 2026-05-06 21:58:32

Disclaimer dulu yak hehe;

Cerita ini hanya hiburan semata. Adegan mature dalam cerita ini tidak untuk ditiru ya, apalagi dipraktekkan. Kalau mau praktek minimal kudu nikah dulu. Muehehe. Author minta maaf sebesar-besarnya kalau ada yang nggak berkenan.

=================

Reyga langsung merangkul pinggang Kalla saat wanita itu segera menyambut kedatangannya. Dia melambaikan tangan pada Danesh sebelum menggiring Kalla ke tempat parkir motor.

“Kalian ngapain aja sampai jam satu baru keluar?” tan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (16)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ngajak pilates
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Haiyaaah jangan dong wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Pasti wes remuk semua
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   158. Ngantuk

    Disclaimer dulu yak hehe; Cerita ini hanya hiburan semata. Adegan mature dalam cerita ini tidak untuk ditiru ya, apalagi dipraktekkan. Kalau mau praktek minimal kudu nikah dulu. Muehehe. Author minta maaf sebesar-besarnya kalau ada yang nggak berkenan. =================Reyga langsung merangkul pinggang Kalla saat wanita itu segera menyambut kedatangannya. Dia melambaikan tangan pada Danesh sebelum menggiring Kalla ke tempat parkir motor. “Kalian ngapain aja sampai jam satu baru keluar?” tanya lelaki itu, sembari memakaikan jaket ke badan Kalla. “Makan, minum, nari-nari, ya seneng-seneng. Namanya juga perayaan.” Saat Reyga meresleting jaket tersebut, Kalla sedikit mendongak. Bibir Reyga mencebik. “Happy banget ya sampe nggak mau diganggu. Aku telpon pun nggak diangkat.” “Oh ya? Sori, aku nggak denger.” Setelah memakaikan jaket, lelaki itu memakaikan Kalla helm. “Udara dini hari dingin jadi harus rapet. Yuk!” Meski sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal, Kalla tetap mengulu

  • Hello, Nanny!   157. Green Flag

    “Selamat atas kesuksesan kita semua. Tanpa kalian pameran ini tidak akan berjalan sempurna!” Wima mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. “Dinasty…?!” “Jaya! Jaya! Yes!” sambut para stafnya dengan yel-yel kompak. “Cheers, untuk kita semua!” “Cheers!” Closing pameran berjalan lancar dua hari lalu. Wima mengapresiasi keberhasilan event itu dengan gala dinner yang diadakan di beach club di kawasan Canggu malam ini. Semua staf divisi hadir tanpa terkecuali. “Ini di luar ekspektasi. Selamat buat kalian berdua,” ucap Wima pada dua orang kepercayaannya, Danesh dan Kalla. “Sesuai janji selain bonus, kalian akan liburan ke Eropa.” Danesh dan Kalla kompak menyambut kabar baik itu dengan bertos ria. Keduanya sudah menantikan momen itu. “Eropa, Kal! Sekalian ajak Celine pulang kampung ke Paris!” seru Danesh kegirangan. Tubuhnya lantas berjoget mengikuti irama musik. “Yee, sekali mendayung. Sekalian kenalan sama mertua, Nesh.” “Yoi!” Lelaki berambut jabrik itu lantas berdiri. “Ta

  • Hello, Nanny!   156. Tetap Kamu yang Menang

    “Kalau kamu mau tidur sama roommate-ku juga silakan.” Kalla mengangkat bahu. Sangat tidak mungkin mengajak lelaki itu menginap di kamarnya. Kening Reyga mengerut. “Sekamar berdua? Sekelas Sagara?” “Kan nggak cuma kamu yang mau hemat, Rey.”“Oke, kita buka kamar di Oshom. Bagus langsung menghadap laut.” “Di sana ada Wima by the way.” “Shit.”Reyga mendebas keras sampai rambut bagian depannya terbang. Wima Sagara benar-benar bencana. Dia benar-benar harus bersabar sampai dua minggu ke depan sebelum memukul mundur pria itu. Kalla terkekeh lantas berdiri. Tangannya terulur. “Aku lapar, tapi nggak mau makan di sini.”Menyambut uluran tangan wanita itu, Reyga turut berdiri. “Kenapa?” “Makanan di sini nggak ramah di kantong,” bisik Kalla, membuat Reyga terkekeh geli. “Meskipun bukan CEO Ganesha lagi, tapi aku masih sanggup kok bayar makan malam kita di sini.”Kepala Kalla menggeleng, dia menarik tangan lelaki itu, dan membawanya keluar dari area beach club. “Kalau cuma buat mengenyang

  • Hello, Nanny!   155. Lamaran Kedua

    Cade di ujung telepon terpingkal mendengar curhatan sang kakak. Kemunculan Wima dan kepatuhan Kalla pada pria itu membuat Reyga jengkel. Gimana tidak, pulang kerja tiba-tiba Kalla memberinya kartu akses unit lain. Wanita itu bilang Reyga harus pindah. Dan ketika ditanya, Kalla bilang itu dari Wima. “Terus lo jawab apa?” “Ya emang gue bisa apa kalau dia udah bawa-bawa ibunya? Kampret si Sagara itu. Nggak demen banget liat gue sama Kalla akur.” “Wajar sih, Lo kan saingan dia. Ya udah sih, itung-itung Lo dapat apartemen gratis.”“Gratis what the— pengurusnya bilang belum dibayar!”Di sana Cade makin terpingkal. Membuat Reyga berdecak kencang. “Jangan cuma ketawa. Lo kasih ide apa gitu, biar si Sagara nggak recokin gue sama Kalla lagi.”Desahan Cade terdengar panjang di ujung telepon. “Apa yang Lo pusingin sih, Kak? Yang penting kan Kalla udah balikan sama Lo.”“Gue belum bisa tenang selama masih ada kunyuk itu.” “Ya udah lo ajak Kalla merit aja secepatnya. Usia dia udah pas kok buat

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu sebagai alasan Reyga menumpang di apartemen Kalla. Vila lain banyak, hotel juga banyak. Dia tidak sebodoh itu dengan akal-akalan duda anak satu itu. “Aneh ya. Anda kan CEO Ganesha, masa soal hunian saja sampai numpang?” Reyga yang sedang makan salad sayur melirik Wima dengan tatapan tak suka. “Saya bukan CEO Ganesha lagi. Nggak mungkin Anda nggak tau.” Sumpitnya diarahkan ke wortel. “Oh.” Wima tampak salah tingkah. Lalu melirik Kalla yang untungnya tidak terlalu peduli. “Oke, tapi sebagai anggota keluarga Abimanyu nggak mungkin mereka membiarkan Anda kesulitan.” Hampir saja Reyga membanting sumpit jika tidak ingat Kalla masih ada di sebelahnya. “Pak Wima ini repot banget ya ngurusin urusa

  • Hello, Nanny!   153. Aku-Kamu

    “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesha jelas tidak disetujui keluarga, terlebih Diyani yang memang sudah merencanakan dari awal memindahkan estafet kepemimpinan pada putra ketiganya. Namun, Reyga terlalu lelah menjadi tameng keluarga. Dia bersikeras membangun usahanya sendiri. Dengan dukungan Raven serta Cecilia Wu sebagai investor utama, dia berhasil membangun bisnisnya sendiri. Kemampuan melobi klien dan pengalaman sering memenangkan tender membuat perusahaannya naik secara signifikan, meski tentu saja keuntungan tidak bisa dibandingkan dengan Ganesha yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi Reyga tetap bangga karena tidak harus disetir keluarganya lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali Cade yang mewarisi estafet sang papa.

  • Hello, Nanny!   44. Yang Kamu Suka Siapa?

    Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan

  • Hello, Nanny!   43. Kissmark

    Ada rasa lega menyelimuti ketika akhirnya Kalla bisa meninggalkan apartemen Reyga. Meskipun dia berat karena harus meninggalkan Kael. Besok juga dirinya libur. Tapi Cade benar, dia juga butuh istirahat. “Mau mampir ke suatu tempat?” tanya Cade menawarkan. “Mumpung kita masih di Senayan nih. Nonton

  • Hello, Nanny!   42. Kita Punya Pizza!

    “Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya

  • Hello, Nanny!   41. Bermesraan?

    Sabtu full di unit pun sekarang sudah cukup bagi Reyga. Banyak kegiatan bermanfaat yang sudah Kalla susun untuk putranya. The real me time bareng keluarga mungkin seperti ini. Empat tahun lamanya kehangatan seperti keluarga lain tidak pernah Reyga rasakan. Dia membesarkan Kael sendiri dengan bantu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status