Se connecterSelamat pagi, Bestie. Semoga hari kalian menyenangkan habis baca bab ini 😂🤣
Mulut Kalla yang terbuka terus mengeluarkan desahan. Setengah berbaring satu tangannya meremas rambut tebal Reyga, sebelah lainnya dia gunakan untuk menopang badannya. Kalla melihat bagaimana lelaki itu kembali mendamba dirinya. Berada di antara dua pahanya yang terbuka, menggodanya. Kecupan, jilatan, bahkan hisapan membuat Kalla benar-benar kepayahan. “R-Rey jangan di situ. Ak-aku—ah! Brengsek!” Kalla melempar kepala ke belakang. Pinggulnya sedikit naik, lantas tubuhnya bergetar hebat. Dia mengerang, merasakan kenikmatan menjalar di setiap inci tubuhnya. Belum sempat mengatur napas, Reyga sudah membalik tubuhnya. Membuat posisi Kalla menjadi tengkurap. Tangan lelaki itu kembali merambat, menyusuri punggungnya seraya mengecup dan sesekali menggigit. “Jangan digigit!” Mata Kalla memicing sembari merintih saat merasakan gigitan yang begitu kuat. “Dasar vampir.” Dia yakin punggungnya pasti penuh bercak merah sekarang. “Kamu nggak bisa protes, Sayang. Nikmatin aja.” Reyga menyeri
“Kapan papa sama mama pulang?” “Uhm besok. Tapi kalau nggak bisa ya besoknya lagi, kalau nggak bisa lagi ya besoknya lagi.” Kalla menabok paha Reyga mendengar jawaban ngaco itu. Di layar, anak sambungnya itu menghela napas. Seperti sudah hapal banget kelakuan bapaknya. “Kami pulang lusa, Kael. Uhm kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Kalla tersenyum lembut. Senyum yang langsung menulari anak sembilan tahun itu. “Kata Om Cade aku harus minta oleh-oleh spesial.” Perasaan Kalla mendadak tak enak. Begitu pun Reyga, kalau sudah bawa-bawa Cade pasti bukan sesuatu yang bagus. “Yang spesial itu kayak apa?” tanya Kalla hati-hati. “Aku nggak tau yang Om Cade bilang itu beneran atau cuma bercanda. Dia bilang … aku harus minta oleh-oleh adek bayi sama kalian.” Tuh kan! Andai Cade ada di dekatnya Kalla pasti sudah mencubit keras pahanya. Tapi di sebelahnya Reyga malah tertawa, kontras dengan wajah Kalla yang berubah jadi semerah dadu. “Jangan dengerin Om kamu. Dia ngaco,” balas Kalla.
“Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.” “Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta
“Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket
Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue
Kalla segera menahan tangan Reyga. Bukan untuk menyingkirkan tapi justru menuntun tangan besar itu agar terus bergerak. Hidung Reyga mengendus leher istrinya, lantas berbisik. “Aku nggak mau menunda punya anak. Jadi kali ini aku nggak akan kasih longgar.” Di ujung kalimatnya lelaki itu mencubit gemas puncak dada Kalla, membuat wanita itu tersentak. Dia segera menempatkan posisi di atas sang istri, dan menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. Kekehan Kalla meluncur. Dia menjauhkan wajah Reyga dan menatapnya. “Emang kamu mau kasih berapa adik buat Kael?”“Uhm, tiga boleh?” “Boleh aja sih, asal satu anak satu Nanny. Terus nanny-nanny itu nggak boleh lebih muda dari aku, dan nggak boleh lebih cantik dari aku.” Tatapan Kalla jatuh ke Reyga, tangannya secara diam-diam menarik simpul kimono pria itu. Perlahan telapak tangannya meraba perut kotaknya. “Itu bisa diatur. Lagi pula…. “ Reyga menangkap tangan Kalla yang akan menyentuh puting dadanya. “Memang ada yang lebih cantik dari nanny-n
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat
Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa
Kalla terbangun ketika bunyi ponsel terdengar nyaring. Mulutnya berdecak kesal, tapi matanya masih merapat. Tangannya terjulur, mencari-cari benda yang memekakkan telinga. Kalau tidak ingat benda pipih itu harganya jutaan, mungkin Kalla sudah melemparnya ke tong sampah karena sudah sukses membangunk







