LOGINKalau nggak ada halangan, ntar malam aku up lagi. Yuk ramein.
“Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.”“Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta jatuh
“Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket
Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue
Kalla segera menahan tangan Reyga. Bukan untuk menyingkirkan tapi justru menuntun tangan besar itu agar terus bergerak. Hidung Reyga mengendus leher istrinya, lantas berbisik. “Aku nggak mau menunda punya anak. Jadi kali ini aku nggak akan kasih longgar.” Di ujung kalimatnya lelaki itu mencubit gemas puncak dada Kalla, membuat wanita itu tersentak. Dia segera menempatkan posisi di atas sang istri, dan menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. Kekehan Kalla meluncur. Dia menjauhkan wajah Reyga dan menatapnya. “Emang kamu mau kasih berapa adik buat Kael?”“Uhm, tiga boleh?” “Boleh aja sih, asal satu anak satu Nanny. Terus nanny-nanny itu nggak boleh lebih muda dari aku, dan nggak boleh lebih cantik dari aku.” Tatapan Kalla jatuh ke Reyga, tangannya secara diam-diam menarik simpul kimono pria itu. Perlahan telapak tangannya meraba perut kotaknya. “Itu bisa diatur. Lagi pula…. “ Reyga menangkap tangan Kalla yang akan menyentuh puting dadanya. “Memang ada yang lebih cantik dari nanny-n
Reyga menutup akses tamu yang datang terlambat. Menimbang istrinya yang sudah tidak berdaya karena kelelahan. Bahkan untuk sekedar membersihkan makeup saja wanita itu mengangkat tangan. Sehingga Moya yang akhirnya turun tangan membantu. Sebelum pergi menuju resort tempat dirinya akan menghabiskan beberapa malam ke depan, Kalla dan Reyga lebih dulu mengantar keluarga besarnya yang akan kembali ke Jakarta malam ini. “Kamu sudah jadi istri sekarang. Bertingkahlah selayaknya istri kepada suami. Jangan ngambekan, kunci rumah tangga adalah komunikasi. Selama kalian bisa menjaga komunikasi dengan baik, rumah tangga kalian bakal damai,” ujar Ibu sedikit memberi nasehat kepada putrinya. “Meskipun kalian nanti tinggal sama ibu. Ibu nggak akan ikut campur soal rumah tangga kalian.” Ibu beralih menepuk lengan menantunya. “Nak Rey, kalau suatu hari kamu nggak nyaman tinggal di rumah ibu, ibu ridho kamu membawa Kalla pergi. Dia sudah jadi tanggung jawab kamu sekarang. Pesan ibu, jaga dan sayangi
Rasanya Kalla sudah ingin pingsan saking capeknya. Padahal kata Reyga tamu yang hadir tidak sampai 500. Tapi baginya, tamu seolah datang tidak ada hentinya. Fisiknya kelelahan. Matanya pun perih menahan kantuk. Terus memaksakan tersenyum dan membuka mata bikin pegel. Saat selesai sesi foto bersama tamu untuk kesekian kalinya, Reyga langsung menuntun Kalla duduk kembali. Dia menggapai air minum di belakang kursi, dan menyodorkannya ke depan wajah sang istri. “Ayo minum dulu,” pintanya. Tanpa pikir panjang Kalla langsung menyesap minuman tersebut. “Acaranya nggak sampai sore kok. Abis itu kita bisa istirahat,” kata Reyga menenangkan Kalla yang terlihat sudah tidak karuan. Pakaian adat yang wanita itu pakai juga tampak tidak membuatnya nyaman. “Abis ini nggak ada ritual-ritual lain kan? Sumpah, Rey. Aku pengin tidur.” “Kalau pun ada aku pastikan kamu istirahat dulu. Aku nggak mau abis acara nikahan kamu malah drop.” “Ini juga udah drop.” Kalla menutup mulut sembari menguap l
Kalla menatap dua orang lelaki di hadapannya. Yang satu terbaring di ranjang, satunya lagi duduk sambil bersedekap tangan di tepian ranjang. "Apa susahnya sih pulang ke rumah mama? Malah pilih menyusahkan diri sendiri. Reyga melengos. "Males. Mama suka berlebihan.""Mama begitu karena sayang sama
Bianglala dan kora-kora membuat perut Reyga bergejolak. Begitu turun dari wahana, dia memuntahkan semua isi perut. Wajahnya sudah seputih kapas. Sehingga ketika Kael menariknya lagi untuk naik cangkir putar, dia menolak. Jika bukan karena memiliki anak, Reyga tidak sudi datang ke tempat macam ini.
Bagaimana Reyga sepagi ini bisa sampai di rumah Kalla? Kapan dia balik dari Kamboja?Sialnya, penampilan wanita itu saat ini sudah seperti reog. Kesadaran Kalla kontan pulih sepenuhnya. Dia menatap ibu dan Reyga berganti. "Kamu baru bangun?" tanya Reyga menatap Kalla dari ujung kaki hingga rambut.
“Saya transfer langsung 2 juta sekarang. Tapi tolong temani Kael malam ini.” Kalla menghela napas panjang. Sudah hampir pukul lima, tapi batang hidung Reyga belum juga nongol. Pria itu sempat mengatakan akan segera pulang begitu sampai bandara dan tidak menginap di Kamboja. Namun menjelang senja p







