Inicio / Romansa / Hello, Nanny! / 189. Dokter Charming

Compartir

189. Dokter Charming

last update Fecha de publicación: 2026-05-22 21:24:20

“Masih ada satu destinasi lagi yang mau gue kunjungi, tapi gue pastiin sebelum acara syukuran di rumah ibu, gue udah balik.”

“Lo mau ke mana lagi?”

“Gue mau ke Pindul, ngeriver tubing bareng Pandu.”

Moya tersenyum manis dengan ujung mata melirik ke arah Pandu yang sedang mengambil sarapan bersama Reyga.

“Gue baru tahu kalau Pandu itu ternyata spesialis bedah jantung. Kacamata itu beneran pas di mukanya.” Kalla ikut memperhatikan pria di sebelah suaminya itu.

“Mukanya juga bersih banget kan?
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Anies
otak boleh pinter Moy.. tapi kalo urusan sama orang yang kita cinta apa lagi modelan Reyga yang normalnya kebangetan udah pasti sih bakalan banyak khilaf dan kebablasanya.. wkwk
goodnovel comment avatar
Fit 82
baru ngebayangin aja Kalla udah tarik nafas haha
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
kamu gak ngerasain jdi Kalla Moyaaa, pacaran sma duda mecumnya minta ampuunn hihihii
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Hello, Nanny!   189. Dokter Charming

    “Masih ada satu destinasi lagi yang mau gue kunjungi, tapi gue pastiin sebelum acara syukuran di rumah ibu, gue udah balik.” “Lo mau ke mana lagi?”“Gue mau ke Pindul, ngeriver tubing bareng Pandu.”Moya tersenyum manis dengan ujung mata melirik ke arah Pandu yang sedang mengambil sarapan bersama Reyga. “Gue baru tahu kalau Pandu itu ternyata spesialis bedah jantung. Kacamata itu beneran pas di mukanya.” Kalla ikut memperhatikan pria di sebelah suaminya itu. “Mukanya juga bersih banget kan? Charming.” Kalla terkekeh sembari mengangguk-angguk. Charming adalah nama lain Cade. Tapi charmingnya Dokter Pandu lebih kelihatan dewasa. “Ya, itu kan tipe lo.” Setelah dua pria itu bolak-balik demi mengambil makanan yang dua wanita itu mau, mereka akhirnya bisa duduk bersama dalam satu meja. “Udah lengkap semuanya kan? Mau foto dulu sebelum makan?” tanya Reyga. Jelas itu sebuah sindiran keras. “Apaan sih?” Kalla berdecak sebal. “Bukannya kalian biasanya gitu? Sebelum makan foto dulu sama

  • Hello, Nanny!   188. Kesurupan Ramayana

    Mulut Kalla yang terbuka terus mengeluarkan desahan. Setengah berbaring satu tangannya meremas rambut tebal Reyga, sebelah lainnya dia gunakan untuk menopang badannya. Kalla melihat bagaimana lelaki itu kembali mendamba dirinya. Berada di antara dua pahanya yang terbuka, menggodanya. Kecupan, jilatan, bahkan hisapan membuat Kalla benar-benar kepayahan. “R-Rey jangan di situ. Ak-aku—ah! Brengsek!” Kalla melempar kepala ke belakang. Pinggulnya sedikit naik, lantas tubuhnya bergetar hebat. Dia mengerang, merasakan kenikmatan menjalar di setiap inci tubuhnya. Belum sempat mengatur napas, Reyga sudah membalik tubuhnya. Membuat posisi Kalla menjadi tengkurap. Tangan lelaki itu kembali merambat, menyusuri punggungnya seraya mengecup dan sesekali menggigit. “Jangan digigit!” Mata Kalla memicing sembari merintih saat merasakan gigitan yang begitu kuat. “Dasar vampir.” Dia yakin punggungnya pasti penuh bercak merah sekarang. “Kamu nggak bisa protes, Sayang. Nikmatin aja.” Reyga menyeri

  • Hello, Nanny!   187. Adik Kael

    “Kapan papa sama mama pulang?” “Uhm besok. Tapi kalau nggak bisa ya besoknya lagi, kalau nggak bisa lagi ya besoknya lagi.” Kalla menabok paha Reyga mendengar jawaban ngaco itu. Di layar, anak sambungnya itu menghela napas. Seperti sudah hapal banget kelakuan bapaknya. “Kami pulang lusa, Kael. Uhm kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Kalla tersenyum lembut. Senyum yang langsung menulari anak sembilan tahun itu. “Kata Om Cade aku harus minta oleh-oleh spesial.” Perasaan Kalla mendadak tak enak. Begitu pun Reyga, kalau sudah bawa-bawa Cade pasti bukan sesuatu yang bagus. “Yang spesial itu kayak apa?” tanya Kalla hati-hati. “Aku nggak tau yang Om Cade bilang itu beneran atau cuma bercanda. Dia bilang … aku harus minta oleh-oleh adek bayi sama kalian.” Tuh kan! Andai Cade ada di dekatnya Kalla pasti sudah mencubit keras pahanya. Tapi di sebelahnya Reyga malah tertawa, kontras dengan wajah Kalla yang berubah jadi semerah dadu. “Jangan dengerin Om kamu. Dia ngaco,” balas Kalla.

  • Hello, Nanny!   186. Dokter Pandu

    “Kesan kamu apa habis nonton pertunjukkan tadi?” tanya Kalla begitu mereka keluar dari venue setelah sendratari berakhir. Reyga pura-pura berpikir padahal dalam hati ada yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Seperti saat Dewi Shinta melakukan sumpah obong untuk membuktikan kesuciannya setelah setelah 11 tahun diculik Rahwana. “Rahwana kurang beruntung, Shinta bego, dan Rama… lebih brengsek daripada aku.” Kalla sukses melongo mendengar jawaban suaminya. Dia berharap ada jawaban luar biasa dari lelaki itu. Cinta sejati tak akan terpisahkan, misalnya. Ini malah yang keluar kritikan pedas buat para tokoh utama. Kalla menepuk jidatnya seraya terkekeh. “Kenapa? Pendapatku bener kan? Coba pikir deh, Sayang. Rahwana udah segitu baiknya ngetreat Shinta selama belasan tahun, eh malah dengan gobloknya tuh Shinta masih cinta sama cowok yang nyuruh dia bakar diri.” “Astaga, Rey. Rahwana itu nyulik Shinta. Artinya dia memaksakan kehendak.” “Tapi nyatanya dia sabar nungguin sampe Shinta

  • Hello, Nanny!   185. Sendratari

    “Aku pikir Ramayana dan Mahabarata itu cerita yang sama.”“Beda dong, kalau Ramayana kan cerita tentang Rama dan Dewi Shinta. Kalau Mahabarata itu perang saudara Pandawa dan Kurawa.”Reyga tersenyum seraya menatap Kalla. “Istriku ternyata pintar. Bisa bedain dua fenomenal cerita itu.” “Iya dong. Kalau enggak, mana mungkin bisa dapat beasiswa.” Kalla terkikik meningkahi pujian sang suami. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju venue yang sudah dibuka. Pengunjung sudah berdatangan dan lumayan ramai padahal harga yang dibandrol lumayan agak mahal. “Kita nggak beli tiketnya dulu, Rey?” tanya Kalla yang bingung lelaki itu melewati pintu loket. “Udah ada yang beliin, kita tinggal masuk aja.” “Hah?” Saat itulah Kalla melihat Reyga melambaikan tangannya. Dia mencari tahu dengan siapa pria itu bertegur sapa. Sampai tatapnya menemukan seorang pria tinggi setengah berlari ke arahnya. “Loh itu bukannya… “ Kalla refleks memutar kepala saat mendapat colekan di bahu kanannya, ket

  • Hello, Nanny!   184. Sosis Solo

    Secangkir kopi dengan pemandangan Candi Prambanan membuat sore Kalla terasa mewah. Tidak banyak orang yang memiliki momen seberharga ini. Banyak yang punya uang, tapi tidak punya waktu, atau sebaliknya banyak waktu, tapi tak punya uang. Makanya tidak henti-hentinya Kalla mensyukuri apa yang dia jalani sekarang. Terlebih saat ini dirinya sudah bukan wanita single lagi. Reyga muncul membawa camilan dan bergabung duduk di sisi Kalla. “Aku pesan ini. Kamu pasti suka.” Mata Kalla melirik kudapan seperti lumpia tapi tidak tampak kering. Lumpia itu diselimuti serabut yang bisa Kalla tebak berasal dari celupan telur kocok sebelum digoreng. “Risoles?” “Bukan. Itu sosis solo.” Reyga mengambil satu dan memberikannya pada sang istri. Kalla langsung mencoba. Menggigit sepertiga bagian kue tersebut dan mengernyit bingung. Bukan karena rasanya yang tidak enak. Sumpah kue ini enak banget, tapi… “Kenapa sih yang kayak gini aja mesti bohong?” Di sisinya, Reyga yang juga tengah menikmati kue

  • Hello, Nanny!   54. Kiana

    "Itu... Kakak Cantik kamu kan, Kael?" Kael mengangguk semangat lantas menarik tangan Kiana untuk mendekati Kalla yang masih berdiri di tempatnya. "Kakak! Mama Ki pulang dong!" lapor Kael semangat sambil memamerkan wanita yang seharusnya jadi tantenya itu. Kalla mengangguk seraya tersenyum. "Iya,

  • Hello, Nanny!   53. Dijemput Mama

    Gara-gara kelakuan rese Reyga, keduanya sedikit telat menjemput Kael. Sekolah Kael agak sepi saat keduanya sampai. Meski ada juga beberapa murid yang baru dijemput. Kalla bergegas memasuki koridor kindergarten disusul Reyga di belakangnya. “Pokoknya aku nggak mau ya kejadian tadi terulang lagi,” o

  • Hello, Nanny!   51. Touch Him, Baby (18+)

    “Nggak ada syarat yang lebih berbobot apa?”Kalla memperhatikan Reyga mengisi pan dengan air, lalu menaruhnya di atas api biru. Kemudian lelaki itu menghampirinya lagi. Berdiri menyelak di antara dua paha Kalla yang sengaja lelaki itu buka. “Itu berbobot dong.”“Itu sih otak kamu yang mesum,” cibir

  • Hello, Nanny!   49. Mengindar

    Tidak ada komentar apapun dari Kalla meski saat ini perasaannya mulai terganggu. Wanita itu meminta Cade agar menurunkannya di Sudirman sebelum menyebrang ke Setia Budi. Ini masih pagi dan hatinya mendadak kacau gara-gara mendengar cerita Cade. Mood bekerja pun menurun drastis. Langkah Kalla tera

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status