LOGINSampai akhir bulan kayaknya aku cuma bisa up 1 bab ya, Gaes. Maklum akhir bulan hectic
“Kael bilang aku harus rajin olahraga. Sejak tinggal sama ibu dia bilang makanku nggak terkontrol.” “Emang iya kan? Bahkan kamu udah mau nyoba sarapan pake nasi uduk.” Reyga mendengus, tapi lengannya terus bergerak mengangkat dumbbell. Saat ini dia dan Kalla sedang ada di ruang gym rumah Abimanyu. Dulu waktu anak-anak mama masih tinggal di rumah ini, mereka rajin latihan otot bersama. Latihan itu jarang dilakukan lagi ketika masing-masing memilih tinggal di luar rumah. “Siapa yang nolak masakan buatan ibu. Temenmu aja suka mampir buat makan masakan ibu.” Kalla terkekeh seraya terus berjalan di atas running pad. Dia tidak suka olahraga. Selama menunggui Reyga, dia melakukan olahraga ringan saja. Reyga menyimpan dumbbell ke tempatnya lalu berjalan mendekati Kalla. “Perutku belum buncit kan?” tanya Reyga sembari menyingkap kaosnya. Dia menahan napas memperlihatkan otot perutnya. “Oh no! Kotak-kotaknya mulai samar,” seru Kalla mendramatisir. Dia suka melihat ekspresi tak terima sua
“Nggak nyangka bujang tua seleranya anak SMA.” Ini sudah ke-sepuluh kali Reyga mengatakan itu, lantas tergelak. Dia benar-benar puas banget mengolok-olok Wima di depan Kalla. “Bisa diem nggak, Rey?” Kalla melirik kesal. Sejak keluar dari kedai dimsum itu, lelaki itu tidak berhenti menertawakan Wima. Padahal tidak ada yang lucu. Dugaannya tidak berdasar, mana mungkin Wima mengencani gadis yang masih sekolah? Kalla yakin gadis itu sudah legal secara usia untuk menikah. Lagi pula wajahnya jauh lebih menarik daripada…wanita yang tempo hari berkenalan dengan Kalla. Dan itu yang menjadi pertanyaan di hati Kalla, ke mana wanita itu? Apa yang terjadi? “Iya aku diem.” Reyga membuat gerakan mengunci mulut sambil terus mengendalikan kemudi. Ujung matanya melirik sang istri yang memasang tampang serius sambil memperhatikan jalan. “Ada apa?” tanya Reyga yang merasa bosan. “Kenapa muka kamu begitu sejak keluar dari kedai?” “Begitu gimana?” sahut Kalla makin serius memperhatikan jalanan malam
“Kamu tau nggak, Rey.” Kalla tersenyum menatap langit-langit kamar. “Aku kaget banget pas mama kamu menyambut hangat kedatanganku dan memberi restunya.” Lalu senyumnya berubah menipis. “Bahkan ketika dengan rendah hati mama sama papa datang ke rumah menemui ibu. Di situ aku makin yakin kalau mama benar-benar udah menerimaku sepenuhnya.” Reyga menarik wanita itu dalam rengkuhannya. Hatinya sudah ikut sakit padahal cerita itu belum berakhir. “Tapi ternyata, nggak semudah itu,” lanjut Kalla seraya menarik napas. Dia mendongak mencari mata suaminya, lantas tersenyum lagi. “Apa aku benar-benar nggak layak jadi istri kamu, Rey?” Reyga menggeleng pelan dan makin mengeratkan pelukan. Seperti ada batu besar yang menimpa dada ketika istrinya melempar pertanyaan itu. “Kamu sangat layak, Sayang,” sahut Reyga, menghirup dalam-dalam aroma rambut Kalla dan mengusapnya lembut. “Kalau memang kamu nggak mau datang ke sini lagi, aku juga nggak keberatan. Biar aku sama Kael aja yang berkunjung ke
“Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang kalau kamu terus-terusan menekan Kalla, yang ada Reyga bahkan Kael bisa menjauh lagi dari kamu. Menurut papa, Kalla sudah cukup baik sebagai menantu.” Wajah cantik Diyani memberengut. Masih kesal dengan kejadian sore ini. Tidak ada yang memihak padanya. Semua menyalahkan dia. Padahal menurutnya Kalla yang salah. Tidak becus menjaga anak. “Terus aja kamu nyalahin aku. Nggak ada yang paham, di mata kalian aku ini musuh.”Reyhan menghela napas. Menghadapi istrinya susah-susah gampang. Ibarat menjaga gelas kaca, harus sangat berhati-hati baik tindakan maupun perkataan. Reyhan memegang pundak sang istri. “Nggak ada yang nyalahin kamu, Ma. Aku cuma minta kamu jangan terus menekan Kalla. Biar gi
Kalla keluar dari taksi online dengan terburu-buru. Sudah telat satu jam dari jadwal yang diberikan ibu mertuanya mengenai kelas bunga hari ini. Bukannya meremehkan, tapi Kalla juga tidak bisa membiarkan kelasnya kosong. Tidak mungkin meminta izin lagi lantaran dirinya masih dalam masa percobaan sebagai dosen. Saat memasuki halaman belakang rumah keluarga Abimanyu, mama mertuanya dan ketiga iparnya sedang ngeteh cantik. Sementara di sebuah meja panjang dan lebar, para asisten rumah tangga sedang membereskan sisa-sisa kegiatan sore itu. Anak-anak tampak berlarian di halaman berumput hijau bersama para pengasuh. Hanya Kael yang berdiam diri di atas sofa bersama buku bacaan. “Maaf, Ma. Saya—” “Kelas ini mungkin nggak penting buat kamu. Tapi apa kamu tau mama udah lama pesan kelas ini karena jadwal mentornya sangat padat?” potong Diyani langsung. “Menantu mama lainnya juga punya kesibukan. Tapi mereka bisa menyempatkan waktu. Setidaknya mereka bisa menghargai usaha mama membooking men
Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut. Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama. Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat dengan Reyga. Seperti biasa wanita itu akan menunjukkan senyum angkuhnya. Mata Reyga menyipit waspada. Sekarang wanita itu sudah berani mendatangi kantornya. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Mau ketemu pemilik Mandala,” sahut Ninda tersenyum miring. Sebenarnya dia masih kesal dengan perlakuan kasar pria ini tempo hari. Menyambangi kantor ini pun bukan karena kemauannya sendiri. “Lo pikir pemilik Mandala nggak punya kesibukan lain sampai mau nemuin lo?” “Aku rasa dia bisa mel
“Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men
Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.
Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.







