Home / Romansa / Hello, Nanny! / 42. Kita Punya Pizza!

Share

42. Kita Punya Pizza!

last update publish date: 2026-03-10 09:10:30
“Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu.

“Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya bergerak ke meja makan.

“Masih tidur. Lo ngapain sih ke sini siang-siang?” tanya Reyga ikut menyusul adiknya ke meja makan dengan muka kusut, ditekuk, acak-acakan pula.

“Mo jenguk ponakanlah. Gue ka
Yuli F. Riyadi

Satu kata untuk Reyga, Gaes.

| 14
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
yaa ampun klo biasanya oli nya kering, ini mah gak tau dah hahahaa
goodnovel comment avatar
Riana Rahayu
maklum si reyga udah jadi duda lama jadinya sekali punya pacar jadi maunya mepet mulu
goodnovel comment avatar
Dinaningtyas Apriy
aduududuu jangan mau Kalla... you are precious... enak ajahhh tuh duda mau unboxing tapi gantung ihhhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   113. Tidak Bisa Dibandingkan

    Reyga membuang napas seraya meremas roda kemudi. Di sebelahnya Kalla hanya menundukkan pandang. Sebenarnya lelaki itu masih marah, kesal terkait soal ke Jepang. Bukan dia tidak mendukung kemajuan kekasihnya. Tapi Reyga sedang di posisi lagi nyaman-nyamannya, masa mau ditinggal? “Aku minta maaf atas sikap mama,” ucap lelaki itu akhirnya. Kalla tersenyum getir tanpa mengalihkan pandang. “Udah biasa.”Dan jawaban itu membuat Reyga menoleh cepat padanya. “Maksudnya udah biasa?” Dahinya mengerut. “Jangan bilang nggak cuma sekali mama nemuin kamu.” “Baru kali ini kok.” Kalla menoleh sekilas. “Tapi kata-katanya nggak baru kali ini aku dengar.” Dia menjilat bibir sebelum bicara jujur. “Sebenarnya waktu mama kamu tiba-tiba datang ke apartemen waktu itu, aku mendengar semua percakapan kalian.” Mata legam Reyga mengerjap. Dia mencoba mengingat perkataan apa saja yang Mama lontarkan saat itu. Meski dia tahu yang keluar tidak ada yang baik, tapi Reyga harap Kalla tidak akan memasukkannya ke da

  • Hello, Nanny!   112. Nyonya Meneer

    Jam sibuk orang-orang kerja suasana kafe dengan konsep Japanese yang Kalla singgahi agak sepi. Hanya beberapa meja yang berpenghuni. Selebihnya kosong. Dan mungkin tempat seperti ini yang Nyonya Abimanyu cari. Dia memimpin jalan di depan Kalla. Menuju salah satu meja yang sudah waiter siapkan. Tas mahalnya wanita itu letakkan di sisi bagian yang dekat pembatas pot. Dia lebih dulu duduk sebelum mempersilahkan Kalla duduk di seberangnya. Untuk mengulur waktu dia memesan minuman. Diyani memesankan Kalla Vietnam Drip sementara dirinya teh hijau. Mata Kalla sampai mengerjap ketika wanita itu menawarinya minuman itu. “Tenang, saya tidak akan meracuni kamu,” ucap Diyani seolah tahu kekhawatiran Kalla. Menanggapi itu Kalla cuma tersenyum kecut. Suasana agak canggung saat jeda menunggu pesanan. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu bahkan belum bersuara dan malah sibuk dengan ponsel. Heran, ini gue cuma dijadiin temen ngeteh ibu konglo satu ini? bat

  • Hello, Nanny!   111. Wanita Mentereng

    Sejak terakhir obrolan tentang impian melanjutkan sekolah ke Jepang, Reyga belum mau bicara. Dalam hal ini Kalla mencoba mengalah, berusaha memulai lebih dulu. Tapi semua usahanya zonk. Reyga masih bungkam, dan tetap mengabaikan eksistensinya. Perang dingin itu ternyata dirasakan Kael. Anak itu mengamati dua orang dewasa yang membersamainya dengan pandangan polos. “Kakak berantem sama papa?” tanya Kael ketika sang papa lebih dulu pamit. Padahal biasanya mereka akan berangkat bersama. “Uhmm, enggak kok. Kita cuma lagi nggak mau banyak bicara,” sahut Kalla tersenyum kecut. Dia menggapai tas Kael dan membuang resahnya sejenak. “Ayo, waktunya kita let's go!” Jangankan Kael, Kalla pun merasa tak nyaman dengan situasi ini. Tidak ada yang bisa Kalla lakukan selain menunggu emosi Reyga reda. “Kael…,” panggil Kalla menatap pintu besi yang membawanya dan Kael turun ke lobi. “Ya?” “Kalau kakak mau sekolah lagi. Menurut kamu gimana?” Anak itu tercenung sesaat, sebelum mendongak, mena

  • Hello, Nanny!   110. It's My Dream

    “Kael baik-baik aja?” “Baik. Ada Cade di rumah mama.” Kalla yang sedang menikmati camilan menoleh. Menatap Reyga yang sedang berkutat dengan mesin kopi. “Waktu lagi nggak ada pengasuh, kalian gimana?” tanya Kalla lagi. Kepergiannya ke Jepang pasti akan berdampak lagi. Dan Kalla tidak bisa mengabaikan ini. Beneran hari ini dia memikirkannya. Bola mata Reyga bergulir ke atas, tampak berpikir. “Kael sekolah, lanjut day care. Sorenya kalau bukan aku, Cade yang jemput. Kalau dia lagi nggak mau day care, terpaksa kubawa ke kantor.” Mendengar itu Kalla tercenung. Agak menyesal. Sebelum ada nanny baru artinya Kael bakal diombang-ambing seperti itu.“Mau pake fresh milk atau oatmilk?” tanya Reyga. Dua gelas double shot espresso sudah ready. “Oatmilk.” “Dingin atau panas?”“Dingin.” Kalla melirik Reyga di balik bar. Gayanya sudah mirip barista beneran. Tanpa sadar sudut bibirnya mencuat. Spanish Latte dingin tidak lama Reyga sodorkan ke depan Kalla. Sementara dirinya lebih suka espress

  • Hello, Nanny!   109. Pancakes

    Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang dia tolak. Dan Kalla memilih diam untuk menghindari perdebatan. Kalau ada yang marah seharusnya dirinya. Tanpa aba-aba Reyga langsung minta izin ingin menikahinya dalam waktu dekat. Tidak ada persiapan, atau kode apapun. Andai dirinya tidak segera bertindak, malam ini akan menjadi malam panjang. Sebab Kalla tahu mamanya Reyga pasti tidak mau mengalah. Kalla juga tahu Reyga tidak melajukan mobil ke arah Lebak Bulus. Alih-alih ke selatan, dia lurus ke utara mengarah ke Sudirman. Namun Kalla tidak berkomentar. Pun ketika tiga puluh menit kemudian mobil terparkir di lantai basement apartemen. “Kamu nginap,” ucap Reyga singkat, lalu keluar mobil. Seperti tidak mau dibantah. Kalla menarik nap

  • Hello, Nanny!   108. Sebelumnya

    SEBELUM ACARA SYUKURAN=========================Setting time : sebelum Reyga membawa Kalla ketemu ortunya. *****“Lo siap, Kal?” Moya melirik Kalla yang malah meringkuk di atas ranjang. Dia menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Hari ini pengumuman lolos tidaknya apply yang Kalla ajukan untuk magang sekaligus beasiswa ke Jepang. “Nggak usah takut gitu. Kak Wima pasti bantuin lo kan?” Kalla menggeleng cepat. “Dia bilang nggak ikut campur soal perekrutan ini. Lagi pula dia nggak tau kalau gue apply.”“Ya udah sini bareng-bareng liatnya.” “Lo aja. Gue masih trauma kena tolak.” Moya membuang napas. Lantas kembali menatap layar laptop dan membuka web perusahaan Sagara Group. Dia tidak langsung membuka button rekruitmen tapi malah membuka profil perusahaan investasi itu. “Dia ternyata bekerjasama dengan banyak perusahaan Jepang. Termasuk yang ada di Indonesia, pantas buka beasiswa ke sana,” ujar Moya. Kursor lantas bergerak ke arah galeri. Di sana banyak foto-foto event yang di

  • Hello, Nanny!   93. Khawatir

    Willa pindah duduk di depan ketika Kalla turun. Gadis itu melambaikan tangan kepada Kalla saat sang kakak melajukan kendaraannya lagi. Napasnya berembus kencang saat dia kembali duduk dengan benar. “Aku suka banget sama Kak Kalla,” desahnya, melirik singkat Wima yang sudah kembali fokus menyetir.

  • Hello, Nanny!   92. Willa Sagara

    “Saya beneran nggak nyangka kalau Willa ternyata adik Kak Wima.” “Muka kami nggak mirip ya, Kak?” “Senyum kalian mirip sih. Mata kalian juga sama warnanya, cakep.” Willa di depan Kalla mengulum senyum. Ujung matanya melirik sang kakak yang terus melengkungkan bibir sejak bertemu tanpa sengaja den

  • Hello, Nanny!   90. Nggak Kaleng-kaleng

    Dilihat dari sisi mana pun wanita bernama Kiana itu sangat cantik dan anggun. Sebagai sesama wanita saja Kalla bisa terpukau. Tidak puas kalau cuma melihat sekali. Matanya bahkan tidak berkedip demi mengagumi ciptaan sempurna Tuhan itu. Kalla bertanya-tanya sebesar apa rasa kehilangan Reyga dulu t

  • Hello, Nanny!   89. Bubur Ayam

    Bibir keduanya yang menyatu terurai, tapi dahi mereka masih saling bertautan. Kalla meremas pinggang telanjang Reyga. Napasnya masih tidak beraturan. Namun ketika ada pergerakan ringan dari lelaki itu, dia sedikit mendongak, menyambut pagutan yang Reyga layangkan lagi. Kali ini sentuhan Reyga tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status