Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 42. Kita Punya Pizza!

Share

42. Kita Punya Pizza!

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-03-10 09:10:30
“Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu.

“Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya bergerak ke meja makan.

“Masih tidur. Lo ngapain sih ke sini siang-siang?” tanya Reyga ikut menyusul adiknya ke meja makan dengan muka kusut, ditekuk, acak-acakan pula.

“Mo jenguk ponakanlah. Gue ka
Yuli F. Riyadi

Satu kata untuk Reyga, Gaes.

| 16
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
jangan mau d ena" dulu sama Reyga ya Kalla, menang banyak nanti dia..
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
yaa ampun klo biasanya oli nya kering, ini mah gak tau dah hahahaa
goodnovel comment avatar
Riana Rahayu
maklum si reyga udah jadi duda lama jadinya sekali punya pacar jadi maunya mepet mulu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   214. Kuliner Malam

    “Kamu tau nggak, Rey.” Kalla tersenyum menatap langit-langit kamar. “Aku kaget banget pas mama kamu menyambut hangat kedatanganku dan memberi restunya.” Lalu senyumnya berubah menipis. “Bahkan ketika dengan rendah hati mama sama papa datang ke rumah menemui ibu. Di situ aku makin yakin kalau mama benar-benar udah menerimaku sepenuhnya.” Reyga menarik wanita itu dalam rengkuhannya. Hatinya sudah ikut sakit padahal cerita itu belum berakhir. “Tapi ternyata, nggak semudah itu,” lanjut Kalla seraya menarik napas. Dia mendongak mencari mata suaminya, lantas tersenyum lagi. “Apa aku benar-benar nggak layak jadi istri kamu, Rey?” Reyga menggeleng pelan dan makin mengeratkan pelukan. Seperti ada batu besar yang menimpa dada ketika istrinya melempar pertanyaan itu. “Kamu sangat layak, Sayang,” sahut Reyga, menghirup dalam-dalam aroma rambut Kalla dan mengusapnya lembut. “Kalau memang kamu nggak mau datang ke sini lagi, aku juga nggak keberatan. Biar aku sama Kael aja yang berkunjung ke sin

  • Hello, Nanny!   213. Biarkan Mereka Bahagia

    “Ma, bisa jangan terlalu keras sama istri Reyga? Kalau kamu menyakiti Kalla, sama saja kamu menyakiti Reyga.” Reyhan menghela napas mendengar apa yang terjadi sore tadi di rumahnya. “Aku paham, Kalla bukan menantu yang kamu harapkan. Tapi kita udah memberi mereka restu, dan kamu setuju. Sekarang kalau kamu terus-terusan menekan Kalla, yang ada Reyga bahkan Kael bisa menjauh lagi dari kamu. Menurut papa, Kalla sudah cukup baik sebagai menantu.” Wajah cantik Diyani memberengut. Masih kesal dengan kejadian sore ini. Tidak ada yang memihak padanya. Semua menyalahkan dia. Padahal menurutnya Kalla yang salah. Tidak becus menjaga anak. “Terus aja kamu nyalahin aku. Nggak ada yang paham, di mata kalian aku ini musuh.”Reyhan menghela napas. Menghadapi istrinya susah-susah gampang. Ibarat menjaga gelas kaca, harus sangat berhati-hati baik tindakan maupun perkataan. Reyhan memegang pundak sang istri. “Nggak ada yang nyalahin kamu, Ma. Aku cuma minta kamu jangan terus menekan Kalla. Biar gi

  • Hello, Nanny!   212. Selalu Salah

    Kalla keluar dari taksi online dengan terburu-buru. Sudah telat satu jam dari jadwal yang diberikan ibu mertuanya mengenai kelas bunga hari ini. Bukannya meremehkan, tapi Kalla juga tidak bisa membiarkan kelasnya kosong. Tidak mungkin meminta izin lagi lantaran dirinya masih dalam masa percobaan sebagai dosen. Saat memasuki halaman belakang rumah keluarga Abimanyu, mama mertuanya dan ketiga iparnya sedang ngeteh cantik. Sementara di sebuah meja panjang dan lebar, para asisten rumah tangga sedang membereskan sisa-sisa kegiatan sore itu. Anak-anak tampak berlarian di halaman berumput hijau bersama para pengasuh. Hanya Kael yang berdiam diri di atas sofa bersama buku bacaan. “Maaf, Ma. Saya—”“Kelas ini mungkin nggak penting buat kamu. Tapi apa kamu tau mama udah lama pesan kelas ini karena jadwal mentornya sangat padat?” potong Diyani langsung. “Menantu mama lainnya juga punya kesibukan. Tapi mereka bisa menyempatkan waktu. Setidaknya mereka bisa menghargai usaha mama membooking mento

  • Hello, Nanny!   211. Ancaman

    Napas Reyga sempat tercekat ketika menoleh ke arah pintu lobi dan mendapati seorang wanita dengan kacamata hitam melangkah masuk. Sudah beberapa kali bertemu dan sempat membuatnya emosi, tetap saja sekelebat kehadiran wanita itu kadang bisa bikin dia terkejut. Dari kejauhan Ninda benar-benar mirip Dilla. Dari mulai postur tubuh dan kontur wajah keduanya sama. Orang yang tidak mengenal Dilla dengan baik pasti akan menganggap mereka orang yang sama. Ninda melepas kacamata begitu posisinya dekat dengan Reyga. Seperti biasa wanita itu akan menunjukkan senyum angkuhnya. Mata Reyga menyipit waspada. Sekarang wanita itu sudah berani mendatangi kantornya. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. “Mau ketemu pemilik Mandala,” sahut Ninda tersenyum miring. Sebenarnya dia masih kesal dengan perlakuan kasar pria ini tempo hari. Menyambangi kantor ini pun bukan karena kemauannya sendiri. “Lo pikir pemilik Mandala nggak punya kesibukan lain sampai mau nemuin lo?” “Aku rasa dia bisa mel

  • Hello, Nanny!   210. Menguras Tenaga

    Reyga menekan dua tangan Kalla ke dinding kamar mandi. Dari belakang wanita itu, bawah tubuhnya terus mendesak dan menghentak. Hentakan yang membuat desahan dan rintihan Kalla memenuhi ruang kamar mandi. "Sebentar lagi, Sayang," erang Reyga merasakan ujung tubuhnya makin menegang. Sesuatu siap dia tumpahkan. Reyga melepas tangan Kalla, dan sebagai ganti dia menarik pinggul wanita itu hingga posisi Kalla agak membungkuk. Dia kembali menekan, menghujamkan miliknya kian dalam demi mengejar kepuasan. Tangannya kembali merambat, melingkari dada sang istri. Gerakannya makin tak terkendali. Hingga tak berapa lama, dia mengeluarkan desahan panjang. Reyga menghentak kencang pinggulnya beberapa kali saat puncak kepuasaan yang berkumpul di ujung tubuhnya pecah, menyatu di dalam tubuh sang istri. Napasnya memburu, dadanya bergerak naik turun. Selama beberapa saat lelaki itu mengatur napas. Sebelum menarik tubuh Kalla agar menyandar di dadanya, tanpa melepas penyatuan. "Thanks, Sayang," uc

  • Hello, Nanny!   209. Gosok Punggung

    “Kamu yakin, Kael?” Kalla sangat tahu betapa dari kecil Kael sangat menyukai kegiatan merangkai bricks. Hanya demi menjaga perasaannya, anak itu rela mengembalikan mainan kesukaannya itu. Kael mengangguk seraya tersenyum. Semua bricks sudah dimasukkan ke dalam dus. “Kita kembalikan ke alamat tokonya aja, Ma.” Tangan Kalla terulur menggapai rambut tebal anak sembilan tahun itu. “Iya, nanti kita kembalikan.” “Apa yang dikembalikan?” Suara Reyga mengalihkan keduanya. Pria itu masuk rumah dalam keadaan yang agak berantakan. Dasi yang pagi tadi Kalla pilihkan sudah tidak tergantung di kerah kemejanya. Dua kancing bagian atas kemeja pun sudah terbuka. Dan bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Yang paling membuat Kalla risih, adalah rambut lelaki itu. Sejak menikah, Reyga belum mau memangkasnya lagi. “Ada paket dari Tante Ninda, isinya bricks, Pa,” jawab Kael selagi papanya berjalan mendekat. “Aku mau balikin itu.” Trik apalagi ini? Reyga membuang napas lelah. Lalu beranjak

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

  • Hello, Nanny!   33. Didiemin

    Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber

  • Hello, Nanny!   32. Wima Sagara

    Kaki Kalla menghantam ke samping. Posisi tidurnya berubah dan seketika matanya memicing ketika cahaya menerpa wajahnya. Dia kembali membalik posisi dengan malas. Tapi samar-samar matanya menangkap bayang-bayang orang duduk di depannya. Secara perlahan dan terpaksa, dia membuka mata. Satu lelaki dew

  • Hello, Nanny!   30. Bar

    Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status