LOGINGak aku edit lagi, sori kalo banyak typo atau salah susunan kata. Wkwk
Bawah perut masih terasa tak nyaman. Lembab, basah, lengket, tapi Kalla harus cepat keluar rumah meski kakinya masih agak lemas. Bahkan dadanya pun masih berdebar-debar. Suara cempreng Moya terdengar sampai ke belakang, sukses mengusik kebersamaan Kalla dan Reyga yang lagi asyik-asyiknya. Kalla menyisir rambut dengan jari sebelum membuka pintu. Dia tidak sempat membenarkan tali bra, dan lebih memilih menarik benda itu keluar, lalu melemparnya ke mesin cuci. “Lama amat sih?! Masih molor lo ya?!” sambar Moya begitu pintu akhirnya terbuka. Kalla hanya nyengir dan memberi akses sahabatnya itu masuk.“Ibu mana?” tanya Moya ketika melihat rumah sepi, tidak ada suara mesin jahit terdengar seperti biasa. “Ibu lagi ke pasar.” Kalla menggapai-gapai sofa di dekatnya sebelum menjatuhkan diri di sana dengan perasaan lega. Dia perlu menetralkan napas dan jantungnya yang mau copot. “Moy, bisa ambilin gue minum enggak? Nggak ada tenaga gue.” Moya menoleh dengan tatapan heran. Dahinya mengerut t
Selama beberapa detik Kalla menatap pria di depannya. Pria yang jauh terlihat lebih muda ketika rambut dan facial hair-nya dipangkas. Pria yang sudah membuatnya jatuh hati dan memberi kenyamanan. Kalla menunduk, dan dengan cepat mengecup bibir Reyga. “Kenapa aku nggak mau terima kamu?” Meski sempat kaget dan ragu, Kalla masih ingin mencobanya. “Aku percaya kamu udah berubah. Dan aku harap kamu nggak ngancurin kepercayaan aku, seperti dulu kamu ke mantan kamu itu.” Reyga menggeleng kencang. “Nggak akan. Kali ini aku yakin kita punya rasa yang sama.” Senyumnya mengembang. Hanya dari tatapan mata saja Reyga bisa tahu Kalla juga mencintainya. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu pada Kiana. Tidak membutuhkan kata-kata lagi, cukup dengan tindakan cinta keduanya melebur jadi satu. Pagi yang cerah, tepat di belakang rumah Kalla, mereka saling mencumbu. Reyga melepas ikatan rambut Kalla, membuat helaian halus itu terburai. Di saat yang sama, dia memperdalam ciumannya. M
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut itu dieksekusi demi mendapat maaf dari sang kekasih. “Mukanya biasa aja. Potong rambut nggak akan bikin kamu mati,” ujar Kalla tak berperasaan sambil membentangkan kain putih. Dia membungkus badan Reyga dengan kain itu, supaya baju lelaki itu tidak kotor terkena potongan rambut. Pagi ini Kalla menjadi barber dadakan. Potong rambut memang tidak bikin mati. Tapi Reyga sudah terlanjur nyaman dengan model rambutnya.“Iya,” sahut Reyga pasrah. Ketika mendengar suara gesekan gunting, matanya refleks terpejam. Hatinya menangis ketika helai demi helai rambut ditebas. Kalla benar-benar melakukannya. Memangkas rambut kebanggannya dengan sadis tanpa kompromi. Bukan hanya rambut, Kalla juga membabat
Cade mencibir melihat muka jumawa sang kakak. Sudah dapat restu dari ibu Kalla saja bangga. Padahal perjuangannya tidak akan cukup sampai di situ. “Lo nggak punya kesempatan buat deketin Kalla. Ibu udah tau kalau kami pacaran,” ucap Reyga merasa satu langkah lebih ke depan daripada Cade. Lagi-lagi Cade mencibir. “Lo udah baikan sama Kalla emangnya?” Itu masalahnya, gara-gara ciuman tanpa sengaja tadi wanita itu malah makin marah padanya. Ya Tuhan, harus dengan cara apa lagi Reyga harus membujuk? “Lo punya ide nggak?” tanya Reyga. “Ide apaan?”“Ide buat bujuk cewek biar nggak ngambek lagi.” Sambil memutar kursi dan menghadap layar PC lagi, Cade menjawab asal. “Kasih aja hadiah.”“Kalau cewek lain mungkin ngaruh, tapi gue nggak yakin mempan buat Kalla.” “Iya sih,” sahut Cade sambil terus menekan tombol-tombol di papan kibor. Dia mulai tenggelam lagi ke dunia virtual. “Kenapa lo nggak minta bantuan ibu aja. Kalau lo tanya gue, bakal gue sesatin.” “Emang adik kurang ajar lo.” Cad
Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!" "Enggak!”Kalla dan Reyga tersentak dan refleks saling tatap. Jawaban serentak tapi tidak sinkron itu membuat alis ibu menanjak tinggi-tinggi. "Jadi yang benar mana?" Dua orang lelaki dan perempuan di depan ibu menunjuk diri masing-masing. Ibu makin mengernyit. Lalu ketika keduanya berdecak, ibu cuma bisa menghela napas. "Itu tadi cuma kecelakaan, Bu. Kalla hampir jatuh tadi, terus Reyga nolongin dan yaah berakhir seperti yang ibu lihat. Itu nggak sengaja, Bu," terang Kalla. Mencoba menjelaskan supaya ibu tidak salah paham. Namun ibu seperti kurang percaya. "Oh ya?" Ibu menatap Reyga. "Apa benar begitu, Nak Reyga? Bukannya kalian sengaja diam-diam ketemu?" "Iya.""Enggak!”Lagi-lagi mer
“Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk yang dia beli di warung depan. Kalla sendiri tidak ikut makan, karena dia sudah makan malam bersama Wima. “Kael kamu mau tidur di rumah kakak cantik atau di rumah Om?” tanya Cade pada Kael yang sedang menyendok makanannya. “Aku mau sama kakak aja,” sahut Kael santai. Tidak perlu meminta persetujuan sang papa. “Lo, Kak? Mau balik ke Sudirman atau mau nginep di sini?” Yang ditanya alih-alih menjawab malah menatap Kalla. Tapi boro-boro ditatap balik, melirik pun Kalla rasanya ogah. “Gue nginep di rumah Lo,” sahut Reyga pelan, berusaha agar Kalla tidak mendengar. “Maunya sih di sini, tapi ntar digrebek warga.” Di tempatnya Cade berdecih. Dia masih belum percaya kalau Reyga benar-benar men







