LOGINTidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia ini kan bukan Cade doang,” ujar Kalla, sebelum beranjak ke teras untuk menghampiri mereka. Cade sengaja datang untuk mengantar Kael. Kalla agak terkejut karena ternyata lelaki itu membawa istrinya. Dia mendadak cemas dengan keadaan Moya. “Gue kira lo bakal datang sendiri,” ucap Kalla saat mereka mulai memasuki teras. “Tadinya gitu, tapi—” Cade tersenyum lalu merangkul wanita di sebelahnya. “My beloved wife pengin ikut. Katanya pengin lihat rumah calon istri kakak iparnya.”Cecilia tersenyum, lantas membuka kacamata hitamnya. “Hai, kita berjumpa lagi,” sapanya. Matanya yang sipit langsung memindai fasad rumah milik ibu. Sementara Kael lebih memilih masuk dan mencari papanya. Kalla mempersil
Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach silver milik Reyga. Moya sampai menelan ludah dibuatnya. “Ini yang lo bilang baru merintis usaha?” bisik Moya pada Kalla. “Orang gila mana yang baru merintis tapi pegangannya mobil mevah 7 milyar?” Kalla nyengir seraya garuk-garuk kepala. “Mungkin dia pinjam. Biasanya dia pake SUV hitam itu kok.” Namun Moya berdecak dan memutar bola mata. Merintis-merintis tai kucing! Ibu menyambut hangat Diyani dan Reyhan, calon besannya ketika mereka mengucapkan salam. Awalnya Kalla deg-degan, takut kalau sang ibu minder atau terintimidasi dengan kehadiran orang tua Reyga. Tapi ternyata itu cuma kekhawatiran Kalla. Ibu sangat luwes berbasi-basi dengan mereka. Dan yang membuat Kalla bersyukur, Nyon
Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran. “Woah!” seru Cade melihat kegilaan sang kakak membabat habis lima belas bola di papan billiard. “Kesal bikin permainanya bagus. Maklumi.” Raven menepuk bahu Cade, meminta si bungsu itu membereskan bola-bola tadi ke rak segitiga. Reyga mendengus. Dia memang masih jengkel perkara larangan tak masuk akal itu. Daripada emosinya makin memuncak, dia memilih menyingkir ke sport room. Membuang energi negatif di sana. “Empat bulan mah cepet kali, Rey. Persiapan lo bisa lebih matang,” ujar Candra, dia mulai mem
“Kallaaa!” Suara cempreng bernada itu menembus telinga Kalla, hingga wanita itu menoleh. Kalla yang sedang duduk bersama ibu–tengah mendiskusikan tentang konsep pernikahan–kontan tersenyum. Itu jelas suara sahabatnya tersayang. Dan benar, tidak berapa lama Moya dengan gaya kasualnya muncul. Bibir wanita itu mencebik dan alisnya berkerut sedih ketika akhirnya bisa bertemu Kalla lagi. Dua sohib itu saling menghampiri lantas berpelukan hangat. “Lo betah banget sih di Bali. Nggak kangen sama gue? Udah ditinggal ke Jepang, eh malah nyambung ke Bali,” kesah Moya dengan bibir maju satu senti. “Yah, Moy. Namanya juga lagi nyari sebongkah berlian. Jauh pun gue jabanin.” “Minta sama Kak Wima dong biar bisa mutasi ke Jakarta. Emang lo nggak kasian sama ibu? Sendirian terus gitu.” Yang jadi obyek mengangkat alis. “Ibu nggak apa-apa kok sendiri. Kan banyak tetangga. Ada kamu juga yang sering datang jenguk ibu kan?” sahut ibu. Dia beranjak berdiri. “Udah makan belum? Ibu tadi masak urap sa
Dibalik kemudi Reyga menggeram. Sesekali tatapnya melirik ke kaca spion depan. Mengintip interaksi putranya dan Kalla, yang sudah seperti kekasih lama tak jumpa. Menjengkelkan. Mentang-mentang baru bertemu anak itu ngadi-ngadi. Kael melarang Kalla duduk di sampingnya. Reyga sudah seperti supir duo majikan yang lagi saling melepas rindu saja. “Mau makan di mana kita, Bos?” tanya lelaki itu, menaikkan sudut bibirnya. Kael menatap mantan pengasuhnya dengan senyum manis. “Kakak mau makan apa?” “Gimana kalau pizza?” sambar Reyga. Membuat Kael mengerutkan dahi tak suka. “Aku nggak nanya papa ya. Ladies first.” “Hm, okay.” Reyga mengedikkan bahu dan kembali fokus ke jalanan yang lumayan ramai. Melihat itu Kalla terkikik. Lima tahun tidak bertemu membuat Kael sedikit lebih ekspresif. Ya, hanya sedikit. Dia masih tetap Kael si cuek dan pendiam. “Jadi, kakak mau makan apa?” tanya Kael sekali lagi. Mata beningnya begitu berkilau saat menatap Kalla. Anak itu tidak menyangka lama tak
Ucapan salam kompak sekitar 20 murid mengudara bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Beberapa detik kemudian kegaduhan anak-anak keluar kelas pun tak bisa terelakkan. Sesuatu yang biasa terjadi di jam pulang sekolah atau istirahat. Tak terkecuali di ruang kelas 3 Einstein, kelas yang Kael tempati sekarang. Di kursinya Kael tengah membereskan alat tulis. Sesaat dia membalas kalem sapaan temannya yang keluar lebih dulu. “Kael,” panggil guru kelasnya yang masih duduk di balik meja guru.“Ya, Miss,” sahut Kael dengan ekspresi datar andalannya. Anak sembilan tahun itu mengangkat wajah, menunggu guru kelas itu mengucapkan sesuatu. “Papa kamu bilang, hari ini kamu dijemput nanny baru.” Meski nyaris tanpa ekspresi, Miss Luna, nama guru kelas 3 Einstein itu melihat kerut samar muncul di dahi anak muridnya itu. Beberapa saat tidak ada respons, Miss Luna menganggap Kael mengerti. Dia pun melanjutkan kegiatan membereskan bawaannya. “Miss, saya bisa minta tolong?” tanya Kael, membuat guru
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat
Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa
Kalla terbangun ketika bunyi ponsel terdengar nyaring. Mulutnya berdecak kesal, tapi matanya masih merapat. Tangannya terjulur, mencari-cari benda yang memekakkan telinga. Kalau tidak ingat benda pipih itu harganya jutaan, mungkin Kalla sudah melemparnya ke tong sampah karena sudah sukses membangunk







