Mag-log inKael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang dia bawa untuk mengisi kulkas. “Punyaku mana, Sayang?” tanya Reyga yang duduk bersebrangan dengan Kael. Kalla memutar bola mata. Bapak pun nggak mau kalah dari anak. Padahal dia sudah memberi apa yang lelaki itu mau di kamar tadi. “Ini.” Kalla mengangsurkan satu apel merah padanya. “Kok apel sih? Aku mau melon juga.” “Duh, makan ini aja. Melon aku kudu potong-potong lagi.” “Pilih kasih,” gerutu Reyga sambil menerima apel itu. Dia melirik putranya yang masih saja melotot padanya. “Ada apa? Dari tadi kamu liatin papa terus?” “Papa sama kakak abis renang ya?” tanya anak itu. “Enggak.” “Tapi kok rambut kalian pada basah.” Sontak Kalla dan Reyga saling tatap. Tap
Setelah melihat beberapa pilihan pulau, Kalla dan Reyga memutuskan untuk berlibur sekalian pengambilan gambar pre wedding di Pulau Sepa. Salah satu gugus pulau di Kepulauan Seribu. Hanya 1,5 jam perjalanan laut dari Jakarta untuk bisa sampai di sana. Mengingat fasilitasnya yang cukup lengkap, Reyga juga bisa dengan mudah meminta izin untuk kegiatan preweddingnya di sana. Dia cukup mengenal baik direksi perusahaan yang mengelola pulau tersebut. “Kita bakal naik kapal pesiar, Pa?” tanya Kael, ini sudah ke sepuluh kalinya anak itu menanyakan hal sama. Saking excitednya. “Nggak, Son. Kita akan naik speed boat. Kapal cepat yang ukurannya kecil.” “Kenapa kita nggak naik kapal pesiar aja?” Di samping Reyga—yang tengah menyetir—Kalla terkikik. “Kapal pesiar itu kapal wisata, yang bisa membawa perjalanan wisata laut jarak jauh. Kita kan mau ke pulau, jadi cuma perlu kapal transportasi.” Anak itu manyun seraya menyandarkan punggung ke kursi. “Aku pikir kita akan naik kapal pesiar.”
Tidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia ini kan bukan Cade doang,” ujar Kalla, sebelum beranjak ke teras untuk menghampiri mereka. Cade sengaja datang untuk mengantar Kael. Kalla agak terkejut karena ternyata lelaki itu membawa istrinya. Dia mendadak cemas dengan keadaan Moya. “Gue kira lo bakal datang sendiri,” ucap Kalla saat mereka mulai memasuki teras. “Tadinya gitu, tapi—” Cade tersenyum lalu merangkul wanita di sebelahnya. “My beloved wife pengin ikut. Katanya pengin lihat rumah calon istri kakak iparnya.”Cecilia tersenyum, lantas membuka kacamata hitamnya. “Hai, kita berjumpa lagi,” sapanya. Matanya yang sipit langsung memindai fasad rumah milik ibu. Sementara Kael lebih memilih masuk dan mencari papanya. Kalla mempersil
Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach silver milik Reyga. Moya sampai menelan ludah dibuatnya. “Ini yang lo bilang baru merintis usaha?” bisik Moya pada Kalla. “Orang gila mana yang baru merintis tapi pegangannya mobil mevah 7 milyar?” Kalla nyengir seraya garuk-garuk kepala. “Mungkin dia pinjam. Biasanya dia pake SUV hitam itu kok.” Namun Moya berdecak dan memutar bola mata. Merintis-merintis tai kucing! Ibu menyambut hangat Diyani dan Reyhan, calon besannya ketika mereka mengucapkan salam. Awalnya Kalla deg-degan, takut kalau sang ibu minder atau terintimidasi dengan kehadiran orang tua Reyga. Tapi ternyata itu cuma kekhawatiran Kalla. Ibu sangat luwes berbasi-basi dengan mereka. Dan yang membuat Kalla bersyukur, Nyon
Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran. “Woah!” seru Cade melihat kegilaan sang kakak membabat habis lima belas bola di papan billiard. “Kesal bikin permainanya bagus. Maklumi.” Raven menepuk bahu Cade, meminta si bungsu itu membereskan bola-bola tadi ke rak segitiga. Reyga mendengus. Dia memang masih jengkel perkara larangan tak masuk akal itu. Daripada emosinya makin memuncak, dia memilih menyingkir ke sport room. Membuang energi negatif di sana. “Empat bulan mah cepet kali, Rey. Persiapan lo bisa lebih matang,” ujar Candra, dia mulai mem
“Kallaaa!” Suara cempreng bernada itu menembus telinga Kalla, hingga wanita itu menoleh. Kalla yang sedang duduk bersama ibu–tengah mendiskusikan tentang konsep pernikahan–kontan tersenyum. Itu jelas suara sahabatnya tersayang. Dan benar, tidak berapa lama Moya dengan gaya kasualnya muncul. Bibir wanita itu mencebik dan alisnya berkerut sedih ketika akhirnya bisa bertemu Kalla lagi. Dua sohib itu saling menghampiri lantas berpelukan hangat. “Lo betah banget sih di Bali. Nggak kangen sama gue? Udah ditinggal ke Jepang, eh malah nyambung ke Bali,” kesah Moya dengan bibir maju satu senti. “Yah, Moy. Namanya juga lagi nyari sebongkah berlian. Jauh pun gue jabanin.” “Minta sama Kak Wima dong biar bisa mutasi ke Jakarta. Emang lo nggak kasian sama ibu? Sendirian terus gitu.” Yang jadi obyek mengangkat alis. “Ibu nggak apa-apa kok sendiri. Kan banyak tetangga. Ada kamu juga yang sering datang jenguk ibu kan?” sahut ibu. Dia beranjak berdiri. “Udah makan belum? Ibu tadi masak urap sa
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut
Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb
Sebenarnya Reyga ingin memecat Kalla sejak kejadian seminggu lalu di apartemen. Mana ada majikan kalah ribut sama bawahan? Harga dirinya sedikit terusik dengan tingkah tengil pengasuh Kael itu. Tapi melihat betapa Kael sangat akrab dengan wanita itu, Reyga mengurungkan niatnya. Terlebih ada perubah
Bagaimana Reyga tidak mendidih ketika kembali ke apartemen dan melihat kekacauan di sana? Begitu membuka pintu dia langsung disuguhi pemandangan yang 'menakjubkan'. Bungkus camilan berserakan di atas meja, sofa dan juga karpet. Belum gelas bekas minum yang mengembun sehingga membentuk lingkaran tip







