LOGINBerat yang sejak dari apartemen Kalla tahan akhirnya bisa lepas ketika dia sampai rumah. Beberapa menit lalu mobil Reyga sudah meninggalkan halaman rumah setelah mengantarnya pulang. Kalla beranjak duduk di lantai teras dengan wajah murung. Terngiang lagi ucapan mama Reyga yang tidak sengaja dia dengar. Ya, Kalla mendengar semuanya. Bagaimana dirinya disebut murahan dan peliharaan karena tidak setara dengan mereka. Sakit, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kenyataannya memang dirinya tidak selevel dengan mereka. Dia cuma pengasuh yang kebetulan disukai majikan. Kalla menghela napas panjang. Tidak seharusnya dia melambungkan harapan pada hubungannya dan Reyga. Sudah seharusnya Kalla membuka mata lebar-lebar. Tahu diri. Tidak mungkin perempuan biasa seperti dirinya bisa bersanding dengan putra mahkota keluarga konglomerat itu. “Astaghfirullah, Kalla! Malam-malam bengong di teras. Kesambet baru tau rasa Lo!” Suara cempreng itu mengusik lamunan Kalla. Dia melirik Moya yang tahu-t
Adonan yang tercetak sudah dimasukkan ke dalam oven ketika Reyga kembali ke unit setelah mengantarkan ibunya. Dia melihat Kalla dan Kael ber-high five, misinya membuat cookies sudah hampir selesai. Setelah pusing menerima banyak wejangan dari sang mama, melihat pemandangan itu membuat sakit kepalanya berangsur mereda.“Udah selesai?” tanya Reyga mendekat. “Udah, Pa. Tinggal tunggu cookiesnya matang,” sahut Kael girang. “Wow, papa nggak sabar pengin tau rasanya.”Pangkal alis Kael kembali menukik. Dia tidak ingin berbagi dengan orang yang sudah mengacaukan kegiatannya. “No, Papa. Nggak ada. Papa nggak kebagian. Semua buat aku. Papa udah makan banyak chocochips,” ujar anak itu sembari menggoyang-goyangkan telunjuk. “Serius papa nggak dikasih?” Reyga pura-pura kaget, lalu berakting menangis. “Papa kan juga pengin makan kukis buatan anak papa.” Anak empat tahun itu menghela napas lalu menggelengkan kepala. Persis orang dewasa. “Apaan sih, Pa. Kayak anak kecill aja.” Mendengar itu Ka
Setelah bersitegang beberapa waktu lalu hubungan Kalla dan Reyga menjadi makin dekat. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, meskipun kebersamaan mereka harus curi-curi celah ketika bersama Kael. Anak itu jika sudah bersama Kalla enggan diganggu. Kalla akan dimonopoli, sekali Reyga ganggu, anak itu akan teriak. Harus nunggu anak itu tidur baru dia bisa berduaan menghabiskan waktu bersama Kalla. Biasanya Reyga dan Kalla akan curi waktu bermesraan di malam hari ketika Kael pulas. Saling tukar cerita dan sedikit bercumbu untuk melepas penat. “Semalam papa ngigau ya?” tanya Kael suatu kali ketika mereka bertiga sedang sarapan. “Ngigau?” tanya Reyga menatap putranya sekilas. Kael mengangguk. “Iya, aku dengar papa bilang : you’re amazing, baby. Siapa coba yang papa sebut baby?” Mendengar itu Kalla yang duduk di samping anak itu tersedak dan kontan terbatuk hebat. Alih-alih menolong Kael malah mengerjap. Reyga buru-buru berdiri dan beranjak ke belakang Kalla untuk menepuk-nepuk pun
Bawah perut masih terasa tak nyaman. Lembab, basah, lengket, tapi Kalla harus cepat keluar rumah meski kakinya masih agak lemas. Bahkan dadanya pun masih berdebar-debar. Suara cempreng Moya terdengar sampai ke belakang, sukses mengusik kebersamaan Kalla dan Reyga yang lagi asyik-asyiknya. Kalla menyisir rambut dengan jari sebelum membuka pintu. Dia tidak sempat membenarkan tali bra, dan lebih memilih menarik benda itu keluar, lalu melemparnya ke mesin cuci. “Lama amat sih?! Masih molor lo ya?!” sambar Moya begitu pintu akhirnya terbuka. Kalla hanya nyengir dan memberi akses sahabatnya itu masuk.“Ibu mana?” tanya Moya ketika melihat rumah sepi, tidak ada suara mesin jahit terdengar seperti biasa. “Ibu lagi ke pasar.” Kalla menggapai-gapai sofa di dekatnya sebelum menjatuhkan diri di sana dengan perasaan lega. Dia perlu menetralkan napas dan jantungnya yang mau copot. “Moy, bisa ambilin gue minum enggak? Nggak ada tenaga gue.” Moya menoleh dengan tatapan heran. Dahinya mengerut t
Selama beberapa detik Kalla menatap pria di depannya. Pria yang jauh terlihat lebih muda ketika rambut dan facial hair-nya dipangkas. Pria yang sudah membuatnya jatuh hati dan memberi kenyamanan. Kalla menunduk, dan dengan cepat mengecup bibir Reyga. “Kenapa aku nggak mau terima kamu?” Meski sempat kaget dan ragu, Kalla masih ingin mencobanya. “Aku percaya kamu udah berubah. Dan aku harap kamu nggak ngancurin kepercayaan aku, seperti dulu kamu ke mantan kamu itu.” Reyga menggeleng kencang. “Nggak akan. Kali ini aku yakin kita punya rasa yang sama.” Senyumnya mengembang. Hanya dari tatapan mata saja Reyga bisa tahu Kalla juga mencintainya. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu pada Kiana. Tidak membutuhkan kata-kata lagi, cukup dengan tindakan cinta keduanya melebur jadi satu. Pagi yang cerah, tepat di belakang rumah Kalla, mereka saling mencumbu. Reyga melepas ikatan rambut Kalla, membuat helaian halus itu terburai. Di saat yang sama, dia memperdalam ciumannya. M
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut itu dieksekusi demi mendapat maaf dari sang kekasih. “Mukanya biasa aja. Potong rambut nggak akan bikin kamu mati,” ujar Kalla tak berperasaan sambil membentangkan kain putih. Dia membungkus badan Reyga dengan kain itu, supaya baju lelaki itu tidak kotor terkena potongan rambut. Pagi ini Kalla menjadi barber dadakan. Potong rambut memang tidak bikin mati. Tapi Reyga sudah terlanjur nyaman dengan model rambutnya.“Iya,” sahut Reyga pasrah. Ketika mendengar suara gesekan gunting, matanya refleks terpejam. Hatinya menangis ketika helai demi helai rambut ditebas. Kalla benar-benar melakukannya. Memangkas rambut kebanggannya dengan sadis tanpa kompromi. Bukan hanya rambut, Kalla juga membabat







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)