Accueil / Romansa / Hello, Nanny! / 166. Kesepakatan

Share

166. Kesepakatan

last update Date de publication: 2026-05-10 21:48:08
Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan.

Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach silver milik Reyga. Moya sampai menelan ludah dibuatnya.

“Ini yang lo bilang baru merintis usaha?” bisik Moya pada Kalla. “Orang gila mana yang baru merintis tapi pegangannya mobil mevah 7 milyar?”
Yuli F. Riyadi

Nggak aku edit, maaf kalau banyak typo bertebaran, Gaes

| 18
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (9)
goodnovel comment avatar
Anies
wkwkwk otw prambanan nih, mau pada rombongan atau mau berangkat sendiri² nih enaknya kita..??
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
prambanan y???4jam an dr blora...tar aku blg suami klo mo liburan ke prambanan skalian kondangan..jd liburan sekolahny gnti aja dr rencana awal..yg mauny ke prigen jd ke prambanan..xixixixi
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Nanti disebar undangannya xixixi
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   170. Sindrom Pranikah

    “Mau minum?” “Nggak usah.” “Buah?” “Nggak perlu.” Daripada menghadapi tawaran Kalla, Reyga memilih fokus main game di ponselnya sambil rebahan di sofa.Sejak pulang dari pantai dengan take terakhir naik canoe di tengah sunset, Reyga berubah aneh. Bukannya Kalla tak tahu kalau lelaki itu tiba-tiba diam. Tapi dia terlalu malas ngadepin orang yang mendiamkannya tanpa sebab. Please deh, mereka bukan remaja lagi. Apa salah kalau Kalla ingin hubungan yang low maintenance? “Ya udah ini buat Kael aja.” Ujung mata Reyga melirik sekilas, lantas kesal sendiri ketika Kalla malah pergi meninggalkannya. Dia beranjak duduk dan mengacak rambut. “Dasar nggak peka!” gerutunya, membuang napas kasar. “Siapa yang nggak peka?” Reyga menoleh, dan spontan berdecak ketika melihat Kafi memasuki villanya sambil menenteng laptop yang terbuka. “Ngapain Lo ke sini? Take kan masih ntar, pas dinner,” tanya Reyga dengan raut tak bersahabat. “Ada yang mau gue kasih liat ke lo.” Tanpa dipersilahkan, pria

  • Hello, Nanny!   169. Fotografer

    Kael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang dia bawa untuk mengisi kulkas. “Punyaku mana, Sayang?” tanya Reyga yang duduk bersebrangan dengan Kael. Kalla memutar bola mata. Bapak pun nggak mau kalah dari anak. Padahal dia sudah memberi apa yang lelaki itu mau di kamar tadi. “Ini.” Kalla mengangsurkan satu apel merah padanya. “Kok apel sih? Aku mau melon juga.” “Duh, makan ini aja. Melon aku kudu potong-potong lagi.” “Pilih kasih,” gerutu Reyga sambil menerima apel itu. Dia melirik putranya yang masih saja melotot padanya. “Ada apa? Dari tadi kamu liatin papa terus?” “Papa sama kakak abis renang ya?” tanya anak itu. “Enggak.” “Tapi kok rambut kalian pada basah.” Sontak Kalla dan Reyga saling tatap. Tap

  • Hello, Nanny!   168. Mabok Laut

    Setelah melihat beberapa pilihan pulau, Kalla dan Reyga memutuskan untuk berlibur sekalian pengambilan gambar pre wedding di Pulau Sepa. Salah satu gugus pulau di Kepulauan Seribu. Hanya 1,5 jam perjalanan laut dari Jakarta untuk bisa sampai di sana. Mengingat fasilitasnya yang cukup lengkap, Reyga juga bisa dengan mudah meminta izin untuk kegiatan preweddingnya di sana. Dia cukup mengenal baik direksi perusahaan yang mengelola pulau tersebut. “Kita bakal naik kapal pesiar, Pa?” tanya Kael, ini sudah ke sepuluh kalinya anak itu menanyakan hal sama. Saking excitednya. “Nggak, Son. Kita akan naik speed boat. Kapal cepat yang ukurannya kecil.” “Kenapa kita nggak naik kapal pesiar aja?” Di samping Reyga—yang tengah menyetir—Kalla terkikik. “Kapal pesiar itu kapal wisata, yang bisa membawa perjalanan wisata laut jarak jauh. Kita kan mau ke pulau, jadi cuma perlu kapal transportasi.” Anak itu manyun seraya menyandarkan punggung ke kursi. “Aku pikir kita akan naik kapal pesiar.”

  • Hello, Nanny!   167. Patah Hati

    Tidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia ini kan bukan Cade doang,” ujar Kalla, sebelum beranjak ke teras untuk menghampiri mereka. Cade sengaja datang untuk mengantar Kael. Kalla agak terkejut karena ternyata lelaki itu membawa istrinya. Dia mendadak cemas dengan keadaan Moya. “Gue kira lo bakal datang sendiri,” ucap Kalla saat mereka mulai memasuki teras. “Tadinya gitu, tapi—” Cade tersenyum lalu merangkul wanita di sebelahnya. “My beloved wife pengin ikut. Katanya pengin lihat rumah calon istri kakak iparnya.”Cecilia tersenyum, lantas membuka kacamata hitamnya. “Hai, kita berjumpa lagi,” sapanya. Matanya yang sipit langsung memindai fasad rumah milik ibu. Sementara Kael lebih memilih masuk dan mencari papanya. Kalla mempersil

  • Hello, Nanny!   166. Kesepakatan

    Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach silver milik Reyga. Moya sampai menelan ludah dibuatnya. “Ini yang lo bilang baru merintis usaha?” bisik Moya pada Kalla. “Orang gila mana yang baru merintis tapi pegangannya mobil mevah 7 milyar?” Kalla nyengir seraya garuk-garuk kepala. “Mungkin dia pinjam. Biasanya dia pake SUV hitam itu kok.” Namun Moya berdecak dan memutar bola mata. Merintis-merintis tai kucing! Ibu menyambut hangat Diyani dan Reyhan, calon besannya ketika mereka mengucapkan salam. Awalnya Kalla deg-degan, takut kalau sang ibu minder atau terintimidasi dengan kehadiran orang tua Reyga. Tapi ternyata itu cuma kekhawatiran Kalla. Ibu sangat luwes berbasi-basi dengan mereka. Dan yang membuat Kalla bersyukur, Nyon

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran. “Woah!” seru Cade melihat kegilaan sang kakak membabat habis lima belas bola di papan billiard. “Kesal bikin permainanya bagus. Maklumi.” Raven menepuk bahu Cade, meminta si bungsu itu membereskan bola-bola tadi ke rak segitiga. Reyga mendengus. Dia memang masih jengkel perkara larangan tak masuk akal itu. Daripada emosinya makin memuncak, dia memilih menyingkir ke sport room. Membuang energi negatif di sana. “Empat bulan mah cepet kali, Rey. Persiapan lo bisa lebih matang,” ujar Candra, dia mulai mem

  • Hello, Nanny!   43. Kissmark

    Ada rasa lega menyelimuti ketika akhirnya Kalla bisa meninggalkan apartemen Reyga. Meskipun dia berat karena harus meninggalkan Kael. Besok juga dirinya libur. Tapi Cade benar, dia juga butuh istirahat. “Mau mampir ke suatu tempat?” tanya Cade menawarkan. “Mumpung kita masih di Senayan nih. Nonton

  • Hello, Nanny!   42. Kita Punya Pizza!

    “Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya

  • Hello, Nanny!   41. Bermesraan?

    Sabtu full di unit pun sekarang sudah cukup bagi Reyga. Banyak kegiatan bermanfaat yang sudah Kalla susun untuk putranya. The real me time bareng keluarga mungkin seperti ini. Empat tahun lamanya kehangatan seperti keluarga lain tidak pernah Reyga rasakan. Dia membesarkan Kael sendiri dengan bantu

  • Hello, Nanny!   40. OVT

    “Serius Lo?” Kalla melotot dan mengacungkan telunjuk di depan bibirnya. “Jangan berisik!”geramnya lirih. Kalau ibu dengar bisa amsyong.“Ini sih namanya momong anaknya bonus bapaknya!” seru Moya lebih bisa mengendalikan dirinya. Cengiran Kalla membuat Moya ingin muntah. “Ngapain aja Lo di Bali sela

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status