Home / Romansa / Hello, Nanny! / 165. Empat Bersaudara

Share

165. Empat Bersaudara

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-10 14:58:30

Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian.

Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran.

“Woah!”
Yuli F. Riyadi

NB : Nek Gatri adalah ibu mamanya Reyga. Ada di ceritanya Raven dan Kiana.

| 11
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (7)
goodnovel comment avatar
Yovita R Andayani
duh...ribet nya bikin pesta,walo smua biaya ditanggung,cafeeekkk............
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
ikut dong Rey, foto prewed nya. bisa jadi pengarah gaya nanti aku nyaa wkwkwkkw
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
emakny reyga emg luar biasa..luar biasa nyebelin..smg nt aku gk jd mertua kek diyani..cz anakq jg cowok semua..aku mo jd mamer yg terserah mo gmn yg ptg anak mantu bahagia..
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beberapa kali pukulan dia berhasil memasukkan semua bola kelompoknya. Dia menutup permainan dengan memasukkan bola hitam ke lubang, dan sekaligus memenangkan permainan dalam satu kali putaran. “Woah!” seru Cade melihat kegilaan sang kakak membabat habis lima belas bola di papan billiard. “Kesal bikin permainanya bagus. Maklumi.” Raven menepuk bahu Cade, meminta si bungsu itu membereskan bola-bola tadi ke rak segitiga. Reyga mendengus. Dia memang masih jengkel perkara larangan tak masuk akal itu. Daripada emosinya makin memuncak, dia memilih menyingkir ke sport room. Membuang energi negatif di sana. “Empat bulan mah cepet kali, Rey. Persiapan lo bisa lebih matang,” ujar Candra, dia mulai me

  • Hello, Nanny!   164. Realistis

    “Kallaaa!”Suara cempreng bernada itu menembus telinga Kalla, hingga wanita itu menoleh. Kalla yang sedang duduk bersama ibu–tengah mendiskusikan tentang konsep pernikahan–kontan tersenyum. Itu jelas suara sahabatnya tersayang. Dan benar, tidak berapa lama Moya dengan gaya kasualnya muncul. Bibir wanita itu mencebik dan alisnya berkerut sedih ketika akhirnya bisa bertemu Kalla lagi. Dua sohib itu saling menghampiri lantas berpelukan hangat. “Lo betah banget sih di Bali. Nggak kangen sama gue? Udah ditinggal ke Jepang, eh malah nyambung ke Bali,” kesah Moya dengan bibir maju satu senti. “Yah, Moy. Namanya juga lagi nyari sebongkah berlian. Jauh pun gue jabanin.”“Minta sama Kak Wima dong biar bisa mutasi ke Jakarta. Emang lo nggak kasian sama ibu? Sendirian terus gitu.” Yang jadi obyek mengangkat alis. “Ibu nggak apa-apa kok sendiri. Kan banyak tetangga. Ada kamu juga yang sering datang jenguk ibu kan?” sahut ibu. Dia beranjak berdiri. “Udah makan belum? Ibu tadi masak urap sama i

  • Hello, Nanny!   163. Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Dibalik kemudi Reyga menggeram. Sesekali tatapnya melirik ke kaca spion depan. Mengintip interaksi putranya dan Kalla, yang sudah seperti kekasih lama tak jumpa. Menjengkelkan. Mentang-mentang baru bertemu anak itu ngadi-ngadi. Kael melarang Kalla duduk di sampingnya. Reyga sudah seperti supir duo majikan yang lagi saling melepas rindu saja. “Mau makan di mana kita, Bos?” tanya lelaki itu, menaikkan sudut bibirnya. Kael menatap mantan pengasuhnya dengan senyum manis. “Kakak mau makan apa?” “Gimana kalau pizza?” sambar Reyga. Membuat Kael mengerutkan dahi tak suka. “Aku nggak nanya papa ya. Ladies first.”“Hm, okay.” Reyga mengedikkan bahu dan kembali fokus ke jalanan yang lumayan ramai. Melihat itu Kalla terkikik. Lima tahun tidak bertemu membuat Kael sedikit lebih ekspresif. Ya, hanya sedikit. Dia masih tetap Kael si cuek dan pendiam. “Jadi, kakak mau makan apa?” tanya Kael sekali lagi. Mata beningnya begitu berkilau saat menatap Kalla. Anak itu tidak menyangka lama tak jumpa

  • Hello, Nanny!   162. Lelaki Kuat

    Ucapan salam kompak sekitar 20 murid mengudara bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah. Beberapa detik kemudian kegaduhan anak-anak keluar kelas pun tak bisa terelakkan. Sesuatu yang biasa terjadi di jam pulang sekolah atau istirahat. Tak terkecuali di ruang kelas 3 Einstein, kelas yang Kael tempati sekarang. Di kursinya Kael tengah membereskan alat tulis. Sesaat dia membalas kalem sapaan temannya yang keluar lebih dulu. “Kael,” panggil guru kelasnya yang masih duduk di balik meja guru.“Ya, Miss,” sahut Kael dengan ekspresi datar andalannya. Anak sembilan tahun itu mengangkat wajah, menunggu guru kelas itu mengucapkan sesuatu. “Papa kamu bilang, hari ini kamu dijemput nanny baru.” Meski nyaris tanpa ekspresi, Miss Luna, nama guru kelas 3 Einstein itu melihat kerut samar muncul di dahi anak muridnya itu. Beberapa saat tidak ada respons, Miss Luna menganggap Kael mengerti. Dia pun melanjutkan kegiatan membereskan bawaannya. “Miss, saya bisa minta tolong?” tanya Kael, membuat gur

  • Hello, Nanny!   161. Kamu Berharga

    Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari laut lepas, tatapan Reyga akhirnya berpaling ke Kalla. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. “Menurutmu apa?” tanya lelaki itu balik. “Mana aku tau. Kan aku nanya. Masih ada angka 1 sampai 4 sebelum 5. Kenapa harus 5?” Mata bulat itu berkedip pelan. Cantik banget. Membuat Reyga tak tahan menyentuh wajah wanita itu. “Itu karena aku tau kamu butuh banyak waktu. Termasuk meraih satu per satu impian kamu. Uhm, bisa aja sih aku nyusul kamu ke Jepang, tapi aku merasa belum waktunya.” “Waktu yang kamu kasih terlalu banyak. Kalau selama itu aku kecantol sama cowok lain gimana?” Reyga terkekeh seraya menunduk. “Ya nggak mungkin.” Jawaban yang sangat percaya diri. Membuat Kalla berdecak m

  • Hello, Nanny!   160. Surfing

    “Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk ngurus pameran. Makanya aku nggak kasih tau kamu dulu. Begitu, Sayang. Dan niatnya hari ini aku mau kasih tau kamu setelah acara kamu beres,” terang Reyga mencoba menjelaskan. Jangan sampai gara-gara ini Kalla mencabik-cabik dirinya lalu menolak menikah. No way! Kalla menarik napas panjang beberapa kali sembari memejamkan mata. Sibuk menghalau rasa kesalnya pada lelaki ngeselin di sampingnya ini yang kini menciptakan jarak lantaran takut ditelan. Dua tangannya yang sejak tadi mengepal dia buka secara perlahan. “Sayang…,” panggil Reyga hati-hati, mencoba mendekat kembali. “Sayang, maaf ya udah bikin kamu terkejut. Tapi, bukannya ini berita bagus?” Setelah merasa tenang, Kalla kembali me

  • Hello, Nanny!   37. Teman-teman Lama Reyga

    “Kenapa kita ke sini?” “Papa mau beli baju?” Reyga membawa Kael dan Kalla ke salah satu Boutique and Beauty Salon yang ada di Benoa. Rekomendasi dari staf vila ketika dia bertanya. “Papa lupa memberitahu kalau malam ini ada undangan anniversary pernikahan teman papa. Dan papa belum menyiapkan ap

  • Hello, Nanny!   36. Serigala Berbulu Domba

    Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi

  • Hello, Nanny!   35. Jalani Saja Dulu

    Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status