Home / Romansa / Hello, Nanny! / Extra Part 1

Share

Extra Part 1

last update publish date: 2026-07-02 10:11:41
Beberapa kali Kalla mematut diri di cermin. Cermin full body yang bisa memantulkan seluruh tubuhnya. Bibirnya mencebik saat melihat pipinya yang terlihat lebih chubby. Lalu tatapannya turun ke perutnya yang makin buncit.

Dia tahu kehamilan ini bakal menghancurkan bentuk tubuh idealnya. Tapi Kalla sama sekali tidak menyesal. Terlebih bayi dalam perutnya sangat sehat dan aktif.

Kalla berjengit ketika sesuatu menempel di pipinya. Ujung matanya melirik, dan dari pantulan cermin dia bisa melihat
Yuli F. Riyadi

Ekstra Part 1 done

| 8
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Hayoo cuss... Wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Banget, apalagi kalo lagi kemisan hahaha
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
lanjut kakk hehee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   Extra Part 2

    THE TIME Ini akan menjadi momen paling bersejarah untuk Kalla. Dia sudah siap menjalani sectio caesarea hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan makeup tipis hasil pulasan Cecilia. Istri Cade itu bersikeras mendandani Kalla agar saat proses bayi lahir wanita itu tetap terlihat cantik. Sama seperti Ceci, Kalla dan Reyga juga melakukan birth videography. Mulai dari persiapan, proses, hingga pasca melahirkan diabadikan ke dalam birth video diary yang akan menjadi dokumenter pribadi mereka. “Gimana perasaan kamu?” tanya Kiana, yang ikut menunggui persiapan Kalla. “Deg-degan. Tapi seneng juga.”“Harus semangat, kan kalian sebentar lagi ketemu.” Semua keluarga Reyga ikut berkumpul demi menyambut anggota baru keluarga, kecuali Candra karena dia tidak bisa absen dari rumah sakit. Ibu juga datang. Meski lututnya gemetar, ibu bela-belain datang memberi semangat pada putrinya. Ini pertama kali dalam hidup, dan dirinya akan segera menimang cucu. “Lo harus rileks. Jangan sampai is

  • Hello, Nanny!   Extra Part 1

    Beberapa kali Kalla mematut diri di cermin. Cermin full body yang bisa memantulkan seluruh tubuhnya. Bibirnya mencebik saat melihat pipinya yang terlihat lebih chubby. Lalu tatapannya turun ke perutnya yang makin buncit. Dia tahu kehamilan ini bakal menghancurkan bentuk tubuh idealnya. Tapi Kalla sama sekali tidak menyesal. Terlebih bayi dalam perutnya sangat sehat dan aktif. Kalla berjengit ketika sesuatu menempel di pipinya. Ujung matanya melirik, dan dari pantulan cermin dia bisa melihat foto prenatalnya bersama Reyga. “Cantik banget kamu di sini, Sayang,” ujar Reyga, ikut bergabung dalam pantulan cermin yang sama. Kalla merebut foto tersebut dari tangan Reyga dan memperhatikannya. Di foto itu, dirinya tersenyum lebar. Mengenakan gaun putih yang mempertontonkan bagian perutnya yang besar. Makeup tipis natural dan tatanan rambut yang agak sedikit bergelombang. Meski dengan perut buncit, Kalla terlihat sangat cantik dan bersinar. Dan Reyga di sana mengenakan celana panjang

  • Hello, Nanny!   257. Lamaran Menembus Langit

    “Bayi Om Cade matanya sipit. Mirip banget kayak Tante Ceci.” “Putih dan montok.” Kael dan Kalla sedang membicarakan anak Cecilia dan Cade yang baru lahir beberapa hari lalu. Bayi itu terlahir sehat dengan jalan caesar. Cade sengaja memilih tanggal cantik untuk kelahiran putranya. Pewaris Ganesha selanjutnya. “Bibir sama tangannya juga kecil banget, Ma.” “Iya, kan masih bayi.” “Baby twins ntar mirip siapa ya?” “Mirip papa dong. Kan papa yang paling semangat bikinnya,” sambar Reyga yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan anak dan ibu itu. Namun detik berikutnya dia mengaduh ketika mendapat sikutan dari sang istri. Pria itu nyengir saat Kalla memelotot padanya. “Aku harap sih mirip mama aja. Pasti cakep.” Reyga kontan menoleh dengan tampang tak terima. “Maksud kamu papa nggak cakep?” “Cakep sih, cuma ngebosenin.” “Kamu—” Reyga tidak jadi marah ketika mendengar tawa istrinya pecah. Dia hanya mendengus dengan muka memberengut. “Sejak punya mama, kamu sering banget ngejek pap

  • Hello, Nanny!   256. Ngidam

    “Dampak utama diplomasi budaya Jepang terhadap hubungan bilateral dengan Indonesia adalah terbentuknya kemitraan strategis komprehensif yang solid berbasis rasa saling percaya dan—” Kalla menoleh ketika mendengar suara grubak-grubuk dari luar. Namun ketika beberapa menit lamanya tidak terdengar lagi, dia kembali membaca literasi milik mahasiswanya. “Diplomasi budaya berhasil menggeser memori kelam masa lalu menjadi persepsi—” Kembali Kalla menoleh cepat. Kali ini dirinya melihat kelebatan sosok Reyga. Dia mengernyit, lalu melirik jam. Baru pukul tiga sore. Dia mengangkat bahu menyadari itu hal mustahil. Mana mungkin Reyga pulang secepat itu? Namun ketika perhatiannya kembali ke atas kertas, suara dentingan sendok dan porselan menyita fokusnya. Kalla berdiri, lalu beranjak keluar dari kamar dengan raut penasaran. Kakinya berjalan cepat menuju ruang makan. Dan benar ternyata Reyga sedang duduk manis di salah satu kursi sambil menyantap sesuatu di mangkok. Kalla menyandarkan

  • Hello, Nanny!   255. Permintaan Absurd

    Hal gila yang dilakukan keluarga Abimanyu setelah mendengar kabar baik itu adalah ingin sama-sama mengunjungi klinik ibu dan anak hanya demi melihat baby twins di monitor ultrasonograf. “Kalian jangan malu-maluin dong,” kesah Reyga. Usul mengunjungi klinik bersama adalah dari si bungsu. Gara-gara Ceci ngidam pengin lihat penampakan baby twins saat di-USG. “Lo mau bayi gue ileran gara-gara ibunya ngidam ngggak keturutan?” Reyga meringis kesal. Terlebih ketika mendengar ide gila Raven. “Gimana kalau kita bawa dokternya ke rumah aja sekalian alat USGnya?” Kalla yang mendengar itu tertawa pengin nangis. Sementara Reyga cuma bisa mengusap dahi. Entah ada apa dengan keluarga ini. Herannya sang mama malah lebih setuju ide gila anak keduanya itu. Candra saja sampai ngakak. Mungkin karena dia seorang dokter jadi pikirannya lebih waras. “Maklum keluarga kita kan nggak ada yang punya anak kembar. Ini baru pertama kalinya. Jadi, kami sedikit excited,” ujarnya nyengir. “Gini aja. Kita b

  • Hello, Nanny!   254. Doa yang Terkabul

    Tiga tahun hidup di Jepang membuat Kalla familiar dengan semua oleh-oleh yang dibawa kakak iparnya. Terlebih dari anak tercintanya. Dari Tokyo Banana sampai Omamori ada. Bahkan Kael memberinya omamori khusus dengan harapan bisa cepat punya adik. “Kamu yakin mau punya adik? Bukannya kamu sama adik-adikmu nggak suka? Kamu bilang mereka mengganggu,” cibir Reyga pada sang putra. Seraya menatap para keponakannya yang masih kecil-kecil. Kael melirik Kyoka yang sedang bermain boneka baru favoritnya. Boneka yang Kael dapat dari permainan capit atas permintaan putri Raven itu saat di Jepang sana. Bocah ganteng itu meringis. “Punya adik nggak seburuk itu kok, Pa.” “Aku brother udah bestie!” sambar Kyoka dengan Bahasa Indonesia yang cukup amburadul. Sampai-sampai semua yang ada di sana dibuat tertawa. Balita itu sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia. Kalla dan Reyga sontak saling pandang dan melempar senyum penuh arti. Sesuai kesepakatan, mereka akan memberitahukan kabar baik itu saat

  • Hello, Nanny!   169. Fotografer

    Kael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan bebe

  • Hello, Nanny!   167. Patah Hati

    Tidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia i

  • Hello, Nanny!   166. Kesepakatan

    Ibu, Kalla, dan Moya bergegas menuju teras ketika mendengar suara halus sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Hari ini orang tua Reyga berkunjung untuk mendiskusikan masalah pernikahan. Luxury MVP yang terparkir rapi di halaman rumah cukup mengundang perhatian tetangga. Menyusul kemudian Maybach

  • Hello, Nanny!   165. Empat Bersaudara

    Bunyi 15 bola seukuran kepalan tangan saling beradu di atas meja berukuran 260x145 cm memenuhi area sport room di rumah keluarga Abimanyu ketika Reyga berhasil memulai permainan. Dia memilih bola solid dengan angka 1-7 sebagai bola kelompoknya, yang akan menjadi sasarannya kemudian. Hanya butuh beb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status