共有

S2.44. Bakery

last update 公開日: 2026-07-25 21:47:38

Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana.

Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. H
Yuli F. Riyadi

Wait, aku stop dulu! Maaf ya, Cade. Oh ya, aku mau info kalo cerita Wima bakal kepending karena aku nggak mampu handle dua cerita, jadi editor saranin nunda dulu. Nggak apa-apa ya, kita lanjutkan Hello, Nanny dulu...

| 5
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Anies
wohooo Cade....
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Kelakuannya iya iya banget wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ganas kan diee
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Nanny!   S2.44. Bakery

    Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana. Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. Hanya melihat-lihat setiap sudut bagiannya saja. Harga roti dan kue di sana tidak sesuai dengan isi kantong Rere. Terlalu mahal untuk dirinya meski itu hanya sepotong. Seperti sekarang, gadis itu memarkirkan sepedanya di area parkir toko sebelum menaiki tangga landai menuju pintu bakeryDi depan etalase yang menampilkan menu burnt cheesecake Rere berhenti. Dia menelan ludah melihat begitu menggairahkannya kue itu. Sayang harganya lumayan mahal. Dia bisa membuat sendiri satu loyang penuh dengan

  • Hello, Nanny!   S2.43. Pagi yang meng-hadeh

    Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak

  • Hello, Nanny!   S2.42. Pancake

    Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere

  • Hello, Nanny!   S2.41. Salah Waktu

    “Apa kamu nggak waras, Cade?! Kamu benar-benar menghancurkan ekspektasi Mama! Apa kamu mau ikutan gila seperti kakak-kakakmu?!”Cade menarik napas panjang. Dia sudah menduga akan mendapat murka sang mama saat memutuskan membawa Mella dan Rere ke rumah. Tapi dia tidak menyangka Mama melakukan ini bahkan sebelum bertemu dengan mereka. “Mereka layak untuk aku cintai, Ma.” “Layak kamu bilang?! Layak buat kamu kasih sedekah maksudnya?!”“Ma!” Diyani berdecih dengan lengan melipat dada. Kemarahannya memuncak saat tahu putra bungsunya membawa perempuan dan seorang anak. “Mama tahu persis orang seperti apa mereka. Lagian otak kamu di mana sih Cade? Bisa-bisanya berhubungan dengan janda beranak satu. Apa dunia ini kekurangan perawan sampai janda mau kamu pinang, heh?!”Dada Cade mengembang. Dia berusaha napas senormal mungkin. Meskipun hatinya begitu sakit, sang mama merendahkan kekasihnya. Siapa yang ingin menjadi janda? Tidak ada seorang wanita yang berharap takdir seperti itu. “Mama bel

  • Hello, Nanny!   S2.40. Om-om Mesum

    “Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan

  • Hello, Nanny!   S2.39. Gadis Part Time

    “Luar Jawa dong. Bali misalnya.” “Bali terlalu banyak saingan.” “Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.” “Gue kembangin yang di sini aja dulu. “Minimal Surabaya ada.” Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bi

  • Hello, Nanny!   138. Terlanjur Badmood

    “Ganesha! Iya, saya ingat? Tunangannya itu CEO Ganesha Group!” Tas yang Kalla bawa terlepas begitu saja dari tangannya. Tubuhnya mendadak lunglai, tak bertenaga. Matanya yang berkaca-kaca mengikuti pergerakan wanita oriental itu memasuki restoran. Aneh sekali. Seharusnya ini sudah tidak mempengaru

  • Hello, Nanny!   132. Mati

    “Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu se

  • Hello, Nanny!   128. Rage Room

    Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia

  • Hello, Nanny!   123. Larangan Menikah

    Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?”

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status