Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.45. Mimpi yang Terasa Nyata

Share

S2.45. Mimpi yang Terasa Nyata

last update publish date: 2026-07-26 18:57:39

Dengan dua siku Mella menahan tubuhnya yang didorong setengah merebah ke belakang. Suara erangannya menggema, memenuhi ruang pribadi itu akibat ulah lelaki yang menenggelamkan kepala di antara dua pahanya.

Cade selalu membuat Mella tidak berdaya dengan tingkahnya yang mengejutkan. Pemaksa dan tidak sabaran.

Seperti sekarang. Bibir dan lidah lelaki itu menggasak area bawah sementara dua tangannya intens memainkan puncak dadanya. Mella tidak bisa menahan lagi ketika sesuatu di bawah perutnya ki
Yuli F. Riyadi

Hari ini aku cuma up 1 bab ya, bebz. Kepala rada lieur, kayak Cade. 😁

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Iya dungz hihi
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Yg digadang lurus tetep aja gini... Wkwk
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
ngalahin Raven dan Rey ini mah hastagaaa, mana seleranya yg mateng2 lgi..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.45. Mimpi yang Terasa Nyata

    Dengan dua siku Mella menahan tubuhnya yang didorong setengah merebah ke belakang. Suara erangannya menggema, memenuhi ruang pribadi itu akibat ulah lelaki yang menenggelamkan kepala di antara dua pahanya. Cade selalu membuat Mella tidak berdaya dengan tingkahnya yang mengejutkan. Pemaksa dan tidak sabaran. Seperti sekarang. Bibir dan lidah lelaki itu menggasak area bawah sementara dua tangannya intens memainkan puncak dadanya. Mella tidak bisa menahan lagi ketika sesuatu di bawah perutnya kian bergejolak. “Cade…,” desahnya dengan kepala yang hampir melayang. Satu tangannya terulur, menekan rambut tebal Cade. “Stop, a-aku nggak kuat.” Namun alih-alih berhenti, Cade malah memberi ekstra stimulasi yang membuat tubuh Mella mengejang seketika. Wanita itu tidak bisa menahan diri lagi, dia menggeram, kembali menyerukan nama pria tangguh itu sebelum gelombang kepuasan itu meledak, meluluh-lantakan pertahanannya. Tubuh Mella ambruk di atas meja. Tidak peduli lagi apa yang Cade lakukan la

  • Hello, Nanny!   S2.44. Bakery

    Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana. Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. Hanya melihat-lihat setiap sudut bagiannya saja. Harga roti dan kue di sana tidak sesuai dengan isi kantong Rere. Terlalu mahal untuk dirinya meski itu hanya sepotong. Seperti sekarang, gadis itu memarkirkan sepedanya di area parkir toko sebelum menaiki tangga landai menuju pintu bakeryDi depan etalase yang menampilkan menu burnt cheesecake Rere berhenti. Dia menelan ludah melihat begitu menggairahkannya kue itu. Sayang harganya lumayan mahal. Dia bisa membuat sendiri satu loyang penuh dengan

  • Hello, Nanny!   S2.43. Pagi yang meng-hadeh

    Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak

  • Hello, Nanny!   S2.42. Pancake

    Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere

  • Hello, Nanny!   S2.41. Salah Waktu

    “Apa kamu nggak waras, Cade?! Kamu benar-benar menghancurkan ekspektasi Mama! Apa kamu mau ikutan gila seperti kakak-kakakmu?!”Cade menarik napas panjang. Dia sudah menduga akan mendapat murka sang mama saat memutuskan membawa Mella dan Rere ke rumah. Tapi dia tidak menyangka Mama melakukan ini bahkan sebelum bertemu dengan mereka. “Mereka layak untuk aku cintai, Ma.” “Layak kamu bilang?! Layak buat kamu kasih sedekah maksudnya?!”“Ma!” Diyani berdecih dengan lengan melipat dada. Kemarahannya memuncak saat tahu putra bungsunya membawa perempuan dan seorang anak. “Mama tahu persis orang seperti apa mereka. Lagian otak kamu di mana sih Cade? Bisa-bisanya berhubungan dengan janda beranak satu. Apa dunia ini kekurangan perawan sampai janda mau kamu pinang, heh?!”Dada Cade mengembang. Dia berusaha napas senormal mungkin. Meskipun hatinya begitu sakit, sang mama merendahkan kekasihnya. Siapa yang ingin menjadi janda? Tidak ada seorang wanita yang berharap takdir seperti itu. “Mama bel

  • Hello, Nanny!   S2.40. Om-om Mesum

    “Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan

  • Hello, Nanny!   33. Didiemin

    Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

  • Hello, Nanny!   12. Es Krim

    Sebenarnya Reyga ingin memecat Kalla sejak kejadian seminggu lalu di apartemen. Mana ada majikan kalah ribut sama bawahan? Harga dirinya sedikit terusik dengan tingkah tengil pengasuh Kael itu. Tapi melihat betapa Kael sangat akrab dengan wanita itu, Reyga mengurungkan niatnya. Terlebih ada perubah

  • Hello, Nanny!   11. Dada Kecil

    Bagaimana Reyga tidak mendidih ketika kembali ke apartemen dan melihat kekacauan di sana? Begitu membuka pintu dia langsung disuguhi pemandangan yang 'menakjubkan'. Bungkus camilan berserakan di atas meja, sofa dan juga karpet. Belum gelas bekas minum yang mengembun sehingga membentuk lingkaran tip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status