Home / Romansa / Hello, Nanny! / S2.43. Pagi yang meng-hadeh

Share

S2.43. Pagi yang meng-hadeh

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-25 12:42:47

Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini.

Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah.

Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung.

Jaya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (10)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Daripada digondol yang lain dulu
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Duh iya lagi
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Barisan cowok" bingung hiks
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Nanny!   S2.44. Bakery

    Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana. Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. Hanya melihat-lihat setiap sudut bagiannya saja. Harga roti dan kue di sana tidak sesuai dengan isi kantong Rere. Terlalu mahal untuk dirinya meski itu hanya sepotong. Seperti sekarang, gadis itu memarkirkan sepedanya di area parkir toko sebelum menaiki tangga landai menuju pintu bakeryDi depan etalase yang menampilkan menu burnt cheesecake Rere berhenti. Dia menelan ludah melihat begitu menggairahkannya kue itu. Sayang harganya lumayan mahal. Dia bisa membuat sendiri satu loyang penuh dengan

  • Hello, Nanny!   S2.43. Pagi yang meng-hadeh

    Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak

  • Hello, Nanny!   S2.42. Pancake

    Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere

  • Hello, Nanny!   S2.41. Salah Waktu

    “Apa kamu nggak waras, Cade?! Kamu benar-benar menghancurkan ekspektasi Mama! Apa kamu mau ikutan gila seperti kakak-kakakmu?!”Cade menarik napas panjang. Dia sudah menduga akan mendapat murka sang mama saat memutuskan membawa Mella dan Rere ke rumah. Tapi dia tidak menyangka Mama melakukan ini bahkan sebelum bertemu dengan mereka. “Mereka layak untuk aku cintai, Ma.” “Layak kamu bilang?! Layak buat kamu kasih sedekah maksudnya?!”“Ma!” Diyani berdecih dengan lengan melipat dada. Kemarahannya memuncak saat tahu putra bungsunya membawa perempuan dan seorang anak. “Mama tahu persis orang seperti apa mereka. Lagian otak kamu di mana sih Cade? Bisa-bisanya berhubungan dengan janda beranak satu. Apa dunia ini kekurangan perawan sampai janda mau kamu pinang, heh?!”Dada Cade mengembang. Dia berusaha napas senormal mungkin. Meskipun hatinya begitu sakit, sang mama merendahkan kekasihnya. Siapa yang ingin menjadi janda? Tidak ada seorang wanita yang berharap takdir seperti itu. “Mama bel

  • Hello, Nanny!   S2.40. Om-om Mesum

    “Americano.”Suara itu menyentak lamunan Rere. Saat gadis itu mengangkat wajah, senyumnya pun terbit. “Om Cade, aku kira siapa.” “Emang kamu kira siapa?” Cade tersenyum, mengamati wajah cantik yang tampak muram itu. Semakin dewasa, Rere makin terlihat seperti ibunya. “Pelanggan lain dong. Oke, jadi …. Americano satu?” “Dua deh kalau kamu mau.” Rere terkekeh sambil mengetikkan pesanan Cade. “Kalau Om ke sini aku pasti dapat jatah traktiran. Makasih ya.”Cade mengangguk. Lalu matanya melirik seseorang yang datang menghampiri Rere. “Re, biar gue aja,” ujar salah satu teman kerja Rere. “Ntar pesanannya gue yang bikin, lo istirahat gih.”Meski bingung Rere hanya mengangguk. Orang itu seniornya. “Makasih, Kak.”“Mumpung kamu istirahat bisa temani Om ngobrol?” tanya Cade meraih cepat kesempatan itu. “Bisa, Om.” Di salah sudut kafe, yang sedikit jauh dari keramaian ruang utama, Cade dan Rere memilih tempat duduk. “Berkas-berkas pengajuan udah kamu submit kan?” tanya Cade, membicarakan

  • Hello, Nanny!   S2.39. Gadis Part Time

    “Luar Jawa dong. Bali misalnya.” “Bali terlalu banyak saingan.” “Justru itu, buat menang lo harus bisa bersaing.” “Gue kembangin yang di sini aja dulu. “Minimal Surabaya ada.” Cade membuang napas. Sebagai investor kadang dia diajak brainstorming ketika manajemen akan memperluas sayap bisnisnya. Seperti saat ini, Jonas, pemilik kafe dan juga temannya itu minta bertemu, tepatnya meeting kecil-kecilan membahas soal rencana membuka cabang baru. “Gue percaya Lo aja deh,” ujar Cade pasrah. Jonas buatnya kurang visioner. Kalau bukan teman, dia ogah menggelontorkan dana buat kafe itu. Di Jakarta kafe Jonas sudah menyebar di beberapa titik, dan semua berjalan bagus sejauh yang Cade lihat. Dan ada rencana mau memperluas ke kota-kota yang ada di Jabar. Seperti Bandung, Cirebon, Subang dan sekitarnya. Sementara Cade mengusulkan untuk membuka di luar Jawa, tapi sepertinya temannya itu belum berani ambil resiko. Cade mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, dan menjejalkannya ke sela bi

  • Hello, Nanny!   6. Menggalau

    Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi

  • Hello, Nanny!   5. Sebuah Penawaran

    Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain,

  • Hello, Nanny!   4. Loker Manah?

    Sudah lebih dari sepuluh kali Kalla memelototi CV-nya di layar laptop. Tidak ada yang salah menurutnya. Tapi yang mengherankan kenapa sampai detik ini belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya. Jujur, Kalla sudah mulai putus asa. Dia bahkan berniat belajar menjahit seperti ibunya. Meski serin

  • Hello, Nanny!   7. Tidak Seburuk Dugaannya

    Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi merem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status