بيت / Urban / Hestia / Chapter 103 – Copies of Our Minds

مشاركة

Chapter 103 – Copies of Our Minds

مؤلف: Dyara
last update تاريخ النشر: 2026-06-22 10:15:26

Patra tidak menyangka dirinya benar-benar datang ke kantor pusat Intimate Beauty seminggu kemudian. Padahal saat Nero mengajaknya ikut rapat desain kemasan, ia sempat berpikir untuk menolak dan pura-pura sibuk. Namun, Odi yang terlalu antusias justru mendaftarkan nama Patra sebagai konsultan copywriting tambahan tanpa meminta izin lebih dulu.

“Kalau nanti mereka butuh jasa agensi kita, lumayan,” ujar Odi pagi itu sambil menyodorkan kopi. Patra hanya mendesah panjang sebelum menerima gelas kerta
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Hestia   Chapter 109 - Why Should I Beg to be Loved?

    Suasana di meja mereka tidak benar-benar pulih setelah percakapan tadi. Odi kembali menatap layar laptopnya, Nero meminum kopi yang mulai dingin, sementara Patra berkali-kali menghapus lalu mengetik ulang balasan email yang sama. Jari-jarinya bergerak, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di depan monitor. Nero akhirnya menutup tabletnya lebih dulu. Ia memasukkan pulpen ke dalam tas selempangnya, lalu berdiri tanpa banyak suara. "Gue ngerokok bentar," pamitnya singkat sebelum berjalan menuju tangga menuju rooftop. Patra mengikuti sosok Nero dengan pandangan kosong. Ia ingin memanggilnya, tetapi tenggorokannya terasa mengering. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sadar beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya tadi terdengar jauh lebih kejam daripada yang ia maksudkan. Odi mengembuskan napas panjang sambil menutup laptopnya. "Pat," panggilnya pelan. Patra menoleh tanpa tenaga. "Nyusul sana." Patra mengerutkan dahi. "Buat apa?" "Karena jelas dia lagi nahan sakit h

  • Hestia   Chapter 108 - Do You Find Me Funny?

    Pagi itu Patra dan Odi kembali memilih bekerja dari kafe kecil di seberang kantor baru Talia. Suasana jauh lebih tenang dibanding biasanya karena sebagian besar pelanggan masih sibuk dengan rapat daring masing-masing. Patra sibuk membalas email klien ghostwriting, sedangkan Odi sedang menyusun materi promosi kelas storytelling pertama agensi mereka. "Kopi dua, ya, Kak!" terdengar suara yang sudah mulai dikenali Patra. Billy berdiri di depan meja kasir sambil mengangkat empat gelas kosong yang digenggam di sela-sela jemarinya. Begitu melihat Patra, matanya langsung berbinar seperti baru bertemu sekutu seperjuangan. Ia buru-buru menghampiri meja mereka sambil menunjuk ke arah gedung Intimate Beauty. "Kak Patra!" Patra mengangkat wajah dari laptopnya. "Halo." Billy menarik kursi kosong tanpa sungkan. "Gue tadi hampir kalah cepet sama Stella!" Odi langsung berhenti mengetik. "Hah?" Billy menggeleng keras sambil memukul pahanya sendiri pelan. "Gue udah hafal polanya sekarang. Begitu

  • Hestia   Chapter 107 - A Girl's Boy

    Billy sebenarnya sudah menahan diri selama hampir dua minggu. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa mungkin ia hanya terlalu sensitif terhadap kelakuan Stella. Namun, semakin lama diamati, semakin sulit baginya menganggap semua itu kebetulan. Apalagi setelah ia menyadari Stella selalu punya alasan untuk berada dekat Talia. Bahkan saat pekerjaan mereka tidak berhubungan sekalipun, perempuan itu tetap bisa muncul dengan kopi, camilan, atau pertanyaan yang sebenarnya bisa dikirim lewat pesan singkat. Billy sampai hafal jadwal kemunculan Stella lebih baik dibanding jadwal meetingnya sendiri. Hari itu kantor Intimate Beauty sedang lebih lengang dari biasanya. Sebagian besar tim sedang mengikuti presentasi daring dengan beberapa mitra kampanye baru. Sementara Billy kembali ke area loker untuk mengambil tas yang tertinggal sebelum pulang. Langkahnya terhenti begitu melihat seseorang berdiri di depan loker Talia. Stella. Awalnya Billy mengira perempuan itu hanya sedang mencari barang.

  • Hestia   Chapter 106 - Everybody Knows, Stell

    Patra sebenarnya hanya berniat datang sebentar ke kos Odi sore itu. Ia membawa dua kaleng cola dingin dan beberapa catatan revisi untuk kelas storytelling pertama agensi mereka. Namun, begitu melihat Nero duduk di lantai ruang tamu sambil memegang gelas kopi dengan ekspresi kusut, Patra langsung tahu ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa?" tanya Patra sambil menaruh tasnya di dekat sofa. Nero mengangkat kepala perlahan. "Gue baru ketemu temen kerjanya Talia." Odi yang sedang membuka laptop langsung menyeringai. "Wah, ini pasti menarik." Patra ikut duduk di karpet. Ia membuka kaleng colanya tanpa banyak komentar. Setelah beberapa minggu terakhir, ia belajar kalau Nero hanya akan bercerita kalau memang sudah siap bercerita. Nero menghela napas panjang. "Namanya Billy." Patra mengernyit. "Billy?" "Iya." "Laki-laki?" Nero mengangguk. Odi mengangkat sebelah alis. "Terus?" Nero menatap langit-langit kamar selama beberapa detik sebelum mulai menjelaskan. Menurut cerita Nero, Billy

  • Hestia   Chapter 105 — The Things We Keep

    Rumah Artemis selalu terasa lebih hidup ketika Archie ada di dalamnya. Siang itu suara kartun anak-anak bercampur bunyi balok lego yang saling bertabrakan memenuhi ruang keluarga. Talia dan Cassandra duduk di karpet menemani Archie menyusun menara warna-warni yang berkali-kali roboh lalu dibangun kembali. Patra mengintip sebentar dari ambang pintu sebelum beranjak ke belakang rumah. Ia menemukan Artemis sedang jongkok di depan gudang kecil yang pintunya terbuka lebar. Debu beterbangan tipis setiap kali laki-laki itu mengangkat kotak atau map tua dari rak-rak besi. "Lo pindahan?" tanya Patra sambil menyandarkan tubuh ke kusen pintu. Artemis mendengus pelan tanpa menoleh. "Kalau pindahan, harusnya gue buang barang. Ini gue malah nyortir sampah emosional." Patra terkekeh dan masuk membantu. Aroma lembap kertas tua langsung memenuhi hidungnya. Di lantai berserakan album foto, map dokumen, serta beberapa kotak karton yang sudah menguning dimakan usia. Artemis sedang membersihkan salah

  • Hestia   Chapter 104 - What Do You Call Home?

    Chapter 104 — What Do You Call Home? Sabtu pagi itu, Talia dan Patra berangkat lebih awal dibanding biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika mereka sudah duduk berdampingan di atas motor, membawa dua botol minum dan map berisi catatan rumah-rumah kontrakan yang ingin mereka lihat. Sebelum keluar rumah, Patra sempat memotret hampir seluruh sudut hunian vertikal milik Talia. Ia juga membuka folder lama berisi foto-foto apartemen yang sudah lama ia tinggalkan dan menyusun keduanya dalam satu kolase sederhana. “Aku pengin rumah kita nanti ada campuran dua-duanya,” ujar Patra sambil menunjukkan layar ponselnya. “Nggak harus mewah, tapi ada bagian yang ngingetin aku sama kamu.” Talia memperhatikan kolase itu cukup lama. Lalu ia mengangguk pelan sambil menyimpan ponsel Patra ke tas kecilnya agar tidak jatuh selama perjalanan. Daerah pertama yang mereka datangi berada di Petojo Utara. Rumahnya cukup besar, bahkan dari luar saja Patra sudah bisa melihat halaman depan yang mam

  • Hestia   Chapter 95 - Sweeter Date

    Sabtu pagi itu Patra mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu Talia. Ia menoleh ke sisi kasur dan mendapati tunangannya masih tertidur miring membelakanginya. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden membuat ujung rambut Talia terlihat lebih cokelat dari biasanya.Patra tersenyum kec

  • Hestia   Chapter 94 - New Romantics

    Patra mulai menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Talia De Rucci. Perempuan itu selalu terlihat sibuk, bahkan ketika sedang diam.Hari itu pun sama.Talia mengajaknya bekerja dari kafe yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kantor barunya. Bedanya, kali ini Patra datang lebih

  • Hestia   Chapter 93 - She's A Fan

    Archie sudah menagih kehadiran mereka sejak tiga hari lalu. Karena itulah Sabtu sore itu Patra dan Talia berakhir menginap di rumah Artemis dan Cassandra, sebuah rumah yang selalu terasa lebih hidup daripada ukurannya sendiri.Begitu mereka datang, Archie langsung menyeret Talia ke meja belajar. An

  • Hestia   Chapter 92 - New Storm

    Dua hari setelah makan malam di kafe Athena, Talia mengirim pesan pendek yang membuat Patra langsung menghela napas panjang. “Dekat kantor baru ada rumah makan sekaligus kafe. Internetnya stabil. Mau WFC di sana?” Patra sebenarnya sudah siap menolak. Ia lebih nyaman bekerja dari kantor kecil agen

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status