LOGIN“Mentari, lelaki yang ada di foto ini siapa?”Pertanyaan ayahnya membuat Mentari yang baru masuk ruang tengah langsung terdiam. Tatapannya berpindah ke layar ponsel yang sedang dipegang sang ayah. Di sana terpampang foto dirinya bersama Gavin di dalam kamar kapal.“Itu Pak Gavin, Yah.”“Gavin?” Ayahnya mengernyit. “Gavin atasanmu di Jakarta?”Mentari mengangguk pelan.Ibunya yang sejak tadi berdiri di samping ayahnya kembali melihat layar ponsel. Wajahnya tampak semakin pucat setelah membaca tulisan yang beredar di bawah foto tersebut.“Kalau begitu, kenapa kalian ada di kamar yang sama?”“Bu, Yah, saya bisa jelaskan.”Ayahnya mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.“Jelaskan juga tulisan ini.”Mentari membaca kembali caption yang membuat dadanya sesak.“Piala bergilir keluarga Pradipta? Setelah mendapatkan adiknya, sekarang Mentari berhasil mendekati kakaknya.”Ayahnya menatap Mentari dengan wajah serius.“Benarkah kamu melakukan hal sehina ini?”Mentari langsung menggeleng.“Enggak,
Felisha masih memperhatikan Rangga beberapa saat. Setelah mendengar sendiri bagaimana lelaki itu menyimpan kemarahan kepada Gavin, ia merasa percakapan mereka mulai berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.Felisha kemudian tersenyum kecil.“Sekarang bukan cuma saya yang dipermalukan.”Rangga mengangkat alis.“Maksud Ibu?”“Foto Gavin dan Mentari yang menyebar itu. Pak Rangga pasti tahu siapa saja yang dipermalukan karena berita itu kan?”Felisha mengucapkannya dengan santai, lalu mengambil gelas air mineral di hadapannya.“Foto mereka berdua yang beredar setelah acara di kapal itu,” lanjut Felisha, mempertegas Rangga tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat bahu. “Oh, itu.”“Pak Rangga sudah melihatnya?”“Sudah. Saya juga baru melihatnya dari internet.”Jawaban Rangga terdengar biasa saja.Felisha mengangguk pelan.“Begitu, ya.”Ia tidak langsung melanjutkan pertanyaan. Felisha justru membiarkan beberapa detik berlalu sebelum kembali berbicara.“Menurut Bapak, siapa yang mengam
“Apakah aku bisa akrab dengan orang yang bernama Rangga itu?” tanya Felisha pada dirinya sendiri sambil tersenyum licik, seakan segala rencana yang ada di otaknya saat ini bisa terwujud dalam sekali kedip.“Gavin sudah mempermalukan aku. Dia harus menerima pembalasan seribu kali lipat, balasanku yang kemarin tentu saja gak ada apa-apanya.”Felisha datang ke gedung tempat Rangga menghadiri rapat dengan pihak Pradipta pada sore hari. Ia sengaja tidak masuk ke dalam gedung karena tidak ingin keberadaannya diketahui Gavin ataupun orang-orang dari perusahaan Pradipta.Setelah memastikan mobilnya terparkir cukup jauh dari pintu utama, Felisha memilih menunggu di sebuah kafe yang berada tepat di seberang gedung. Dari tempat duduk dekat jendela, ia masih bisa melihat pintu keluar gedung tanpa harus menarik perhatian.Felisha memesan kopi, lalu sesekali memeriksa ponselnya sambil menunggu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Rangga terhadap foto Gavin dan Mentari. Ia juga belum memilik
Mia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Felisha dengan ragu.“Orang yang saya maksud itu Pak Rangga.”Felisha langsung terdiam. Nama itu tidak asing baginya. Ia pernah mendengar bahwa Rangga sempat bermasalah dengan Gavin setelah kejadian di restoran ketika mereka masih berada di Cikarang.“Rangga?” ulang Felisha untuk memastikan.Mia mengangguk pelan.“Tapi saya gak bilang Pak Rangga yang menyebarkan foto itu, Bu. Saya juga gak punya bukti apa-apa. Saya cuma merasa dia mungkin mampu melakukan sesuatu seperti itu.”“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”Mia menatap meja sebelum menjawab.“Pak Rangga memang pernah marah sama Pak Gavin. Waktu itu saya dengar sendiri beberapa orang membicarakan masalah mereka di kantor proyek. Setelah kejadian itu, sikap Pak Rangga juga berubah.”Felisha menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mencerna perkataan Mia.“Lalu apa hubungannya dengan foto itu?”“Saya juga gak tahu, Bu. Saya cuma merasa waktunya terlalu berdekatan
Felisha tertawa kecil di dalam kamarnya sambil terus menggulir layar ponsel. Meskipun talkshow yang dihadirinya sudah berlangsung sehari sebelumnya, potongan wawancaranya masih terus bermunculan di media sosial. Berbagai akun gosip mengunggah ulang pernyataannya, sementara komentar warganet semakin ramai membahas hubungan Gavin, Mentari, dan dirinya. Felisha merasa puas melihat semuanya.Ia kemudian membuka daftar kontak dan menelepon teman yang membantunya mendapatkan undangan talkshow tersebut.“Terima kasih, ya,” katanya begitu telepon tersambung. “Acara kemarin benar-benar membantu.”“Gimana? kamu puas?”“Puas sekali.”Felisha terkekeh sambil kembali melihat layar ponselnya. Ia tidak tahu siapa yang pertama kali menyebarkan foto Gavin dan Mentari, tetapi ia tidak terlalu peduli. Baginya, keadaan sudah memberi kesempatan untuk membalas semua penghinaan yang pernah diterimanya dari Gavin.Setelah percakapan itu berakhir, Felisha kembali bersandar di kepala ranjang. Senyumnya semakin
“Pak Gavin, ini barang-barang yang ditinggalkan Mbak Mentari.”Gavin mengangkat wajah dari dokumen di hadapannya. Sejak pagi ia mencoba menyelesaikan beberapa laporan proyek, meskipun pikirannya masih sesekali kembali pada pesan Arman tentang rekaman kapal pesiar.Pintu ruangannya terbuka dan Manager HRD masuk sambil membawa sebuah laptop perusahaan serta map berwarna hitam. Keduanya diletakkan di atas meja Gavin.Tatapan Gavin langsung tertuju pada laptop tersebut.“Ini laptopnya Mentari?”“Iya, Pak.”Manager HRD menarik kursi di depan meja, tetapi tidak langsung duduk.“Mbak Mentari datang pagi tadi. Cuma sebentar. Dia menyerahkan laptop ini sekaligus surat pengunduran dirinya.”Gavin mengalihkan pandangan ke map yang berada di samping laptop.“Mentari mengatakan sesuatu?”Gavin langsung menatap Manager HRD yang baru saja meletakkan laptop perusahaan milik Mentari dan sebuah map berisi dokumen pengunduran diri di atas meja kerjanya.“Dia hanya menyerahkan laptop dan surat pengundura







