LOGIN“Jangan bicara kayak orang yang kehilangan akal sehat, Mas!” seruku, tidak mengerti arah pikirannya sama sekali. “Apa lagi yang harus dipertahankan dari hubungan kita yang sudah serusak ini? Kita cuma akan saling menyakiti kalau memaksa bertahan!”Aku berusaha bangkit meski dengan kaki sedikit gemetar, tidak lagi peduli dengan telapak tangan yang lecet.“Nggak ada lagi cinta dan kepercayaan di antara kita. Semuanya sudah runtuh lama tanpa kita sadari, dan karena sekarang kita udah nggak bisa memperbaiki apa pun,” Aku menelan ludah sebelum berkata dengan nada final. “Kita harus berpisah.”Seno mendekat seperti beruang terluka, gerakannya begitu cepat hingga aku tidak sempat mundur atau lari. Tangannya mencengkeram rahangku dengan satu tangan, mengapit pipiku begitu keras hingga rasa sakit menjalar sampai ke gigi.“Sekali aku bilang tidak, ya tidak!” desisnya, tatapan itu begitu gelap hingga rasanya aku tidak mengenalinya lagi.Orang yang dulu pernah kucintai dengan seluruh hidupku, asl
“A-aku nggak ngerti maksud kamu,” jawab Seno sedikit terbata, mengalihkan pandangannya menuju air mancur di tengah taman.“Berhenti pura-pura, Mas! Aku udah tahu soal obat yang Friska buat khusus untuk kamu, juga kegiatan ranjang kalian. Wanita itu udah membocorkan semuanya,” tegasku, melangkah maju satu langkah.Seno masih tidak mau mengaku, kukuh mempertahankan rahasia yang sudah terbongkar sebegitu jelas. Bahkan, bukannya merasa takut atau bersalah ekspresinya justru penuh emosi hingga giginya bergemeretak.“Kamu sendiri, sudah berapa kali tidur dengan Bara Askara?” Dia balik menyerangku dengan pertanyaan balasan. “Pasti sekarang kamu udah nggak perawan lagi, kan? Bajingan itu pasti udah mengotori kamu!” hinanya dengan senyum miring.Aku meremas kain celanaku, menatapnya tanpa sedikit pun rasa gentar. Rupanya dia sudah tahu kedekatanku dengan Bara.“Aku tahu tadi malam kamu dibawa pergi sama dia dan setelahnya kamu menghilang semalaman. Kalian pasti sudah berbuat sesuatu, kan?” des
“Semua obrolan kita dan pengakuan kamu hari ini, akan jadi bukti yang menarik banget di sidang perceraian nanti,” ucapku, memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.Friska mendengus. “Tanpa rekaman itu pun, aku akan dengan senang hati memberikan kesaksian di pengadilan perceraian kalian. Kamu nggak perlu repot-repot begitu, Kak,” sahut Friska ketus.“Well, manusia itu sifatnya dinamis. Kita nggak tahu apa yang akan dilakukan atau dipikirkan orang lain di kemudian hari,” kataku santai, berbalik menuju pintu keluar.Aku mulai melangkah ke pintu itu dan membukanya, menoleh sejenak pada Friska yang berdiri menatapku. Setelah ketegangan di tubuh dan pikiranku menurun, baru aku baru sadar ruangannya punya bau khas parfum mahal bercampur antiseptik di detik terakhir pertemuan ini.“Terima kasih sudah merebut sampah yang selama ini sangat ingin ku buang, Dokter Friska. Nikmatilah laki-laki bekasanku itu.” Aku berkata cukup keras agar tidak hanya dia yang mendengarnya.Dan benar saja, orang-orang
“Tentu saja Kak Seno yang cerita. Dia bilang Kak Mia tidak lebih dari sekadar istri beban yang tidak berguna, dia belum membuang Kak Mia cuma karena belum siap mengungkap status kami.” Friska mengetuk pelan meja kerja dengan jarinya. “Tapi terima kasih ya, Kak. Karena kamu, hubungan kami terbuka lebih cepat.”Aku menatapnya dingin. “Kenapa kamu bisa begitu percaya diri sebagai selingkuhan, Dokter Friska? Kamu nggak takut Seno berubah pikiran dan lebih memilih istri sahnya ketimbang seorang gundik?” kataku tajam, sengaja memancing dengan kalimat yang frontal.Friska tertawa, kali ini lebih nyaring. “Selingkuhan? Nggak lama lagi statusku akan berubah, Kak Mia.” Dia berhenti sejenak, sengaja membiarkan jeda yang terasa berat menggantung di antara kami. Matanya berbinar penuh kemenangan.“Kamu akan segera dibuang, dan aku yang akan menggantikan posisi kamu sebagai Nyonya Handoko. Istri sah dari salah satu triliuner di negara ini.”Dia bangkit dari kursinya, tangannya perlahan mengelus per
Begitu masuk ke dalam klinik, petugas di meja resepsionis menatapku dengan mata menyipit tampak sedang berusaha mengenaliku. Detik berikutnya perempuan yang terlihat berumur sekitar tiga puluh itu tersentak pelan, lalu segera berdiri menghampiri, menghalangi jalanku dengan tangan terentang.“Maaf, Ibu tidak boleh masuk,” tegurnya tanpa basa-basi.Aku menatapnya sejenak, membaca sekilas nametag orang di hadapanku yang bernama ‘Nadia’.“Kenapa?” tanyaku singkat, sedikit mendongakkan dagu.“Karena Dokter Friska sedang tidak ada di tempat,” jawabnya tegas, wajah masamnya seakan mengira aku akan takut padanya.Aku melirik ke arah bangku di belakang petugas itu, setidaknya ada lima pasien yang duduk di sana sambil memegang nomor antrian, beberapa bahkan mengipasi diri mereka dengan map rekam medis.“Nggak ada di tempat?” kataku dengan nada mencibir. “Terus, siapa yang lagi periksa pasien-pasien ini?”Nadia gelagapan, matanya bergerak liar berusaha mencari alasan. “I-itu… sekarang ada Dokter
Satu sudut bibirku tersungging kecil mendengar tawarannya. Bukan karena setuju, tapi karena tahu betul Bara bukan sosok yang sebaik itu kalau sedang menghadapi orang lain. Sikap hangat dan lembut itu hanya dia tunjukkan pada orang-orang tertentu.Sebagai satu-satunya pewaris Askara Corp, Bara tidak mungkin berhasil mempertahankan kekuasaannya hingga saat ini jika dia tidak berhati sedingin es.Jika semua rencana balas dendam ini ku serahkan padanya, akan jadi seberingas apa dia nanti? Membayangkannya saja aku tidak mau.Ini bukan waktunya mengambil risiko dan memanfaatkan orang yang memang tidak seharusnya ku manfaatkan seperti objek. Bara terlalu berharga untuk itu.Aku menggeleng, berkata dengan nada lembut agar tidak terkesan meremehkan. “Kalau aku kabur sekarang, itu artinya aku adalah orang pengecut yang mengaku kalah dan bersembunyi di balik punggung orang yang lebih berkuasa. Aku nggak mau dianggap begitu, mau ditaruh di mana harga diriku?”Mataku beralih menuju pintu kaca balk







