Compartir

25. Akun Random

Autor: Shyneko
last update Fecha de publicación: 2026-07-08 21:41:46
“Tidak ada celah, kecuali kondisi impotennya itu,” ucapku pada diri sendiri.

Tuntutan tentangnya yang tidak bisa memberi nafkah batin pada istri akan jadi alibi yang cukup kuat untuk bercerai. Tapi konsekuensinya juga besar karena Seno tidak akan tinggal diam.

Belum lagi kalau keluarga Handoko juga ikut campur, aku belum punya kekuatan yang cukup untuk menghadapi itu sendirian.

Pikiran yang tidak ada habisnya ini membuatku mengacak rambut frustasi.

Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Shyneko
OMG welcome back kesayangan acu nani ... makasih buat komen2 di setiap bab nya ya...
goodnovel comment avatar
Nani Sore
ini sudah bikin penasaran karna satu² sudah mulai terungkap dan bikin aku yg baca ini bnyak spekulasi didalam pikiran ku tentang kejadian² dri tebakan ku sendiri ... tidak sabar buat next eps nya ...
goodnovel comment avatar
Nani Sore
tunggu² serius ini Friska agak kaget sih aku antara mau bertanya motif selingkuh nya karna apa nih harta atau apa kan secara burung maaf nih agak susah trus apa yakkk yg bikin Friska ini nih ... atau selama ini Seno manipulatif ke Mia dengan dalih kelainan nya untuk bisa ehem² diluar sana,,?
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   59. Menyusun Kembali

    Setelah pertemuan yang dramatis dengan Ibu Seno, aku memutuskan pergi ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat, lalu langsung merebahkan diri di ranjang. Perjalanan belasan jam dan respon penghuni mansion Handoko yang tidak ramah cukup menguras tenagaku.Aku meraih ponsel dari tas, mencari kontak yang kusimpan dengan nama ‘mr.B’, demi menjaga kerahasiaan dari siapa pun yang mungkin saja suatu hari diam-diam mengecek ponselku.Dengan santai aku menekan tombol panggilan video, dan tidak sampai dering ketiga layarku menyala menampilkan wajah Bara yang tersenyum tampan.“Hai, aku udah sampai nih,” sapaku, ikut tersenyum.“Syukurlah, pasti capek ya perjalanan jauh. Istirahat dulu, gih,” balasnya yang terlihat sedang duduk di ruang tengah shared house yang begitu familiar.“MIA?!” Jisoo tiba-tiba muncul di belakang bahu Bara, menyongsong wajahnya masuk ke frame. “Eh! Beneran Mia. Hai! Gimana perjalanannya? Lancar?” tanyanya heboh.“Woy! Gantian dong!” Jiyeon menyusul dan ikut mendorong Bara,

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   58. Kembali ke Jakarta

    "Para penumpang yang terhormat, dari ruang kemudi, saya Kapten James. Kita baru saja memulai proses penurunan ketinggian menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Perkiraan waktu mendarat kita adalah dua puluh menit dari sekarang. Cuaca di Jakarta dilaporkan cerah berawan dengan suhu udara 28 derajat Celsius. Atas nama seluruh kru, terima kasih telah terbang bersama kami. Silakan nikmati sisa perjalanan ini.”Aku membuka mata perlahan saat suara pengumuman pilot menggema dari pengeras suara pesawat. Pipiku basah tanpa sadar, air mata menetes diam-diam saat aku tertidur. Dalam mimpiku, kenangan menyakitkan tentang masa laluku dan Bara tergambar dengan jelas.Ku usap air mata di pipi, menatap pantulan diriku sendiri di jendela pesawat yang menyajikan pemandangan indah.Mengingat kilas balik itu membuatku sadar bahwa selama ini aku bukanlah orang yang lemah. Mia yang asli adalah wanita berani, yang melakukan apa pun sesuai kemauannya sendiri tanpa takut pada siapa pun.Entah sejak kap

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   57. Happy Ending?

    “Aku nggak akan berubah, aku bisa janjiin itu kalau kamu mau,” ucapku berusaha meyakinkannya, memecah keheningan yang menggantung di antara kami.Jujur aku sendiri tidak tahu bagaimana meyakinkan Bara yang ternyata selama ini menyimpan trauma, kata-kata saja tentu tidak cukup untuk meyakinkannya.Tapi semuanya terasa buntu, hanya waktu yang bisa membuktikan kalau janjiku padanya benar.“Hatiku nggak pernah pergi atau berpindah dari kamu, Bara. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,” lanjutku bersungguh-sungguh.“Tapi pada kenyataannya, selama beberapa bulan ini kamu berubah, Mia,” balasnya, napasnya tercekat seperti menelan pil pahit.Kalimat itu menghantamku telak bagai sebuah tamparan, tidak ku sangka semua usahaku selama ini yang ku anggap sebagai pengorbanan cinta, malah berakhir jadi bumerang untuk diriku sendiri.Aku menjauh untuk melindunginya, tapi dengan ironis keputusan itu malah menjadi bukti bahwa perasaanku memang bisa berubah kapan pun. Tanpa sadar aku sudah men

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   56. Tidak Bisa Mundur

    Aku menyodorkan gagang pisau ke tangan Bara, memaksanya menggenggam benda dingin itu meski dia menggeleng berontak.“Kamu tahu? Saat aku dengar kecelakaanmu hari itu, jantungku rasanya berhenti, entah berapa lama,” kataku dingin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.“Mia, taruh benda ini!” seru Bara panik, tangannya yang ku paksa menggenggam pisau itu gemetar hebat. Jika kondisinya sedang sehat mungkin dia akan bisa melepaskan diri dengan mudah.Tapi kali ini dia tidak berdaya di bawah tanganku, yang menahan jari-jarinya dengan seluruh tenaga.Kemudian, aku mengarahkan ujung pisau yang masih dalam genggaman tangan kami itu menuju leherku sendiri.“Mia!” Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang meninggi, tapi aku tidak peduli dan terus mendorong pisau itu semakin mendekat.“Berhenti, Mia. Please! Jangan begini.” Suaranya lirih memohon sambil mencoba menarik tangan menjauh.Tapi aku lebih dulu mengumpulkan seluruh kekuatan, lalu dengan satu tarikan kuat memaksa tangannya bergera

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   55. Konfrontasi

    Aku memutuskan pergi ke mansion sendirian esok harinya setelah menerima telepon dari Pak Gani, dan sialnya sepanjang perjalanan dadaku dipenuhi rasa campur aduk yang membuat mual.Rindu, cemas, juga tekad bercampur tidak karuan, membuat langkahku terasa berat tapi buru-buru secara bersamaan.Waktu terasa merangkak meski aslinya hanya dua puluh menit, hingga akhirnya aku tiba di depan gerbang besar mansion, lalu membayar uang pada ojek online yang mengantarku.Aku mendongak mempersiapkan diri, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.“Nona Mia?” Salah satu pelayan yang mengenaliku langsung tersenyum lebar, menyambut kedatanganku sambil menundukkan sedikit kepalanya.“Astaga! Nona kemana aja selama ini? Tuan Muda pasti senang banget lihat kedatangan Nona Mia hari ini.” Satu lagi pelayan mendatangiku, membuatku hanya bisa tersenyum tipis, tidak sanggup bicara banyak karena merasa canggung.Pandanganku mengedar, tidak menemukan sosok Bibi Sona yang menghardikku dua bulan yang lalu.

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   54. Dia Pulang

    “Eh! Aku dengar Kak Seno nembak kamu, ya?” Helen menyenggol lenganku, membuyarkan fokusku yang sedang menonton permainan basket di tribun penonton.“Hm? Tahu dari mana?” tanyaku sambil menyedot es cekek di tangan.“Oh! Jadi itu beneran?" pekiknya sambil menutup mulut. "Wah, Mia! Ini gila, sih. Kak Seno itu kan incaran banyak cewek di fakultas kita!” Helen bertepuk tangan heboh, buru-buru aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.“Ssstt! Pelan-pelan dong! Banyak orang di sini,” bisikku lalu mengedarkan pandangan, beberapa orang di sekitar kami sudah menoleh.Helen menepis tanganku, memanyunkan bibir. “Ngapain malu gitu, sih? Kalau aku jadi kamu, dengan bangganya aku bakal bilang ke semua orang kalau Kak Seno yang ganteng itu minta aku jadi pacar dia.”“Itu kan kamu. Aku nggak suka jadi pusat perhatian kayak gitu.” Aku mendengus, mengelap tanganku yang basah kena keringat di wajah Helen.Dia menyeringai, lalu menyenggolku lagi dengan bahunya. “Terus, kamu jawab apa?”“Belum j

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status