MasukTidur di samping Seno terasa sangat mencekam hingga rasanya aku harus belajar tidur dengan satu mata terbuka. Tubuhku menolak bekerja sama meski sudah kuajak negosiasi berkali-kali.
Setiap menutup mata dan mulai terlelap, kejadian di hari kematianku akan kembali terputar otomatis seperti kaset film rusak. Dan karenanya, aku akan terjaga semalaman.
Lingkar hitam di bawah mataku juga semakin dalam setiap harinya. Wajahku pucat, bahkan kehilangan nafsu makan.
“Mia, aku lihat akhir-akhir ini kamu beda banget. Kamu sakit?” tanya suamiku itu dengan tatapan khawatir.
Aku menggeleng. “Aku cuma kurang tidur.”
“Kalau gitu.…” Dia mendekat, berusaha menempelkan tubuh padaku. “Ayo bermain malam ini sampai capek agar kamu bisa tidur.”
Seno mulai menyentuhku pelan, mendaratkan ciuman di pipi dan beberapa titik lainnya di wajahku.
Saat ini dia bukan suami yang jahat. Lebih tepatnya belum. Saat ini dia hanya suami normal yang ingin bercumbu dengan istrinya dan karena itulah aku tidak punya alasan untuk menolak.
Tapi demi Tuhan, rasanya sangat menyiksa.
Aku memejamkan mata, berharap ini semua cepat berakhir. Namun, tangannya mulai menjelajahi tubuhku, berusaha membuka piyama yang kukenakan.
Dan cukup.
Pada akhirnya aku tidak tahan lagi, mendorongnya menjauh. Beringsut menciptakan jarak diantara kami.
“Maaf, Mas.”
Tidak peduli seberapa ringan dan normalnya perlakuan Seno, sesuatu di dalam tubuhku langsung menarik alarm bahaya, sekaligus seolah berteriak memberontak.
“Mia?”
Seno menatapku frustasi, sedang aku menatapnya seperti melihat penjahat.
“Maaf.”
Aku berdiri dan tidak berkata apapun lagi, berjalan menuju kamar mandi untuk menenangkan diri sejenak.
Entah bagaimana ekspresi Seno sekarang, aku tidak mau menoleh ke belakang.
Setelah kejadian itu dan beberapa malam setelahnya, ibu Seno tidak butuh waktu lama untuk mulai berkomentar.
“Aku tahu kamu memang aneh, tapi semuanya lebih parah belakangan ini.” Dia menyampaikan itu di meja makan di suatu pagi dengan nada menghinanya yang sudah ku hapal di luar kepala. “Teriak-teriak sendiri, linglung, bahkan paling parah tidak mau disentuh suami sendiri. Otakmu udah gak beres nampaknya.”
“Aku baik-baik aja, Bu,” jawabku singkat.
“Kamu pikir aku bodoh nggak bisa bedain orang normal dengan yang sakit mental? Nggak usah sok sehat kamu!” sindir wanita tua itu sinis.
Pelayan datang menghidangkan dua cangkir kopi, masing-masing untuk Seno dan ibunya. Hal yang memang setiap hari dia lakukan.
Aku menatap dua cangkir itu dan pelayan yang mengidangkannya.
Pelayan sama yang enam bulan lagi melemparkan obat ke wajahku tanpa sedikitpun rasa kasihan.
“Kopiku?” tanyaku pelan, ada gejolak yang sedang ku tahan.
“Eh? Kenapa tanya aku? Buat saja sendiri sana dasar sial,” balas pelayan yang memang sangat dekat dengan mertuaku tersebut.
Mendengar itu, entah karena memang sudah tidak waras atau karena ingat perlakuannya enam bulan kedepan, aku melakukan sesuatu yang bagi siapapun saat ini tidak akan pernah seorang Mia lakukan.
Mataku menyala tajam, tanpa aba-aba langsung meraih rambut pelayan itu dan menghantamkan kepalanya ke meja makan.
DUAKK!
Semua orang di ruangan itu terkejut bukan main, terutama Seno dan ibunya.
Darah menetes dari pelipis pelayan itu saat dia mengangkat kepala.
“Seorang anjing yang baik tidak menggonggong pada majikannya kamu tahu?” ucapku dingin sambil menatap tajam matanya.
“M-maafkan saya Nyonya Mia, saya akan buatkan kopi anda segera.”
Tanpa peduli pelayan yang kesakitan dan ketakutan itu, aku berdiri meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apapun. Situasi kacau dan aku tidak mau membuatnya lebih buruk karena sudah mulai kehilangan kendali.
“Mia, mau kemana kamu!” Seno berteriak memanggil.
Namun, ibunya berusaha menahan agar Seno tidak mengejarku. “Udah biarin aja dia Seno, kamu nggak lihat gimana seremnya dia tadi? Mia beneran udah gila!”
Aku berjalan cepat meninggalkan rumah, memesan taksi menuju suatu tempat sambil menelpon seseorang untuk mengatur janji temu.
Sebelum semuanya semakin buruk, aku harus secepatnya mencari cara agar bisa berpisah dengan Seno.
***
Seseorang yang kuhubungi adalah pengacara yang cukup terkenal di media sosial.
Namanya pak Hendra, usianya sekitar lima puluh dengan wajah yang tegas juga nada bicara yang serius.
Aku menjelaskan situasiku sebaik mungkin dengan kata-kata yang kupilih dengan hati-hati.
Penyakit impoten Seno yang menjadi masalah utama belum bisa kuberi tahu, karena aku takut Seno akan lebih dulu membunuhku sebelum sempat menghadiri sidang perceraian, memaksaku untuk mencari alasan lain.
Pak Hendra mendengarkan, mencatat beberapa hal kemudian menatapku sambil membenarkan sedikit kacamatanya yang melorot.
“Untuk mengajukan perceraian dengan posisi yang kuat, ibu butuh bukti kekerasan rumah tangga, perselingkuhan, atau penelantaran dengan dokumentasi yang cukup,” jelasnya dengan detail.
“Ah! Kekerasan. Iya, ada,” kataku sedikit buru-buru.
“Kapan terjadinya?”
Aku membuka mulut lalu menutupnya kembali, karena jawabannya adalah belum terjadi.
Kekerasan itu terjadi enam bulan lagi.
Tapi aku tidak bisa mengatakan itu. Jelas tidak akan ada yang percaya.
“Belum ada dokumentasi, tapi ada potensi,” kataku akhirnya.
“Potensi tidak cukup untuk naik ke pengadilan, Bu Mia. Saya mengerti situasinya tidak mudah. Tapi tanpa bukti konkret, kita akan kesulitan menghadapi kuasa hukum keluarga Handoko.”
Aku mengangguk dengan wajah kecewa.
“Hubungi saya kalau sudah ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti konkret, mau itu foto, rekaman suara, video, apapun itu, maka saya akan siap bantu,” kata Pak Hendra lagi.
Setelah beberapa menit aku keluar dari kafe dengan wajah frustasi.
Bukti.
Kemana aku bisa menemukannya ketika hal yang bisa membuat kami bercerai, bahkan mungkin cukup kuat untuk menyeret Seno dan ibunya ke penjara belum terjadi di masa sekarang?
Aku duduk di salah satu kursi panjang di taman dekat kafe, duduk di sini jauh lebih nyaman ketimbang pulang ke rumah.
Jangankan mencari bukti konkret, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih saat berada satu atap dengan Seno dan ibunya. Pikiranku kacau dan kehilangan kendali bahkan terkena serangan panik setiap kali Seno berusaha menyentuhku.
Nampaknya pergi jauh adalah jawaban yang tepat. Pergi ke tempat di mana setidaknya aku bisa merasa tenang dan berpikir jernih.
Tiba-tiba, ada tempat yang terlintas di kepalaku. Tempat yang sudah jadi destinasi impianku sejak lama.
Masalahnya sekarang adalah uang.
Tempat yang ingin kudatangi memerlukan biaya yang cukup banyak, dan saldo di rekeningku sekarang jauh dari kata cukup.
Setelah berpikir cukup lama, aku akhirnya teringat sesuatu.
“Mahar?”
Tiga tahun menikah dan mahar yang seharusnya diserahkan saat akad tidak pernah benar-benar diberikan padaku. Selama ini mahar itu secara praktis masih diurus oleh pengurus keuangan keluarga Handoko.
Aku mengambil ponsel dan mencari nomor yang sudah lama tidak kuhubungi.
“Halo, Bu Mia?” suara di seberang terdengar hati-hati. “Tumben ibu menelpon. Ada perlu apa?”
“Pak Sugeng saya mau mengambil mahar yang selama tiga tahun ini belum diberikan pada saya sepeserpun. Tolong dicairkan,” kataku tanpa basa-basi.
Hening panjang.
“Bu Mia, ini hal serius yang perlu koordinasi dengan Ibu terlebih dahulu,” katanya yang membuat keningku mengkerut.
“Ibu siapa? Saya nyonya rumah dan istri sah Seno Handoko. Mahar itu hak sah saya secara hukum.” Aku berusaha tidak membiarkan emosiku mengambil alih.
Setidaknya lawan bicaraku tahu, aku sedang dalam kondisi yang tidak akan segan-segan jika dia tidak melakukan permintaanku.
“Saya mengerti, tapi-“
“Kalau pak Sugeng tidak bisa memproses ini, saya akan menghubungi pengacara dan menempuh jalur hukum. Saya yakin pak Sugeng tahu itu akan sangat merepotkan untuk semua pihak, kan?”
Kembali hening, namun kali ini pak Sugeng nampak sedang menimbang keputusan.
“Beri saya waktu lima hari kerja, Bu,” pintanya menawar.
“Tiga,” potongku cepat.
“Baik, tiga hari.” Pak Sugeng menghela napas di seberang telpon.
Dan benar saja, uang itu masuk tepat di hari ketiga saat aku mengecek saldo di ponsel. Uang yang bagi keluarga Handoko tidak ada apa-apanya namun cukup untuk pelarianku selama beberapa minggu.
Aku mulai mengecek jadwal Seno diam-diam, dan beruntungnya ada perjalanan bisnis ke Singapura selama tiga hari dalam waktu dekat ini, juga jadwal padat lainnya yang tidak akan memberinya banyak waktu untuk mencari kabar istrinya setiap waktu.
Itu sudah cukup.
Aku memesan tiket lewat online, paspor dan visa sudah selesai ku urus kemarin, pun tempat tinggal sederhana yang sudah ku booking jauh-jauh hari.
Destinasi tujuan tertulis jelas di tiket keberangkatan.
Lisbon, Portugal.
Tepat di hari Seno berangkat perjalanan bisnis ke Singapura aku mengantarnya ke pintu depan, ibu Seno juga berdiri di sana sedikit menjaga jarak denganku.
“Aku berangkat dulu, Mia. Semoga setelah aku pulang nanti kamu sudah bisa mengontrol diri dan memperbaiki kelakuanmu itu.”
Aku tidak merespons.
Setelah berpamitan dengan ibunya dan pergi dengan supir pribadi, aku dan ibu Seno berbalik masuk ke rumah.
“Hari ini ibu ada acara arisan rutin, kamu diam-diam di rumah dan jangan bikin masalah!”
“Iya, Bu,” jawabku singkat.
Semua berjalan lancar tanpa ada yang tahu setelah rumah sepi, diam-diam aku mengeluarkan koper yang sudah ku packing dari dua hari yang lalu.
Aku berdiri di depan pintu kamar satu detik. Tidak ada yang akan kurindukan di sini.
Taksi sudah menunggu di ujung jalan, Jakarta pagi itu berdebu dan panas seperti biasa, perjalananku yang sesungguhnya dimulai pukul enam lewat lima belas tepat saat pesawat Jakarta – Lisbon mengudara.
Seno mungkin akan mengetahui ketidakhadiranku besok pagi dari Singapura, pun ibu Seno akan menyadarinya malam ini saat pulang dari arisan.
Tapi itu cukup untuk sampai di tempat yang jauh dan meredakan isi kepala yang sudah terlalu lama tidak bisa berpikir jernih karena berada di bawah atap yang salah.
“Lisbon dulu, sisanya nanti,” kataku ke diri sendiri.
Setelah pertemuan yang dramatis dengan Ibu Seno, aku memutuskan pergi ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat, lalu langsung merebahkan diri di ranjang. Perjalanan belasan jam dan respon penghuni mansion Handoko yang tidak ramah cukup menguras tenagaku.Aku meraih ponsel dari tas, mencari kontak yang kusimpan dengan nama ‘mr.B’, demi menjaga kerahasiaan dari siapa pun yang mungkin saja suatu hari diam-diam mengecek ponselku.Dengan santai aku menekan tombol panggilan video, dan tidak sampai dering ketiga layarku menyala menampilkan wajah Bara yang tersenyum tampan.“Hai, aku udah sampai nih,” sapaku, ikut tersenyum.“Syukurlah, pasti capek ya perjalanan jauh. Istirahat dulu, gih,” balasnya yang terlihat sedang duduk di ruang tengah shared house yang begitu familiar.“MIA?!” Jisoo tiba-tiba muncul di belakang bahu Bara, menyongsong wajahnya masuk ke frame. “Eh! Beneran Mia. Hai! Gimana perjalanannya? Lancar?” tanyanya heboh.“Woy! Gantian dong!” Jiyeon menyusul dan ikut mendorong Bara,
"Para penumpang yang terhormat, dari ruang kemudi, saya Kapten James. Kita baru saja memulai proses penurunan ketinggian menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Perkiraan waktu mendarat kita adalah dua puluh menit dari sekarang. Cuaca di Jakarta dilaporkan cerah berawan dengan suhu udara 28 derajat Celsius. Atas nama seluruh kru, terima kasih telah terbang bersama kami. Silakan nikmati sisa perjalanan ini.”Aku membuka mata perlahan saat suara pengumuman pilot menggema dari pengeras suara pesawat. Pipiku basah tanpa sadar, air mata menetes diam-diam saat aku tertidur. Dalam mimpiku, kenangan menyakitkan tentang masa laluku dan Bara tergambar dengan jelas.Ku usap air mata di pipi, menatap pantulan diriku sendiri di jendela pesawat yang menyajikan pemandangan indah.Mengingat kilas balik itu membuatku sadar bahwa selama ini aku bukanlah orang yang lemah. Mia yang asli adalah wanita berani, yang melakukan apa pun sesuai kemauannya sendiri tanpa takut pada siapa pun.Entah sejak kap
“Aku nggak akan berubah, aku bisa janjiin itu kalau kamu mau,” ucapku berusaha meyakinkannya, memecah keheningan yang menggantung di antara kami.Jujur aku sendiri tidak tahu bagaimana meyakinkan Bara yang ternyata selama ini menyimpan trauma, kata-kata saja tentu tidak cukup untuk meyakinkannya.Tapi semuanya terasa buntu, hanya waktu yang bisa membuktikan kalau janjiku padanya benar.“Hatiku nggak pernah pergi atau berpindah dari kamu, Bara. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,” lanjutku bersungguh-sungguh.“Tapi pada kenyataannya, selama beberapa bulan ini kamu berubah, Mia,” balasnya, napasnya tercekat seperti menelan pil pahit.Kalimat itu menghantamku telak bagai sebuah tamparan, tidak ku sangka semua usahaku selama ini yang ku anggap sebagai pengorbanan cinta, malah berakhir jadi bumerang untuk diriku sendiri.Aku menjauh untuk melindunginya, tapi dengan ironis keputusan itu malah menjadi bukti bahwa perasaanku memang bisa berubah kapan pun. Tanpa sadar aku sudah men
Aku menyodorkan gagang pisau ke tangan Bara, memaksanya menggenggam benda dingin itu meski dia menggeleng berontak.“Kamu tahu? Saat aku dengar kecelakaanmu hari itu, jantungku rasanya berhenti, entah berapa lama,” kataku dingin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.“Mia, taruh benda ini!” seru Bara panik, tangannya yang ku paksa menggenggam pisau itu gemetar hebat. Jika kondisinya sedang sehat mungkin dia akan bisa melepaskan diri dengan mudah.Tapi kali ini dia tidak berdaya di bawah tanganku, yang menahan jari-jarinya dengan seluruh tenaga.Kemudian, aku mengarahkan ujung pisau yang masih dalam genggaman tangan kami itu menuju leherku sendiri.“Mia!” Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang meninggi, tapi aku tidak peduli dan terus mendorong pisau itu semakin mendekat.“Berhenti, Mia. Please! Jangan begini.” Suaranya lirih memohon sambil mencoba menarik tangan menjauh.Tapi aku lebih dulu mengumpulkan seluruh kekuatan, lalu dengan satu tarikan kuat memaksa tangannya bergera
Aku memutuskan pergi ke mansion sendirian esok harinya setelah menerima telepon dari Pak Gani, dan sialnya sepanjang perjalanan dadaku dipenuhi rasa campur aduk yang membuat mual.Rindu, cemas, juga tekad bercampur tidak karuan, membuat langkahku terasa berat tapi buru-buru secara bersamaan.Waktu terasa merangkak meski aslinya hanya dua puluh menit, hingga akhirnya aku tiba di depan gerbang besar mansion, lalu membayar uang pada ojek online yang mengantarku.Aku mendongak mempersiapkan diri, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.“Nona Mia?” Salah satu pelayan yang mengenaliku langsung tersenyum lebar, menyambut kedatanganku sambil menundukkan sedikit kepalanya.“Astaga! Nona kemana aja selama ini? Tuan Muda pasti senang banget lihat kedatangan Nona Mia hari ini.” Satu lagi pelayan mendatangiku, membuatku hanya bisa tersenyum tipis, tidak sanggup bicara banyak karena merasa canggung.Pandanganku mengedar, tidak menemukan sosok Bibi Sona yang menghardikku dua bulan yang lalu.
“Eh! Aku dengar Kak Seno nembak kamu, ya?” Helen menyenggol lenganku, membuyarkan fokusku yang sedang menonton permainan basket di tribun penonton.“Hm? Tahu dari mana?” tanyaku sambil menyedot es cekek di tangan.“Oh! Jadi itu beneran?" pekiknya sambil menutup mulut. "Wah, Mia! Ini gila, sih. Kak Seno itu kan incaran banyak cewek di fakultas kita!” Helen bertepuk tangan heboh, buru-buru aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.“Ssstt! Pelan-pelan dong! Banyak orang di sini,” bisikku lalu mengedarkan pandangan, beberapa orang di sekitar kami sudah menoleh.Helen menepis tanganku, memanyunkan bibir. “Ngapain malu gitu, sih? Kalau aku jadi kamu, dengan bangganya aku bakal bilang ke semua orang kalau Kak Seno yang ganteng itu minta aku jadi pacar dia.”“Itu kan kamu. Aku nggak suka jadi pusat perhatian kayak gitu.” Aku mendengus, mengelap tanganku yang basah kena keringat di wajah Helen.Dia menyeringai, lalu menyenggolku lagi dengan bahunya. “Terus, kamu jawab apa?”“Belum j







