共有

4. Rencana Pelarian

作者: Shyneko
last update 公開日: 2026-06-22 15:43:24

Tidur di samping Seno terasa sangat mencekam hingga rasanya aku harus belajar tidur dengan satu mata terbuka. Tubuhku menolak bekerja sama meski sudah kuajak negosiasi berkali-kali.

Setiap menutup mata dan mulai terlelap, kejadian di hari kematianku akan kembali terputar otomatis seperti kaset film rusak. Dan karenanya, aku akan terjaga semalaman.

Lingkar hitam di bawah mataku juga semakin dalam setiap harinya. Wajahku pucat, bahkan kehilangan nafsu makan.

“Mia, aku lihat akhir-akhir ini kamu beda banget. Kamu sakit?” tanya suamiku itu dengan tatapan khawatir.

Aku menggeleng. “Aku cuma kurang tidur.”

“Kalau gitu.…” Dia mendekat, berusaha menempelkan tubuh padaku. “Ayo bermain malam ini sampai capek agar kamu bisa tidur.”

Seno mulai menyentuhku pelan, mendaratkan ciuman di pipi dan beberapa titik lainnya di wajahku.

Saat ini dia bukan suami yang jahat. Lebih tepatnya belum. Saat ini dia hanya suami normal yang ingin bercumbu dengan istrinya dan karena itulah aku tidak punya alasan untuk menolak.

Tapi demi Tuhan, rasanya sangat menyiksa.

Aku memejamkan mata, berharap ini semua cepat berakhir. Namun, tangannya mulai menjelajahi tubuhku, berusaha membuka piyama yang kukenakan.

Dan cukup.

Pada akhirnya aku tidak tahan lagi, mendorongnya menjauh. Beringsut menciptakan jarak diantara kami.

“Maaf, Mas.”

Tidak peduli seberapa ringan dan normalnya perlakuan Seno, sesuatu di dalam tubuhku langsung menarik alarm bahaya, sekaligus seolah berteriak memberontak.

“Mia?”

Seno menatapku frustasi, sedang aku menatapnya seperti melihat penjahat.

“Maaf.”

Aku berdiri dan tidak berkata apapun lagi, berjalan menuju kamar mandi untuk menenangkan diri sejenak.

Entah bagaimana ekspresi Seno sekarang, aku tidak mau menoleh ke belakang.

Setelah kejadian itu dan beberapa malam setelahnya, ibu Seno tidak butuh waktu lama untuk mulai berkomentar.

“Aku tahu kamu memang aneh, tapi semuanya lebih parah belakangan ini.” Dia menyampaikan itu di meja makan di suatu pagi dengan nada menghinanya yang sudah ku hapal di luar kepala. “Teriak-teriak sendiri, linglung, bahkan paling parah tidak mau disentuh suami sendiri. Otakmu udah gak beres nampaknya.”

“Aku baik-baik aja, Bu,” jawabku singkat.

“Kamu pikir aku bodoh nggak bisa bedain orang normal dengan yang sakit mental? Nggak usah sok sehat kamu!” sindir wanita tua itu sinis.

Pelayan datang menghidangkan dua cangkir kopi, masing-masing untuk Seno dan ibunya. Hal yang memang setiap hari dia lakukan.

Aku menatap dua cangkir itu dan pelayan yang mengidangkannya.

Pelayan sama yang enam bulan lagi melemparkan obat ke wajahku tanpa sedikitpun rasa kasihan.

“Kopiku?” tanyaku pelan, ada gejolak yang sedang ku tahan.

“Eh? Kenapa tanya aku? Buat saja sendiri sana dasar sial,” balas pelayan yang memang sangat dekat dengan mertuaku tersebut.

Mendengar itu, entah karena memang sudah tidak waras atau karena ingat perlakuannya enam bulan kedepan, aku melakukan sesuatu yang bagi siapapun saat ini tidak akan pernah seorang Mia lakukan.

Mataku menyala tajam, tanpa aba-aba langsung meraih rambut pelayan itu dan menghantamkan kepalanya ke meja makan.

DUAKK!

Semua orang di ruangan itu terkejut bukan main, terutama Seno dan ibunya.

Darah menetes dari pelipis pelayan itu saat dia mengangkat kepala.

“Seorang anjing yang baik tidak menggonggong pada majikannya kamu tahu?” ucapku dingin sambil menatap tajam matanya.

“M-maafkan saya Nyonya Mia, saya akan buatkan kopi anda segera.”

Tanpa peduli pelayan yang kesakitan dan ketakutan itu, aku berdiri meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apapun. Situasi kacau dan aku tidak mau membuatnya lebih buruk karena sudah mulai kehilangan kendali.

“Mia, mau kemana kamu!” Seno berteriak memanggil.

Namun, ibunya berusaha menahan agar Seno tidak mengejarku. “Udah biarin aja dia Seno, kamu nggak lihat gimana seremnya dia tadi? Mia beneran udah gila!”

Aku berjalan cepat meninggalkan rumah, memesan taksi menuju suatu tempat sambil menelpon seseorang untuk mengatur janji temu.

Sebelum semuanya semakin buruk, aku harus secepatnya mencari cara agar bisa berpisah dengan Seno.

***

Seseorang yang kuhubungi adalah pengacara yang cukup terkenal di media sosial.

Namanya pak Hendra, usianya sekitar lima puluh dengan wajah yang tegas juga nada bicara yang serius.

Aku menjelaskan situasiku sebaik mungkin dengan kata-kata yang kupilih dengan hati-hati.

Penyakit impoten Seno yang menjadi masalah utama belum bisa kuberi tahu, karena aku takut Seno akan lebih dulu membunuhku sebelum sempat menghadiri sidang perceraian, memaksaku untuk mencari alasan lain.

Pak Hendra mendengarkan, mencatat beberapa hal kemudian menatapku sambil membenarkan sedikit kacamatanya yang melorot.

“Untuk mengajukan perceraian dengan posisi yang kuat, ibu butuh bukti kekerasan rumah tangga, perselingkuhan, atau penelantaran dengan dokumentasi yang cukup,” jelasnya dengan detail.

“Ah! Kekerasan. Iya, ada,” kataku sedikit buru-buru.

“Kapan terjadinya?”

Aku membuka mulut lalu menutupnya kembali, karena jawabannya adalah belum terjadi.

Kekerasan itu terjadi enam bulan lagi.

Tapi aku tidak bisa mengatakan itu. Jelas tidak akan ada yang percaya.

“Belum ada dokumentasi, tapi ada potensi,” kataku akhirnya.

“Potensi tidak cukup untuk naik ke pengadilan, Bu Mia. Saya mengerti situasinya tidak mudah. Tapi tanpa bukti konkret, kita akan kesulitan menghadapi kuasa hukum keluarga Handoko.”

Aku mengangguk dengan wajah kecewa.

“Hubungi saya kalau sudah ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti konkret, mau itu foto, rekaman suara, video, apapun itu, maka saya akan siap bantu,” kata Pak Hendra lagi.

Setelah beberapa menit aku keluar dari kafe dengan wajah frustasi.

Bukti.

Kemana aku bisa menemukannya ketika hal yang bisa membuat kami bercerai, bahkan mungkin cukup kuat untuk menyeret Seno dan ibunya ke penjara belum terjadi di masa sekarang?

Aku duduk di salah satu kursi panjang di taman dekat kafe, duduk di sini jauh lebih nyaman ketimbang pulang ke rumah.

Jangankan mencari bukti konkret, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih saat berada satu atap dengan Seno dan ibunya. Pikiranku kacau dan kehilangan kendali bahkan terkena serangan panik setiap kali Seno berusaha menyentuhku.

Nampaknya pergi jauh adalah jawaban yang tepat. Pergi ke tempat di mana setidaknya aku bisa merasa tenang dan berpikir jernih.

Tiba-tiba, ada tempat yang terlintas di kepalaku. Tempat yang sudah jadi destinasi impianku sejak lama.

Masalahnya sekarang adalah uang.

Tempat yang ingin kudatangi memerlukan biaya yang cukup banyak, dan saldo di rekeningku sekarang jauh dari kata cukup.

Setelah berpikir cukup lama, aku akhirnya teringat sesuatu.

“Mahar?”

Tiga tahun menikah dan mahar yang seharusnya diserahkan saat akad tidak pernah benar-benar diberikan padaku. Selama ini mahar itu secara praktis masih diurus oleh pengurus keuangan keluarga Handoko.

Aku mengambil ponsel dan mencari nomor yang sudah lama tidak kuhubungi.

“Halo, Bu Mia?” suara di seberang terdengar hati-hati. “Tumben ibu menelpon. Ada perlu apa?”

“Pak Sugeng saya mau mengambil mahar yang selama tiga tahun ini belum diberikan pada saya sepeserpun. Tolong dicairkan,” kataku tanpa basa-basi.

Hening panjang.

“Bu Mia, ini hal serius yang perlu koordinasi dengan Ibu terlebih dahulu,” katanya yang membuat keningku mengkerut.

“Ibu siapa? Saya nyonya rumah dan istri sah Seno Handoko. Mahar itu hak sah saya secara hukum.” Aku berusaha tidak membiarkan emosiku mengambil alih.

Setidaknya lawan bicaraku tahu, aku sedang dalam kondisi yang tidak akan segan-segan jika dia tidak melakukan permintaanku.

“Saya mengerti, tapi-“

“Kalau pak Sugeng tidak bisa memproses ini, saya akan menghubungi pengacara dan menempuh jalur hukum. Saya yakin pak Sugeng tahu itu akan sangat merepotkan untuk semua pihak, kan?”

Kembali hening, namun kali ini pak Sugeng nampak sedang menimbang keputusan.

“Beri saya waktu lima hari kerja, Bu,” pintanya menawar.

“Tiga,” potongku cepat.

“Baik, tiga hari.” Pak Sugeng menghela napas di seberang telpon.

Dan benar saja, uang itu masuk tepat di hari ketiga saat aku mengecek saldo di ponsel. Uang yang bagi keluarga Handoko tidak ada apa-apanya namun cukup untuk pelarianku selama beberapa minggu.

Aku mulai mengecek jadwal Seno diam-diam, dan beruntungnya ada perjalanan bisnis ke Singapura selama tiga hari dalam waktu dekat ini, juga jadwal padat lainnya yang tidak akan memberinya banyak waktu untuk mencari kabar istrinya setiap waktu.

Itu sudah cukup.

Aku memesan tiket lewat online, paspor dan visa sudah selesai ku urus kemarin, pun tempat tinggal sederhana yang sudah ku booking jauh-jauh hari.

Destinasi tujuan tertulis jelas di tiket keberangkatan.

Lisbon, Portugal.

Tepat di hari Seno berangkat perjalanan bisnis ke Singapura aku mengantarnya ke pintu depan, ibu Seno juga berdiri di sana sedikit menjaga jarak denganku.

“Aku berangkat dulu, Mia. Semoga setelah aku pulang nanti kamu sudah bisa mengontrol diri dan memperbaiki kelakuanmu itu.”

Aku tidak merespons.

Setelah berpamitan dengan ibunya dan pergi dengan supir pribadi, aku dan ibu Seno berbalik masuk ke rumah.

“Hari ini ibu ada acara arisan rutin, kamu diam-diam di rumah dan jangan bikin masalah!”

“Iya, Bu,” jawabku singkat.

Semua berjalan lancar tanpa ada yang tahu setelah rumah sepi, diam-diam aku mengeluarkan koper yang sudah ku packing dari dua hari yang lalu.

Aku berdiri di depan pintu kamar satu detik. Tidak ada yang akan kurindukan di sini.

Taksi sudah menunggu di ujung jalan, Jakarta pagi itu berdebu dan panas seperti biasa, perjalananku yang sesungguhnya dimulai pukul enam lewat lima belas tepat saat pesawat Jakarta – Lisbon mengudara.

Seno mungkin akan mengetahui ketidakhadiranku besok pagi dari Singapura, pun ibu Seno akan menyadarinya malam ini saat pulang dari arisan.

Tapi itu cukup untuk sampai di tempat yang jauh dan meredakan isi kepala yang sudah terlalu lama tidak bisa berpikir jernih karena berada di bawah atap yang salah.

“Lisbon dulu, sisanya nanti,” kataku ke diri sendiri.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   108. Di kehidupan yang Kedua

    Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   107. Setuju Dengan Syarat

    Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   106. Kepercayaan yang Buta

    “Siapa nama panjangmu?” tanya Kakek setelah hening beberapa detik.“Seno Handoko, Kek,” jawab Seno pelan, terlihat ragu-ragu.Kakek Garry tampak mengingat-ingat, matanya menerawang sejenak ke arah langit-langit. “Kamu anak mendiang Bimo Handoko?”Aku memperhatikan ekspresi Seno dengan seksama, dia terlihat menelan ludah sebelum menjawab. Kenapa tiba-tiba Kakek menanyakan tentang orang tua Seno? Apa mereka aslinya sudah saling mengenal?“Benar, Kek.” Seno berkata seperti baru mengakui aib yang harus ditutupi. Riak tenang di mata Kakek Garry mulai berubah lebih keruh.“Saya turut berduka cita atas kematian ayahmu.” Beliau diam sejenak, auranya terasa mengintimidasi. “Penembaknya sudah ditemukan?”Pertanyaan Kakek membuatku terkesiap, baru tahu fakta tentang ayah Seno yang ternyata tidak berpulang dengan cara wajar.Selama hubungan kami, Seno memang jarang sekali mau membahas tentang orang tua apalagi ayahnya. Kami lebih sering berbincang tentang diri kami sendiri, sesekali tentang Ibu S

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   105. Meminta Restu

    Aku berdiri di depan mansion megah keluarga Askara, menatap rumah besar itu dengan rasa rindu sekaligus rasa bersalah. Dari gerak-gerik serta kendali tubuh yang tidak sepenuhnya bisa kukuasai, aku yakin sedang berada di alam mimpi.Tanpa sadar aku mencengkeram rok berwarna khaki yang kukenakan.Apa aku benar harus masuk sekarang? Kalau nanti malah di usir sama Kakek, gimana?“Mia, aku udah selesai parkirin mobil. Kita masuk sekarang?” Suara yang tidak asing itu menyapa telingaku, membuatku menoleh. Seno berdiri tepat di sampingku dengan ekspresi gugup.“Aku deg-degan, Mas,” ucapku jujur, yang membuat Seno langsung menyusupkan jari-jarinya di antara jariku seakan memberi kekuatan.“Aku juga, tapi kalau kita hadapin sama-sama. Kita pasti bisa melewati semuanya.”Aku yang tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri, mengeluh dari alam bawah sadar. Lihatlah betapa manisnya mulut berbisa itu.Masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku tujuan kami datang ke tempat ini. Beberapa hari yang lalu

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   104. Kembali ke Tempat Yang Sama

    “Jangan bicara kayak orang yang kehilangan akal sehat, Mas!” seruku, tidak mengerti arah pikirannya sama sekali. “Apa lagi yang harus dipertahankan dari hubungan kita yang sudah serusak ini? Kita cuma akan saling menyakiti kalau memaksa bertahan!”Aku berusaha bangkit meski dengan kaki sedikit gemetar, tidak lagi peduli dengan telapak tangan yang lecet.“Nggak ada lagi cinta dan kepercayaan di antara kita. Semuanya sudah runtuh lama tanpa kita sadari, dan karena sekarang kita udah nggak bisa memperbaiki apa pun,” Aku menelan ludah sebelum berkata dengan nada final. “Kita harus berpisah.”Seno mendekat seperti beruang terluka, gerakannya begitu cepat hingga aku tidak sempat mundur atau lari. Tangannya mencengkeram rahangku dengan satu tangan, mengapit pipiku begitu keras hingga rasa sakit menjalar sampai ke gigi.“Sekali aku bilang tidak, ya tidak!” desisnya, tatapan itu begitu gelap hingga rasanya aku tidak mengenalinya lagi.Orang yang dulu pernah kucintai dengan seluruh hidupku, asl

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   103. Ingin Pisah

    “A-aku nggak ngerti maksud kamu,” jawab Seno sedikit terbata, mengalihkan pandangannya menuju air mancur di tengah taman.“Berhenti pura-pura, Mas! Aku udah tahu soal obat yang Friska buat khusus untuk kamu, juga kegiatan ranjang kalian. Wanita itu udah membocorkan semuanya,” tegasku, melangkah maju satu langkah.Seno masih tidak mau mengaku, kukuh mempertahankan rahasia yang sudah terbongkar sebegitu jelas. Bahkan, bukannya merasa takut atau bersalah ekspresinya justru penuh emosi hingga giginya bergemeretak.“Kamu sendiri, sudah berapa kali tidur dengan Bara Askara?” Dia balik menyerangku dengan pertanyaan balasan. “Pasti sekarang kamu udah nggak perawan lagi, kan? Bajingan itu pasti udah mengotori kamu!” hinanya dengan senyum miring.Aku meremas kain celanaku, menatapnya tanpa sedikit pun rasa gentar. Rupanya dia sudah tahu kedekatanku dengan Bara.“Aku tahu tadi malam kamu dibawa pergi sama dia dan setelahnya kamu menghilang semalaman. Kalian pasti sudah berbuat sesuatu, kan?” des

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status