Share

42. Mulai Jujur

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-07-26 15:59:43

Aku memutuskan tidak langsung mengangkat telepon itu, membiarkannya bergetar beberapa kali memberi jeda.

Lalu dengan gerakan cepat aku menarik lengan Bara lalu memeluknya sebentar, cukup erat menyampaikan sesuatu yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.

“Makasih, Bara. Hari ini aku senang banget,” bisikku tepat di samping telinganya.

Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit terlonjak, tapi akhirnya membalas pelukanku meski tidak lama.

“Sama-sama, aku juga senang banget, Mia,” jawabnya tulus.

A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
jalan-jalan Mia sama bara jdi trending topik di shared house ... memang enggk cwe aja cwo pun penasaran ada apa Mia sma bara kan tumben jalan berduaan aja tnpa mereka ... disini Mia setidak nya tidak se khawatir sebelum nya dan Mia udh mulai berani semua berkat Luna dan penyelamatan nya Mia yaitu bara
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   126. Pengakuan Hati

    Belum sempat aku membuka aplikasi pesan antar, tangan Bara yang besar itu lebih dulu menutupi layar. “Nggak perlu, omelet ini masih bisa dimakan, kok.”Aku mematikan layar ponsel, memasukkannya kembali ke kantong piyama. “Hah? Yang bener aja, rasanya asin banget gini mana bisa dinikmatin.”Bara tersenyum, lalu berjalan menuju kulkas. “Kalau omelet yang sekarang nggak bisa dinikmati, kita masih bisa bikin menu baru dengan bahan dasar masakan kamu.”Aku menatap Bara bingung, tapi membiarkannya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas. Bawang bombai, daun bawang, juga kentang dan wortel sudah tersusun rapi di meja konter dapur.“Kamu pernah makan sup telur?” tanya Bara sembari mengenakan celemek lucunya yang bermotif anak ayam berwarna kuning. Aku mengangguk tipis.“Kita bikin versi kreasinya, khas bikinan sendiri.” Dengan gerakan cepat dan telaten Bara mulai mencuci dan memotong semua bahan, meletakkan panci sup dan memasukkan air ke dalamnya. Kompor yang menyala memberik

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   125. Memasak Untuk Bara

    “Kita naik ke apart, yuk? Aku laper, nih. Kamu laper nggak?” Bara jelas sekali sedang mengalihkan pembicaraan.“Pertanyaanku belum kamu jawab lho Bara,” sungutku.“Hm? Pertanyaan apa?” tanyanya sedikit memiringkan kepala.Melihat tingkahnya yang sepertinya memang tidak mau membahas dan menjawab pertanyaanku sama sekali, aku akhirnya memutuskan menyerah.“Ck! Udahlah, lupain aja.” Aku berdecak, lalu melepas sabuk pengaman.“Malam ini aku yang masak makan malam, kamu cukup lihat dan menikmati aja,” kataku dengan nada percaya diri sembari membuka pintu mobil.Bara tertawa jahil. “Wah, aku nggak salah dengar, nih? Emang sejak kapan kamu bisa masak?”Aku menatapnya tajam dengan wajah kesal. “Heh! Jangan remehkan kemampuanku, ya! Walau jarang megang pisau dan spatula, aku juga bisa masak sehebat kamu,” kataku sambil mendongakkan kepala, tersenyum miring.Memangnya apa susahnya memasak? Tinggal masukkan bumbu ini dan itu, lalu nyalakan kompor dan masak sampai matang. Aku yang tidak tahu apa-

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   124. Apa yang Dia Sembunyikan?

    “Malam ini mau makan malam apa, Mia? Biar aku masakin.”Bara bertanya sembari mengemudikan mobil Ferarri-nya di tengah jalanan yang cukup macet, kemeja dan celana yang sebelumnya basah kuyup sudah diganti dengan kaos putih dan celana pendek yang lebih santai.Matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu, meninggalkan semburat biru tua dan keunguan di tepi cakrawala. Cahaya matahari mulai digantikan dengan lampu-lampu terang dari gedung-gedung, jalanan, serta kendaraan-kendaraan di sekitar kami.Aku menatap lurus-lurus ke depan dengan pikiran yang melayang jauh sekali. Kejadian anak tenggelam di danau sore ini benar-benar mengingatkanku akan sesuatu di kehidupanku yang lalu.Rasanya, aku pernah melihat anak laki-laki yang diselamatkan Bara. Tapi di mana? Kapan?“Mia?” tanya Bara, menoleh kepadaku saat berhenti di lampu merah.Aku yang terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri bahkan tidak sempat merespons Bara meski mendengar suaranya dengan jelas, membiarkannya memanggilku

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   123. Ketenangan yang Seperti Roller Coaster

    Aku menatap tangan Bara yang terlihat besar dan kokoh, jauh berbeda dengan tanganku yang seakan 'tertelan' dalam genggamannya.Sejak kehidupan pertama bahkan ketika mendapat kehidupan kedua sekalipun, pria ini lah yang selalu menjaga dan melindungiku, berkorban begitu banyak hingga rasanya aku sama sekali tidak pantas menerimanya.Tanpa sadar mataku memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja hingga menetes ke pipiku.“Mia? Kamu kenapa?” Melihat kondisiku Bara terlihat sedikit panik, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya padaku.Aku menerima sapu tangan itu, mengusapkannya ke pipi sambil menikmati wangi Bara yang menempel di sana.“Bara, makasih ya buat semuanya, dan maaf aku udah bikin banyak masalah buat kamu,” ucapku dengan suara serak.“Kamu sama sekali nggak bikin masalah,” sanggah Bara. “Sejak awal kamu memang sudah seharusnya pergi dari hubungan toxic itu dengan atau tanpa bantuanku, karena kelakuan Seno memang keterlaluan.”“Tapi, aku kesal!” su

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   122. Bara yang Tenang

    “Lagi liatin apa sih? Fokus banget.” Aku tersentak ketika mendengar Bara yang tanpa ku sadari sudah berdiri di sampingku. Aku mendongak, menatapnya sambil tersenyum kikuk. “Eh, nggak lagi liatin apa-apa kok, cuma penasaran aja sama pasien yang baru lewat tadi. Kayaknya kondisi orang itu gawat banget.” “Oh, ya?” Bara menoleh ke arah lorong, ikut penasaran. “Aku nggak sadar tadi ada pasien lewat.” “Udah masuk ruang ICU dari tadi,” sahutku, berdiri sambil sedikit meregangkan otot-otot yang terasa kaku. “Oh, okey. Kalo gitu kita pulang sekarang?” tawar Bara. Aku mengangguk, kami berjalan bersisian menuju pintu keluar rumah sakit, mobil ferarri Bara sudah terparkir rapi di parkiran. “Kayaknya aku harus ganti mobil lagi abis ini,” ucap Bara saat kami sudah berada di dalam mobil. “Lho, kenapa? Bukannya ini mobil baru?” tanyaku sembari memakai sabuk pengaman. Bara menekan tombol Start Engine, gerung mobil yang khas langsung terdengar. “Ada yang sengaja membocorkan foto mobilku ke media

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   121. Ide yang Buntu

    Paul terdiam lama setelah mendengar ucapanku, wajahnya yang biasanya datar kali ini berubah sedikit putus asa. Dia melepas kacamata sejenak, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya.“Kalau demikian, maka mendapatkan ponsel berisi bukti itu tidak akan mudah.” Paul memasang kembali kacamatanya.Aku berusaha memutar otak, mencari rencana.“Bagaimana kalau salah satu anak buahmu menyusup ke mansion? Ini mungkin terdengar gila, tapi siapa tahu berhasil,” usulku yang juga merasa kehilangan jalan keluar. Berharap ada cara untuk mengambil benda itu dengan cara apa pun.Paul menggeleng. “Saya tidak bisa melakukan itu. Selain karena peluang berhasilnya kecil. Pak Seno juga bisa melaporkan dan menuntut pihak kita ke polisi soal pembobolan dan pencurian,” ucapnya, menghela napas sejenak.“Jika hal itu sampai terjadi, maka pihak yang paling dirugikan tidak hanya Anda, tapi juga Tuan Bara.”Aku menggigit bibir dan merutuki diri sendiri. Apa yang dikatakan Paul benar, aku harus mencari cara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status