Share

53. Jadi Pacarku?

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-08-06 11:13:49

Setelah kejadian itu, dua bulan berlalu begitu saja bagai embusan angin yang tak sempat kutangkap. Tubuhku sudah pulih sepenuhnya dari sakit yang membuatku lemah dan tidak berdaya selama seminggu penuh.

Aku kembali menjalani rutinitas seperti biasa meski sekarang jarak antara kost baru, kampus dan tempat kerjaku sedikit lebih jauh. Hidup terus berjalan mau sehancur apa pun perasaanku saat ini.

Kuliah di pagi hingga siang, lalu bergegas menuju kafe tempatku kerja paruh waktu setiap sore hari. Se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   108. Di kehidupan yang Kedua

    Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   107. Setuju Dengan Syarat

    Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   106. Kepercayaan yang Buta

    “Siapa nama panjangmu?” tanya Kakek setelah hening beberapa detik.“Seno Handoko, Kek,” jawab Seno pelan, terlihat ragu-ragu.Kakek Garry tampak mengingat-ingat, matanya menerawang sejenak ke arah langit-langit. “Kamu anak mendiang Bimo Handoko?”Aku memperhatikan ekspresi Seno dengan seksama, dia terlihat menelan ludah sebelum menjawab. Kenapa tiba-tiba Kakek menanyakan tentang orang tua Seno? Apa mereka aslinya sudah saling mengenal?“Benar, Kek.” Seno berkata seperti baru mengakui aib yang harus ditutupi. Riak tenang di mata Kakek Garry mulai berubah lebih keruh.“Saya turut berduka cita atas kematian ayahmu.” Beliau diam sejenak, auranya terasa mengintimidasi. “Penembaknya sudah ditemukan?”Pertanyaan Kakek membuatku terkesiap, baru tahu fakta tentang ayah Seno yang ternyata tidak berpulang dengan cara wajar.Selama hubungan kami, Seno memang jarang sekali mau membahas tentang orang tua apalagi ayahnya. Kami lebih sering berbincang tentang diri kami sendiri, sesekali tentang Ibu S

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   105. Meminta Restu

    Aku berdiri di depan mansion megah keluarga Askara, menatap rumah besar itu dengan rasa rindu sekaligus rasa bersalah. Dari gerak-gerik serta kendali tubuh yang tidak sepenuhnya bisa kukuasai, aku yakin sedang berada di alam mimpi.Tanpa sadar aku mencengkeram rok berwarna khaki yang kukenakan.Apa aku benar harus masuk sekarang? Kalau nanti malah di usir sama Kakek, gimana?“Mia, aku udah selesai parkirin mobil. Kita masuk sekarang?” Suara yang tidak asing itu menyapa telingaku, membuatku menoleh. Seno berdiri tepat di sampingku dengan ekspresi gugup.“Aku deg-degan, Mas,” ucapku jujur, yang membuat Seno langsung menyusupkan jari-jarinya di antara jariku seakan memberi kekuatan.“Aku juga, tapi kalau kita hadapin sama-sama. Kita pasti bisa melewati semuanya.”Aku yang tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri, mengeluh dari alam bawah sadar. Lihatlah betapa manisnya mulut berbisa itu.Masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku tujuan kami datang ke tempat ini. Beberapa hari yang lalu

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   104. Kembali ke Tempat Yang Sama

    “Jangan bicara kayak orang yang kehilangan akal sehat, Mas!” seruku, tidak mengerti arah pikirannya sama sekali. “Apa lagi yang harus dipertahankan dari hubungan kita yang sudah serusak ini? Kita cuma akan saling menyakiti kalau memaksa bertahan!”Aku berusaha bangkit meski dengan kaki sedikit gemetar, tidak lagi peduli dengan telapak tangan yang lecet.“Nggak ada lagi cinta dan kepercayaan di antara kita. Semuanya sudah runtuh lama tanpa kita sadari, dan karena sekarang kita udah nggak bisa memperbaiki apa pun,” Aku menelan ludah sebelum berkata dengan nada final. “Kita harus berpisah.”Seno mendekat seperti beruang terluka, gerakannya begitu cepat hingga aku tidak sempat mundur atau lari. Tangannya mencengkeram rahangku dengan satu tangan, mengapit pipiku begitu keras hingga rasa sakit menjalar sampai ke gigi.“Sekali aku bilang tidak, ya tidak!” desisnya, tatapan itu begitu gelap hingga rasanya aku tidak mengenalinya lagi.Orang yang dulu pernah kucintai dengan seluruh hidupku, asl

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   103. Ingin Pisah

    “A-aku nggak ngerti maksud kamu,” jawab Seno sedikit terbata, mengalihkan pandangannya menuju air mancur di tengah taman.“Berhenti pura-pura, Mas! Aku udah tahu soal obat yang Friska buat khusus untuk kamu, juga kegiatan ranjang kalian. Wanita itu udah membocorkan semuanya,” tegasku, melangkah maju satu langkah.Seno masih tidak mau mengaku, kukuh mempertahankan rahasia yang sudah terbongkar sebegitu jelas. Bahkan, bukannya merasa takut atau bersalah ekspresinya justru penuh emosi hingga giginya bergemeretak.“Kamu sendiri, sudah berapa kali tidur dengan Bara Askara?” Dia balik menyerangku dengan pertanyaan balasan. “Pasti sekarang kamu udah nggak perawan lagi, kan? Bajingan itu pasti udah mengotori kamu!” hinanya dengan senyum miring.Aku meremas kain celanaku, menatapnya tanpa sedikit pun rasa gentar. Rupanya dia sudah tahu kedekatanku dengan Bara.“Aku tahu tadi malam kamu dibawa pergi sama dia dan setelahnya kamu menghilang semalaman. Kalian pasti sudah berbuat sesuatu, kan?” des

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status