Share

127. Komentar Netizen

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-11-01 23:18:09

Kami makan dengan santai sekitar hampir tiga puluh menit, masakanku yang sebelumnya jelas-jelas gagal total sekarang berubah jadi menu yang lezat. Ternyata selain jago memasak sendiri, Bara juga jago mengkreasikan makanan menggunakan bahan seadanya.

Aku makan dengan lahap, hanya tersisa sedikit sisa kuah dari sup telur yang sudah dingin karena perutku sudah menyerah duluan. Sekarang jam sebelas lewat, jam rawan dan tidak sehat untuk makan malam. Tapi mau bagaimana lagi? Aku lapar banget, apalag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   128. Jangan Khawatir

    “Kamu kelihatannya menikmati banget ya dipuji sama cewek-cewek rahim anget.” Aku mendelik dengan nada jutek, lalu menarik ponselku menjauh dari Bara.“Kenapa? Kamu cemburu ya?” goda Bara.Aku melotot, memasang wajah pura-pura garang. “Nggak! Ngapain juga aku cemburu sama orang-orang random di internet.”“Iya deh, iya. Aku percaya kok.” Bara mengangguk-angguk dengan senyum tipis yang jelas-jelas tidak percaya. Pria ini memang selalu punya banyak cara untuk menggoda dan bertingkah jahil padaku.Aku menarik selimut sampai menutupi separuh wajah. “Kamu nyebelin.”Bara hanya tertawa kecil mendengar itu.Setelahnya kami diam sebentar. Aku menutup aplikasi dan meletakkan ponsel di dadaku, menatap langit-langit apartemen yang berwarna putih dengan sedikit baluran hitam. Ibu jari Bara menyentuh pergelangan kakiku, lalu menekan pelan di titik yang membuat bulu kudukku naik.Aku berusaha mencari topik lain agar tidak terlaru larut pada sentuhannya yang memabukkan. “Bara, kamu pernah buka dan bac

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   127. Komentar Netizen

    Kami makan dengan santai sekitar hampir tiga puluh menit, masakanku yang sebelumnya jelas-jelas gagal total sekarang berubah jadi menu yang lezat. Ternyata selain jago memasak sendiri, Bara juga jago mengkreasikan makanan menggunakan bahan seadanya.Aku makan dengan lahap, hanya tersisa sedikit sisa kuah dari sup telur yang sudah dingin karena perutku sudah menyerah duluan. Sekarang jam sebelas lewat, jam rawan dan tidak sehat untuk makan malam. Tapi mau bagaimana lagi? Aku lapar banget, apalagi saat mencicipi sup telur super gurih itu, aku benar-benar kalap.Di luar sana gerimis terlihat turun, membuat kaca jendela besar penuh bintik-bintik air yang memantulkan cahaya kota.Setelah beres membereskan sisa makan malam dan dapur, aku dan Bara memutuskan bersantai sejenak di ruang tengah alih-alih langsung pergi tidur.Bara duduk di ujung sofa, menyandarkan punggungnya dengan kaki yang menapak di lantai. Sementara aku sendiri rebahan di sisi satunya, bantal sofa kujadikan sandaran kepala

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   126. Pengakuan Hati

    Belum sempat aku membuka aplikasi pesan antar, tangan Bara yang besar itu lebih dulu menutupi layar. “Nggak perlu, omelet ini masih bisa dimakan, kok.”Aku mematikan layar ponsel, memasukkannya kembali ke kantong piyama. “Hah? Yang bener aja, rasanya asin banget gini mana bisa dinikmatin.”Bara tersenyum, lalu berjalan menuju kulkas. “Kalau omelet yang sekarang nggak bisa dinikmati, kita masih bisa bikin menu baru dengan bahan dasar masakan kamu.”Aku menatap Bara bingung, tapi membiarkannya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas. Bawang bombai, daun bawang, juga kentang dan wortel sudah tersusun rapi di meja konter dapur.“Kamu pernah makan sup telur?” tanya Bara sembari mengenakan celemek lucunya yang bermotif anak ayam berwarna kuning. Aku mengangguk tipis.“Kita bikin versi kreasinya, khas bikinan sendiri.” Dengan gerakan cepat dan telaten Bara mulai mencuci dan memotong semua bahan, meletakkan panci sup dan memasukkan air ke dalamnya. Kompor yang menyala memberik

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   125. Memasak Untuk Bara

    “Kita naik ke apart, yuk? Aku laper, nih. Kamu laper nggak?” Bara jelas sekali sedang mengalihkan pembicaraan.“Pertanyaanku belum kamu jawab lho Bara,” sungutku.“Hm? Pertanyaan apa?” tanyanya sedikit memiringkan kepala.Melihat tingkahnya yang sepertinya memang tidak mau membahas dan menjawab pertanyaanku sama sekali, aku akhirnya memutuskan menyerah.“Ck! Udahlah, lupain aja.” Aku berdecak, lalu melepas sabuk pengaman.“Malam ini aku yang masak makan malam, kamu cukup lihat dan menikmati aja,” kataku dengan nada percaya diri sembari membuka pintu mobil.Bara tertawa jahil. “Wah, aku nggak salah dengar, nih? Emang sejak kapan kamu bisa masak?”Aku menatapnya tajam dengan wajah kesal. “Heh! Jangan remehkan kemampuanku, ya! Walau jarang megang pisau dan spatula, aku juga bisa masak sehebat kamu,” kataku sambil mendongakkan kepala, tersenyum miring.Memangnya apa susahnya memasak? Tinggal masukkan bumbu ini dan itu, lalu nyalakan kompor dan masak sampai matang. Aku yang tidak tahu apa-

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   124. Apa yang Dia Sembunyikan?

    “Malam ini mau makan malam apa, Mia? Biar aku masakin.”Bara bertanya sembari mengemudikan mobil Ferarri-nya di tengah jalanan yang cukup macet, kemeja dan celana yang sebelumnya basah kuyup sudah diganti dengan kaos putih dan celana pendek yang lebih santai.Matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu, meninggalkan semburat biru tua dan keunguan di tepi cakrawala. Cahaya matahari mulai digantikan dengan lampu-lampu terang dari gedung-gedung, jalanan, serta kendaraan-kendaraan di sekitar kami.Aku menatap lurus-lurus ke depan dengan pikiran yang melayang jauh sekali. Kejadian anak tenggelam di danau sore ini benar-benar mengingatkanku akan sesuatu di kehidupanku yang lalu.Rasanya, aku pernah melihat anak laki-laki yang diselamatkan Bara. Tapi di mana? Kapan?“Mia?” tanya Bara, menoleh kepadaku saat berhenti di lampu merah.Aku yang terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri bahkan tidak sempat merespons Bara meski mendengar suaranya dengan jelas, membiarkannya memanggilku

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   123. Ketenangan yang Seperti Roller Coaster

    Aku menatap tangan Bara yang terlihat besar dan kokoh, jauh berbeda dengan tanganku yang seakan 'tertelan' dalam genggamannya.Sejak kehidupan pertama bahkan ketika mendapat kehidupan kedua sekalipun, pria ini lah yang selalu menjaga dan melindungiku, berkorban begitu banyak hingga rasanya aku sama sekali tidak pantas menerimanya.Tanpa sadar mataku memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja hingga menetes ke pipiku.“Mia? Kamu kenapa?” Melihat kondisiku Bara terlihat sedikit panik, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya padaku.Aku menerima sapu tangan itu, mengusapkannya ke pipi sambil menikmati wangi Bara yang menempel di sana.“Bara, makasih ya buat semuanya, dan maaf aku udah bikin banyak masalah buat kamu,” ucapku dengan suara serak.“Kamu sama sekali nggak bikin masalah,” sanggah Bara. “Sejak awal kamu memang sudah seharusnya pergi dari hubungan toxic itu dengan atau tanpa bantuanku, karena kelakuan Seno memang keterlaluan.”“Tapi, aku kesal!” su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status