Home / Romansa / Hidup di Dekapan Musuh Suamiku / 70. Permainan di Mulai

Share

70. Permainan di Mulai

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-08-16 20:48:51

Aku langsung menghampiri mereka ke tengah taman. Keributan yang terjadi karena teriakan Bibi Sona juga mulai mengundang perhatian pelayan lain. Mereka mulai berkumpul membentuk lingkaran.

“Ada apa ini?” tanyaku berusaha melerai Bibi Sona yang hendak menampar Rena. Sedangkan Seno sudah berdiri di belakangku.

“Nyonya, anak ini kerjanya nggak karuan. Masa saya yang sedang menyiram tanaman di sini ditabrak sampai terjerembab? Dia pasti sengaja mau mencelakai saya!” tuduh Bibi Sona, menunjuk langsun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   122. Bara yang Tenang

    “Lagi liatin apa sih? Fokus banget.” Aku tersentak ketika mendengar Bara yang tanpa ku sadari sudah berdiri di sampingku.Aku mendongak, menatapnya sambil tersenyum kikuk. “Eh, nggak lagi liatin apa-apa kok, cuma penasaran aja sama pasien yang baru lewat tadi. Kayaknya kondisi orang itu gawat banget.”“Oh, ya?” Bara menoleh ke arah lorong, ikut penasaran. “Aku nggak sadar tadi ada pasien lewat.”“Udah masuk ruang ICU dari tadi,” sahutku, berdiri sambil sedikit meregangkan otot-otot yang terasa kaku.“Oh, okey. Kalo gitu kita pulang sekarang?” tawar Bara. Aku mengangguk, kami berjalan bersisian menuju pintu keluar rumah sakit, mobil ferarri Bara sudah terparkir rapi di parkiran.“Kayaknya aku harus ganti mobil lagi abis ini,” ucap Bara saat kami sudah berada di dalam mobil.“Lho, kenapa? Bukannya ini mobil baru?” tanyaku sembari memakai sabuk pengaman.Bara menekan tombol Start Engine, gerung mobil yang khas langsung terdengar. “Ada yang sengaja membocorkan foto mobilku ke media sosial

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   121. Ide yang Buntu

    Paul terdiam lama setelah mendengar ucapanku, wajahnya yang biasanya datar kali ini berubah sedikit putus asa. Dia melepas kacamata sejenak, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya.“Kalau demikian, maka mendapatkan ponsel berisi bukti itu tidak akan mudah.” Paul memasang kembali kacamatanya.Aku berusaha memutar otak, mencari rencana.“Bagaimana kalau salah satu anak buahmu menyusup ke mansion? Ini mungkin terdengar gila, tapi siapa tahu berhasil,” usulku yang juga merasa kehilangan jalan keluar. Berharap ada cara untuk mengambil benda itu dengan cara apa pun.Paul menggeleng. “Saya tidak bisa melakukan itu. Selain karena peluang berhasilnya kecil. Pak Seno juga bisa melaporkan dan menuntut pihak kita ke polisi soal pembobolan dan pencurian,” ucapnya, menghela napas sejenak.“Jika hal itu sampai terjadi, maka pihak yang paling dirugikan tidak hanya Anda, tapi juga Tuan Bara.”Aku menggigit bibir dan merutuki diri sendiri. Apa yang dikatakan Paul benar, aku harus mencari cara

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   120. Opini Publik

    “Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap kejadian ini, Pak Seno? Apa Anda akan membawa masalah ini ke jalur hukum?” Salah satu wartawan di pojok kanan bertanya dengan suara yang sedikit nyaring agar tetap terdengar di ruangan yang cukup riuh itu.“Untuk saat ini, saya tidak akan melakukannya karena tidak ingin istri saya terlibat masalah yang kemungkinan akan membuatnya kesulitan di kemudian hari. Saya sangat peduli dengan kenyamanan dan keamanan istri saya.”Aku yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Seno yang berbisa seketika menggertakkan gigi karena menahan emosi. Orang ini sangat pandai berakting, semua kata-katanya benar-benar terdengar seperti kebenaran.Dia benar-benar sudah mengelabui dan membodohi semua orang.“Saya sangat terharu sekaligus kagum pada Pak Seno. Di saat istri Anda dibawa lari oleh laki-laki lain, Anda malah memilih berbesar hati dan terus mencari keberadaan istri Anda,” puji wartawan wanita yang tampaknya sudah terhasut tipu daya Seno, wartawan wanita i

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   119. Serangan Publik

    Rena langsung menghambur ke arahku ketika melihatku merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya. Dia menunduk sejenak saat tiba di hadapanku sebagai tanda hormat, lalu memelukku hangat.“Aku senang banget kamu selamat,” ucapku sambil mengelus punggungnya dengan gerakan naik-turun. Lalu menarik diri sedikit agar bisa melihat keadaannya lebih jelas.“Kamu nggak terluka parah, kan? Kamu diapain aja sama Seno dan penjaganya?”Rena menggeleng pelan, tersenyum ceria. “Saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya sempat terluka kecil karena tersandung saat pelarian bersama Pak Paul.” Gadis itu melirik Paul yang berdiri tidak jauh di belakangnya, lalu kembali menatapku.“Terima kasih atas bantuannya, Nyonya. Saya tidak menyangka bantuan akan datang secepat itu,” katanya dengan nada lega, menyelipkan anak rambutnya ke sisi telinga.“Aku sendiri juga nggak nyangka bakal ada bantuan secepat dan seterang-terangan itu, Rena. Bara dan anak buahnya bergerak di luar perkiraan kita berdua.” Aku ikut meli

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   118. Konsekuensi yang Mulai Datang

    “Kamu mau kemana, Bara? Obrolan kita belum selesai,” ucapku, menahan langkahnya agar tidak kabur.Bara membuang napas pelan. “Aku akan jelasin semuanya ke kamu, tentang gelagat atau perkataan yang kamu anggap aneh selama ini, Tapi nanti, bukan sekarang.” Dia berkata dengan nada tenang yang membuatku segan hendak melontarkan protes.“Kenapa harus nanti?” tanyaku sedikit tidak sabaran.“Karena sekarang kamu harus pulih dulu. Kesehatan kamu jauh lebih penting, jangan mikirin hal-hal yang bikin kepala terbebani.” Bara menepuk pelan kepalaku penuh perhatian.“Jangan jadi Mia yang keras kepala dulu. Sekali-sekali nurut sama aku, oke?” pinta Bara dengan nada lembut yang bisa meruntuhkan egoku secepat kilat. Aku mengangguk pelan, melepaskan tangannya lalu membuka kedua tanganku lebar-lebar.“Sebelum manggil dokter, peluk aku dulu, dong,” kataku setengah berbisik dengan pipi memanas.Bara duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan hati-hati dia membungkuk dan melingkarkan lengannya di punggung

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   117. Terbangun di Rumah Sakit

    Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan dengan helaian yang jatuh menutupi sebagian dahi. Bara memandang lurus ke mataku dengan senyuman tipis dan tatapan yang sendu.“Jangan kesana, Mia,” katanya lembut, sedikit menarikku agar mendekat kepadanya.“T-tapi, di sana…” Aku menunjuk ke arah Mia versi lain yang kini hanya terlihat seperti bayangan kecil, tangisannya masih terdengar meski sangat jauh.“Dia adalah bagian dari kamu yang memang sudah seharusnya pergi,” sahut Bara, ibu jarinya mengusap pelan sisi pergelanganku. “Jadi biarkan bagian dari kehidupan masa lalu membawanya ke tempat yang seharusnya. Ini waktunya kamu melangkah ke jalan yang berbeda.”Mataku memanas, masih terbayang Mia versi lain yang menatap seolah meminta tolong padaku. “Apa artinya sisi diriku yang dibawa pergi oleh Seno, akan menderita selamanya?”“Dia akan pergi tenang nanti, asal kamu mau berjuang di kehidupan yang sekarang.” Bara menunduk, sedikit agar pandangan kami sejajar. “Jadi, kamu ikuti aku, ya.”Bara me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status