تسجيل الدخولPuncak kekacauan itu akhirnya terjadi sore ini.Sebuah jeritan nyaring menggema hingga seluruh penjuru mansion, membuat semua orang yang beraktivitas seketika berhenti.“PERHIASANKU HILANG!” Teriakan itu berasal Ibu Seno.Aku bergegas keluar kamar, menuju kamar Ibu Seno yang sudah dipenuhi kerumunan pelayan yang panik, semua mata tertuju padanya yang mengobrak-abrik kamarnya sendiri menjadi tidak karuan.Ibu Seno histeris, tangannya terus menggeledah setiap sudut berharap barang berharga yang dicarinya itu tiba-tiba muncul kembali.“Semua perhiasan berhargaku ada di sana! Kalung warisan nenek, cincin almarhum suamiku. Semuanya lenyap!” pekik Ibu Seno, mengacak rambutnya frustasi.“Nyonya, apa yang Anda maksud peti ini?” Bibi Sona tergopoh menghampiri Ibu Seno, menunjuk peti jati berukuran cukup besar di pojok ruangan.Ibu Seno menggeleng. “Bukan! itu peti berisi perhiasan biasa, yang hilang adalah perhiasan paling mahal dan berharga milik leluhurku. Aku selalu menaruhnya di kotak khus
Sama seperti yang terjadi dulu, Bibi Sona langsung menunjukkan taringnya tidak lama setelah resmi menjadi kepala pelayan.Dan target pertamanya, tentu saja Rena.Hari ini Seno dan Ibunya pergi menghadiri undangan mitra bisnis, meninggalkan aku sendirian di mansion yang sudah seperti sangkar emas ini.Jendela kamar ku biarkan terbuka lebar, membawa gerimis kecil membasahi gorden dan lantai, hawa sejuk mulai mengisi ruangan yang sepi.Aku membuka halaman di buku catatan usang, meletakkan jari di salah satu tanggal yang baru saja ku tulis.Hari ini akan terjadi kekacauan, dan satu pelayan akan meninggalkan rumah ini.Dulu aku sama sekali tidak tahu namanya, bahkan hanya melihat punggungnya ketika berjalan di tengah hujan yang lebat, tapi hari ini aku tahu persis siapa orang itu.Aku memutuskan turun menuju meja makan untuk menyantap sarapan yang belum ku sentuh sejak pagi, sampai tiba-tiba terdengar teriakan membahana dari arah dapur. Aku bergegas ke sana. Rena berdiri di tengah dapur, d
Aku langsung menghampiri mereka ke tengah taman. Keributan yang terjadi karena teriakan Bibi Sona juga mulai mengundang perhatian pelayan lain. Mereka mulai berkumpul membentuk lingkaran.“Ada apa ini?” tanyaku berusaha melerai Bibi Sona yang hendak menampar Rena. Sedangkan Seno sudah berdiri di belakangku.“Nyonya, anak ini kerjanya nggak karuan. Masa saya yang sedang menyiram tanaman di sini ditabrak sampai terjerembab? Dia pasti sengaja mau mencelakai saya!” tuduh Bibi Sona, menunjuk langsung ke wajah Rena.“Saya tidak sengaja, Nyonya. Tadi saat menyapu taman, saya tidak sengaja melihat serangga besar dan langsung lari karena panik, lalu tidak sengaja menyenggol Bibi Sona dan membuatnya jatuh,” Rena berusaha membela diri.“Halah! Bohong kamu. Itu cuma alasan kamu aja, kan? Kamu itu nggak pernah takut serangga apa pun!”“Sudah! Cukup!” Seno berseru, mengangkat tangannya.“Cuma hal kecil begini kalian ributnya minta ampun! Aku perlu tenang di hari libur kerja, paham?!” Bibi Sona dan
“Kamu tetap mau kerja di mansion, kan?” tanyaku, Rena mengangguk mantap.“Tentu saja, Nyonya.”“Kalau begitu, jalan satu-satunya adalah menyingkirkan orang tua itu.” Aku menatap lurus ke mata Rena.“Tapi, menyingkirkan calon kepala pelayan bukan hal yang mudah bagi kita berdua yang tidak punya kekuatan besar.” Dia terlihat mulai ragu.“Soal itu tidak perlu kamu pikirkan terlalu jauh, aku sudah menyusun rencana. Tapi akan selalu ada risiko dalam setiap rencana yang kita jalankan nanti.” Aku mengetuk-ngetuk pelan tepi meja.“Dan risiko terbesarnya adalah, kamu tidak bisa bekerja lagi di mansion keluarga Handoko untuk selamanya. Apa kamu siap?” tanyaku tegas, Rena langsung mengangguk tanpa sedikit pun keraguan.“Sesuai janji saya, apa pun akan saya lakukan sesuai perintah Nyonya.” Aku tersenyum puas lalu melambaikan satu jari, memberi isyarat agar Rena mendekat. Dia mendekatkan telinga sebelum aku mulai berbisik memberitahu rencana apa yang ingin ku lakukan.Rahang Rena jatuh, mulutnya m
Operasi berjalan lancar semalam meski aku tidak menyaksikan prosesnya hingga selesai karena harus pulang ke mansion, dari kabar yang ku dapat ibu Rena masih belum sadarkan diri tapi kondisinya sudah stabil.Aku baru kembali ke rumah sakit keesokan paginya, membawa beberapa makanan dan roti yang ku beli diperjalanan.Begitu aku sampai di ruang pemulihan, Rena dan Dimas terlihat sedang tertidur di sofa dengan posisi bersandar satu sama lain, wajah mereka masih menyisakan lelah bekas kejadian semalam, terutama Rena.“Rena.” panggilku, menyentuh bahunya pelan.Aku terpaksa membangunkan Rena karena dia dan Dimas pasti tidak sempat makan dengan layak sejak kemarin, mereka harus makan dengan baik agar tenaga tetap terjaga.Rena membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mendongak ke arahku. Dia membaringkan Dimas terlebih dahulu sebelum menyapaku canggung.“Selamat pagi, Nyonya.”Aku mengangguk, menyodorkan kantong kresek berisi sarapan padanya. “Ini, aku bawain sarap
Hanya butuh lima belas menit untuk Rena dan Paul mengisi data yang dibutuhkan sebagai perwakilan di meja resepsionis. Tidak lama setelahnya ranjang dorong ibu Rena keluar dari ruang UGD, melewati aku dan Dimas yang menunggu di kursi tunggu lorong rumah sakit.Aku memegang tangan Dimas yang dingin.“Jangan khawatir, Ibu kalian bakal baik-baik aja.” Dimas mendongak ke arahku, matanya penuh dengan harapan.“Terima kasih sudah membantu kami, Tante.” Aku mengangguk, mengusap rambutnya pelan.“Sama-sama. Sudah tugas Tante membantu teman.”Di tengah keheningan yang menegangkan itu, ponselku bergetar di dalam tas. Aku meraihnya dan menemukan nama Seno di layar, membuatku mendengus pelan sebelum berdiri, mengangkat telepon itu dan memberi jarak agar Dimas tidak mendengar percakapanku.“Halo?”“Mia! Kamu di mana?!” suara Seno terdengar tajam. “Ini udah malam, kenapa belum pulang?”“Aku lagi ada urusan di luar, Mas,” jawabku tenang.“Urusan apa sampai lupa nyambut suami pulang kerja?! Kirim loka







