Share

120. Opini Publik

Penulis: Shyneko
last update Tanggal publikasi: 2026-10-14 23:30:34

“Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap kejadian ini, Pak Seno? Apa Anda akan membawa masalah ini ke jalur hukum?” Salah satu wartawan di pojok kanan bertanya dengan suara yang sedikit nyaring agar tetap terdengar di ruangan yang cukup riuh itu.

“Untuk saat ini, saya tidak akan melakukannya karena tidak ingin istri saya terlibat masalah yang kemungkinan akan membuatnya kesulitan di kemudian hari. Saya sangat peduli dengan kenyamanan dan keamanan istri saya.”

Aku yang mendengar ucapan itu kelu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   120. Opini Publik

    “Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap kejadian ini, Pak Seno? Apa Anda akan membawa masalah ini ke jalur hukum?” Salah satu wartawan di pojok kanan bertanya dengan suara yang sedikit nyaring agar tetap terdengar di ruangan yang cukup riuh itu.“Untuk saat ini, saya tidak akan melakukannya karena tidak ingin istri saya terlibat masalah yang kemungkinan akan membuatnya kesulitan di kemudian hari. Saya sangat peduli dengan kenyamanan dan keamanan istri saya.”Aku yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Seno yang berbisa seketika menggertakkan gigi karena menahan emosi. Orang ini sangat pandai berakting, semua kata-katanya benar-benar terdengar seperti kebenaran.Dia benar-benar sudah mengelabui dan membodohi semua orang.“Saya sangat terharu sekaligus kagum pada Pak Seno. Di saat istri Anda dibawa lari oleh laki-laki lain, Anda malah memilih berbesar hati dan terus mencari keberadaan istri Anda,” puji wartawan wanita yang tampaknya sudah terhasut tipu daya Seno, wartawan wanita i

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   119. Serangan Publik

    Rena langsung menghambur ke arahku ketika melihatku merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya. Dia menunduk sejenak saat tiba di hadapanku sebagai tanda hormat, lalu memelukku hangat.“Aku senang banget kamu selamat,” ucapku sambil mengelus punggungnya dengan gerakan naik-turun. Lalu menarik diri sedikit agar bisa melihat keadaannya lebih jelas.“Kamu nggak terluka parah, kan? Kamu diapain aja sama Seno dan penjaganya?”Rena menggeleng pelan, tersenyum ceria. “Saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya sempat terluka kecil karena tersandung saat pelarian bersama Pak Paul.” Gadis itu melirik Paul yang berdiri tidak jauh di belakangnya, lalu kembali menatapku.“Terima kasih atas bantuannya, Nyonya. Saya tidak menyangka bantuan akan datang secepat itu,” katanya dengan nada lega, menyelipkan anak rambutnya ke sisi telinga.“Aku sendiri juga nggak nyangka bakal ada bantuan secepat dan seterang-terangan itu, Rena. Bara dan anak buahnya bergerak di luar perkiraan kita berdua.” Aku ikut meli

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   118. Konsekuensi yang Mulai Datang

    “Kamu mau kemana, Bara? Obrolan kita belum selesai,” ucapku, menahan langkahnya agar tidak kabur.Bara membuang napas pelan. “Aku akan jelasin semuanya ke kamu, tentang gelagat atau perkataan yang kamu anggap aneh selama ini, Tapi nanti, bukan sekarang.” Dia berkata dengan nada tenang yang membuatku segan hendak melontarkan protes.“Kenapa harus nanti?” tanyaku sedikit tidak sabaran.“Karena sekarang kamu harus pulih dulu. Kesehatan kamu jauh lebih penting, jangan mikirin hal-hal yang bikin kepala terbebani.” Bara menepuk pelan kepalaku penuh perhatian.“Jangan jadi Mia yang keras kepala dulu. Sekali-sekali nurut sama aku, oke?” pinta Bara dengan nada lembut yang bisa meruntuhkan egoku secepat kilat. Aku mengangguk pelan, melepaskan tangannya lalu membuka kedua tanganku lebar-lebar.“Sebelum manggil dokter, peluk aku dulu, dong,” kataku setengah berbisik dengan pipi memanas.Bara duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan hati-hati dia membungkuk dan melingkarkan lengannya di punggung

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   117. Terbangun di Rumah Sakit

    Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan dengan helaian yang jatuh menutupi sebagian dahi. Bara memandang lurus ke mataku dengan senyuman tipis dan tatapan yang sendu.“Jangan kesana, Mia,” katanya lembut, sedikit menarikku agar mendekat kepadanya.“T-tapi, di sana…” Aku menunjuk ke arah Mia versi lain yang kini hanya terlihat seperti bayangan kecil, tangisannya masih terdengar meski sangat jauh.“Dia adalah bagian dari kamu yang memang sudah seharusnya pergi,” sahut Bara, ibu jarinya mengusap pelan sisi pergelanganku. “Jadi biarkan bagian dari kehidupan masa lalu membawanya ke tempat yang seharusnya. Ini waktunya kamu melangkah ke jalan yang berbeda.”Mataku memanas, masih terbayang Mia versi lain yang menatap seolah meminta tolong padaku. “Apa artinya sisi diriku yang dibawa pergi oleh Seno, akan menderita selamanya?”“Dia akan pergi tenang nanti, asal kamu mau berjuang di kehidupan yang sekarang.” Bara menunduk, sedikit agar pandangan kami sejajar. “Jadi, kamu ikuti aku, ya.”Bara me

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   116. Hilang Kesadaran

    “Tapi, kamu yakin Rena bisa diselamatkan malam ini?” tanyaku memastikan, aku sudah bersyukur dengan kabar yang ku dengar dari Bara, tapi rasanya hatiku masih menyisakan sedikit kegelisahan.Bagaimana kalau anak buah Bara gagal menyelamatkan Rena? Apa yang akan terjadi pada gadis itu jika dia terjebak lebih lama di mansion?Ponsel Bara bergetar tepat sebelum dia hendak membuka mulut, layarnya menyala menampilkan kontak bernama Paul. Kami saling pandang sejenak sebelum Bara menekan tombol hijau di sana, mengaktifkan mode speaker.“Tuan, kami sudah menarik diri dari kediaman Handoko, ada beberapa anggota kita yang terluka tapi tidak parah,” lapor Paul di seberang telepon, suaranya terdengar tenang meski baru menghadapi situasi serius.“Segera bawa anggota yang terluka ke rumah sakit untuk di obati, sisanya boleh kembali dan beristirahat. Terima kasih untuk bantuan kalian malam ini,” sahut Bara, tegas tapi tedengar tulus.“Baik, Tuan.” Paul menjawab cepat. Aku menunggunya membahas tentang

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   115. Khawatir

    Menit-menit pertama terasa sangat sesak dan menegangkan hingga tidak ada di antara kami yang bicara, hanya deru mesin dan deru napas yang saling berkejaran mengisi ruang kosong di dalam mobil ini.Baru setelah mobil Bara masuk ke jalan besar, ketegangan itu perlahan mulai mencair. Aku melirik Bara yang bahunya mulai turun, jari-jarinya yang sejak tadi mencengkeram setir dengan begitu kuat perlahan mengendur. Dia menghembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala sekilas ke sandaran jok sambil terus fokus mengemudi.Aku yang juga mulai tenang akhirnya bisa sedikit menggerakkan badan, memutar tubuh dan menoleh ke jendela belakang. Dari kejauhan, mansion Handoko yang megah masih berdiri terlihat, sesekali ada kilatan kecil dan gaung samar yang terdengar seperti petasan.Aku beralih menatap Bara.“Bara, orang-orang asing yang membuat keributan di gerbang depan tadi, apa mereka anak buahmu?” tanyaku jerih, menelan ludah dengan susah payah.“Iya, mereka anak buah yang diasuh langsung oleh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status