Share

83. Keceplosan

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-08-26 21:15:31

“Anda yakin?” Friska bertanya serius, seakan menawarkan kesempatan terakhir untukku berubah pikiran.

“Tentu, apa salahnya? Lagian aku bisa dapat update terbaru soal kondisi suamiku, sekaligus dapat teman baru.” Aku mengangguk mantap. “Ayo, scan kontak kamu di sini.”

Friska mengeluarkan ponselnya, dan tidak perlu waktu lama nomor kami sudah tersimpan di gadget masing-masing.

“Aku nggak sabar bincang-bincang sama dokter di luar jam kerja. Dokter Friska pasti orang yang menyenangkan.” Aku memasukk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   88. Persiapan Pesta

    Ponselku bergetar di atas meja salon, menampilkan nama Seno di layarnya. Aku menekan tombol jawab sambil memperhatikan kukuku yang baru selesai dipasangi kuku palsu.“Halo.”“Mia, kamu masih lama nggak? Aku sama Ibu udah mau berangkat, nih.” Suara Seno di seberang sana terdengar tidak sabaran.Aku sedikit memiringkan kepala, membuat make-up artis yang sedang mengaplikasikan eyeliner tebal di sudut mataku berhenti sebentar. “Aku masih di salon, Mas.”Seno mendesah gusar. “Kamu lambat, aku nggak mau nungguin kamu, Mia. Aku berangkat duluan aja sama Ibu!” gerutu Seno, aku yang tidak terlalu peduli dengan hal itu menoleh pada make-up artis di sebelahku, mengangguk padanya agar melanjutkan pekerjaan.“Iya, iya… Kamu sama Ibu duluan aja,” jawabku tenang.“Kamu jangan sampai telat. Jangan bikin malu di depan keluarga besar!” ucap Seno bersungut-sungut.Bikin malu? Yang ada aku yang bakal di permalukan di sana. Kalian semua sengaja membawaku ke pesta itu hanya untuk jadi bahan olok-olok.“Iya

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   87. Seno Marah

    Friska sudah pulang satu jam sebelum waktu makan malam.Suara sendok beradu di piring porselen, gelas kristal sesekali terdengar berdenting. Keheningan seperti biasa menghiasi meja makan panjang keluarga Handoko, hanya ada selingan suara pelayan yang sesekali datang mengganti hidangan.Aku duduk di posisi biasa, menyendok sup ayam perlahan karena panas. Sementara Seno di kursi kepala keluarga sibuk menggulir ponsel di sela suapannya.Hingga Ibu Seno tiba-tiba memecah keheningan.“Seno, Ibu baru aja ngundang satu orang lagi buat pesta ulang tahun Tante Ratih lusa.” Dia berkata dengan nada senang. “Orang ini bukan orang biasa, lho.”Seno mendongak dari ponselnya dengan gerakan malas, mendesah berat. “Bu, undangan udah disebar banyak banget. Kolega, teman arisan Ibu, ketua yayasan, sekarang siapa lagi yang mau Ibu undang?”“Tapi rasanya sayang banget kalau nggak ngundang dia,” ucap Ibu Seno sambil mengangkat dagu sedikit bangga, lalu menoleh tajam ke arahku. “Entah gimana caranya Mia bis

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   86. Bertemu Ibu Seno

    Seharian kami habiskan dengan berbincang di kafe, berjalan-jalan menyusuri beberapa toko pakaian, dan berkunjung ke restoran yang sering di kunjungi Friska.Matahari sore sudah mulai memerah di ufuk barat saat Friska mengantarku pulang, mobil putihnya berhenti tepat di depan gerbang besar mansion.“Makasih ya, hari ini seru banget,” kataku senang, melepas sabuk pengaman dan bersiap membuka pintu mobil.“Sama-sama, Kak. Aku juga senang bisa main sama Kak Mia hari ini,” jawab Friska, tersenyum menatapku sambil melambaikan tangan tanda berpamitan.“Eh, mampir dulu, yuk. Kebetulan kemarin aku baru beli wine yang enak banget, kita minum dulu satu-dua gelas sebelum kamu pulang,” ajakku tiba-tiba, mengurungkan diri keluar dari mobil cepat-cepat.Friska melirik jam di dashboard, tangannya memegang setir mobil. “Duh, aku nggak enak, Kak. Lagian udah kesorean juga.”“Ayolah dokter Friska! Cuma sebentar, kok. Suamiku lagi nggak ada di rumah nih, nanti malam baru pulang. Aku nggak ada teman minum

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   85. Strategi Dua Wanita

    Friska akhirnya duduk di seberangku setelah menyapa pelayan tadi, meletakkan tasnya di samping sambil tersenyum ramah. "Maaf ya Kak, jadi harus nunggu lama."Aku menggeleng pelan, membalas senyumannya setulus mungkin. "Ah, Nggak apa-apa, kok. Aku nggak keberatan." Aku menjeda kalimat, memberikan buku menu padanya.“Aku malah jadi bangga sendiri, nih. Bisa ngajak orang seterkenal kamu hang out bareng,” kataku kagum, menangkupkan tangan sembari menatap Friska dengan mata berbinar.“Ih, aku nggak seterkenal itu kok, Kak.” Friska merendah, tertawa kecil dan melambaikan tangannya malu-malu.Setelah berbasa-basi, kami kemudian memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu sekitar lima belas menit, aku dan Friska berbincang ringan tentang kehidupan dan kesukaan kami. Mulai dari drama korea yang sedang tren, hingga perlahan merambat ke keseharian masing-masing.Pesanan kami akhirnya tiba, beberapa makanan manis dan es kopi yang segar di cuaca yang panas.“Mas Seno tuh orangnya emang manis bang

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   84. Bermain Peran

    Beberapa hari kemudian di kamar kami, Seno baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah. Dia mengenakan piyama sutranya sambil menggosok-gosok handuk ke tengkuk.Aku yang lebih dulu selesai mandi dan mengenakan piyama yang senada dengannya duduk santai bersandar di kepala ranjang, sibuk mengetik balasan pesan di ponsel.“Kayaknya seru banget, lagi chat-an sama siapa kamu?” tanya Seno, melempar handuk basah ke keranjang cucian, matanya mendelik penasaran.“Teman baru,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar.Dia melangkah mendekat, duduk tepat di sampingku berusaha mengintip. Tapi aku buru-buru memiringkan ponsel dan menjauhkan benda itu sedikit dari jangkauan Seno.Seno berdecak. “Kenapa sih nggak boleh lihat dikit?”“Ini obrolan pribadi antar wanita, kamu nggak perlu tahu, Mas,” tegurku, mendorong sedikit bahunya agar menjauh.“Siapa sih? Tumben banget orang rumahan kayak kamu punya teman,” ucapnya dengan nada mengejek.Aku cemberut, mengunci ponsel dan

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   83. Keceplosan

    “Anda yakin?” Friska bertanya serius, seakan menawarkan kesempatan terakhir untukku berubah pikiran.“Tentu, apa salahnya? Lagian aku bisa dapat update terbaru soal kondisi suamiku, sekaligus dapat teman baru.” Aku mengangguk mantap. “Ayo, scan kontak kamu di sini.”Friska mengeluarkan ponselnya, dan tidak perlu waktu lama nomor kami sudah tersimpan di gadget masing-masing.“Aku nggak sabar bincang-bincang sama dokter di luar jam kerja. Dokter Friska pasti orang yang menyenangkan.” Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, berdiri dari kursi.Friska mengangguk. “Saya juga tidak sabar, Bu. Sebuah kehormatan bagi saya bisa dekat dengan istri konglomerat seperti Anda,” ucapnya, kalimat itu terdengar terlalu dibuat tulus, hingga hampir seperti bualan.“Jangan panggil, Bu. Panggil aja kak Mia. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.” Aku berjalan menuju pintu keluar, sebelum akhirnya berhenti sejenak di ambang pintu.Aku menoleh ke arah Friska, tersenyum tipis.“Titip suamiku ya, Dokter Friska.”***Te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status