LOGINNolan baru saja selesai minum obat saat ponselnya berkedip. Sebuah notifikasi dari aplikasi IG miliknya itu awalnya tidak begitu menarik perhatiannya. Namun saat dia membaca ada nama Livia di pop-up notification yang muncul, buru-buru tangannya meraih ponsel. Bahkan saking buru-burunya sampai hampir menyenggol gelas di tepi nakas dan menumpahkan isinya. Beruntung mamanya yang tengah duduk tak jauh dari situ dengan sigap reflek menghalangi gelas itu."Nolan apa-apaan sih. Pelan-pelan, kamu baru aja selesai minum obat," omel Bu Monika. Nolan tidak menghiraukan omelan tersebut dan terus fokus dengan ponselnya yang kini membuatnya mulai tersenyum-senyum sendiri. Kening Bu Monika mengernyit melihat hal itu."Mama udah bilang, fokus dulu sama kesehatan kamu. Jangan pikirin pekerjaan, kamu senyum-senyum gitu dapat kabar apa? Ada proyek baru yang nyantol kah?" tanya Bu Monika penuh selidik. "Inget ya Nolan, untuk sementara pokoknya kamu jangan dulu sibuk atau memforsir tenaga kamu untuk be
Pagi itu Livia bangun lebih awal. Setelah bersiap dia langsung turun ke lantai bawah menemui Bik Sum yang sudah sibuk di dapur. Melihat Livia sudah turun di waktu yang tak biasa, wanita paruh baya itu kaget dan tampak tergesa-gesa menyiapkan sarapan. "Bik Sum nggak usah siapin sarapan, aku mau sarapan di kantin sekolah aja," ucap Livia. Dia hanya meneguk susu yang sudah terhidang di meja makan dan meminumnya setengah gelas. Bik Sum bengong beberapa saat. Tangannya sudah memegang piring yang akan dia letakkan di meja makan. "Non Livia ada apa kok berangkat pagi-pagi banget?" Bik Sum melirik jam dinding yang saat itu baru menunjukkan pukul setengah enam. "Iya soalnya aku mau mampir ke klinik dulu. Ya udah ya, aku berangkat sekarang," jawab Livia dan langsung bergegas meninggalkan Bik Sum yang masih bengong. Namun setelah Livia menghilang, bibir Bik Sum mengukir senyum penuh arti. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan bahagia. Suasana di sekitaran klinik masih
Setibanya di rumah, Livia langsung mandi sementara Sissy menunggu di dalam kamar. Lalu setelahnya mereka makan malam bareng makanan yang sudah disiapkan Bik Sum. Setelah selesai mereka kembali lagi ke kamar dan ngobrol-ngobrol. Tidak jauh-jauh, Sissy banyak bertanya perihal Nicky dan lama-lama hal itu membuat Livia muak. "Iiih lo apa-apaan sih Sy? Kepo banget jadi orang. Kalau lo pengen tahu banyak tentang dia, besok deh lo temui sendiri dia di sekolah trus lo introgasii langsung," ujar Livia sebal. Sissy terkikik. "Hihihihi... iya-iya maaaaap. Jangan marah dong," godanya. "Ya habis dari tadi lo nanyain diaaaa mulu. Lo pikir gue baby sitternya Nicky apa yang tahu banyak soal dia. Orang gue juga baru kenal. Lagian lo kenapa sih segitunya banget? Lo naksir sama dia?" tanya Livia penuh selidik. Jari telunjuknya menuding lurus ke arah hidung Sissy. Sissy memainkan bola matanya sembari mengangkat kedua bahunya. "Mmmmm.... I don't know then.... tapi dia emang keren sih. Nggak jel
Livia menyusuri koridor klinik dengan perasaan kesal. Dia sendiri sebenarnya juga bingung kenapa harus semarah itu pada Nolan. Padahal yang diucapkan suaminya ke Nicky juga nggak ada yang salah. Tapi entahlah... mungkin karena Nicky yang sudah mengetahui rahasianya jadi Livia merasa tidak nyaman kalau keduanya bertemu lama-lama. Takut Nicky keceplosan di depan Nolan. Suaminya itu pasti marah besar kalau sampai tahu bahwa sebenarnya Nicky sudah mengetahui rahasia itu karena keteledorannya. Baru memergoki dokumen yang dibawa ke sekolah aja Nolan sudah semarah itu kemarin. Aaaarggghhh!! Kenapa sih gue harus dihadapkan sama situasi seperti ini?!! Livia menelfon Pak Sam meminta untuk segera menjemput, sembari terus berjalan. Dia cuma pengen cepet-cepet sampai rumah dan tidur. Jiwa dan raganya merasakan letih bersamaan. "Saya tunggu di depan klinik pak," pungkasnya. Livia berhenti di ambang pagar klinik sembari merapatkan jaketnya. Saat sedang sibuk memperhatikan suasana jalan d
"Dingin nih, kembali ke kamar yuk," ajak Livia sembari mengusap-usapkan kedua tangannya. Suasana mulai gelap dan beberapa orang yang tadinya menikmati senja di taman rumah sakit mulai beranjak satu per satu. "Yuk," Nolan berdiri perlahan. Dia masih sedikit terhuyung, beruntung Livia dengan sigap membantu menahan tubuhnya. Mereka terkekeh bersamaan karena hal itu. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju kamar rawat Nolan. Saat melintasi kamar tulip nomor 05, seseorang keluar dengan koper kecil di belakangnya, membuat Livia dan Nolan sama-sama kaget. "Hai Livia," sapa Nicky dengan senyum mengembang. Selang infus di tangannya sudah tidak ada lagi dan dia juga sudah tidak memakai baju pasien. Livia tersenyum getir membalas senyuman itu sedangkan Nolan cuma menatap Nicky datar. Nolan berusaha menyembunyikan kekagetannya saat mendengar laki-laki itu menyapa Livia. Hanya Livia. "Kamu, udah mau pulang?" tanya Livia. Pulang? Berarti Livia udah tahu kalau dia dirawat. Sejak kapa
Livia terbangun dan menyadari Bu Monika tidak lagi berada di dekatnya. Semalam mereka tidur berdampingan di ranjang khusus penunggu pasien. Saat menatap ponsel untuk melihat jam, ekor mata Livia sempat melirik ke ranjang Nolan dan melihat suaminya sudah dalam posisi duduk. Syukurlah, Livia bernapas lega. Sekarang pukul 6.45 dan dia sudah terlambat untuk berangkat ke sekolah. Akhirnya Livia mengirim pesan pada Sissy untuk memberitahukan bahwa dia hari ini tidak masuk karena ada urusan penting. Sesaat setelah pesan terkirim, ponselnya berdering nyaring. Sissy menelfon. "Lo ada urusan apa Liv sampai nggak masuk sekolah?" cecar Sissy begitu telfonnya dijawab. "Kak Nolan sakit. Semalam dia dibawa ke rumah sakit," jawab Livia lirih. Dia sempat melirik ke arah Nolan yang sedang melihatnya. Pria itu melontarkan senyum manis yang entah kenapa membuat Livia sedikit salah tingkah. "Oh ya? Sakit apa?" "Kata dokter karena capek. Ya udah ya Sy gitu aja. Tolong buatin gue surat izin, terser







