Home / Romansa / Hot Brother / Benda apa itu?

Share

Hot Brother
Hot Brother
Author: ade annisa

Benda apa itu?

Author: ade annisa
last update Last Updated: 2025-12-20 20:39:36

“Apa kau tahu ini benda apa?”

Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya.

“Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh.

“Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya.

“I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya.

“Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut.

Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana.

Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya.

Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, lalu tersenyum licik pada gadis itu. “Mau menggunakannya bersamaku?” tawarnya, membuat tubuh Kalila semakin kaku.

Kalila adalah putri angkat keluarga kaya yang hanya memiliki seorang putra bernama Erik. Pria tampan bermata elang yang saat ini menatapnya tanpa berkedip.

Dulu Kalila sangat menyukai Erik, sebelum sifat pria itu berubah ketika Kalila beranjak dewasa. Lila kecil selalu mendapat perhatian dari sang kakak. Namun, Lila yang dewasa justru membuat pria itu bersikap kurang ajar kepadanya.

Langkah Kalila terhenti saat punggungnya menabrak tembok. Erik semakin mendekat dan mencengkeram dagu gadis itu.

“Apa ada pria yang menggodamu di sekolah?” tanya Erik pelan, meski tetap membuat Kalila terkejut.

Gadis itu menggeleng. “Nggak! Nggak ada.”

“Bagus. Tidak ada seorang pun yang boleh menggodamu, karena kau adalah milikku.” Erik menyelipkan benda di tangannya ke saku kemeja yang ia kenakan, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Kalila yang gemetar ketakutan.

Kalila jatuh terduduk. Ia takut, tapi juga menyukai kedekatan mereka. Wajah tampan Erik selalu membuat jantungnya berdetak hebat, entah karena rasa takutnya, atau justru karena dia sangat menyukai pria itu.

.

“Kok bisa?” tanya Hera, teman sebangkunya, saat Kalila bercerita ada kondom di dalam tas sekolahnya.

“Ya mana kutahu,” balas Kalila pelan. Di sekolah ini dia tidak punya banyak teman. Hanya Hera yang lumayan dekat karena duduk satu meja dengannya.

Hera menoleh ke sekeliling, lalu kembali menatap temannya. “Pasti ada orang suruhan  Brianna di kelas ini,” tuduhnya.

Brianna adalah salah satu gadis yang tidak menyukai Kalila, entah kenapa. Kalila juga tidak mengerti mengapa banyak gadis yang tidak menyukainya, padahal dia tidak melakukan apa-apa.

“Dia tahu hari ini ada razia. Pasti sengaja kemarin dia kasih jebakan.”

Kalila malas memikirkan hal semacam itu. Ia harus cepat merapikan buku-bukunya dan keluar dari kelas, karena Erik pasti sudah menunggunya.

Sang ibu memberi kabar bahwa ia tidak bisa menjemput. Wanita itu kemudian menghubungi Erik untuk menggantikannya.

Belum apa-apa jantung Kalila sudah berdebar. Membayangkan wajah Erik saja membuat dadanya memanas. Namun anehnya, ia malah tersenyum.

Kalila menggelengkan kepala. Dia pasti sudah gila, jelas-jelas Erik jahat kepadanya, kenapa dia harus menyukai pria itu.

"Hera, aku duluan," pamit Kalila dan langsung keluar dari kelasnya. Saat berlari, tidak sengaja dia menabrak seseorang.

"Berani-beraninya lo!"

"Brianna?"

***

Tolong jemput Kalila di sekolah ya, Sayang. Hari ini mami sedang sibuk.

Pesan itu kembali Erik baca saat duduk di balik meja kerjanya. Pria itu sedikit merenung.

Kalila yang akan dijodohkan dengan anak dari ayahnya itu membuat Erik merasa ketakutan, dia belum siap kehilangan gadis itu.

Selama dirinya masih hidup, dia tidak akan mau merelakan gadis itu bersanding dengan pria lain.

Hanya Erik yang boleh menyentuh tubuh Kalila, hanya pria itu yang pantas bersanding dengan gadis secantik Kalila.

Setidaknya itu yang selalu Erik rapalkan dalam hati. Sikapnya yang kejam terhadap siapa pun nyatanya membuat Kalila juga merasa takut.

Erik tidak mampu mengungkapkan isi hatinya, pria itu tidak mampu menggambarkan perasaan cintanya.

Sampai di area sekolah, Erik menelepon sang adik dan mengabarkan bahwa dia sudah berada di parkiran. "Aku tidak suka menunggu, cepatlah atau akan ada hukuman untukmu," ancam Erik pada sang adik yang sepertinya tengah berlari tergesa, dan pria itu mematikan sambungan teleponnya.

Tatapan Erik mengarah pada seorang gadis yang berlari menghampiri mobilnya. Rambut panjang yang berkibar-kibar juga wajah yang memerah karena terengah membuat wajah cantik Kalila terlihat begitu menggemaskan.

Kalila duduk di kursi sebelah kakaknya. Gadis itu masih mengatur napas saat pria di sebelahnya berkata.

"Telat satu menit dua puluh empat detik," ucapnya santai.

Kalila menoleh takut, dia kemudian menggeleng. "Maafin aku, Kak Erik. Aku janji akan lebih cepat lagi," ucapnya sedikit  masih terengah.

Erik tidak peduli. Ditangkupnya dagu Kalila dengan sebelah tangan, membuat wajah cantik gadis itu mendongak ke arahnya.

Pria itu mengernyit saat mendapati sedikit memar di ujung bibir Kalila, dia pun semakin mendekatkan wajah mereka.

Kalila yang ketakutan kemudian memejamkan mata. Dia menduga pasti sang kakak akan menciumnya dengan paksa seperti biasa.

"Ada apa dengan wajahmu?"

Pertanyaan Erik membuat kelopak mata Kalila kemudian terbuka. Dia sedikit tertegun.

"Ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hot Brother   Rapuh

    Dua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka.“Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami.Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini.Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya.Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan.Kalila sejenak menahan napas.“Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,”

  • Hot Brother   maaf

    Mobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.“Kak Erik, kenapa berhenti?”Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba."Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata."Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?"Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya.“Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik.Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka.“Turun dari mobilku. Kamu bisa pu

  • Hot Brother   rasa takut

    Perempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan.Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu. Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya. Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan."Kali

  • Hot Brother   tidak cemburu

    Pertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama. Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga.Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu.Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja.Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu.Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala.Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya.Erik berdehem,

  • Hot Brother   Kakak laki-laki

    "Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata.Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng."Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan.Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu."Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya.Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya."Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik.Ka

  • Hot Brother   Benda apa itu?

    “Apa kau tahu ini benda apa?”Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya.“Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh.“Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya.“I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya.“Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut.Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana.Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya.Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status