Mag-log inPagi hari Kalila masih saja bergelung di dalam selimutnya. Gadis itu pura-pura masih tidur dengan memejamkan mata saat pintu kamarnya tampak terbuka.
"Mandilah, Lila. Aku tahu kau sudah bangun," ucap Erik tenang, namun terdengar sedikit mengancam. Perlahan Kalila membuka kelopak matanya, mengeratkan selimut pada tubuhnya, kemudian berkata, "Sepertinya aku tidak enak badan, Kak," ucap gadis itu dengan suara dibuat serak dan berharap pria itu akan percaya. Sejenak Erik terdiam, melipat lengannya di depan dada. Dari gerak-gerik adiknya, dia tahu gadis itu pasti berpura-pura. Pria itu melangkah pelan menghampiri ranjang Kalila, kemudian menyingkap selimutnya, dan hal itu tentu saja membuat Kalila berubah waspada. "Kak Erik mau apa?" tanya Kalila panik dengan beringsut mundur saat pria itu naik ke atas ranjangnya. Erik menyentuh kening gadis itu. "Tidak demam. Kau berbohong, Lila?" tebaknya. Kalila membuang muka, sedikit ketakutan menatap wajah datar sang kakak. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Hal itu mendapat perhatian dari Erik yang tidak pernah lepas menatap wajah cantik gadis belia di hadapannya. Pria itu memejamkan mata, menahan gejolak dalam dirinya yang ingin segera menerkam gadis lemah itu dengan kedua tangannya. Kalila menoleh saat Erik tiba-tiba turun dari ranjangnya. Pria itu memunggungi dirinya seraya berkata, "Jika kau tidak ingin aku turun sendiri untuk memandikanmu, cepatlah mandi sendiri," ucapnya dengan nada mengancam. Kalila tahu ancaman sang kakak bukan gertakan semata, jadi lebih baik dirinya pun menurut saja. Selepas mandi dan rapi mengenakan seragam sekolahnya, Kalila menduduki kursi di ruang makan. Kemudian menoleh saat Erik meletakkan roti selai dan segelas susu di atas meja. "Lila tidak lapar, Kak Erik," ucap gadis itu. Dia memang sedang tidak bernapsu untuk memakan apa pun. Bayangan apa yang akan terjadi di sekolah benar-benar membuatnya amat gelisah. Kejadian kemarin sudah pasti membuahkan dendam di hati teman sekolah yang selalu mengganggunya. Erik yang masih berdiri menatap gadis itu tampak diam saja, namun tatapannya yang tajam membuat Kalila berpaling dan takut menoleh ke arahnya. "Kau tidak mau makan?" tanyanya datar, namun terdengar mengerikan di telinga gadis itu. Kalila menoleh saat sang kakak meraih gelas berisi cairan susu di hadapannya itu, kemudian meminumnya. Namun, tanpa gadis itu sangka, Erik mencengkeram kedua pipinya dengan satu tangan, menyatukan bibir mereka untuk memindahkan cairan susu ke mulut gadis itu. Erik memundurkan kepala, melihat wajah cantik Kalila yang begitu terkejut dan takut. Hal itu membuat pria itu tersenyum miring, mengambil selembar tisu dan mengusapkannya pada bibir ranum gadis itu. "Kau mau aku kunyahkan sarapanmu juga?" tanyanya sedikit mengancam. Kalila refleks menggeleng. Dengan takut dan diam saja, gadis itu meraih roti selai buatan sang kakak dan memakannya dengan cepat. Tangan kanan Erik menepuk pelan puncak kepala adiknya sambil tersenyum. "Anak pintar," ucapnya, kemudian beranjak pergi dari sana. Ditinggal sendiri, Kalila yang sekuat tenaga menyembunyikan keterkejutannya membuat gadis itu membuang napas. Air matanya luruh. Dia takut pada sikap sang kakak terhadap dirinya. Dia takut saat tindakan pria itu semakin keterlaluan padanya. Kalila menangis. Sesampainya di sekolah, Erik melihat Kalika tampak ragu untuk keluar dari mobilnya. "Ada apa?" tanyanya. Kalika menggeleng. "Nanti Kak Erik jemput Lila, kan?" tanya gadis itu hati-hati. Sesaat Erik terdiam, tapi kemudian mengangguk. "Ya, aku akan menjemputmu." "Jangan lama-lama ya, Kak." Setelah mengatakan itu, Kalila pun membuka pintu. Erik menahan gadis itu, menatap raut wajahnya yang sendu. "Apa ada yang mengganggumu?" tanyanya. Kalila menggeleng meski sesaat tampak ragu, dia lalu keluar dari mobil Erik dan lekas menutup pintu. Tidak ada cium tangan, atau lambaian sampai jumpa dari Kalila yang langsung pergi begitu saja. Erik menatapnya sampai punggung gadis itu menghilang di pintu gerbang. Ponsel Erik tiba-tiba berdering, telepon dari seseorang yang setiap satu minggu sekali pasti dia temui. Kali ini Erik ingin meminta obat tidur agar dia tidak mengganggu Kalila setiap malam.Kalila mendekat pada suaminya. "Kau lapar?" tanya wanita itu. Seperti tengah mengalihkan perhatian.Erik tidak menanggapi, fokus pada Roy yang kemudian pamit undur diri, dan colekan di pipinya dari sang istri membuat pria itu menoleh. "Aku lapar," ucap Kalila. Erik yang diam saja kemudian mendapat cubitan di pipinya. "Kita makan di luar." Erik memberikan saran. "Untuk apa, di sini banyak makanan," tolak wanita itu. Kalila mengambil dua gelas minuman berwarna yang seorang pelayan bawa dengan nampan, wanita itu memberikan satu pada suaminya. "Aku tidak haus," tolak Erik, namun kemudian ia terima juga uluran gelas dari istrinya. "Minumlah, aku merasa hawa di sini sangat panas," sindir Kalila. Erik tidak menanggapi ledekan itu, dia menenggak habis cairan manis di tangannya, kemudian memberikangelas kosong pada pelayan yang melewatinya."Tidak haus, Tuan Erik?" Kalila kembali menggoda suaminya. "Ayo kita pulang," ajak Erik dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kalila,
Erik tampak diam, dan begitu juga dengan istrinya, dan saat pria itu menghentikan laju kendaraannya di lampu merah, dia kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Kalila menoleh pada suaminya, kemudian tertawa kecil, dia tahu pria itu pasti akan menanyakan tentang hal ini. "Menurutmu?" tanyanya menggoda. Erik berdecak, kembali melajukan kendaraannya saat lampu berubah hijau, dan sikapnya yang tak acuh itu membuat Kalila gemas dan mencubit pipinya. "Dia hanya menanyakan hadiah apa yang disukai oleh seorang wanita," ucap Kalila menjelaskan. "Untukmu?" Erik kemudian bertanya, dan malah membuat Kalila jadi tertawa. "Tentu saja bukan," sangkal wanita itu, dan kembali mencubit pipinya. Sampai di dalam kamar Kalila mendapati suaminya itu lebih banyak diam, bahkan sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur, biasanya pria itu selalu mengganggunya. Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur seperti biasa, Kalila kemudian naik ke atas ranjang dan mencolek pipi suaminya. "Kau ta
"Seharusnya tidak perlu," ucap Kalila dengan berusaha bangkit dari pangkuan Erik, namun pria itu menahannya. "Kau bilang ada rapat, cepat lepaskan aku," pintanya. Bukan menurut, suaminya itu malah tersenyum. Kalila mengerutkan dahi saat Sorot mata pria di hadapannya itu terlihat sendu, dan dia tahu arti tatapan itu. "Kak Eriik, kau bilang sibuk."***Erik yang tengah memasang kembali sepatunya duduk di tepi ranjang, sesekali pria itu menoleh pada jarum jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa waktunya masih banyak tersisa. "Sudah lewat tigapuluh menit loh Kak," ucap Kalila mendekat dengan air putih di tangannya, kemudian ia taruh di atas meja, Kalila menghampiri suaminya dan berdiri di hadapan pria itu untuk membantu memasangkan dasi di lehernya. "Papi kamu juga belum datang, sepertinya dia ada urusan juga," ucap Erik sedikit menggoda, dengan sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Kalila berdecak, melirikkan matanya dengan sinis ke arah suaminya namun kemudian tersenyum juga. "M
"Awas, Kak. Aku harus membalikkan telur nanti gosong," ucap Kalila dengan tertawa, dan setelah suaminya itu menyingkir dia justru kembali kebingungan. "Aku tidak bisa mengendalikannya!" "Apa yang harus aku lakukan?" Erik kemudian bertanya. Dan sang istri menyuruh untuk mematikan kompornya. Sesaat berperang dengan spatula dan dapur yang berantakan, Kalila meletakan mi goreng dan telur ceplok setengah gosong di atas meja. "Maaf aku tidak bisa masak," Sesalnya. Erik menatap wajah cantik sang istri yang terlihat begitu kontras dengan hasil masakan di piringnya, namun pria yang duduk pada kursi di ujung meja itu menarik piring dari hadapan Kalila agar mendekatinya. Kalila sedikit terkesip saat suaminya itu menyendok masakannya kemudian ia makan. "Jangan, Kak Erik!" cegahnya dengan mendekat, kemudian duduk di sebelah Erik dan menyentuh lengannya, Kalila takut sang suami akan keracunan dengan hasil masakannya, belum apa-apa masa dia harus menjadi janda. Erik sedikit mengernyit saat rasa
Tidak terasa satu minggu sudah mereka berada di tempat itu, Kalila pun sudah mulai lelah menjelajahi semua tempat wisata yang tidak akan pernah bosan meski berkali-kali mengunjunginya, tapi sungguh dia sangat merindukan mami Erina, dia ingin pulang ke rumah orang yang saat ini sudah menjadi mami mertuanya.Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Erina, yang sudah menyiapkan makanan banyak untuk putra dan menantunya. "Bagaimana liburan kalian, apa menyenangkan?" Erina bertanya dengan sedikit menggoda Kalila tentang bagaimana rasanya malam pertama, keduanya kemudian terlibat obrolan. Erik lebih banyak diam saat berada di ruang makan, menyaksikan dua wanita kesayangannya terlihat bahagia dia sudah begitu senang. "Jadi, niatnya kalian mau tinggal di mana?" Pertanyaan itu terlontar dari Arlan, yang saat ini ikut makan malam bersama mereka. Sama seperti Erik, pria paruh baya itu juga lebih banyak diam. "Tinggal di rumah mami saja ya," bujuk Erina dengan menyentuh lengan Kalila. D
Erik menatap kedua bolamata Kalila yang terlihat jernih, kabut yang semula memenuhi netranya itu terlihat menghilang. "Aku suka melihat pancaran matamu, dan perubahannya saat kau aku sentuh," ucapnya dengan mengusapkan kembali tangannya pada perut rata Kalila, memainkan jahitan luka yang sedikit membekas di sana. Sejenak Kalila tertegun, pria yang berbaring miring menghadapnya dan menopang kepala dengan tangan itu semakin membuatnya merasa malu. "Apa kau selalu seperti ini?" tanya Kalila hati-hati. Erik yang masih menatap wajah cantik istrinya itu kemudian mengangkat alis. "Seperti ini bagaimana?" tanyanya tidak mengerti. Kalila mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar, sorot teduh pria itu selalu membuatnya merasa masuk ke dalam labirin rumit yang tidak tahu di mana jalan keluar. "Kau masih berpakaian lengkap sedangkan aku nyaris tidak mengenakan apa-apa." Mendengar kalimat itu keluar dengan nada malu-malu membuat Erik kemudi tertawa, pria itu merebahkan diri dan menar
Kalingga yang mengerti dengan perasaan putrinya itu kemudian mengangguk tanpa harus menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya. Pria itu meremas jemari lentik Kalila dan meyakinkan gadis itu bahwa mereka akan baik-baik saja. "Dengarkan papi, Sayang." Kalimat itu membuat gadis di hadapannya mendong
Klakson dari para pengendara di belakangnya membuat pria itu kembali mengenakan helm, kemudian beranjak pergi, diam-diam Kalila menghela napas."Wah gilaa, tampan sekali," ucap Salah satu teman gadis itu, ketiganya menoleh ke arah di mana pria itu pergi menggunakan motornya.Sesaat Kalila tertegun,
Erik tengah berbaring di ranjang rumah sakit, tulang rusuk yang katanya retak masih teramat nyeri ia rasakan, tapi hal itu tentu saja tidak sebanding dengan rasa kecewa pada keputusan Kalila yang memilih untuk melupakannya.Suara pintu terbuka dan derap sepatu seseorang yang memasukinya tidak lanta
Tapi tetap saja, meskipun Kalila akhirnya menerima, dirinya selalu melakukan apa saja demi terbebas dari orang-orang suruhan sang ayah, dengan cara mengelabuhi dan kabur-kaburan tentunya. Derap sepatu seseorang yang terdengar mantap menghampiri keberadaan mereka, tidak lantas membuat Kalila meng







